Kisah ini menceritakan sekumpulan lima bocah yang bersahabat dari kecil yang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Kelima bocah itu selalu bertingkah somplak dan menggemaskan. Dengan tingkah somplak itulah, mereka selalu saja di jitak oleh orang tua mereka. Jitakan itu terdengar bunyi "Pppplleettaakkk.." yang akhirnya mereka berkumpul dan menjadi sebuah geng yang bernama GENG PLETAK.
Kelima bocah itu tumbuh bersama walaupun usia mereka tak sama. Namun dengan perbedaan usia yang tak jauh itu, membuat mereka menjadi sahabat yang begitu akrab satu sama lainnya hingga mereka dewasa.
Suatu hari GENG PLETAK bosan dengan kiruk pikuk kehidupan yang ada di kota. Mereka pun memutuskan untuk pergi berlibur mencari suasana baru di sebuah pedesaan yang memiliki rumor bahwa ada sebuah Goa yang di dalamnya terdapat harta karun yang terkubur disana. Sontak saja membuat GENG PLETAK itu penasaran untuk mencarinya.
Akankah GENG PLETAK dapat menemukan harta karun tersebut dan menjadi kaya raya??????????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pocong Tamvan
Gading melangkah menuju semak belukar untuk buang air kecil disana. Saat baru saja membuka resleting celananya, Gading melirik ke samping dan merasakan ada yang hal aneh yang mendekat pada dirinya. Gading merasa pensaran sehingga ia memberanikan diri untuk menoleh pada sesosok makhluk astral yang terbungkus oleh kain berwarna putih serta ada ikatan di kepalanya.
"Woi, siapa lo?" tanya Gading.
"Lah, lo siapa?" tanya sosok itu balik.
"Gue Gading! Anak kota yang populer banget dikalangan cewek cantik!" sahut Gading.
"Oh." sahut sosok itu singkat.
Gading merasa kesal lantaran sosok tersebut tak mau menoleh padanya sehingga ia tak bisa melihat wajah daru sosok tersebut.
"Hei, dasar makhluk astral gak ada akhlaknya lo! Kalau bicara lihat orangnya dong!" pekik Gading sewot.
"Gue takut, bang." sahut sosok itu lagi.
"Lah, ngapa?" tanya Gading bingung.
"Gue takut entar lo kaget lihat muka gue." sahutnya lagi.
"Emangnya seseram apa sih makhluk astral? Penasaran gue." tanya Gading lagi.
Sosok itu pun akhirnya menoleh pada Gading dan menunjukkan wajah aslinya. Gading melebarkan kedua matanya saat melihat wajah sosok itu.
"Wah, serius ini wajah asli lo?" tanya Gading.
"Iya, bang!" sahut sosok itu.
"Wah, annjjjiirrr!!! Ganteng banget lo! Sumpah, muka lo glowing banget! Pakai serum apaan lo? Gue mau dong glowing begitu kayak muka lo!" seru Gading takjub melihat ketamvanan wajah sosok itu.
"Gue kagak pakek serum bang, kagak punya duit gue beli barang begituan!" sahut sosok itu.
"Lah, jadi lo pakai apaan?" tanya Gading lagi.
"Cuma pakai krim malam aja sih, itupun boleh dapat nyolong dari penduduk di kampung ini." sahut sosok itu.
"Ah elah, dosa lo nyolong krim malam! Kasihan cewek-cewek kampung ini kagak bisa glowing kayak lo gara-gara krim malamnya lo embat semua." ujar Gading.
"Hehehe, terpaksa bang." ucap sosok itu.
"Kerja dong lo biar dapat duit buat beli krim malam, sekalian sama serumnya tuh biar muka lo tambah glowing!" seru Gading.
"Iya, bang." sahut sosok itu.
Gading kemudian melakukan apa yang saat itu ingin ia lakukan. Ia buang air kecil sambil berdiri tepat disamping sosok tersebut. Gading melirik kesamping lagi dan melihat sosok tersebut melakukan seperti apa yang ia lakukan.
"Eh, ngomong-ngomong punya lo gede juga!" ucap Gading.
"Iya, bang." sahut sosok itu lagi.
Setelah selesai buang air kecil, Gading berhadapan dengan sosok itu tanpa rasa takut sama sekali.
"Siapa nama lo?" tanya Gading.
"Gue pocong, bang!" sahutnya.
"Panggilan lo?" tanya Gading.
"Cong!" sahutnya lagi.
"Cong, kalau boleh tau kenapa lo bisa mati?" tanya Gading.
"Haaaah, ceritanya sungguh menyayat hati bang." sahut si pocong.
"Cerita aja, siapa tau Author bakalan tertarik bikin cerita lo semasa lo hidup sampai lo jadi pocong begini." kata Gading.
"Kagak mau gue, Gading!!! Takut pocong gue!!!" pekik Author.
"Ah elah, pocong tamvan begini ditakuti! Bisa jadi cuan nih ceritanya buat lo Thor!" kata Gading.
"Kagak!" pekik Author lagi.
Next....
"Sebenarnya gue mati gara-gara terlalu tamvan semasa hidup di dunia! Banyak cewek yang muja-muja gue sehingga gue jadi songong dan playboy. Gue bolak-balik ganti cewek, dan cewek mana aja gue embat yang penting dia cantik. Tapi walaupun begitu, gue tetap cinta sama satu cewek, namanya Wati. Singkat cerita suatu malam waktu gue lagi mantap-mantapan sama cewek, tiba-tiba ada Wati datang dan mergoki gue. Gue kaget banget waktu itu, takut kalau Wati mutusin gue gara-gara gue pria playboy. Pas gue mohon-mohon supaya Wati kagak mutusin gue, eh cewek yang gue mantap-mantapin kesel terus mukul kepala gue pakai asbak rokok." kata si Pocong menceritakan kisahnya selama hidup.
"Terus..???" tanya Gading penasaran dengan endingnya.
"Ya gue mati di tempat bang! Akhirnya gue jadi pocong deh dan gue hijrah ke hutan ini karena disini gue bisa merenung dan menyesali diri dulunya gue jadi cowok annjiimm!" sahut si Pocong.
"Iya, lo memang annjjiiimm banget jadi cowok! Semua cewek lo libas aja." sahut Gading.
"Makanya gue mau ingatin lo bang sebagai pocong insyaf, lo jangan mainin perasaan cewek lah! Entar lo matinya kayak gue pula." kata si Pocong.
"Hei, gue memang suka gonta-ganti cewek, tapi biarpun begitu gue masih virgin!" seru Gading.
"Perjaka kali bang! Virgin mah untuk cewek, lo kata lo itu cewek!" sahut si Pocong.
"Lucinta Luna dong gue, cewek jadi-jadian!" seru Gading.
"Lah malah jadi ngondek." ucap si Pocong
***
Dari tempat yang tak begitu jauh, Mang Urip dan Didik terus berkomat-kamit saat mereka melihat Gading sedang ngobrol sama sosok pocong tamvan itu. Mereka ingin sosok pocong itu tidak mengganggu Gading lagi apalagi kalau sampai mencelakainya. Pocong tamvan itu pun melirik kepada Mang Urip dan Diki yang terus saja berkomat-kamit sembari menatapnya.
"Bang, tuh manusia lagi ngapain sih? Komat-kamit kagak jelas gitu." tanya si Pocong.
"Oh, itu namanya Mang Urip dan Didik! Mereka teman-teman gue." sahut Gading.
"Ayo gue kenalin lo sama mereka!" seru Gading.
Gading pun melangkah sementara si Pocong melompat-lompat mengikuti langkah Gading dari belakang. Saat itu Mang Urip dan Didik tampak gemetar lantaran takut pada si Pocong.
"Mang, kenalin nih...
Mang Urip langsung menarik Gading untuk menjauh dari sosok Pocong tersebut.
"Bos, itu setan bos!" seru Mang Urip.
"Lah iya! Emang ngapa?" tanya Gading.
"Bang, lo kagak takut?" tanya Didik.
"Lah, tamvan dan glowing gini ngapain takut!" seru Gading.
Didik yang juga suka merawat kulit wajahnya lantaran ingin menjadi artis ibu kota, lalu melirik wajah si Pocong yang memang begitu tamvan dan glowing.
"Wah, beneran glowing muka lo, cong!" seru Didik tanpa rasa takut lagi mendekati si Pocong.
"Iya, dong! Berkat krim malam colongan gue. Hehehe." sahut si Pocong.
"Hah? Krim malam colongan? Maksud lo selama ini penduduk kampung gempar pada kehilangan krim malamnya gara-gara lo yang colong?" tanya Didik.
"Hehehe, iya bang!" sahut si Pocong.
"Wah, anjjiimm lo! Balikin krim malam gue!!!" pekik Didik yang ternyata krim malamnya pernah hilang secara gaib karena si Pocong yang mencurinya.
Didik pun sibuk memukuli si Pocong lantaran kesal karena krim malamnya pernah di colong sama si Pocong tamvan. Gading dan Mang Urip hanya bisa menghela nafas melihat tingkag Diki dan juga si Pocong.
Malam itu Mang Urip, Didik, Gading dan juga Pocong duduk bersama sambil ngobrol mengenai masa hidup si Pocong menjadi manusia di tengah api unggun yang menghangatkan tubuh mereka.
"Bang, ngomong-ngomong kalian pada ngapain sih masuk kesini? Hutan ini angker, bang!" tanya si Pocong.
"Kita mau cari harta karun yang tersimpan di dalam goa!" sahut Mang Urip.
"Harta karun? Perasaan tuh harta udah...
"Cong, mendingan lo ikut kita!" seru Gading.
"Bentar lagi pagi, bang! Gue kagak bisa kena sinar matahari." sahut Pocong.
"Lah, lo itu pocong apa vampir sih?" tanya Didik.
"Lah yang namanya setan mana ada gentayangan siang-siang bolong! Takut silau gue lihat matahari." sahut si Pocong.
Lalu Gading masuk ke dalam tenda dan mengambil sesuatu disana.
"Cong, pakai ini! Gue yakin lo pasti kagak bakalan takut sama yang terang-terang." seru Gading memberikan sebuah kaca mata hitam milikinya kepada si Pocong.
Si Pocong pun mengenakan kaca mata tersebut.
"Eh, bang! Kok gelap banget ya? Kagak bisa ngelihat gue!" tanya si Pocong kelabakan.
"Dasar lo songong! Ini masih malam, ya iyalah lo kagak bisa ngelihat secara tuh kaca mata warna hitam!" seru Didik.
"Iya, nih! Dasar pocong norak lo!" seru Gading sewot.
"Hehehe." si Pocong pun tertawa sambil melepas kaca mata tersebut dari wajahnya.