NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 Merasa Tidak Pantas

Celia malu dengan nilainya yang peringkat terakhir, membuatnya perlahan mundur banyak kepercayaan dirinya hilang, meninggalkan tempat tersebut dengan penuh kesedihan.

"Eh kok kabur...." ucap Diego.

"Malu ya, katanya pintar eh ternyata paling bego," sambung Kania.

"Huhhhhhh, pasti nangis itu sembunyi-sembunyi!" Yogi bersama dengan teman-temannya tidak berhenti mengejek Celia yang sudah meninggalkan tempat tersebut.

Celia tampak bersedih, terlihat duduk di anak tangga yang mengarah pada lapangan sepak bola, sinar matahari memancar begitu cerah dengan teriknya yang seolah-olah membakar Celia.

Tetapi Celia tidak peduli sama sekali, masih memikirkan nilainya yang benar-benar drastis menurun.

"Jadi hanya seperti ini batas kemampuan murid SMA Cendrawasih," Celia mengerutkan dahi mendengar suara tersebut membuatnya menoleh ke belakang.

Alfian berdiri dengan satu alisnya terangkat, kedua tangannya berada di saku celananya.

"Bukan hanya sekolahnya saja yang tidak layak tetapi murid-muridnya juga benar-benar tidak layak," ucapnya benar-benar meremehkan Celia semakin kesal.

"Jangan sombong semua belum dimulai," sahut Celia.

"Belum di mulai, memangnya kita saat ini sedang bertanding?" tanya Alfian.

"Wajar saja jika nilaiku lebih rendah daripada kalian, aku baru saja masuk SMA ini kan aku belum bisa menyesuaikan diri, baik pelajarannya dan juga lain sebagainya," ucap Celia.

"Masih mencari pembelaan, bukan nilainya lebih rendah dibandingkan aku dan juga teman-temanku, tetapi nilai kamu memang jauh dibawah rata-rata dan paling terakhir," ucap Alfian terdengar begitu kejam meremehkan dirinya.

Celia hanya bisa memberikan ekspresi marah, tampak menahan diri dengan wajahnya memerah yang ingin sekali menerkam Alfian dengan mulutnya yang sangat jahat, tetapi apa yang dikatakan Alfian memang benar dan seharusnya tidak ada pembelaan bagi Celia.

"Makanya jadi cewek itu jangan sombong, jangan merasa paling baik," ucap Alfian mendengar kasar dan kemudian langsung pergi.

"Jadi dia menemuiku hanya ingin mengejekku saja, benar-benar menyebalkan!" umpat Celia dengan matanya berkaca-kaca.

"Kenapa nilaiku bisa berantakan seperti ini, aku sudah belajar mati-matian, benar-benar memalukan,"

"Hiks-hiks-hiks"

Celia jadinya menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, ternyata suaranya sedikit keras membuat langkah Alfian terhenti dan menoleh ke belakang.

Alfian melihat bagaimana Celia tampak gelisah dengan menangis seperti anak kecil yang membuat Alfian menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan langkahnya.

******

Karena nilai berantakan membuat Celia tampak tidak semangat berada di warung bakso bersama dengan kedua temannya.

"Celia baksonya bisa mengecil jika tidak secepatnya kamu makan, ayo di makan!" ucap Chaca.

"Kayaknya aku harus pindah dari sekolah itu," sahut Celia tampak galau.

"Hah!" pekik Chaca dan Chika secara serentak

"Pindah bagaimana?" tanya Chaca.

"Aku benar-benar malu menjadi peringkat terakhir, dan aku tidak menyangka jika Alfian menjadi peringkat pertama dan teman-temannya juga merupakan orang-orang yang pintar," jawab Celia.

"Nilai kamu dikerjain kali oleh mereka, mereka tuh banyak uang dan berkuasa di sekolah sudah pasti hal-hal seperti itu mudah dilakukan," sahut Chaca merasa temannya itu sedang di sabotase.

"Tidak mungkin, karena memang jujur saja soal-soalnya sulit, gue mengalami kesulitan untuk memahaminya," jawab Celia.

"Jadi pada kesimpulannya Alfian dan gengnya itu adalah orang-orang yang pintar?" tanya Chika.

Celia menganggukkan kepala.

"Mereka kenapa jadi sempurna, sekolah di tempat bagus fasilitas lengkap, punya uang banyak, orang tua kaya raya, fasilitas apapun selalu ada jika ingin ke sekolah, cantik-cantik tampan modis ada sekarang pintar," sahut Chaca tanpa sadar memberikan pujian kepada Alfian dan gengnya.

"Shuttt, kita juga cantik-cantik," sahut Chika.

Celia tidak bersemangat untuk membicarakan Alfian dan teman-temannya, dia masih memikirkan nilainya.

"Celia, seumur hidup kamu baru pertama kali menjadi peringkat terakhir dan bagi pula ini hanya ujian bulanan, apa kabar dengan kita berdua yang selalu peringkat terbawa dan memang belum pernah sih menjadi peringkat terakhir, kamu masih memiliki banyak kesempatan di ujian-ujian berikutnya dan sampai ujian akhir nanti," Chika berusaha untuk memberi semangat temannya.

"Tetapi tetap saja aku benar-benar malu," ucap Celia.

"Sudahlah abaikan saja mereka, sekarang kita makan dulu baksonya dan ke depannya kamu bisa belajar lebih giat lagi," sahut Chika.

"Benar!" sahut Chaca.

"Bagaimana cara mereka belajar? padahal mereka kerjanya setiap hari main, tapi kenapa otaknya pada encer," batin Celia.

Tin-tin-tin

Ketiga wanita yang saat ini menikmati bakso di pinggir jalan itu tiba-tiba saja kaget dengan suara klakson mobil.

"Cie lagi perayaan temannya yang peringkat pertama ya!" ternyata itu adalah Yogi bersama dengan teman-temannya yang membuka pintu kaca mobil dan terdengar begitu mengejek ke arah Celia.

"Kok peringkat pertama sih?" tanya Kania.

"Peringkat pertama dari terakhir," sahut Yogi dan Diego secara serentak benar-benar mengejek Celia.

"Ha-ha-ha-ha-hah!" mereka terbawa terbahak-bahak.

"Apa sih lo, beraninya main keroyokan!" Chika dengan premannya tidak terima mengambil helmnya dan ingin melempar mobil tersebut.

"Apa hah....."

"Kejar, ayo kejar....." orang-orang yang berada di dalam mobil itu malah menantang dengan menjulurkan lidah mereka tampak mengejek Chika yang dipenuhi dengan amarah dan sementara Alfian tampak tenang yang duduk di di kursi pengemudi.

Ketika Chika sudah semakin dekat mereka memerintahkan Alfian untuk menyetir.

"Huhhh dasar pengecut!" teriak Chika.

Celia tidak memiliki semangat untuk ikut menyerang orang-orang yang mengejeknya dan ternyata Alfian melihat ekspresi Celia dari kaca spion.

"Memang dasar anak-anak kampungan, tongkrongan mereka benar-benar sangat norak," sahut Kania tertawa geleng-geleng kepala.

"Sudah pasti sekarang dua teman gadis kampungan itu pasti sedang memberi semangat kepadanya ayo kalau bisa kamu juara lebih dari terakhir dari satu sekolah," ejek Yogi dengan mereka semua tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.

Alfian tidak menanggapi, dengan wajah datarnya tetap melihat lurus ke depan dan menyetir.

"You oke Alfian!" tegur Kania melihat bagaimana ekspresi Alfian dari kaca spion.

"Memang Alfian kenapa?" tanya Valery yang duduk di sebelahnya dan memperhatikan ekspresi temannya yang memang temannya selalu memberikan ekspresi seperti itu.

"Entahlah, kenapa gue ngerasa Alfian belakangan ini sering memperhatikan cewek kampungan itu, mungkin ke Alfian kasihan kepadanya?" tebak Kania membuat suasana di dalam mobil tiba-tiba saja hening dan tertuju pada Alfian.

"Apaan sih lo semua ngaco, gue hanya nggak suka aja dengan tingkah anak-anak seperti ini," sahut Alfian.

"What! Anak-anak lo bilang, menurut lo kita semua anak-anak?" tanya Valery.

"Buat apa coba kalian ribut-ribut tidak jelas, serang sana-sini ejek sana sini, berisik tahu," tegas Alfian.

"Alfian memang kenapa sih tiba-tiba jadi nggak asik gini," mood Valery jadi berantakan.

Suasana seketika menjadi hening kecandungan satu sama lain, Yogi dan Diego juga saling melihat dengan mengangkat kedua bahu masing-masing dan tiba-tiba saja mobil itu berhenti.

"Loh kok berhenti, kita mau ngapain?" tanya Yogi.

"Kalian duluan aja," Alfian membuka sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil.

"Heh Alfian lo mau kemana?"

"Alfian!" panggil Valerie yang diabaikan oleh Alfian terlihat berjalan menyeberangi jalan dan berjalan berbeda arah dengan teman-temannya.

"Kok dia nyebelin banget sih!" Valery bener-bener sangat muak.

Bersambung......

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!