Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedai Teh Buka Cabang & Balas Dendam Pertama
---
Keesokan paginya, Kota Batu Hitam bangun dengan pemandangan yang membuat tukang sayur pingsan.
Di depan Kedai Teh, yang biasanya hanya ada Mo Sha duduk menjaga pintu, kini ada 7 tenda mewah dari sutra spiritual yang didirikan semalaman. Di setiap tenda ada bendera besar: Pedang Azure, Api Merah, Air Tenang, Petir, Angin, Tanah Kokoh, dan satu tenda kecil robek milik Klan Xiao.
7 Klan Besar resmi membuka "cabang" di Kota Batu Hitam. Bukan cabang dagang, tapi cabang untuk mengantri teh.
Nenek Air Tenang adalah yang paling rajin. Jam 6 pagi, sebelum kedai buka, dia sudah duduk di kursi bambu dengan membawa cangkirnya sendiri yang terbuat dari giok. Dia tidak lagi memakai jubah Tetua yang sombong, dia memakai celemek dapur karena dia bilang ingin belajar cara mencuci cangkir yang benar dari Ling'er.
Tetua Api Merah, yang kemarin apinya padam karena dijentik Xiao Chen, kini duduk dengan patuh mencoba belajar mengendalikan apinya untuk... memanaskan air teh tanpa membuat airnya mendidih terlalu keras. Dia gagal terus dan dimarahi Ling'er.
"Api Paman terlalu besar! Tehnya jadi pahit! Kecilkan lagi!"
Dan Tetua Nascent Soul yang bisa membakar gunung itu, mengangguk-angguk seperti anak SD dimarahi guru TK.
Xiao Chen melihat semua itu dari dalam kedai sambil menghela napas. Kedainya yang tadinya sepi dan tenang, kini menjadi paling ramai di kota. Tapi setidaknya, mereka semua mengikuti peraturan pertama: Jangan berisik. Mereka semua berbisik.
"Bos Teh," Ling'er datang sambil membawa buku catatan kecil dari kulit binatang yang dia jahit sendiri. "Hari ini pemasukan 342 koin tembaga, 12 batu spiritual rendah dari tip Tetua Pedang Azure, dan 1 batu spiritual menengah dari Nenek Air Tenang karena dia pecahkan 3 cangkir."
Xiao Chen mengangguk. "Bagus. Catat. Nanti uangnya belikan Mo Sha celemek baru, yang kemarin dia robek karena kegedean."
Mo Sha yang mendengar namanya disebut, langsung berdiri tegak di depan pintu dengan celemek kecil yang hanya muat menutupi perut batunya, terlihat sangat konyol tapi dia bangga.
Jam 10 pagi, saat antrian teh sedang panjang, debu terlihat dari arah utara. Bukan debu iblis, tapi debu kuda dan pedang.
Sekelompok 20 kultivator muda dengan jubah putih bersih Klan Xiao datang dengan sombong, menunggangi kuda spiritual. Di depan mereka ada seorang pemuda dengan jubah emas yang lebih mewah, wajahnya masih diperban tapi sudah bisa berjalan - Xiao Feng.
Xiao Feng selamat. Ternyata saat Mo Sha keluar, iblis-iblis kecil yang membawa Xiao Feng kabur melepaskannya karena mereka merasakan Raja mereka bangun dan lari kembali ke jurang. Xiao Feng ditemukan oleh Klan Xiao dalam keadaan sekarat, kakinya hampir putus dimakan iblis, tapi Tetua Klan menyelamatkannya dengan pil mahal.
Setelah 3 hari terbaring, hal pertama yang dilakukan Xiao Feng bukan bersyukur, tapi marah. Dia mendengar kabar bahwa Xiao Chen, sampah yang dia injak, kini menjadi Bos Teh yang dihormati dan bahkan 7 Klan Besar berlutut padanya. Harga dirinya yang sudah hancur karena pedangnya dipatahkan dengan dua jari, tidak bisa menerima itu.
Dia datang untuk menagih harga diri.
"XIAO CHEN! KELUAR KAU SAMPAH!" teriak Xiao Feng dari atas kudanya, suaranya masih serak karena tenggorokannya pernah digigit iblis. Dia tidak melihat 7 tenda Tetua di sekitarnya karena dia terlalu sombong menatap lurus ke kedai.
Seluruh Kota Batu Hitam yang sedang mengantri teh langsung diam. Nenek Air Tenang dan 6 Tetua lainnya yang sedang berbisik, langsung menoleh.
Xiao Chen yang di dalam kedai, sedang menyeduh teh, tangannya berhenti sepersekian detik, lalu melanjutkan.
Ling'er yang melihat Xiao Feng, langsung bersembunyi di belakang Xiao Chen karena dia ingat cerita Bos Teh tentang Klan Xiao.
Mo Sha yang di depan pintu, yang diperintahkan untuk tidak membunuh, hanya menggeram pelan. Geraman itu membuat kuda-kuda spiritual Klan Xiao langsung kencing dan jatuh, membuat 20 kultivator muda itu terpelanting ke tanah.
Xiao Feng jatuh paling keras karena kakinya yang belum sembuh. Dia mengangkat kepalanya, melihat Mo Sha, dan pucat. Tapi kesombongannya lebih besar dari rasa takutnya.
"Monster! Kau pelihara monster! Xiao Chen, kau sudah bersekutu dengan iblis! Kau pengkhianat manusia!" teriak Xiao Feng, mencoba membalikkan keadaan agar 7 Klan Besar membencinya.
Sayangnya, 7 Klan Besar sudah tahu siapa pengkhianat sebenarnya.
Tetua Pedang Azure berdiri, pedangnya berdengung. "Xiao Feng, diam. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi."
"Siapa? Dia hanya sampah Klan Xiao! Dia dantian kosong! Aku Tetua Muda Klan Xiao! Aku..."
_PLAK!_
Bukan Xiao Chen yang menamparnya. Yang menamparnya adalah Xiao Tianlong, Tetua Agung Klan Xiao yang keluar dari tenda robeknya dengan wajah penuh amarah dan malu. Tamparan dari tangan satu-satunya yang tersisa itu membuat Xiao Feng terpelanting 5 meter.
"CUCU SAMPAH! BERLUTUT! BERLUTUT DI DEPAN PAMANMU!" teriak Xiao Tianlong, suaranya pecah.
Xiao Feng memegang pipinya yang berdarah, tidak percaya. "Kakek... Kakek Agung memukulku? Demi sampah itu?!"
"Dia bukan sampah! Dia adalah... dia adalah..." Xiao Tianlong tidak bisa melanjutkan, dia menangis di depan semua orang.
Xiao Chen akhirnya keluar dari kedai. Dia masih membawa teko teh. Dia berjalan melewati 20 kultivator Klan Xiao yang jatuh, melewati Xiao Feng yang terkapar, dan berjalan ke tengah alun-alun kecil di depan kedainya.
Dia meletakkan teko teh di tanah.
"Xiao Feng," kata Xiao Chen, suaranya tidak keras, tapi semua orang mendengar karena tidak ada yang berani berisik. "Kau datang untuk menagih apa?"
Xiao Feng berdiri dengan bantuan temannya, kakinya yang diperban berdarah lagi. "Aku datang untuk menantangmu duel! Duel hidup mati! Untuk membersihkan nama Klan Xiao! Kau bersekutu dengan iblis! Kau..."
Xiao Chen mengangkat tangannya, memotong perkataannya.
"Aku tidak ada waktu untuk duel. Aku harus buka kedai sampai jam 7 malam. Tapi karena kau sudah datang jauh-jauh, aku kasih kau satu kesempatan untuk menagih hutang."
Xiao Chen menatap Xiao Feng, dan untuk pertama kalinya, dia melepaskan sedikit saja penyamaran dantian kosongnya.
_Bukan qi. Tapi tekanan._
Tekanan 1000 tahun darah, daging, dan kesepian yang dipadatkan menjadi satu tatapan.
Xiao Feng yang menatap mata itu, langsung merasakan kakinya yang sudah hampir sembuh, patah lagi dari dalam. Bukan dipukul, tapi tulangnya remuk sendiri karena tidak kuat menahan tekanan mental.
_KRAK!_
"AARGH! KAKIKU!" Xiao Feng jatuh berteriak.
Xiao Chen tidak menyentuhnya sama sekali.
"Kaki yang itu," kata Xiao Chen pelan, "Dulu kau pakai untuk menginjak cincin pertunanganku. Sekarang, aku pinjam kembali."
Dia berbalik, tidak melihat Xiao Feng lagi. Dia kembali ke kedainya, mengambil tekonya.
"Mo Sha, buang sampah ini keluar dari kota. Jangan bunuh. Bikin cacat saja biar dia ingat rasanya jadi sampah yang tidak bisa kultivasi. Seperti aku dulu 1000 tahun."
Mo Sha tersenyum, senyum iblisnya yang pertama kali terlihat bahagia karena dapat izin untuk "membuang sampah". Dia mengangkat Xiao Feng dan 20 kultivator Klan Xiao itu seperti mengangkat karung beras, dan berjalan keluar kota, melempar mereka ke sungai kotor di luar kota.
Xiao Tianlong melihat itu, tidak membela. Dia hanya berlutut di depan Xiao Chen yang sudah kembali ke dalam kedai.
"Terima kasih, Tuan Xiao Chen... karena tidak membunuhnya..."
Xiao Chen sedang mencuci teko. "Aku tidak membunuhnya karena membunuhnya terlalu mudah. Membiarkan dia hidup dengan kaki cacat dan dantian yang sudah retak karena ketakutan tadi, itu lebih adil. Biar dia merasakan 1000 tahunku dalam 50 tahun sisa hidupnya. Menjadi sampah yang ditertawakan."
Kata-kata itu dingin, tapi jujur.
Hari itu, setelah Xiao Feng dibuang, tidak ada lagi Klan Xiao yang berani menyebut nama Xiao Chen dengan nada menghina. Nama itu menjadi tabu, menjadi legenda yang menakutkan.
Sore harinya, setelah kedai tutup, Nenek Air Tenang datang membawa gulungan baru.
"Tuan Bos Teh, 7 Klan Besar sudah sepakat. Mulai besok, kami akan mengirim murid-murid terbaik kami untuk membantu menjaga Kota Batu Hitam. Dan... kami ingin meminta izin untuk membangun tembok baru untuk kota ini, dengan formasi pelindung tingkat Nascent Soul. Gratis. Sebagai... biaya sewa tempat duduk bambu."
Xiao Chen yang sedang menghitung koin tembaga bersama Ling'er, mengangguk.
"Boleh. Tapi jangan bangun terlalu tinggi, nanti menghalangi sinar matahari sore ke kedai tehku. Sinar matahari sore itu penting untuk menyeduh teh."
Nenek Air Tenang mengangguk cepat dan mencatat, seperti sekretaris mencatat perintah bos.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 20 hari, Xiao Chen tidur nyenyak tanpa mendengar lolongan iblis dari pegunungan. Karena di luar gerbang, Mo Sha duduk menjaga, dan di sekitar kota, 7 Tetua Nascent Soul berpatroli bergantian dengan sukarela, menjaga kedai teh kecil itu seperti menjaga istana kaisar.
Ling'er yang tidur di loteng kecil di atas kedai, bermimpi. Dia bermimpi dia bisa menyeduh teh yang bisa membuat Bos Teh tersenyum lebar, bukan hanya senyum tipis.
Dan di dasar Jurang Iblis yang sudah hancur segelnya, iblis-iblis yang masih tersisa, yang melihat Mo Sha pergi dan tidak kembali, saling berbisik dalam kegelapan.
"Raja Mo Sha... sudah menjadi anjing manusia?"
"Jangan keluar. Jangan keluar. Di luar ada monster yang lebih menakutkan dari Raja Mo Sha."
"Ya, monster penjual teh."
Jurang yang selama 5000 tahun menjadi sumber teror, untuk pertama kalinya, menjadi tempat yang... aman, karena iblis-iblis di dalamnya terlalu takut untuk keluar.