"Aku suamimu. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku." Kata Riza membuat Sang Istri menghentikan langkahnya.
Gadis itu membalikkan badan menatap Riza dengan wajah datar. "Jangan terlalu berharap banyak dalam pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu." Kata Jihan penuh penekanan dan segera pergi.
"Ku mohon cintailah aku." Lirihnya menatap sendu kepergian Sang Istri. Cintanya tak terbalas. Namun Ia akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati gadis yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Bahagia Riza
Jihan perlahan duduk di dekat suaminya masih dengan senyum yang belum luntur berbanding dengan isi hatinya yang sedang mengumpat saat ini. Riza menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Istri Ustadz Riza namanya siapa?" Tanyanya mereka di lanjut dengan berpuluh puluh pertanyaan lain yang datang dari penonton juga. "Pertanyaan yang terakhir. Siapa yang mau bertanya silahkan." Kata pembawa acara. "Saya." Suara lantang seorang wanita terdengar sembari mengangkat tangan. Zahra berdiri menatap Jihan dengan tatapan remeh. "Saya Zahra ingin bertanya. Bisakah Jihan membaca Al Qur'an? Jika bisa mohon di praktekkan sekarang." Katanya sengaja ingin menjebak. Riza ketar ketir takut istrinya di permalukan. Jujur selama menjadi suaminya Riza tak pernah sekalipun melihat Jihan membaca kitab suci itu. "Silahkan." Ucap seseorang meletakkan Quran yang sudah terbuka untuk di baca Jihan. Jihan menutup Qur'an itu membuat semuanya saling berbisik sementara Zahwa tersenyum menang. Riza mengusap tangan istrinya dengan lembut sembari menunduk. "audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim......" Suara merdu itu mengalun lembut menenangkan hati semua orang. Mereka terpaku di tempat karena Jihan mengumandangkan surah Al Kahfi tanpa melihat Al Qur'an. Tak jarang air mata mereka menetes mendengan lantunan Ayat suci yang begitu indah itu termasuk juga Riza.
Jihan hanya diam sembari fokus memainkan ponselnya tak menanggapi Riza yang sedaritadi berceloteh. "Istriku ternyata. Suaramu sangat indah Sayang. Sejak kapan kamu menghafal Al Qur'an?" Tanya Riza tak berhenti tersenyum. "Sejak kecil. Dia belajar dari Ibu." Mark yang menjawab karena tau kakaknya sedang bad mood sekarang. "Berhenti di depan. Aku mau pizza." Katanya membuat Sang suami mengangguk setuju.
Sampai di rumah, ketiganya langsung makan bersama tanpa mengganti pakaian. Jihan hanya melepas jilbabnya sembari menggulung lengan gamis agar tidak kotor. "Mark. Kapan kamu akan periksa mata? Jangan di tunda tunda." Mark mengangguk dengan mulut penuh. "Matanya kenapa?" Tanya Riza. "Buram kalau melihat objek jauh." Jawabnya setelah menelan makanan di dalam mulut. "Besok kakak antar. Kamu ada kuliah jam berapa?" Tanya Jihan. "Besok kosong. Dosennya sedang berhalangan untuk hadir."
Riza menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu ikut naik dan memeluk sang istri. "Kenapa?" Tanya Jihan melihat gelagat aneh suaminya. "Aku mau dek. Aku sudah tidak tahan." Keluhnya menahan sesuatu. "Tidak tahan apa?" Tanya Jihan tidak mengerti. "Ya itu....Aku pengen kamu. Pengen di layani kamu. Pengen itu lo dek....Masa kamu tidak mengerti juga." Riza gemas dengan istrinya. Masa tidak tau kalau suaminya lagi pengen. "Waktu itu sakit." Kata Jihan. "Sekarang sudah tidak karena sudah di masuki." Jawab Riza dengan cepat. "Masa? Awas saja kalau sakit." Ucap Jihan memperingati. "Berarti boleh dong?" Tanya Riza dan Jihan mengangguk. "Terimakasih." Ucapnya begitu bersemangat.
"Kenapa besar sekali?" Ucap Jihan menarik selimutnya karena ragu ketika melihat milik sang suami. "Milik Mas Menang segini. Kamu pernah mencobanya. Aku rasa pas dengan milikmu." Jawab Riza meyakinkan. "Kalau kamu masih takut takut setengah saja." Lanjutnya membuat Jihan kembali mengangguk. Riza memulai aksinya membuat tanda di dada dan perut sang istri. "Sakit..." Keluh Jihan mencengkram lengan suaminya. "Sebentar dek. Ini masih sempit." Kata Riza sembari mendorong dengan lembut. "Au.....Kenapa kamu masukkan semua. Katanya cuman setengah." Jihan mencengram lengan suaminya lebih erat. "Kok kamu tau?" Pria itu bertanya. "Tau lah. Rasanya....Auh....." Jihan menggigit bibirnya ketika pinggul Riza mulai bergerak pelan. "Sabar dek. Sayang kalau mau di keluarkan. Mas sedang berada di puncaknya. Kamu nikmati saja. Sebentar lagi tidak akan sakit." Kata Riza mengusap lembut kepala sang istri.
"Katanya tidak sakit. Ini masih sakit." Jihan protes karena setelah penyatuan mereka berakhir pun miliknya masih nyeri. "Ayo mandi air hangat biar mendingan." Riza meraih jubah tidurnya kemudian menggendong sang istri masuk ke kamar mandi.
Pria berendam sembari memangku istrinya. Menyabuni punggung mulus itu dengan gerakan yang lembut. "Masih sakit dek?" Tanya Riza memastikan. "Mendingan." Jawab Jihan pelan. "Terimakasih." Ucap Riza memeluk erat tubuh polos sang istri. Riza begitu bahagia hari ini. Ia mendapat rezeki dan nikmat berlipat ganda dari istrinya. Istrinya memberikan Ia kejutan tak terduga yang membuatnya senang dan bangga.