CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 (Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya)
"Thanks, Ndre! Kukira kau akan membiarkanku menemani boss mesum dari India itu!" kata Bianca dengan menghela nafas lega dalam perjalanan pulang pukul sebelas malam setelah pertemuan bisnis mereka.
"Mana mungkin aku sejahat itu padamu, Bi!"
"Terima kasih, kamu telah menjagaku!"
"Kamu adalah sekretarisku, juga temanku. Sebobrok-bobroknya aku sebagai lelaki, aku tidak akan membiarkanmu menjadi tameng demi kesuksesanku!"
"Bukan...karena kamu masih mencintaiku khan?"
"Hahaha..., Njiirr! Engga'lah, Mrs. Tio Syailendra! Aku menghormatimu sebagai seorang wanita bersuami. Aku juga menghargai suamimu yang dengan berbesar hati membiarkan istrinya bekerja padaku, bukan padanya. Kalau aku mencintaimu dan merebutmu dari Tio, goblok itu namanya!"
"Apa kamu tidak punya keinginan menikah?" tanya Bianca lagi.
"Menikah? Hari gini? Hm...! Kulihat justru orang-orang sekarang menikah hanyalah kedok saja. Mereka pura-pura bahagia dengan kehidupan seperti lengkap, ada suami, ada istri, ada anak. Tapi dibelakang itu semua, bullshiit! Mereka bisa bebas kemanapun dan dengan siapapun. Bercinta, berbagi hati juga perasaan. Lalu, apa gunanya pernikahan jika harus seperti itu? Apa menikah itu masih dianggap sakral? Sedangkan rata-rata mereka bisa mempermainkan janji suci dihadapan Tuhan itu seenak udelnya?"
Andre tertawa sinis.
Bianca hanya diam seribu bahasa. Jawaban Andre membuatnya lemas tak bisa berbuat apa-apa. Cintanya pada Andre, layu sebelum berkembang. Hanya tundukan kepala yang menandakan kalau ia harus melupakan pria flamboyan disampingnya itu.
Pria itu benar-benar tak percaya pada pernikahan. Dan sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk melakukan pernikahan.
Ada ketenangan di sisi lain hati Bianca. Ia tak perlu cemburu dan merasa takut kehilangan Andre, karena pria yang dicintainya itu tidak akan pergi jauh. Andre tidak akan memilih siapapun dan tak akan jadi milik siapa-siapa.
Kau akan selalu menjadi pujaanku, Ndre! Begitu suara hati Bianca.
..............
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Kriiing... Kriiing
Ceklik.
Alarm jam bekker seperti biasa berbunyi nyaring membangunkan tidur pagi Andre Wiguna Dharma.
Pria itu mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan karbondioksida dari dalam paru-parunya lewat dua lubang hidungnya.
Dia bangkit setelah mengambil handphone lalu memperhatikannya dalam waktu setengah menit.
Banyak chat dan panggilan tak terjawab. Sudah jadi kebiasaan Andre, selalu mensilent hape setiap pukul dua belas malam untuk kenyenyakan tidur malamnya.
Ia sangat tidak suka diganggu pada jam-jam rehatnya. Meskipun itu untuk suatu keadaan yang mendesak.
Ada dua kali panggilan dari adik tirinya.
"Mau apa lagi cecunguk ini nelpon jam dua pagi!"
Dibukanya chat panjang dari Daniel Erlangga Wiguna. Ternyata, isinya membagongkan.
Dasar anak ini! Meski sudah kukirim di pesantren sekalipun, tetap saja kelakuan dajjal turunan emaknya mendarah daging!
Pacarku hamil! Aku diminta bertanggung jawab menikahinya oleh orangtuanya juga penduduk kampung. Cepat datang, bereskan masalahku! Pak Kiyai juga mau men-D.O ku!
Bisa-bisanya dia sesantai itu menghamili anak gadis orang! Bagaimana mungkin bocah tolol ini bisa keluar dari kompleks pesantrenan buat pergi berpacaran! Hhh... Haish, Daniel, Daniel! Ternyata pepatah buah tak akan terbang dari batangnya itu benar. Eh?... Buah..., buah tak akan jatuh dari pohonnya maksudku! Ck ck ck... Bikin otakku tercemar ketololannya saja!
Andre bangkit dan pergi mandi. Air dingin yang turun dari kucuran shower berhasil menguapkan kekesalannya pada sang Adik.
Mau bagaimana lagi, anak itu adalah tanggung jawabnya yang harus ia urus sampai benar-benar dewasa. Padahal umur Daniel saat ini sudah sembilan belas tahun. Sudah cukup umur untuk berdikari dan mengurus diri sendiri. Tapi nyatanya...
Tapi bagaimana mungkin bisa kulepas, sedangkan kelakuannya seperti itu terus walaupun sudah kukirim ketempat yang baik.
Andre lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.
Tekadnya merubah bocah itu rupanya sia-sia jika tidak dari keinginan diri sendiri mau merubah.
Hari ini ia memutuskan pergi ke Bandung. Ke pesantren tempat Daniel tinggal. Mengurusi bocah sialan yang seperti benalu dan parasit yang senantiasa mengganggu ketentramannya.
...BERSAMBUNG...