Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ada waktu dimana itu adalah waktu yang mustajab untuk berdo'a. Salah satunya adalah ketika Sahur dan berbuka puasa. Semoga do'a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Alloh SWT.
Setelah membatalkan puasa, dan sholat maghrib berjama’ah, kini semua penghuni panti berkumpul di aula yang terletak tak jauh dari masjid. Penghuni panti yang kebanyakan anak laki-laki berusia dibawah sepuluh tahun itu, duduk bersila dengan rapi. Duduk dihadapan mereka sekumpulan orang yang sore ini sengaja datang ke panti ini.
“Ehem…” Fares mengambil mikrofon untuk berbicara didepan seluruh penghuni panti yang telah berkumpul.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuuh….” Fares memulai sambutan sebelum acara makan bersama.
“Alhamdulillah sore ini Kita dapat berkumpul disini, dalam keadaan sehat wal afiat....."
"Anak-anakku sekalian…. hari ini, Putri sulung Saya, Kakak kalian semua. Aneesha Pramudhita Putri Adhitama memperingati hari lahirnya yang ke 23 tahun.”
“oleh karena itu, mari kita do’akan bersama-sama, semoga Aneesha diberikan umur yang manfaat, berkah, kesehatan, rejeki yang halal dan berlimpah. Sanah helwah, barokallohu fii umriki anakku. Stay soleha, ya…!” Fares merangkul Aneesha yang duduk disampingnya. Aneesha tersipu malu menjadi pusat perhatian.
“Aamiin..!!” seru semua yang ada di aula.
“demikian, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuuh….” Fares megakhiri sambutan singkatnya.
“Nah, karena Kakak Aneesha sudah kasih makanan dan souvenir untuk kalian, kalian harus bilang apa?” teriak Gita kepada anak-anak didepannya.
“Jazakillahu Khairan Katsiran… terima kasih Kak Aneesha.” jawab anak-anak serempak.
“Kita hadiahi Kak Aneesha dengan bacaan surat Al-fatichah ya, anak-anak! Sama-sama ya…. Alfatichah….” suara gumaman bergemuruh setelah Gita mengangkat kedua tangan, diikuti seluruh yang ada di aula itu.
“Wa jazakumullahu Khairan. Terima kasih adik-adik, sekarang silakan dimakan.” Suara Aneesha melalui mikrofon, mendapat teriakan suka cita dari anak-anak panti.
Mereka segera membuka nasi kotak yang telah dibagikan sebelumnya. Aneesha dan adik juga sepupunya ikut makan bersama mereka. Suasana ceria disela makan, wajah anak-anak yatim piatu itu tidak ada yang menggambarkan guratan kesedihan. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Sekumpulan anak tanpa orangtuapun masih bersemangat menjalani hidup.
Tiga wanita paruh baya duduk berseberangan dengan anak-anak mereka. Ketiganya sedang makan, tapi diselingi obrolan tentang anak-anak mereka.
“Aneesha cantik, ya, Ri. Baik lagi. Ngidam apa, sih kamu dulu?” tanya Gita seolah lupa cerita masa lalu Riani.
“Kamu lupa? Aku nggak kepikiran nyidam waktu hamil Dia.” sungut Riani melirik Gita. Kirana menyenggol Gita dengan sikunya.
“Ups, salah ucap Aku. Duh… .” Gita menepuk keningnya, merasa bersalah melihat Riani terdiam dengan pandangan menerawang.
“udah nggak usah dibahas, makan aja.” Kirana menepuk bahu Riani dan Gita, menetralkan suasana.
***
Sebenarnya acara tasyakuran sudah selesai, setelah makan bersama. Tetapi belum ada yang ingin beranjak pulang. Penghuni panti sudah kembali ke kamar masing-masing, pengurus yang lain juga kembali ke aktivitas masing-masing. Riani, Gita dan Kirana duduk bertiga di tangga depan masjid. Tiga wanita paruh baya yang sudah jarang bertemu itu memanfaatkan waktu untuk mengobrol.
“Indira apa kabar, Mbak? Betah sekali Dia di paris.” Riani menanyakan anak sulung Kirana yang sedang menempuh pendidikan diluar negri.
“Alhamdulillah baik. Masih lama dia disana, sampai study nya selesai. Kalau liat Aneesha aku jadi kangen sama Indira. Umur mereka hanya selisih tiga bulan.” Kirana menengadahkan wajah ke langit. Menatap bintang yang bertebaran, seolah melihat wajah anaknya.
Riani tersenyum, mengingat masa kecil Aneesha dan Indira dengan segala kelucuannya.
“Argghh.!!” tiba-tiba Riani bergidik. Otaknya kembali memutar memori 23 tahun yang lalu. Saat Ia melahirkan Aneesha, dan kejadian sebelumnya.
“Kamu kenapa, Ri?” tanya Gita dan Kirana hampir bersamaan.
“arrgghh!!” Riani kembali berteriak dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Ri?” Kirana mendekap tubuh Riani, Gita mengikuti. Mendekap tubuh kedua wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu.
“Kamu ingat kejadian itu, Ri?” tanya Kirana, Riani mengangguk dalam dekapan Kirana.
“setiap mengingat hari lahir Aneesha, aku ingat itu Mbak. Walau sudah kucoba melupakan. Tapi sekelebat kenangan itu seperti berputar-putar diotakku.” jawab Riani lirih, dengan suara bergetar. Airmata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Kirana mengendurkan dekapannya, begitu juga dengan Gita. Riani masih berusaha menguasai diri, menahan agar airmata tak sampai jatuh.
“Sudah! Lupakan! Itu hanya masa lalu, sekarang kamu sudah bahagia. Ketiga anakmu bangga punya Ibu sepertimu.” Kirana mencangkup wajah Riani dengan kedua tangannya. Sedangkan Gita mengelus punggung Riani.
Ketiga wanita paruh baya itu lalu saling tersenyum, membuang pandangan ke atas. Menatap langit malam yang bertaburan bintang. Memang tidak ada yang bisa benar-benar menghapus kenangan apalagi kenangan pahit. Yang sudah terekam di otak, suatu saat akan diputar kembali. Diingatkan kembali.
Tak jauh dari sana, seorang gadis baru saja menghentikan langkah. Entah dari mana, Ia menatap tiga wanita paruh baya itu sambil tersenyum. Kemudian mengarahkan kamera ponsel kearah tiga wanita paruh baya itu.
“Ah, sayang, aku nggak bawa kamera.” gadis itu menatap tangkapan kamera ponselnya. Beberapa foto Ia dapat, foto tiga wanita paruh baya dengan warna baju dan jilbab yang sama. Dengan jiwa keibuan yang tergambar diwajah mereka.
“dorr!!” aneesha terlonjak kaget oleh tepukan dan pekikan seorang pria, sampai hampir saja menjatuhkan hp. Kalau saja pria itu tidak sigap menangkapnya.
“Kak Tara! Ngagetin!” Aneesha merebut Hp yang dari tangan Tara, pria itu sedang tertawa. Aneesha mengerucutkan bibir kesal karena dibuat kaget oleh Tara.
“Maaf…. lagi serius ya?” Tara menghentikan tawa ketika melihat Aneesha cemberut.
“Heemm…” jawab Aneesha singkat, masih kesal dengan Tara.
“Udah, jangan cemberut! Nih.” Tara memberikan sebuah kotak berwarna biru cerah dihias pita warna pink cantik, kepada Aneesha.
“Ini… buat aku?” Aneesha ragu menerima pemberian Tara.
“Emang siapa yang ulang tahun hari ini?” tanya Tara.
“Aku.”
“ya, udah. Mau nggak?” Tara hendak menarik kembali pemberiannya, segera Aneesha mengambilnya.
“Makasih, ya, Kak.” Ucap Aneesha sambil hendak membuka kotak itu.
“Eh!” Tara menahan tangan Aneesha yang hendak membuka kotak hadiahnya.
“Kamu nggak tahu etika membuka kado, ya?” tanya Tara membuat kening Aneesha berkerut.
“Buka kado ada etikanya emang?”
“Adalah. Salah satunya jangan dibuka didepan yang ngasih.” kata Tara penuh penekanan.
“ha ha ha…. oke oke. Nanti kubuka dirumah.” Aneesha mengurungkan niat membuka hadiah dari Tara.
“Selamat 23 tahun, Aneesha Pramudhita Putri Adhitama. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu bersamamu.” Aneesha menahan tawa mendengar nama panjangnya disebut.
“Aamiin…. do’a yang sama untukmu, Kak.” jawab Aneesha dengan senyum.
Keduanya kemudian berjalan menyusuri koridor panti yang sudah dalam keadaan sepi itu. Melihat deretan kamar disampingnya, sejenak mengingatkan akan masa kecil Tara.
“Tadi Kamu lagi ngapain, Sha?”
“Ini, Aku ambil foto tiga bidadari surga.” Aneesha menunjukkan layar hp yang menunjukkan foto tiga wanita paruh baya sedang memandang langit.
“Kamu benar, mereka perempuan hebat, karena mereka aku bisa punya cerita masa kecil dan merasakan kasih sayang seorang Ibu.” ucap Tara yang dibalas senyum oleh Aneesha. Keduanya terus berjalan pelan.
“Kudengar Kamu mengembalikan hadiah dari Papamu, Sha?”
“Tau darimana? Ayah cerita sama Kakak?” Aneesha mengernyit mendengar pertanyaan Tara.
“Nggak, tadi aku hanya mendengar sekilas saat Pak Fares cerita sama Pak Firman dan Pak Haris.” jawab Tara agar Aneesha tidak salah paham.
Aneesha enggan menanggapi, Ia hanya diam sambil terus berjalan pelan menyusuri koridor.
“Aneesha….” panggil Tara.
“Heemm….”
“Bukankah setiap orang bisa berubah? Termasuk Pak Reza.” Tara berkata dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan Aneesha.
“Kakak ingin membujukku juga? Agar mau berbaik hati pada Pak Reza?” Aneesha menghentikan langkah, memposisikan diri agar berhadapan dengan Tara. Ia menatap tajam pria disebelahnya itu.
“Aku hanya tidak ingin hatimu diliputi dendam dan kebencian, Sha. Pak Reza sudah bertobat dan-”
“Cukup, Kak! Aku sedang tidak ingin membahasnya.” Aneesha berjalan cepat meninggalkan Tara, tidak memperdulikan Tara yang berteriak memanggil namanya.
Tara menghela nafas panjang sambil memejamkan mata, lalu perlahan membukanya. “sifat keras kepalamu ini yang tidak kusukai, Sha.” gumamnya.
Sementara itu disebuah kamar kosong, seorang wanita sedang duduk dipinggir tempat tidur sambil memandang box bayi dan dinding yang penuh coretan dengan tinta spidol yang terlihat sudah usang.
Kamar ini sengaja dikosongkan tanpa mengubah apapun isinya. Box bayi, tempat tidur yang tak terlalu besar, dinding penuh coretan, semuanya masih sama dengan 23 tahun kurang dua bulan yang lalu. Saat dirinya datang ke panti ini dengan membawa putri kecil yang tak henti menangis.
Perlahan Ia berdiri, meraba dinding penuh coretan, lalu meraba box bayi yang masih kokoh walaupun pemiliknya sudah tumbuh dewasa. Otaknya kembali memutar kenangan setahun sebelum wanita itu datang ke panti ini. membawa bayi kecil yang baru berusia dua bulan.
.
.
.
Bersambung.....
Tahan... tahan... jangan tumpah dulu....( ketawa jahat)
komen, like, bintang 5 ya. vote untuk yang punya lebihan poin.
Terima kasih.