"Kalau memang Mas Dani serius, Mas bisa langsung bilang ke orang tua saya." Ujar Laras.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, malam ini juga aku akan bilang ke orang tua kamu. Dan kalau orang tua kamu setuju, maka kamu juga harus setuju untuk menikah denganku." Jawab Dani santai.
Larasati Dewi Arumsari (20) gadis muda yang bekerja sebagai pengasuh keponakan dari Ramdani Aditya Persada (31) tiba-tiba di lamar oleh laki-laki itu.
Entah apa yang Dani rencanakan sebenarnya. Laki-laki dingin itu sebenarnya memiliki prinsip untuk tidak lagi jatuh cinta apalagi sampai menikah. Lalu bagaimana bisa dia berubah pikiran setelah Maminya berencana menjodohkan dia dengan pengasuh keponakannya itu?
Akankah Dani akan jatuh cinta kepada Laras setelah perjuangan gadis itu? Atau justru Laras yang akan menyerah dan berpaling kepada seseorang yang selama ini mencintai dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapar tengah malam
Sejak kejadian dimana Dani mengiriminya pesan beberapa hari yang lalu, Laras menjadi lebih takut kepada laki-laki itu. Laras bahkan tidak berani walau hanya menatap matanya meskipun itu tanpa sengaja. Sebisa mungkin Laras menjauh dari keberadaan Dani.
Fokus Laras sekarang hanya kepada Lala, dia tidak mau sampai di tegur lagi karena lalai menjalankan tugasnya sebagai seorang pengasuh.
Sakit hati membaca pesan yang Dani kirimkan? Tentu saja tidak, karena yang Dani katakan itu memang benar, tugasnya disini adalah menjadi pengasuh Lala. Hanya saja yang mengenai Dani menuduhnya bermesraan dengan Randi, itu tidaklah benar. Mereka bahkan hanya sebatas teman sejak dulu. Dan sepertinya juga tidak akan lebih dari itu.
"Mbak Laras.... " Lamunan Laras terhenti karena mendengar Lala memanggilnya.
"Iya La kenapa? " Tanya Laras kepada Lala.
"Lala udah panggil dari tadi Mbak Laras nya malah bengong." Jawab Lala seraya cemberut.
"Oo iya, maaf ya Mbak Laras enggak denger. Emang tadi Lala panggil embak berapa kali?" Tanya Laras kepada Lala, dia benar-benar tidak mendengar kalau Lala memanggilnya.
"Lala panggil Mbak Laras udah 3 kali, baru deh yang ke 3 Mbak Laras denger. " Jawab Lala.
"Iya maaf ya, janji deh Mbak Laras enggak bengong lagi." Ujar Laras seraya kembali meminta maaf kepada Lala.
"Ras, besok kalau kamu mau pulang enggak papa kok. Soalnya aku mau ajak Lala ke luar kota. Jadi itung-itung ini libur buat kamu." Ujar Danisa kepada Laras.
Danisa dan Dimas memang harus pergi ke luar kota. Sebenarnya hanya Dimas, tapi laki-laki itu mengajak Danisa dan Lala karena besok weekend, jadi ini juga kesempatan untuk mengajak Lala liburan.
"Boleh Kak? " Tanya Laras memastikan. Karena perjanjian awal Laras bisa pulang ke rumahnya setiap hari Sabtu sore dan kembali lagi ke kediaman keluarga Persada Minggu sore, sedangkan ini masih hari Jum'at. Jadi Laras memastikan kembali ucapan Danisa agar dia tidak salah menangkap.
"Iya Ras, nanti kamu bilang aja sama Pak Asep minta anterin kamu pulang." Jawab Danisa.
"Eehmm, aku pulang sendiri aja boleh enggak Kak?" Tanya Laras kepada Danisa, pasalnya Laras merasa tidak enak kalau harus merepotkan Pak Asep. Lagi pula jarak tempuh ke rumahnya hanya 1 jam saja.
"Loh emangnya kenapa Ras? Atau kamu mau mampir dulu ke tempat lain? Enggak papa biar Pak Asep aja yang nemenin. Aku takut kamu kenapa-napa kalau pulang sendiri." Ujar Danisa.
Menurut Danisa, Laras adalah tanggung jawabnya karena dia bekerja kepadanya. Danisa harus memperhatikan keselamatan Laras bukan?
"Enggak kok Kak, aku cuma pengen naik angkot aja, soalnya kangen udah lama nggak naik angkot." Jawab Laras.
"Angkot? Jangan deh jangan, aku nggak tenang kalau kamu pulang naik angkot. Kalau emang kamu enggak mau di anterin sama Pak Asep, aku pesenin taksi aja ya." Ya, Danisa memang sebaik itu kepada Laras.
"Ehhh, enggak usah Kak, ya udah aku nanti sama Pak Asep aja." Pada akhirnya Laras memilih untuk di antarkan oleh Pak Asep karena dia merasa tidak enak kepada Danisa jika terus ngeyel ingin pulang naik angkot.
Danisa tersenyum mendengar pada akhirnya Laras mau diantarkan pulang oleh Pak Asep.
Seperti malam-malam sebelumnya, Dani saat ini sedang duduk di balkon kamarnya menikmati udara malam. Udara di Jakarta yang panas membuat Dani melepaskan atasannya. Sembari menikmati sebatang rokok dan sekaleng beer.
Kali ini tidak ada yang benar-benar sedang Dani pikirkan, dia hanya berniat menikmati waktunya sendiri setelah beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaannya.
Dani melirik ke arah jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Mendadak perutnya terasa lapar, jadi apa boleh buat, Dani harus turun ke dapur untuk memasak, setidaknya mie instan cukup untuk mengganjal perutnya sampai pagi nanti.
Tanpa repot-repot memakai bajunya terlebih dahulu Dani langsung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Namun sesampainya di dapur Dani bisa melihat siluet seorang wanita sedang berdiri dekat dispenser air minum. Hanya dengan melihat siluetnya saja Dani sudah tau kalau itu adalah pengasuh Lala.
Tanpa basa-basi Dani langsung menyalakan lampu dapur yang tadinya mati. Hal ini membuat gadis yang sedang meneguk air minumnya menjadi terkejut bukan main.
"Uhukkk... uhukk... uhukk... " Laras langsung terbatuk karena terkejut. Air yang harusnya mengalir ke tenggorokannya mendadak naik lagi dan keluar.
Bukannya kasihan dan membantunya, Dani justru bersandar di dinding hanya menatap Laras. Tidak ada raut bersalah sedikitpun di wajahnya.
"Astagfirullah Mas Dani." Hanya itu yang bisa Laras ucapkan seraya menepuk dadanya agar rasa sesaknya sedikit mereda.
Dengan santainya Dani duduk di kursi dapur menatap santai kearah Laras.
"Sudah?" Tanya Dani kepada Laras.
Laras menatap Dani sekilas kemudian menunduk lagi, ingin rasanya dia marah kepada laki-laki tidak berperasaan seperti Dani. Tapi mau bagaimana lagi, nyalinya tidak memungkinnya melakukan itu. Jadi mau tidak mau Laras menganggukkan kepalanya.
"Sudah." Jawab Laras, kemudian tanpa memandang Dani lagi Laras beranjak dari depan dispenser untuk kembali ke kamarnya. Berduaan dengan Dani di saat seperti ini tidak baik untuknya, bisa-bisa Laras pingsan karena saking takutnya kepada Dani.
"Saya belum mengijinkan kamu pergi Laras." Ujar Dani menghentikan langkah Laras.
Seketika Laras langsung menghentikan langkahnya.
"Saya ke dapur cuma mau minum doang Mas, dan sekarang saya mau ke kamar lagi." Entah keberanian dari mana hingga bisa membuat Laras bisa menjawab ucapan Dani.
"Saya tidak bertanya." Jawab Dani datar. "Saya lapar." Tambah Dani. Sebenarnya bisa saja Dani memasak sendiri karena dia sudah terbiasa, tapi melihat Laras disini membuat Dani menjadi malas memasak. Jadi Laras harus bertanggung jawab dengan memasakkannya.
Ucapan Dani ini membuat Laras seketika menatap Dani.
"Kalau laper ya makan kan? Lalu hubungannya sama aku apa?" Tentu saja itu hanya Laras ucapkan di dalam hatinya saja. Mana berani dia melakukan itu kepada Dani.
Melihat Laras yang hanya menatapnya membuat Dani berdecih pelan.
"Saya minta kamu buat masakin makanan. Saya lapar." Ujar Dani menjelaskan.
Menolak? Tentu saja Laras tidak memiliki pilihan untuk itu. Mau tidak mau dia harus lebih lama di dapur untuk memasakkan Dani.
"Mas Dani mau saya masakin apa?" Tanya Laras pada akhirnya.
"Apa saja." Jawab Dani santai.
Jawaban Dani benar-benar tidak membantu Laras sama sekali, pada akhirnya Laras harus mengandalkan inisiatifnya sendiri.
Laras membuka lemari es untuk melihat ada bahan makanan apa yang bisa dia masak.
"Ayam goreng sama omelette?" Tanya Laras kepada Dani.
Laki-laki itu tanpa berlama-lama langsung menganggukkan kepalanya. Niatnya membuat mie instan ternyata beralih ke makanan yang lebih layak untuk perutnya.