Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buasnya Bian
Bian menarik Bunga dan membawanya ke taman belakang. Tempat yang sudah beberapa kali membuat mereka bertemu secara tidak ssengaja. Sontak saja Bunga menghempaskan tangan Bian setelah mereka hanya berdua di tempat itu.
Karena tindakan Bian tadi membuat beberapa siswa/i melihat dan pastinya saat ini sedang membicarakan mereka.
Bunga menatap tajam ke arah Bian. Dia tidak suka dengan sikap Bian yang seakan berbuat seenaknya terhadapnya, meski Bunga akui, disaat Bian mulai menjauh seperti saat itu membuatnya merasa aneh, tetapi Bunga juga tidak suka dengan sikap Bian seperti itu.
"Mau lo apa sebenarnya?" tanya Bunga dengan nada suara ditekan.
"Gue mau lo," jawab Bian seperti pada saat itu.
Bunga tersenyum miring, menatap ke arah Bian dengan berani. Lalu menggeleng dengan ungkapan Bian saat ini. "Lo gila!" sarkas Bunga berniat untuk pergi.
Tetapi seperti biasanya, Bian tidak mungkin melepaskan Bunga begitu saja. Cowok itu mencekal tangan Bunga dengan cukup kencang.
"Lepas!" tolak Bunga yang tidak dihiraukan oleh Bian.
"Apa? mau ciuman lagi dari gue?" tantang Bunga yang sudah benar-benar muak dengan sikap semena-mena Bian akan dirinya.
Sebenarnya bukan itu yang membuat Bunga muak. Tetapi berita tentang kedekatan Bian dan juga Seyna. Jelas Bunga tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Bian, sementara Bian dekat dengan gadis lain.
Bian menatap Bunga tidak habis pikir. Ia kesal dengan Bunga yang hampir saja kecolongan gara-gara ketledoran gadis itu, sampai membuat Andre hampir saja melihat apa yang seharuanya Bunga jaga baik-baik.
"Lo ketagihan ciuman dari gue?" tanya Bian balik.
Bunga menatap Bian semakin tajam. Entah kenapa sekarang hatinya sedikit tersentil dengan kata-kata Bian seperti itu. Padahal biasanya gadis itu akan bersikap masa bodoh. Tetapi sekarang, ada hal lain yang tidak Bunga mengerti dari dalam dirinya, dan itu karena cowok di depannya.
Untuk beberapa detik Bian memejamkan matanya menahan sakit, bayangkan saja, tiba-tiba dengan sengaja Bunga menggigit tangannya. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara meluapkan kekesalannya dengan cowok di depannya saat ini.
"Itu ciuman dari gue." Bunga menatap berani ke arah Bian. Sebelum akhirnya mulai melangkah untuk pergi.
Brak...
Baru beberapa langkah, tubuh Bunga sudah terbentur di tembok, pelakunya ialah Bian. Cowok itu tidak tinggal diam begitu saja setelah Bunga berhasil membuat panas seluruh hatinya tadi karena kata-kata Andre.
"Biar gue tunjukin bagaimana sebenarnya itu ciuman," tekan Bian yang langsung melahap begitu saja bibir ranum gadis itu.
Bunga sempat terkejut dengan tindakan yang kembali dilakukan oleh Bian. Bahkan permainan Bian saat ini pada bibirnya sedikit berbeda, Bian sedikit kasar dan memaksa. Tidak seperti yang sudah-sudah Bunga rasakan.
Tangan Bunga berniat untuk mendorong tubuh Bian, tetapi tenaganya jelas saja kalah dengan tenaga Bian yang sedang diliputi rasa amarah dan juga *****.
Semakin Bunga ingin berontak semakin sengaja Bian menekan tengkuk leher Bunga untuk memperdalam ciuman di antara mereka. Bahkan sesekali dengan sengaja Bian menggigit kecil bibir Bunga bagian bawah.
Jika saja Bian melakukannya dengan cara lembut seperti biasanya. Mungkin Bunga akan begitu menikmati. Tetapi saat ini keduanya sedang dikuasai amarah karena rasa cemburu yang tidak mereka akui. Keduanya jelas salah dalam hal ini. Masih sama-sama belum paham apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Mata Bunga terbelalak saat ia sadar ciuman Bian sudah beralih pada bagian lehernya. Bahkan cowok itu sudah berhasil memberi tanda merah pada leher gadis itu.
"Brengs*k!" Bunga mendorong dengan sekuat tenaga tubuh Bian.
Membuat Bian yang tadi sedang kembali memberi tanda merah pada leher Bunga menjauh karena dorongan dari gadis itu.
"Jangan nantang kalau ternyata nggak punya nyali," ucap Bian berlalu pergi.
Sebelumnya Bian menatap dalam ke arah Bunga yang sedang mengatur napas dengan pandangan lurus ke depan.
Setelah kepergian Bian, Rasel dan Deni yang diam-diam mengikuti Bunga dan Bian tadi terdiam di tempatnya. Apa yang baru saja mereka lihat jelas saja membuat keduanya terkejut, selain Bian yang terkenal dingin dan cuek, ternyata cowok itu juga bisa nakal, tetapi hanya dengan Bunga cowok itu bertindak demikian. Entah karena cara Bunga yang terkesan memancing atau karena memang ada sesuatu.
"Ian ternyata ganas sekali Cel," gumam Deni yang diangguki oleh Rasel.
"Di sekolah lho ini, gimana kalau di..." Rasel menatap ke arah Deni yang sedang menutup mulutnya tidak percaya.
Pikira keduanya jelas saja sudah berada dimana ketika seorang Bian berada di atas ranjang dengan keganasan yang tadi sudah cowok itu tunjukan secara tidak sadar.
"F**k!" umpat Bunga dengan tangan terkepal.
"Na!" panggil Deni membuat Bunga terkejut dengan kedatangan kedua sahabatnya.
"Kalian?" tanya Bunga yang diangguki oleh Rasel dan Deni dengan senyum canggung.
"Sorry Na, kita cuma mau mastiin lo baik-baik aja, secara tadi setelah kejadian di depan kelas Bian langsung narik lo gitu aja," jujur Rasel yang dijawab Bunga dengan anggukan kepala.
"Jangan sampai ada yang tahu," ucap Bunga paham jika kedua temannya menyaksikan kejadian tadi.
"Pasti Na," jawab mereka kompak.
"Btw Na, gue masih bingung sama hubungan kalian itu," ucap Rasel di tengah-tengah perjalanan.
Mereka sudah berniat untuk kembali ke kelas.
"Jangan bahas itu dulu Sel," pinta Bunga yang langsung diangguki oleh Rasel.
"Stop Na!" cegah Deni membuat Bunga dan Rasel berhenti.
Keduanya menatap Deni bingung, sementara yang ditatap malah memutar bola matanya jengah.
"Jangan berlagak pada pikun deh, tuh leher Bunga ada bekas cupangnya," tunjuk Deni seraya mengambil pondation yang selalu dia bawa kemana-mana.
Bunga tersenyum miring. "Si*lan, gue udah kayak ****** benaran di depan kalian." Bunga mengambil pondation yang diberikan oleh Deni.
"Emang ye gitu kan?" tanya Deni hati-hati.
"Tapi ini gratisan, pemaksa lagi, jatuh banget harga diri gue sebagai sugar baby Om Praja," jawab Bunga membuat Rasel dan Deni tertawa.
"Ye sih...nggak bisa jaga hati," cibir Deni membuat Bunga terdiam.
"Ampun deh..baper gitu aja, sini biar eike aja!" Deni mengambil alih untuk menutipi bekas merah akibat ulah Bian tadi.
"Ya ampun Na merah gini, pasti enak banget ye," komentar Deni melihat tanda merah pada leher Bunga.
"Lo mau? Bilang aja ama tuh cowok, kayaknya dia sama siapa aja deh," jawab Bunga kembali kesal.
Bukan karena ucapan Deni tadi. Tetapi karena Bunga kembali mengingat Seyna. Dia merasa rendah dan kesal sekali setiap kali mengingat kedekatan di antara Seyna dan Bian, sementara Bian selalu bertindak seenaknya dengannya.
"Ih..baper deh ye, eike kan cuma becanda," Deni melirik ke arah Bunga. Lagi-lagi apa yang teradi dengan tubuh dan wajah salah satu sahabatnya membuat Deni menggeleng tidak habis pikir.
Fik, Deni deklarasikan jika Bian singa jantan yang sesungguhnya.
"Bibir ye sedikit bengkak Na," beritahu Deni.
"Hah benaran?" Rasel ikut mendekat dan melihat bibir Bunga yang terlihat sedikit membengkak.
"Ya ampun...Bian ternyata jago banget," puji Rasel melihat efek samping atas perbuatan Bian tadi. Itu baru dalam jangka waktu yang hanya sebenatar. Lalu bagaimana jika Bian berada di atas ranjang dengan waktu yang tidak ditentukan? Jelas saja yang menjadi mangsanya benar-benar akan dilahap habus-habisan oleh cowok itu. Dalam artian habis karena buasnya Bian di atas ranjang.
"Ngaco kalian!" Bunga memilih pergi dan membiarkan bibirnya sedikit bengkak begitu saja.
Berada di dekat kedu temannya malah membuat telinganya panas. Apa yang Bian lakukan dengannya malah terus mendapat pujian dari Rasel dan Deni. Bahkan mereka sama sekali tidak ada simpatinya untuk Bunga.
Sampai di dekat pintu kelas. Bunga menghela napas terlebih dahulu. Kelas sudah kembali di jam pelajaran. Dan Bunga terlambat karena obrolannya dengan kedua sahabatnya tadi dan...tindakan Bian di taman belakang tadi mungkin.
Sebenarnya bukan keterlambatannya yang membuat ia gugup, tetapi bagian bibirnya yang pasti akan ditanyakan oleh guru yang sedang mengajar nanti. Jika Guru tersebut mengamati bibir Bunga bagian bawah. Tetapi semoga saja tidak.
Tok
Tok
Tok
"Permisi bu, maaf saya terlambat." Bunga masuk dan berniat untuk langsung menuju ke bangkunya.
"Bunga tunggu!"
Langkah Bunga berhenti, dengan gerakan yang sengaja ia perlambat menoleh ke arah guru yang sedang mengajar.
"Dari mana kamu?"
"UKS bu," jawab Bunga santai.
"Kamu sakit?" tanya-nya.
Tetapi belum sempat Bunga menjawab. Guru tersebut sudah lebih dulu mendekat ke arah Bunga.
"Kenapa bibir kamu?"
Mam*us batin Bunga merutuk.
_____
Crazy up nih, kasih dukungan ya gaes untuk cerita ini.. sorry dari seminggu lalu aku baru sembuh dan baru bisa lanjutin lagi.