Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemikiran sederhana
Dicko kembali dengan perasaan gembira bisa bertemu anaknya yang ternyata adalah Gala. Anak yang pernah nyasar masuk ke mobilnya.
Pantas saja Dicko seperti mempunyai hubungan batin dengan anak itu. Gaya dan sikapnya juga mirip dengannya. Hanya sayangnya, dia tidak bisa memberitahu Gala bahwa dia adalah ayah kandungnya.
Sejak dalam kandungan hingga sekarang, Dicko sama sekali tidak pernah memberikan kasih sayang pada istri dan anaknya. Dia berhutang banyak pada Gala dan Mala.
Bayangan kebahagiaan mereka bertiga didalam satu keluarga membuat Dicko semakin bersemangat untuk mengejar Mala kembali.
***
Sementara, Mala tidak tahu tentang kedatangan Bu Bella ke cafe tempatnya bekerja yang ingin memarahi dan mengancam dirinya. Karena itu dia datang bekerja dengan senyum ceria khas Mala.
Hal itu membuat teman-teman kerjanya memperhatikan dirinya. Mala jadi bingung sendiri. Tapi, dia datang untuk bekerja bukan bergosip jadi biarkan saja.
" Mala, sini. Ada yang mau aku bicarakan," panggil Mei.
" Ada apa? Kenapa serius sekali?" tanya Mala.
Mei memandangi Mala dengan tatapan yang sangat tajam. Mala jadi agak takut, terjadi sesuatu pada Mei.
" Tenang Mei, jika ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Jangan seperti itu kamu melihatku, seperti mau memakan aku saja," kata Mala berusaha tenang.
" Mala, apa hubunganmu dengan Andra?!" tanya Mei serius.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Nggak pentingkan?" tanya Mala.
" Mala, kamu nggak mau jawab, berarti aku anggap kalian ada hubungan," kata Mei kesal.
" Bukan, tidak. Aku dan Andra hanya teman biasa dan tidak lebih dari itu," jawab Mala.
" Mala, kalau begitu kalian pacaran saja bagaimana?!" tanya Mei.
" Ada-ada saja. Kamu pikir semudah itu pacaran?" Mala balik bertanya.
" Bukankah dia ganteng dan baik hati. Dan yang terpenting, dia mencintai kamu. Semua orang tahu itu, kamu jangan pura-pura tidak tahu," kata Mei.
" Ada banyak pertimbangan, ketika memutuskan untuk berpacaran. Jika masih muda dan bucin itu wajar. Tapi aku janda beranak satu, aku harus bisa menempatkan diri. Tidak boleh gegabah dalam membuat keputusan," kata Mala.
" Maaf Mala. Aku hanya terbawa emosi. Soalnya kemarin ibunya Andra datang ke sini mencarimu. Dan kamu tahu, aku dikira kamu lalu tanpa bertanya dia menamparku. Sakitnya masih terasa sampai saat ini. Apalagi sakit hatiku," kata Mei.
" Mei maafkan aku telah menyusahkan kamu. Harusnya aku yang ditampar, malah jadinya dirimu," kata Mala sedih.
" Sudahlah bukan salahmu juga. Tapi jika ibunya sampai datang mencarimu, berarti orangtua Andra tahu kalau dia mencintaimu," kata Mei sambil tersenyum.
" Terus, harusnya aku senang atau sedih?" tanya Mala.
" Senang lah, kan Andra gantengnya kebangetan. Kalau aku nggak bakal aku lewatin," kata Mei.
" Memangnya jalan pakai dilewatin. Aku sekarang nggak mau mikirin cinta. Banyak hal yang harus aku capai untuk masa depanku dan Gala anakku. Jadi bye bye cinta," kata Mala sambil berlalu pergi.
Mei hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Mala. Memang Mala kali ini bisa bicara seperti itu, tapi nanti kalau dia sudah terjerat yang namanya cinta, dia pasti tak bisa menolak.
***
Kabar kedatangan ibu Andra ketempat kerja Mala sampai juga ke telinga Bara. Sepulang kerja, Bara sengaja mendatangi cafe untuk menjemput Mala sekaligus membicarakan tentang kedatangan ibunya Andra.
Kedatangan Bara sempat membuat Mala kaget, karena tempat kerja Bara dan Mala tidak searah. Tapi Mala juga tidak ingin menduga-duga sesuatu yang belum pasti.
" Hai Bara, tumben mampir, apa mau bertemu pak bos?" tanya Mala sambil duduk di hadapan Bara.
" Nggak lah, bos kamu itu kalau jam segini meracik kopi. Aku pingin ketemu Mala saja, si cantik dari kampung nelayan," kata Bara sambil tertawa.
" Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan ucapan mu? Sejak kapan kamu bisa berkata manis seperti itu? Semenjak aku menikah sampai sekarang, baru kali ini kamu berani bicara seperti itu," kata Mala.
" Jika aku berani bicara seperti itu, suamimu pasti akan membunuhku. Tapi sebelum kamu menikah, aku sering bicara lebih manis padamu kan? Sekarangpun harusnya tak masalah, karena tak akan ada yang marah?" kata Bara.
" Terserahlah, aku sih nggak peduli ya," kata Mala sambil mengangkat bahunya.
" Mala, aku dengar tentang kejadian kemarin. Jika bisa, jauhi si Andra itu. Agar tidak ada masalah dikemudian hari. Aku khawatir denganmu,Mala," kata Bara
" Ibunya Andra hanya salah faham saja. Aku dan Andra tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman," kata Mala.
" Tapi tidak semua orang berpikir sederhana seperti kamu. Kamu harus ingat tujuan kamu di kota ini. Gala menunggu untuk bisa segera bersama ibunya," kata Bara.
" Aku ngerti, dan aku tidak akan lupa tujuan awal aku kuliah di sini," kata Mala.
Mala termenung seolah melihat anaknya sedang melambaikan tangannya. Hidup terpisah dengan anaknya adalah ujian terberat dalam hidupnya.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁