Sebelum membaca karya ini sebaiknya membaca Rainbow yang sebelumnya.
Naira yang memiliki kisah yang menyedihkan dimasa lalu, setelah 7 tahun dia menjelma menjadi wanita yang sukses dikenal dengan nama, Safhira Frenzo General Manejer HF Corporasion dan pemilik CS Mall.
Jika dulu dia hidup ditengah-tengah orang yang membencinya sekarang dia hidup ditengah-tengah orang yang menyayanginya.
Namun takdir kembali melibatkannya pada orang yang melukis kesedihan dimasalalu, Martian Gordan Bramasta, yang kini menjelma menjadi Raja Bisnis di ASIA, pemilik BASIA Grub.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya ? yuk baca Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidia Destantia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Imbalan
Pagi hari, Safhira mengenakan gaun santai tampa mengenakan make up duduk dimeja makan, dia terlihat sangat pucat dan kantung matanya hitam. Safhira tidak bekerja sudah beberapa hari ini, yang dia lakukan duduk bergabung bersama Robert dan Edie untuk menemukan jejak putrinya.
“Kakak, apa kamu tidak tidur lagi malam tadi ?”. Safhira mengangguk sebagai tanggapan.
“Kamu tetap harus menjaga kesehatan, jika kamu saja tidak bisa mengurus dirimu dengan benar bagaimana kamu akan mencari Queen”, ucap Abigial.
“Safhira adalah Ibu wajar dia khawatir dan tidak bisa tidur. Saya saja saat Edie sakit juga tidak bisa tidur”, bela Karine.
“Bagaimanapun kamu harus lebih banyak menggunakan logika mu untuk menjalani hidup, jika tidak kamu akan kembali menjadi orang bodoh lagi”, ucap Abigial.
“Aku tidak bisa tidur karena menunggu telpon seseorang yang mengetahui informasi Queen”, ucap Safhira.
“Siapa ?”, tanya Abigial.
“Gordan, saya sedikit tidak sopan saat menerima telponnya sehingga dia menutup telpon dan hingga saat ini nomernya tidak aktif”
“Mungkin dia berbohong”, ucap Edie.
“Ya mungkin saja, selama pernikahan mereka Gordan telah membohongi dirinya”, batin Safhira.
Namun beberapa saat kemudian pangilan vidio masuk ke handphone Safhira dari Gordan, segera Safhira mengangkatnya. Wajah yang pertama kali Safhira lihat adalah putri kecilnya yang terlihat masih pucat dan memiliki perban didahi.
“Queen”, panggil Safhira tiba-tiba menangis karena senang mengetahui putrinya masih hidup. Segera semua orang dimeja berkumpul di belakang Safhira melihat wajah kecil Queen.
“Mommy jangan menangis”, katanya dengan lembut
“Queen apa kamu baik-baik saja”, tanya Abigial.
“Ya kakek, sekarang Queen merasa tidak sakit lagi karena uncle Gordan menyiapkan dokter untuk ku. Dokternya cantik dan baik, jika Queen besar ingin menjadi seperti dia”, ucap Queen. Gadis itu terlihat sangat ceriah sehingga mereka tidak perlu khawatir lagi.
“Ya, tapi Queen harus sembuh dulu”, ucap Abigial.
“Apa Queen merasa tidak nyaman di suatu tempat ?”, tanya Karine.
“Ya, Queen merasa pegal dileher karena terlalu banyak tidur”, jawab gadis kecil itu dengan wajah polos..
Lalu mata Queen menatap Edie dengan wajah kesal “Uncle pembohong”.
“Uncle tidak merasa berbohong”, Ucap Edie.
“Uncle bilang, Uncle adalah super hero tapi kenapa saat Queen kesusahan tidak menolong ?”
“Itu, kekuatan Uncle sedang melemah jadi tidak menerima sinyal dari Queen”, ucap Edie.
“Apakah begitu ?”
“Ya”
“Uncle benar-benar pembohong besar”, ucap anak itu sambil menggelengkan kebalanya.
“Mana Uncle Gordan, Mommy ingin bicara”, ucap Safhira.
“Uncle sedang berada di luar, Queen akan meminta dokter cantik memberikan telpon”, ucap Queen.
“Dokter cantik, Mommy ingin berbicara dengan Uncle Gordan. Bisaka Dokter cantik membantu ku menyerahkan handphone ini ?”
“Ya tentu”, terdengar suara wanita yang begitu ramah.
Queen segera memberikan kepada Dokter Ariana handpone yang dipegang. Abigial, karine dan Edie kembali ketempat duduk mereka setelah wajah Queen tidak terlihat lagi.
Tidak butuh waktu lama dilayar wajah tampan Gordan muncul namun wajah itu masih ekspresi yang sama seperti bertahun-tahun lalu, terlalu dingin.
Safhira langsung berkata “Terima kasih”.
“Ya”,ucap Gordan.
“Bisakah kamu mengirim Queen kembali segera, atau katakan dimana tempat mu kami akan menjemputnya”, Ucap Safhira lagi.
“Tidak perlu terburu-buru, saya akan merawatnya dengan baik”.
“Tapi saya menginginkan putri saya”, balas Safhira
“Lalu bagaimana dengan imbalan yang akan kalian berikan”, tanya Gordan tampa basi.
“Kami akan memenuhinya”, ucap Safhira.
“Saya percaya kalian orang-orang menepati janji namun saya tidak menginginkan uang itu”, ucap Gordan.
“Jadi Apa yang kamu inginkan ?”, tanya Safhira.
“Saham dan pernikahan bisnis”, Gordan tidak ragu menyebutkannya.
“Kita akan bicarakan ini nanti saja”, jawab Safhira.
“Jika kamu ingin menemui putrimu dan membicarakan bisnis ini, datanglah ke Singapura orang ku akan menjeput mu disana, hanya kamu”
“Ya, 1 jam lagi saya akan berangkat”, jawab Safhira. Dia tidak ingi menunda-nunda untuk bertemu putrinya kembali.
“Oke, sampai Jumpa”. Gordan mematikan telpon.
Abigial, Karine, Edie mendengar semua pembicaraan singkat itu, mereka sudah membuat pengumuman di hadapan publik dan tidak dapat ditarik lagi. Jika mereka mengingkari kata-kata itu nama baik mereka akan tercoreng.
Safhira sedang berpikir, “Dari sekian banyak pria dibumi ini, kenapa harus dia ?”
Sedangkan Abigial berfikir, “Semua kesempatan akan menjadi bisnis untuknya bahkan anaknya juga dia gunakan. Oh ya saya lupa dia tidak tahu jika Queen putrinya”.
Ayah kandung Queen hanya Safhira, Abigial, dan Robert yang mengetahui identitasnya. Karine dan Edie hanya tahu jika itu adalah anak Safhira dan kekasihnya, mereka juga tidak tahu jika Safhira perna menikah dan nama yang dia gunakan dahulu adalah “Naira Madona Rasyid”. Abigial benar-benar menutup masalalu Safhira dengan rapat, bahka dari istri dan anaknya.
Di Mansion Black Spiders, Rendi berkata dibelakang Gordan yang baru saja mematikan panggilan Vidio, “Saya kira Bos menyukai dia, ternyata Bos hanya ingin pernikahan untuk membangun pondasi bisnis disana”.
Dengan mengunakan nama keluarga Frenzo itu adalah hal yang paling menguntungkan apalagi mendapatkan sahan mereka walau hanya 5%. Dengan mudah dia mendapatkan kedudukan di kota Sydney di HFC.
“Keduanya bisa dilakukan bersama, kenapa tidak”, jawab Gordan.
“Apa itu berarti Bos juga menyukai Safhira ? Atau hanya ingin bermain-main ?Atau hanya ingin mencari tahu sesuatu ?”
Rendi kembali berkata, “Sepertinya yang ketiga lebih tepat”.
“Kamu bisa berpikir sesuka mu”, jawab Gordan.
Rendi ataupun Gordan menaruh kecurigaan terhadapa Safhira karena identitasnya begitu tersembunyi. Mereka menemukan semua informasi selama 7 tahun ini terakhir tapi tidak dengan tahun-tahun sebelumnya kecuali selembar riwayat hidup mengenai nama dan pendidikannya.
Mereka adalah orang yang tidak biasa sehingga otak mereka dapat memunculkan hipotesis-hipotesi yang tidak pernah orang pikirkan. Semenjak peristiwa yang dialaminya melibatkan Naira membuat Gordan sangat berhati-hati terhadap orang-orang yang dia temui. Gordan beberapa kali menangkap Safhira menatapnya dengan tatapan rumit yang sulit dimengerti, terkadang tatapan acuh tak acu, terkadang tatapan ganas seperti melihat hewan buruan.
Gordan sempat berpikir Safhira adalah Naira namun getaran aura yang ada pada Safhira berlawanan dengan Naira. Naira memberikan aura lembut dan seorang wanita lemah yang butuh perlindungan sedangkan Safhira seperti jendral yang akan menyerang siapapun yang menganggu wilayahnya.
“Perempuan itu berhasil membuat ku tertarik, batin Gordan", batin Gordan. Ketertarikannyalah yang membuatnya ingin mencari tahu lebih banyak mengenai rahasia Safhira.
“Bos, apa Safhira akan menerima pernikahan ini ?”, tanya Rendi.
“Ya dia tidak ada pilihan, tapi ini akan menjadi proses yang tidak muda”, ucap Gordan.
....
.......
Maaf jika ada kesalahan penulisan kata dan kalimat.
Dan Jangan lupa tinggalkn jejak ya My Readers. Favorit, like, dan komentar, serta beri votenya.
....
....