Marline Miller seorang pembunuh bayaran dan ahli peretas hanya sebuah pion yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang sangat membenci keluarga Smith.
Demi memanfaatkan dirinya untuk sebuah tujuan, sekelompok orang menghancurkan pernikahan Marline. Serum disuntikan membuat Marline melupakan kejadian itu.
Dia diperintahkan untuk mendekati Michael Smith dan mencuri Virus berbahaya yang sedang Michael kembangkan dan setelah itu dia ditugaskan untuk menghabisi seluruh klan Smith.
Musuh lama berkumpul untuk menghancurkan klan Smith. Dua kubu organisasi berbahaya dari Hongkong dan Jepang ikut terlibat karena mereka mencari orang yang membunuh ketua mereka.
Karena sebuah tugas yang diberikan, membuat Marline membunuh kedua ketua organisasi berbahaya itu. Ketika efek obat yang dia konsumsi habis, Marline mulai mengingat kejadian tragis yang dia alami dan yang membuatnya terpukul adalah, ternyata orang yang dekat dengannya terlibat dalam pembantaian di hari pernikahannya. Sang mantan Agen pun terlibat, membantu mengusut kasus itu untuk mengungkap seorang musuh dalam selimut. Apa mereka berhasil mengungkap siapa saja musuh yang mengincar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia tidak akan mengejarku!
Michael terlihat senang setelah keluar dari restoran dan hal itu membuat Ainsley sangat heran, apa yang telah membuat kakaknya begitu senang? Tidak mungkin bukan gara-gara wanita aneh tadi?
Walau ingin menyangkal tapi nyatanya memang demikian. Kakaknya seperti itu setelah bertemu dengan wanita yang mereka jumpai di toko eletronik dan lihatlah, kakaknya bahkan tidak melepaskan laptop milik wanita itu.
"Kak, kenapa kau terlihat begitu senang?" tanya Ainsley.
"Tidak, biasa saja," sangkal Michael.
"Tidak perlu berpura-pura, aku bisa melihatnya. Kak Mich begitu senang setelah bertemu dengan wanita aneh itu."
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja."
Ainsley memanyunkan bibirnya, walau kakaknya menyangkal tapi dia bisa melihat ekspresi kakaknya.
"Kak Mich, kenapa kau tidak suka dengan sahabatku, Heidi?"
"Dia terlalu glamor, aku tidak suka!"
"Heidi wanita bisnis, tentu penampilannya harus glamor!"
"Aku tidak suka sekalipun dia wanita bisnis. Aku lebih suka yang berpenampilan sederhana."
"Iya deh, lain kali aku akan membawa temanku yang berpenampilan sederhana," ucap Ainsley menggoda kakaknya.
"Tidak perlu! Aku bisa cari pacar sendiri!" Michael menekan kepala adiknya, sedangkan Ainsley jadi kesal. Awas saja jika di rumah nanti, akan dia balas.
Mereka sudah tiba di rumah dan ketika mobil sudah berhenti, Ainsley turun dari mobil dan tampak tidak sabar karena dia mau menggoda kakaknya.
Ainsley berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak, "Mom, Dad, Kak Mich sedang jatuh cinta!"
"Ainsley, jangan bicara sembarangan!" teriak Michael dari belakang.
"Mom, Dad!" Ainsley masih berteriak karena dia benar-benar ingin menggoda kakaknya.
"Ainsley, kenapa kau berteriak?" kate keluar dari dapur karena dia sedang membantu Vivian menyiapkan botol susu untuk keenam bayi lucunya.
"Mom, Kak Mich sedang jatuh cinta," ucap Ainsley.
"Oh ya? Jadi kakakmu suka dengan sahabatmu?" kate terlihat senang.
"Buka, Mom."
"Lalu?"
"Dengar, Mommy masih ingat bukan dengan cerita kami waktu itu, saat kami bertemu dengan gadis aneh yang meminta Kak Michael bertanggung jawab?"
"Tentu, ada apa memangnya?"
"Kami bertemu dengannya di restoran dan sepertinya Kak Michael menyukainya," ucap Ainsley.
"Wow, ini kabar bagus."
"Jangan percaya dengannya, Mom," Michael mendekati adiknya dan menjepit lehernya.
"Mom, percayalah. Dia membuat Heidi kabur dalam hitungan menit karena dia sudah menyukai wanita lain," ucap Ainsley seraya berusaha menyingkirkan tangan kakaknya.
"Benarkah itu, Mich?" Kate menatap putranya dengan wajah senang karena dia sudah sangat ingin melihat putranya menikah.
"Tidak, Mom. Ainsley hanya asal bicara, jangan dengarkan," jawab Michael.
"Ayolah Kak, tidak perlu malu," ucap Ainsley sambil tersenyum nakal.
"Ainsley, awas kau ya!"
Ainsley hanya tertawa, tapi menggoda kakaknya memang terasa menyenangkan.
"Sepertinya aku mencium bau kemenangan," Vivian keluar dari dapur sambil membawa sebuah tas.
"Enak saja! Mana mungkin aku kalah, Kakak ipar," ucap Michael.
"Bersiaplah, Mich. Akhir-akhir ini Patrik mengajak aku bertemu dan dia juga ingin bertemu dengan Maria. Jika kau kalah taruhan maka kau harus menggantikan Matthew menjadi Maria."
"Tidak akan! Kami hanya bertemu di restoran secara kebetulan dan dia tidak akan mengejarku!"
"Kita lihat saja nanti, Mich," ucap Vivian. Semoga Michael kalah, dia sangat mengharapkan hal itu.
"Vivi, apa semua yang kau butuhkan sudah lengkap?" Kate bertanya pada menantunya.
"Sudah, Mom. Tinggal susu dan pakaian, aku akan membereskannya nanti."
"Mommy akan membantu," ucap Kate seraya masuk lagi ke dalam dapur. Membawa enam bayi bepergian pasti akan sangat repot dan semua kebutuhan bayi tidak boleh ada yang tertinggal.
"Kakak Ipar mau ke mana?" tanya Ainsley.
"Pulang ke rumah ayahku, dia rindu dengan anak-anak dan mau bermain dengan mereka," jawab Vivian seraya berjalan menuju kamar.
Ainsley mengikuti Vivian, sedangkan Michael berjalan menuju kamarnya karena dia mau mandi.
Di dalam kamar, six babies twins sedang tertidur. Vivian meletakkan tas botol susu di atas meja, sedangkan Ainsley duduk di sisi ranjang untuk melihat enam keponakannya yang lucu.
"Kakak Ipar berapa hari di sana?" tanya Ainsley.
"Hanya beberapa hari."
"Jangan lama-lama, Kak. Aku tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan mereka."
"Ck, makanya cari pacar dan menikah sana!"
"Belum ketemu yang cocok!" jawab Ainsley.
Vivian diam saja dan sibuk mengambil pakaian bayi-bayinya untuk dia bawa nanti. Dia juga sudah meminta para pengasuh bayinya untuk beersiap-siap karena mereka akan segera berangkat setelah Matthew pulang.
"Kakak Ipar, bagaimana kabar Damian?" tanya Ainsley tiba-tiba.
"Kak Damian baik, kenapa? Apa kau rindu dengannya?" goda Vivian.
"Ck, aku hanya bertanya saja!"
"Jika kau rindu akan aku sampaikan padanya nanti."
"Jangan, Kak! Aku hanya bertanya," cegah Ainsley.
"Tidak perlu malu, Kak Damian pasti senang mendengar jika kau rindu dengannya. Aku akan menyampaikan hal ini padanya nanti."
"Jangan, awas jika kakak ipar mengatakannya!" ancam Ainsley dengan wajah memerah, sedangkan Vivian tertawa.
Sedangkan saat itu di dalam kamar, Michael keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Matanya tertuju pada laptop Marline yang dia letakkan di atas meja.
Michael mendekati benda itu dan mengambilnya, dia duduk di sisi ranjang dan menyalakan laptop Marline karena dia ingin tahu apa yang ada di dalam sana.
Di layar muncul tulisan MM dan sebuah password harus Michael masukkan jika dia ingin menggunakan benda itu.
"MM?" gumam Michael.
Dia akan mencari tahu tentang Marline nanti tapi sebelum itu dia harus memecahkan password agar dia bisa memeriksa isi laptop Marline.
Michael meletakkan laptop Marline ke atas ranjang karena dia mau memakai baju terlebih dahulu. Setelah selesai, dia kembali duduk di sisi ranjang dan mulai memecahkan pasword.
Itu bukan perkara sulit untuknya, cukup sepuluh menit password sudah dia masukkan dan laptop Marline sudah bisa dia gunakan.
Michael mulai melihat-lihat isi laptop Marline tapi sayangnya dia tidak menemukan apapun karena tidak ada yang bisa disimpan oleh Marline di sana.
Dia bahkan membuka email tapi tidak ada apa-apa di sana karena Marline tidak pernah membuat email. Marline memang tidak membuatnya karena dia merasa tidak perlu apalagi yang bisa dia ajak bicara cuma Zain saja.
"Tidak ada apapun," ucap Michael. Sangat aneh, biasanya laptop seseorang akan memiliki beberapa data tapi laptop Marline, tidak memiliki data apapun. Apa itu laptop yang baru dia beli?
Laptop kembali diletakkan di atas meja, besok dia akan mencari tahu tentang gadis itu dan dia harap Marline datang menemuinya besok untuk mengambil laptop miliknya.
Michael keluar dari kamar karena dia mau bermain dengan para keponakannya sebelum kakaknya pulang dan membawa mereka pergi.
Sedangkan di tempat lain, Marline telah kembali dan tampak mondar mandir memikirkan cara untuk mengambil laptopnya yang ada pada Michael. Itu laptop baru dan jika dia beli lagi, Zain pasti akan marah besar. Lagi pula uang yang diberikan oleh Zain mau dia gunakan untuk membayar mobilnya yang ada dibengkel.
Menyebalkan memang, tapi beginilah jika punya uang pas-pasan tapi banyak pengeluaran. Semua harus diperhitungkan dengan matang. Salah mengambil keputusan sedikit saja maka uang melayang.
Marline menghela napas, dia benar-benar butuh strategi baru untuk mendekati Michael tanpa ketahuan. Tapi selain menyamar, apa lagi yang bisa dia lakukan?
Contoh nyata, Edward.
Ortu kandung penjahat, tapi dididik dgn kasih tulus oleh Samantha & Jacob bisa jadi anak baik bahkan tidak ada rasa iri pada anak kandung ortu angkatnya
Dan uang yg dipakai untuk rencana jahat mereka didpt dari Kate/NosePick/