NovelToon NovelToon
Dinikahi Pewaris Tahta

Dinikahi Pewaris Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cintamanis
Popularitas:52k
Nilai: 5
Nama Author: Stefhany 22

Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.

Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!

Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Dan disinilah Danzel berada sekarang. Ditemani matahari yang mulai ditelan bumi. Sinarnya yang berwarna jingga kemerahan. Sejak satu jam yang lalu, ia menemani dua perempuan paling menjengkelkan sepanjang harinya ini jalan jalan. Hari terakhir Ely bersamanya, gadis itu meminta ditemani jalan jalan keliling kota. Dan tujuan terakhir mereka adalah taman bermain anak anak ditengah kota.

Lelaki itu menyeka keringat di pelipisnya. Melirik Mala dan adik sepupunya yang bermain riang disana. Lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi taman itu. Cuaca sore ini masih panas untuknya, Danzel belum beradaptasi penuh dengan cuaca di negara ini.

Mata terangnya tak lepas dari Ely, si kecil menggemaskan yang tengah asik bermain seluncuran. Gadis kecil itu tertawa riang, berlari mengelilingi kursi panjang tanpa beban. Lalu beralih ke permainan selanjutnya. Antusiasme istrinya mengalahkan pengunjung lain yang ada disana. Sampai seru - seruan riang dari perempuan itu menyita perhatian yang lain. Danzel sesekali menghela napas, menaikan sebelah alisnya. Merasa sikap istrinya itu terlalu kampungan.

"Sudah, ayo kita pulang." Mala berjalan menghampirinya dengan sepucuk eskrim ditangan. Bahkan hingga meleleh di tangannya. Menggandeng bahu Ely agar mengikuti langkahnya yang lebar.

"Hm, setelah mengantar Ely kita kerumah Opa." Ia mengitari mobil hitam tersebut, duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin. Mala menyusul duduk di kursi samping, sementara Ely anteng di belakang, asik dengan eskrim strawberry favoritnya.

Mala memilih tak bertanya alasan mereka akan pergi mengunjungi rumah opa. Lelaki favoritnya setelah kakek dan sahabatnya di desa.

***

Selepas mengantarkan adik sepupu mereka, yang sempat menangis saat akan berpisah tadi kerumah ibunya sesuai rencana Danzel dan istrinya mampir ke rumah Opa Johan. Menurut cerita dari penjaga tadi, Aisha dan Arthur sudah kembali ke Amerika beberapa hari yang lalu. Mereka terburu buru, ada urusan genting sehingga tak sempat berpamitan pada anggota keluarga yang lain. Sepertinya itu sebabnya raut wajah suaminya itu berubah menjadi lebih baik, dia tak akan bertemu dengan Daddy Arthur. Untuk sementara ini, Danzel sepertinya memang benar benar tak mau berjumpa dengan ayahnya tersebut.

"Masuklah nak," Sambutan hangat dari opa Johan menyambut Mala. Pria tua itu menghadiahkan pelukan hangat pada cucu menantunya, mempersilahkan duduk diatas sofa. Lagi lagi Danzel merasa diabaikan.

"Yang cucu Opa itu aku atau dia?" Sungutnya kesal. Lalu mendaratkaan tubuhnya diatas benda empuk itu. Wajahnya masih masam.

"Ya, sebenarnya opa berharap Mala adalah cucu kandung opa dan kamu yang menantunya. Tapi apa boleh buat. Takdir." Agaknya opa sengaja menyindir Danzel, ia tak sungguhan marah. Hanya memberi sedikit teguran lewat perkataanya. Opa lalu kembali melemparkan senyum ramahnya pada Mala, dibalas gadis itu dengan baik.

"Opa.." Danzel mulai mengeluarkan jurusnya.

"Sudahlah, cepat ambil yang kamu perlukan dari sini. Opa mau bicara dengan Mala dulu." Mala tersenyum ramah menanggapi opa Johan, lelaki yang selalu baik padanya. Bahkan bisa dibilang yang paling berjasa padanya selama ia ada disini. Memastikan keamanannya. Satu hal yang tak ia sesali, karena Opa Johan ia harus menikah dengan Danzel. Tapi sudahlah, ia pasrah mengikuti lika liku kehidupannya. Biarkan mengalir seperti air.

"Opa mau bicara apa?" Danzel bertanya sebelum beranjak. Ia kemari untuk mengambil beberapa peralatan camping nya yang tertinggal disini. Untuk persiapan besok.

"Kamu tidak perlu tahu. Setelah selesai temui opa di ruang kerja lima belas menit lagi." Ujarnya. Opa Johan mendekat, ia ingin berbicara empat mata dengan cucu menantunya. Cucu dari Salim, sahabat lamanya.

***

"Opa, aku sudah selesai." Menuruni tangga dengan tangan yang menenteng beberapa koper dan tas ransel besar berisi berbagai barang yang belum sempat ia ambil darisini, lelaki berdarah campuran itu menghampiri sang kakek. Opa Johan tampak baru akan beranjak dari tempat duduknya semula. Tak terdapat tanda tanda keberadaan Mala, entah kemana gadis itu.

"Kemarilah." Opa Johan berjalan ke sebuah ruangan. Meminta cucunya itu mengikuti.

"Letakkan barang barangmu dulu, " Kembali menoleh kearah Danzel, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Raut wajah Danzel tampak bingung, opa tampak serius. Tapi kakinya tetap bergerak mengikuti langkahnya. Sambil berpikir, kesalahannya apa yang ia lakukan. Rasanya beberapa hari terakhir ia tak membuat masalah, kecuali kalau Mala mengadukan apa yang terjadi semalam.

****

"Kenapa? ada yang mau opa bicarakan?" Danzel bertanya setelah mendaratkan tubuhnya ke sofa.

"Katakan sejujurnya, kamu semalam mengadakan pesta di apartemen kan?" Wajah tua opa tampak serius, seakan ingin marah tapi ia tahan. Opa Johan masih berharap perubahan pada sifat cucunya. Sepertinya tujuan Aisha mengirimkannya kemari, menjauhkan Danzel dari temannya di Amerika yang kian membuatnya nakal.

"Iya." Danzel lugas menjawab. Mengutuk Mala dalam hati yang sudah mengadu pada kakeknya.

"Tapi apa salahnya opa, aku biasa melakukannya. Kami anak muda." Elaknya. Mencari pembelaan diri agar mengurangi amarah opa.

Beberapa saat lengang. Mata tua opa yang kian berwarna terang karena usianya memandang cucunya lekat. Raut wajahnya datar, tanpa ekspresi.

"Kamu melakukan kesalahan, Danzel!"

"Apa maksud Opa?" Berseru tak mengerti.

"Apa kamu bersikap tidak baik pada Mala selama ini? " Opa Johan malah balik melayangkan pertanyaan. Yang tentunya tak akan bisa dijawab Danzel dengan jujur.

"Maksud Opa bagaimana? Aku memperlakukannya dengan baik? Apa dia mengadu yang tidak tidak pada Opa?!" Danzel mulai terpancing emosi. Kali ini dia benar benar kesal pada istrinya itu. Entah apa yang ia katakan pada Johan sampai pria itu menegurnya.

Lagi lagi bukannya menjawab semua kebingungan cucunya, Opa Johan mengatakan hal lain.

"Dengarkan pria tua ini, Danzel Anderson. Kau perlakukan istrimu itu dengan baik, atau kau akan menyesali perbuatanmu. Jangan sampai Mala merasa tak nyaman dengan pernikahannya. Kau harus belajar, menerima dia sebagai bagian dari hidupmu. Berhenti bermain dengan wanita wanita tidak jelas diluar sana. Aku tekankan sekali lagi, Mala sangat berharga bagi opa, sangat sangat. Perlakukan dia dengan baik hingga tidak akan pernah terpikir kata cerai dari benaknya." Opa menekankan kalimat terakhirnya.

Danzel menelan ludah, kalimat opa terdengar tegas. Tidak main main. Bahkan ia menyebut nama lengkapnya, yang artinya opa sedang dalam mode sangat serius. Memangnya apa yang spesial dari Mala, hingga sangat sangat berarti bagi opa Johan? Apakah hanya karena ia cucu cari sahabat opa?

***

Langkah kaki Danzel keluar dari ruangan tersebut. Lebih tepatnya ruangan persidangan untuknya. Keringat bercucuran dari dahinya. Senakal nakalnya Danzel, dengan ketegasan opa yang baru saja ia saksikan tadi, membuat nyalinya menciut. Belum pernah ia melihat Opa seperti tadi.

Dari kejauhan, tepatnya dari arah dapur, ia melihat istrinya keluar dari sana. Wajahnya tak jauh berbeda darinya. Ada kegelisahan di kedua mata Mala, yang sayangnya tidak terlalu diperhatikan Danzel. Ia kesal sekali pada gadis kampung itu.

1
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
kurangin sifat sombong mu danzel,,lanjut
nurhayati rambe
suatu saat nanti omongan mu bisa jadi boomerang danzel
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
panas panas
nurhayati rambe
lanjuttt
nurhayati rambe
mala tak kan cemburu
nurhayati rambe
kaaih penjelasan danzel ,,jangan di kaaih harapan palsu
nurhayati rambe
semangat
nurhayati rambe
lanjut,,
nurhayati rambe
lanjutt
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
lanjut kak
Lestaria Siregar
bagus alur ceritanya lanju dong
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
wihh si danzel gak banget kelakuannya
nurhayati rambe
tenang opa danzel pasti berubah jadi lebih baik lagi
nurhayati rambe
sampai lupa alur ceritanya sangkin lama nya lost
panty sari
thor buat danzel bucin dong ke mala terus punya baby kembar biar mom and dad nya senang
panty sari
thor buat mala jago bela diri biar dia keren kaya aisha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!