Cinta bisa membuat pertemanan, lalu mampu membuat ikatan itu hancur berantakan. Ketika dia diberi pilihan, ia harus memilih siapa? Kekasih atau teman? Pilihan berat, bukan?
Widya, Karin, dan Kartika bersahabat baik sejak duduk di bangku SMP. Kehadiran Harsa, Edo, dan Zakir mengenalkan mereka pada cinta. Bisakah cinta itu menguatkan tali persahabatan mereka? Atau justru karena cinta persahabatan mereka hancur berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Nasihat Nathan dan Kartika
...Hallo .......
...Eska'er update lagi, nih. Kasih like dulu takut lupa, sama gift seikhlasnya 🤭...
...Dikasih kembang setaman juga syukur Alhamdulillah 🤲 apalagi ngasih hati sampai piala, itu lebih berkah 😅...
...***...
“Ehem, sepertinya gue ketinggalan banyak hal dalam tiga hari ini.” Dialah Nathan, yang sudah pulang dari negeri seberang. Nathan melangkah semakin mendekat ke arah Widya dan Harsa.
“Nathan,” teriak Widya dengan rasa bahagia menatap lelaki itu, “kapan sampainya?” tanyanya lagi, sembari mendekat ke arah Nathan.
“Kenapa, Sayang, lo kangen sama gue? Baru juga gue tinggal tiga hari udah kaya ditinggal sebulan aja," celoteh Nathan sambil merangkul bahu Widya untuk melepaskan rindunya.
“Idih, pede banget, sih, lo!” Sambil menurunkan tangan Nathan yang berada di bahunya.
Melihat sikap Nathan yang sok mesra dengan kekasih barunya, membuat Harsa menjadi kesal. Harsa mendekat ke arah Widya lalu merangkul bahu Widya, “Ngapain pacar gue kangen sama lo, gak penting!”
Nathan terkesiap mendengar pernyataan Harsa. “Apa lo bilang? Pacar?” Nathan memandang remeh Harsa.
“Iya, Widya pacar gue,” tegas Harsa. Bola matanya menatap tajam ke arah Nathan.
Rasa tidak percaya menghampiri benak Nathan kala mendengar perkataan Harsa. Pandangan Nathan beralih ke Widya, menatap lekat mata gadis itu yang terlihat kebingungan.
“Beneran, Wid, lo jadian sama Harsa?”
Widya tidak langsung menjawab, seolah sedang merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Nathan.
“Wid?” Nathan yang tidak sabar merasa gemas karena Widya tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
“I-iya,” jawab Widya gugup.
“Lo gila, ya!” pekik Nathan.
“Maksud lo apa ngomong kaya gitu?” emosi Harsa tersulut mendengar perkataan Nathan.
Widya sontak menahan tubuh Harsa yang hendak menyerang Nathan. “Lo mending pulang dulu aja deh, Sa! Biar gue yang jelasin sama Nathan.”
“Tapi Wid—“
“Please!” ucap Widya dengan sorot mata memohon.
Harsa menghela napas kasar sembari mengusap wajahnya kesal. “Ok, aku pulang. Awas aja kalau sampai dia berani macam-macam sama kamu!” tatapan tajam Harsa tertuju pada Nathan.
Tak pelak Nathan pun berbalik menatap tajam Harsa. Terpancar sorot permusuhan dari pandangan kedua orang itu. Salah satu sudut bibir Nathan tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis dan meremehkan. Ia merasa geli dengan panggilan 'aku kamu' pada percakapan Harsa dan Widya. Sungguh aneh terdengar di telinganya.
Pandangan Harsa beralih lagi ke Widya. “Aku pulang dulu, ya. Salam buat om dan tante! Jangan lupa besok pagi aku jemput jam 06.15! Kita berangkat sekolah bareng,” ucap Harsa sambil mengusap kepala Widya yang tersipu saat Harsa melakukan hal itu. Widya mengangguk setuju.
“Hati-hati di jalan, Sa!" ucap Widya sembari memerhatikan kepergian Harsa.
“Jelasin ke gue, Wid!” Giliran Nathan yang berkata penuh penekanan.
Widya melemaskan kedua bahunya kemudian duduk di kursi, Nathan mengikuti sembari duduk di kursi kosong sebelah Widya.
“Lo, kan, udah denger tadi, apa perlu gue jelasin lagi?" sergah Widya.
Pandangannya tertuju pada paperbag yang dibawa oleh Nathan, “itu oleh-oleh buat gue, 'kan?”
Nathan menatap paperbag yang ada di tangannya, lalu menyimpannya di atas meja yang berada di antara mereka berdua. “Iya,” jawabnya datar.
Raut wajah Widya berubah semringah langsung mengambil paperbag itu lalu melihat isinya. Sebuah coklat Merlion, kaos dan parfum khas negri singa menjadi isi dari paperbag tersebut. “Wah, bagus banget! Gue suka. Makasih, ya.”
Nathan hanya mengangguk dengan wajah cemberut. Bukannya tidak ikhlas, melainkan ia masih kesal dengan hubungan Widya dan Harsa.
“Gue serius, Wid, feeling gue nggak enak sama tu anak. Gue ngerasa sepertinya ada udang di balik bakwan,” ujar Nathan dengan wajah serius.
Widya malah tergelak melihat wajah serius Nathan, “Lo nggak cocok ngomong pake muka serius, Nath. Muka lo kayak bapak-bapak,” serunya pada lelaki bermata sipit itu.
Tawa Widya membuat Nathan bertambah jengkel. Bisa-bisanya gadis itu bercanda di saat hatinya sedang panas.
“Gue gak lagi pengin bercanda, Wid!” tegas Nathan.
Hening sesaat, Widya menatap Nathan dengan tatapan bersalah. Ia menundukkan kepala sebelum berkata lirih, “Gue gak bisa ngebohongin persaan gue, Nath. Gue masih cinta sama dia. Sepandai-pandainya gue kubur rasa ini, nyatanya rasa itu nggak pernah mati.”
Nathan mengembuskan napasnya kasar, “Lo yakin?” Nathan menatap Widya sendu. Ada rasa tidak rela jika Harsa dan Widya merajut kasih, tetapi hatinya tidak tega saat melihat Widya tertunduk sedih. “Gue takut kalau lo cuman dijadikan pelampiasan aja sama dia.”
Widya sontak mendongak, “Nathan, lo nggak berhak ngomong seperti itu! Lo nggak berhak menilai baik buruknya Harsa.” Dengan kesal Widya bangkit dari duduknya, bola mata indah itu menatap Nathan dengan sorot terluka. “Harsa itu baik, Nath. Lo aja yang nggak mau mengenal dia lebih dekat,” ucapnya lirih.
“Bukan gitu maksud gue, Wid.” Nathan mencoba tenang. Beradu pendapat dengan orang yang tengah dimabuk cinta tidak ada gunanya, sepertinya Widya benar-benar terpedaya oleh Harsa.
“Apa salahnya, sih, kalau Harsa nembak gue? Toh dia juga sudah putus dari Karin. Izinin gue buat egois kali ini, Nath.” Tatapan mata Widya begitu memelas membuat hati Nathan berdesir perih. “Gue juga berhak bahagia, gue berhak ngedapetin cinta dari orang yang gue cintai. Lo tau, 'kan, kalau Harsa itu cinta pertama gue?” Widya berujar, tanpa sadar ada butiran kristal bening yang luruh di pipi putih nan mulus milik gadis itu. “Gue pengin merasa bahagia, Nath,” lirih Widya lagi.
Nathan menghela napas, ia tidak tega melihat Widya menangis. Walaupun hatinya merasa tidak rela. “Oke, gue paham, tapi jika suatu saat nanti dia menyakiti hati lo, gue adalah orang pertama yang ngambil lo dari dia dan bikin perhitungan sama dia.” Sembari mengusap butiran bening di pipi gadis itu. Widya mengangguk dengan senyum manisnya. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Nathan.
...***...
Pagi hari sesuai apa yang dijanjikan Harsa kemarin, ia menjemput Widya. Dia datang lima menit lebih cepat dari waktu yang ia janjikan, karena Harsa takut kalah start dari Nathan. Tidak lama menunggu di depan pagar rumah Widya, pintu rumah gadis itu terbuka dan keluarlah Widya dengan wajah ayunya.
“Sudah lama nunggu, Sa?” tanya Widya dengan senyum malu-malunya, karena baru pertama kalinya ia dijemput oleh seseorang yang dia sebut sebagai ‘pacar'.
“Enggak, kok, aku juga baru aja sampai,” jawab Harsa sambil menyodorkan helm kepada Widya. Widya menerima lantas memakainya, kemudian ia naik ke motor Harsa.
Di perjalanan menuju sekolah, tidak ada percakapan di antara mereka, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Widya sibuk memikirkan bagaimana reaksi teman-temannya saat tahu dia berpacaran dengan Harsa, sedangkan Harsa sibuk berpikir bagaimana cara menunjukan tentang hubungan barunya ini kepada Karin.
Setelah sekian menit akhirnya sampailah mereka di sekolah Tunas Harapan. Selepas memarkirkan motor, Harsa mendekati Widya, menggenggam erat tangan gadis itu, kemudian mengajaknya memasuki area sekolah.
Semua itu tidak luput dari perhatian Kartika yang tengah berdiri di gerbang sekolah. Ia menatap heran sahabatnya yang datang ke sekolah bersama Harsa. Karena rasa penasaran yang teramat sangat itu, Kartika pun mulai mengejar dan memanggil Widya. “Wid, bisa ngobrol bentar, nggak?” tanya Kartika dengan tatapan memohon.
Langkah Widya dan Harsa terhenti, lalu sejenak saling tatap. Sebelum kemudian beralih lagi pada Kartika yang sudah mendekat. "Kita ngobrol di kelas, ya!" pinta Widya.
"Nggak, lo ikut gue dulu!"
Di saat seperti itu, Harsa berpikir untuk mulai menjalankan misinya. Ya, walaupun dia tahu yang ada di hadapannya saat ini bukan Karin. Setidaknya berita tentang kedekatan mereka akan cepat tersebar jika ia mengumbar kemesraan dengan Widya di depan umum.
“Ya udah, deh, Sayang. Kalau kamu mau ngobrol sama Tika aku ke kelas duluan. Aku tunggu kamu di kelas aja, ya, Sayang.” Harsa mengusap pucuk kepala Widya dengan mesra. Hal tersebut seolah menjadi candu bagi Harsa.
Kedua mata Kartika menyipit tajam, ia merasa aneh dengan panggilan ‘sayang’ yang Harsa tujukan pada Widya.
“Gue cabut duluan, ya, Tik.” Harsa segera berlalu setelah berpamitan pada mereka.
Tanpa mereka sadari ternyata banyak mata yang memandangi interaksi antara Widya dan Harsa. Apa lagi kata ‘sayang’ yang terang-terangan diucapkan oleh Harsa tadi.
Hal itu sontak menjadi bahan perbincangan, dan bisik-bisik tidak sedap pun mulai terdengar. Dengan tidak sabar Kartika menarik Widya menuju lorong sepi di ujung sekolah, tempat di mana dulu dijadikan saksi terbongkarnya perselingkuhan antara Karin dan Edo.
“Lo jadian sama Harsa, Wid?” cecar Kartika mulai tidak sabar. Sorot matanya penuh tanya, dengan kedua tangan berada di atas bahu Widya.
Widya menelan ludahnya berat, sebelum ia menjawab pertanyaan Kartika. Namun, hanya sebuah anggukan kepala yang mampu ia berikan sebagai tanggapan. Kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan.
“Lo gila, Wid! lo tau, ‘kan, Harsa mantannya Karin sahabat lo sendiri?!” Kartika sedikit mendorong bahu Widya, tetapi tidak membuat Widya berubah dari posisinya. Mengusap wajah dengan frustrasi, Kartika mulai tidak mengerti jalan pikiran Widya.
“Harsa cinta pertama gue, Tik, kalau lo lupa,” tegas Widya, lalu terdiam sejenak, “Gue tahu dan gue sadar kalau apa yang gue lakukan saat ini adalah sebuah keegoisan, tapi boleh, kan, kali ini gue mempertahankan cinta gue?” seru Widya lagi. Kristal bening sudah menumpuk di pelupuk matanya. “Sekarang coba lo bilang sama gue, salah gue di mana? Gue nggak merebut Harsa dari Karin. Dulu, gue udah relain Harsa buat Karin. Gue kasih kesempatan Karin buat bahagia sama Harsa, tapi yang ada Karin justru selingkuh sama Edo.
Sekarang, apa salah kalo gue coba kasih kesempatan buat gue sendiri? Apa gue salah kalo gue coba perjuangin cinta gue? Coba lo bilang kalo emang gue salah.” Butiran bening itu akhirnya meluncur tanpa hambatan. Widya menangis tersedu di hadapan Kartika.
Melihat itu Kartika merasa dilema, kemudian meraih bahu gadis itu lagi, memeluknya dengan erat. “Gue sayang sama lo Wid, gue cuma nggak mau lo semakin dibenci sama Karin,” ucap Kartika lembut, sedangkan Widya sibuk mengusap air mata yang tidak hentinya mengalir di pipi.
Tanpa disadari ada seseorang di ujung lorong yang mencuri dengar obrolan antara dua sahabat itu. Dialah orang orang yang sama, yang sengaja menempelkan surat cinta Widya di mading sekolah.
...***...
Ada yang mau ngasih sandaran sama Nathan?
Othor juga butuh sandaran 😔
aku dari awal curiga ama cindy terus
tamu tdk akan masuk kalau tuan rumah tdk buka pintu
dasar buaya betina