Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?
Manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Baik itu soal rezeki, umur, maupun jodoh.
Zayn dan Amira yang telah bersahabat sejak kecil, menerima perjodohan mereka karena memang saling mencinta. Satu minggu setelah bertunangan, Zayn dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Amira terpuruk Tak lagi yakin ada cinta sejati untuknya.
Namun siapa sangka, di tengah keterpurukannya itu hadirlah sosok laki-laki yang mampu membangkitkan semangat hidupnya dan mampu membuatnya tersenyum kembali.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apa Zayn benar-benar tewas ataukah ada lelaki lain yang hadir dalam hidup Amira?
WARNING!!
Banyak mengandung bawang.
Siapkan tisyu dulu yah sebelum membaca!
Budayakan tekan LIKE di tiap eps sbg bentuk dukunganmu utk penulis dan novel ini... TQ 🙏
Follow Ig Author @_anita.rai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Amar terkejut begitu menerima telepon dari Bi Minah. Biasanya kalau Bi Minah menelponnya pada saat jam kerja, pasti ada hal buruk yang sedang menimpa istri atau anaknya. Amar segera menjawab panggilan itu.
"Assalamu'alaikum Bi, ada apa?" tanya Amar dengan penasaran.
"Wa'alaikumussalam. Anu Tuan, non Mira ...."
"Kenapa dengan Mira?" Amar sangat panik saat Bi Minah menyebut nama putrinya.
"Non Mira pingsan, Tuan."
"Apa? Pingsan? Kenapa Mira bisa pingsan, Bi?"
"Tadi nyonya Aulia sama non Mira nonton berita di TV, Tuan. Di TV ada berita tentang den Zayn yang baru saja mengalami kecelakaan pesawat dan dinyatakan meninggal."
"Apa? Zayn meninggal?" Amar tersentak kaget mendengar berita itu.
"Iya Tuan. Makanya non Mira tadi sampai berteriak histeris lalu pingsan."
"Sekarang dimana Mira, Bi?"
"Non Mira ada di kamarnya sama nyonya Aulia."
Ucapan Bi Minah bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong. Tanpa berkata apa-apa lagi, Amar langsung menutup teleponnya lalu meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal.
***
Sesampainya di rumah, ternyata Amira sudah sadarkan diri. Namun gadis itu masih menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Aulia berusaha menenangkannya.
"Assalamu'alaikum, " ucap Amar setelah memasuki kamar putrinya. Amira dan Aulia pun meleraikan pelukan lalu melihat ke arah Amar.
"Wa'alaikumussalam," sahut Aulia.
"Papaaaa ...." Amira langsung berhambur memeluk ayahnya.
"Kak Zayn, Pa ...." lanjut Amira sambil terisak.
"Papa sudah tau, Sayang. Kamu yang sabar ya! Sekarang kita ke rumah papa Raffi dan mama Echa! Mereka semua pasti sangat terpukul mendengar berita ini."
***
Bu Dahlia sudah tiba di rumah Raffi beberapa saat yang lalu. Kini dia berusaha menghibur putrinya yang sejak tadi tidak berhenti menangis.
"Esha, istighfar Nak! Jangan menangis lagi! Kamu harus berusaha ikhlas menerima ujian ini. Kita berdoa saja pada yang Maha Kuasa, semoga Dia memberikan keajaiban untuk kita semua. Semoga Zayn selamat dan bisa berkumpul lagi bersama kita," ucap Bu Dahlia sambil mengusap-usap punggung putrinya.
"Esha nggak bisa kalau harus kehilangan Zayn, Bu. Esha nggak bisa," sahut Esha di sela isak tangisnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu utama diketuk. Bi Nanik bergegas membukakan pintu. Ternyata Amar, Aulia dan Amira yang datang. Bi Nanik pun mempersilahkan mereka masuk lalu mengantar mereka ke ruang keluarga menemui majikannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Amar, Aulia dan Amira sambil berjalan mendekati Raffi, Esha, Bu Dahlia dan Willy.
"Wa'akaikumussalam," sahut mereka semua.
"Esha ...." Aulia menjatuhkan tubuhnya di samping Esha kemudian memeluk sahabatnya itu. "Kamu yang sabar ya, Sha!"
"Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan anakku, Lia ...." Esha menangis di pelukan Aulia.
"Mama Echa, Mira juga nggak sanggup kalau harus kehilangan kak Zayn, Ma," ungkap Amira sambil berlinang air mata.
Esha pun meleraikan pelukannya kemudian berdiri dan gantian memeluk Amira. Mereka berdua saling berpelukan sambil menangis tersedu-sedu. Semua orang yang ada di ruangan itu merasakan kesedihan yang teramat dalam atas musibah yang menimpa Zayn.
Beberapa saat kemudian, Raffi dan Willy berpamitan kepada semua orang untuk pergi ke lokasi kejadian. Mereka akan berusaha mencari Zayn dan Olivia bersama tim SAR. Amar menawarkan diri untuk ikut membantu. Mereka bertiga pun berangkat dengan menaiki helikopter yang disewa Raffi.
***
Hari sudah semakin senja. Sebentar lagi matahari akan menyembunyikan diri. Raffi, Willy dan Amar masih berada di lokasi kejadian bersama tim SAR gabungan dan para anggota TNI untuk mengevakuasi para korban yang tewas tenggelam.
Tim penyelam telah berhasil mengevakuasi beberapa jenazah korban. Raffi, Willy, dan Amar melihat jenazah yang sudah terbujur kaku tersebut satu per satu. Namun mereka tidak menemukan Zayn maupun Olivia di antara jenazah-jenazah tersebut.
"Maaf Pak, anak dan sekretaris saya tidak ada di antara jenazah-jenazah itu. Apa ada kemungkinan kalau mereka selamat?" tanya Raffi kepada tim SAR dan para TNI yang sedang menjalankan tugas.
"Menurut analisa kami, tidak ada yang selamat dalam kecelakaan ini Pak, karena pesawat jatuh di tengah laut yang sangat luas dan dalam. Banyak korban yang tidak bisa kami evakuasi karena kemungkinan besar jenazah-jenazah itu sudah terseret ombak dan kami tidak bisa melacaknya, Pak," kata salah seorang dari mereka.
Jantung Raffi bagai ditikam pisau mendengar kenyataan pahit itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau secepat itu anak sulungnya pergi meninggalkan dunia ini. Tanpa terasa ada butiran kristal bening yang meluncur di kedua pipi pria paruh baya itu. "Zayn ...." gumamnya lirih sambil menundukkan kepala.
Amar yang berdiri di samping Raffi langsung memeluk sahabatnya itu untuk memberinya kekuatan. "Yang sabar ya Fi," ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
Sementara Willy terdiam seribu bahasa setelah mendengar kenyataan pahit itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya seolah kelu. Hanya butiran air bening yang merembes keluar dari kedua matanya.
Saat hari mulai gelap, tim SAR dan para TNI pun memutuskan untuk menghentikan pencarian. Raffi, Willy dan Amar pulang dengan tangan kosong. Mereka benar-benar sedih dan kecewa karena tidak berhasil menemukan Zayn dan Olivia dalam keadaan hidup ataupun mati.
Selama dalam perjalanan pulang, mereka bertiga hanya terdiam sambil melayani pikiran masing-masing.
Ya Allah, apa yang harus ku katakan pada istriku nanti? Aku benar-benar nggak sanggup melihatnya hancur dan terluka, gumam Raffi dalam hati.
Ya Allah, ujian apa ini? Mira baru saja menemukan kebahagiaannya bersama laki-laki yang amat dicintainya. Kenapa secepat ini Engkau mengambil kebahagiaannya? Mira pasti akan sangat hancur mendengar berita ini, Amar membatin.
Kakak, aku benar-benar nggak bisa percaya kalau kamu sudah nggak ada lagi di dunia ini. Padahal baru satu minggu kita berkumpul setelah sekian lama. Kenapa kamu pergi secepat itu kak? Kenapa kamu tega meninggalkan kami semua? Willy bertanya dalam hati.
***
Hari sudah gelap ketika Raffi, Willy dan Amar tiba di rumah. Mendengar suara mesin mobil, Esha, Aulia, Amira, Bu Dahlia dan semua ART berhambur keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar tentang Zayn.
"Zayn mana Pa?" tanya Esha kepada Raffi begitu suaminya itu turun dari mobil.
"Kak Zayn mana, Pa?" tanya Amira kepada ayahnya.
"Will, dimana kakakmu? Apa kalian tidak berhasil menemukannya? tanya Bu Dahlia kepada Willy.
Raffi, Amar dan Willy hanya diam seribu bahasa. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu. Mereka bingung bagaimana harus menyampaikan kenyataan pahit itu kepada semua anggota keluarganya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....................
Wajib tekan LIKE setelah membaca! Vote dan komentarnya jangan lupa ya.. makasii.. 🙏