Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Menang Melawan Amukan Alam
"Tarik ujung talinya, Mas Bagas! Jangan sampai tiang tengahnya doyong ke kiri!"
Teriakan Seroja memecah gemuruh angin gunung yang mengamuk. Malam itu gerimis membasahi tanah kapur jadi becek, tapi Seroja berdiri tegak di sana, kain luriknya basah menempel di badan, tak mau mundur cari perlindungan.
Itu bukan badai hujan lebat, cuma putaran angin kencang berhawa dingin yang merobek daun dan mematahkan ranting. Di depannya, terowongan rambat melon madu mereka seolah merintih. Batang bambu penyangganya berderak melengkung, nyaris tak sanggup menahan hantaman angin yang menekan daun-daun lebar tanaman itu.
Bagas menancapkan tumit ke tanah liat. Tangannya yang melepuh mencengkeram tali ijuk kasar, menarik sekuat tenaga sisa untuk menahan tiang bambu yang mulai miring menekan akar melon. Ia menggeram menahan beban tiang itu. "Tenagaku habis, Ro! Talinya licin!" jeritnya, nyaris tertelan deru angin.
"Biar Ibu bantu!" Siti berlari keluar dari serambi gubuk, menembus pekarangan gelap. Perempuan yang biasanya lembut itu tak lagi bersembunyi. Ia mengambil alih pangkal tali dari tangan Bagas, menyampirkannya ke bahu kiri, lalu menarik ke arah berlawanan angin dengan seluruh berat badannya.
Di sudut lain, Pakde Prasetyo, yang baru tiba dari desa karena khawatir, langsung turun tangan. Dengan palu kayunya yang besar, ia menancapkan pasak bambu baru ke tanah gembur, mengunci tiang-tiang yang goyah.
"Mas Danu, awas!" Doni berteriak dari ambang pintu dapur, menunjuk sudut utara bedengan.
Krakk!
Suara patahan nyaring itu membekukan mereka semua. Tiang penyangga utama dari bambu petung tebal retak memanjang, tekanan angin terkonsentrasi di titik itu, membelah seratnya jadi tajam dan rapuh. Tiang itu doyong parah ke arah tanaman. Kalau sampai patah dan menimpa bedengan, seluruh sulur melon akan tercabut dari akar, dan semua bakal buah mahal yang sedang membesar pasti musnah.
Danu melompat menerjang barisan tanaman. Dengan bahunya yang kekar, ia menabrak ruas bambu yang retak, menahan beban tiang itu hanya dengan tenaga tulangnya. "Tahan tiangnya, Ro! Kalian cepat ikatkan pasak baru ke ujung bawahnya!" raungnya menahan sakit. Serat bambu tajam merobek lengan kemejanya, menusuk kulit. Darah bercampur gerimis menetes, tapi Danu tak sedikit pun mengendurkan tumpuannya.
Seroja berlari mengambil gulungan tali ijuk terakhir dari lincak. Ia tak berpikir memanggil bantuan apa pun, di dunia nyata, tak ada yang bisa menyambung bambu retak seketika. Yang ia punya hanyalah pengetahuan warisan: sketsa simpul ikatan dari catatan arsitektur kandang Kakek Hadi.
"Mas Danu, diam jangan bergerak. Tiang ini tak bisa diikat mati biasa, anginnya akan memutus tali ramin," instruksinya cepat sambil berlutut di pangkal tiang, tak peduli daun tajam menggores lengannya. "Pakde, tolong tahan celah retakannya dari depan."
Prasetyo sigap memegang bambu itu dengan kedua lengannya, membagi beban yang menindih Danu.
Seroja melilitkan tali ijuk tebal mengelilingi ruas yang retak, bukan secara mendatar, tapi jari-jarinya cekatan menyusun pola silang X, mengunci bilah bambu yang terbelah agar saling menekan ke dalam. Ia ulang lilitan dari arah sebaliknya, membuat simpul ganda pelindung. Teknik tradisional ini menyerap getaran angin, membagi tekanan ke seluruh lilitan, jadi bambu itu tak akan patah, hanya bergoyang mengikuti arah angin tanpa lepas dari kuncian.
"Tarik napas panjang, Mas Danu," perintah Seroja sambil mengikat simpul penutup dengan sisa tenaga terakhir. "Lepaskan bahumu perlahan. Biar ikatan ini yang ambil alih bebannya."
Danu melepaskan tumpuannya sentimeter demi sentimeter, meringis saat serat bambu lepas dari lukanya.
Tiang itu berderak panjang, bergoyang diterjang angin berikutnya, tapi tetap berdiri tegak. Ikatan silang ganda Seroja mengunci retakan itu sempurna, seperti gips yang menyambung tulang patah. Terowongan melon madu mereka selamat dari keruntuhan.
Seroja terduduk lemas di lumpur kapur. Tangannya lecet, kotor, gemetar menahan lelah. Di sekelilingnya, seluruh keluarga Brotojoyo dan Prasetyo duduk berhimpitan di tanah becek, napas mereka terengah bersahutan di bawah gerimis. Siti menangis haru, mengusap bahu putrinya tanpa kata. Nenek Warni yang menjaga dari balik pintu gubuk menangkupkan tangan keriputnya, berdoa syukur. Danu tersenyum lebar menahan perih lengannya, sementara Bagas tertawa pelan, mereka baru saja menang melawan amukan alam.
Malam yang panjang dan menyiksa itu akhirnya berlalu. Gemuruh angin perlahan mereda, berganti desir halus embusan fajar. Semburat jingga matahari pagi menyibak sisa awan kelabu di ufuk timur, menerangi pekarangan belakang yang porak poranda lumpur dan dedaunan rontok.
Seroja bangkit perlahan, merasakan nyeri di seluruh tulang. Ia berjalan mendekati lorong bedengan melon madu yang kini dihiasi banyak pasak penyangga dadakan. Dengan hati-hati, ia menyibakkan jaring pelindung pelepah pisang buatan Doni.
Di bawah cahaya fajar yang menyingsing, kuncup-kuncup bulat sebesar genggaman tangan orang dewasa bertengger aman di atas alas pelindung. Kulit tipis buah mahal itu mulus, tak ada lecet sedikit pun.