NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Napas Julian memburu. Tatapannya membeku pada raut wajah Elena yang hancur dalam tangis. Hatinya mencelos, hancur berkeping-keping membayangkan sahabat kecilnya—gadis yang selalu ingin ia lindungi—harus menanggung neraka sendirian tanpa ada satu orang pun yang merangkulnya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Julian bangkit dari kursinya. Ia berjalan cepat menuju kasir, meletakkan beberapa lembar uang kertas tanpa memedulikan kembalian, lalu kembali menghampiri Elena. Ditariknya tangan Elena dengan mantap namun penuh kehati-hatian, menuntun langkah wanita yang kini bergetar hebat itu keluar dari riuhnya warung bakso.

Begitu pintu kabin Lexus putih itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari bisingnya jalanan Kota Medan, pertahanan Julian benar-benar runtuh. Kemarahan dan rasa pilu yang membuncah di dadanya seolah meremukkan dada.

"Brengsek... cowok keparat itu!" umpat Julian tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang membakar.

Ia menoleh ke arah Elena yang menyandarkan kepala di jendela, terisak tanpa suara dengan bahu yang naik turun. Julian tidak bisa menahannya lagi.

Ia melepaskan sabuk pengamannya, merengkuh tubuh rapuh Elena, dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat.

Elena tak lagi sanggup menahan beban itu sendirian. Tangisnya pecah seketika di dada kemeja Julian.

"Maafkan aku, El... Maaf aku nggak ada di sampingmu saat itu," bisik Julian parau. Tangannya yang bergetar melingkar posesif di punggung Elena, sementara jemarinya mengelus lembut rambut wanita itu, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.

"Dia bajingan, El. Nathaniel benar-benar manusia jahat! Bagaimana bisa dia ninggalin kamu setelah semua yang kalian lewati selama enam tahun? Kapan pun aku ketemu dia, demi Tuhan, aku nggak akan tinggal diam!"

Julian makin mempererat dekapannya, menenggelamkan wajahnya di celah leher Elena, meresapi tiap deru napas sahabatnya yang patah-patah.

"Kamu nggak sendirian lagi sekarang, El. Dengar aku," ucap Julian tegas, mengusap puncak kepala Elena berulang kali dengan penuh kehangatan. "Ada aku. Aku nggak akan biarkan siapa pun menyakiti kamu lagi. Kamu punya aku..."

Di dalam kabin mobil yang hening dan hangat itu, Elena membalas pelukan Julian, merasakan untuk pertama kalinya setelah dua tahun berlalu—sebuah tempat pulang yang akhirnya mau menerima seluruh lukanya tanpa rasa menghakimi.

Napas Julian kian berat, hingga akhirnya pertahanan pria itu runtuh sepenuhnya. Suara deru napasnya berubah menjadi isakan parau. Pria yang biasanya selalu tampil tenang dan menjadi pelindung itu kini menangis tersedu-sedu, meratapi betapa kejamnya takdir yang harus dipikul sahabatnya. Air matanya menetes, membasahi bahu kemeja Elena.

Elena yang mendengarnya justru tertegun. Rasa hangat menyusup ke dadanya saat melihat Julian menangis begitu tulus untuk lukanya. Dengan jemarinya yang masih gemetar, Elena pelan-pelan melerai pelukan, lalu menangkup kedua pipi Julian.

"Jules, lihat aku..." bisik Elena lembut. Tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi Julian.

"Aku udah melaluinya. Aku bertahan, Jules. Kamu nggak boleh nangis begini..."

Julian menatap mata Elena yang masih basah. Di dalam kabin mobil yang remang, jarak di antara mereka terkikis oleh emosi yang membuncah. Ada penyesalan, penderitaan, dan sisa-sisa perasaan lama dari masa sekolah yang tak pernah benar-benar padam semua melebur menjadi satu.

Tanpa ada yang merencanakan, Julian memajukan wajahnya. Elena tak menghindar.

Bibir mereka bertemu.

Sebuah ciuman mesra bertaut selama beberapa detik penuh kehangatan, kelembutan, sekaligus keputusasaan yang saling menguatkan di tengah luka. Perasaan yang terpangkas waktu bertahun-tahun seolah tumpah dalam sapuan lembut yang memabukkan itu.

Ketika kesadaran perlahan kembali merayap, Julian menarik dirinya secara perlahan. Napas keduanya berburu dekat sekali. Elena menunduk dengan pipi merona, sementara Julian mengusap sudut bibirnya, mencoba menata detak jantungnya yang berantakan.

"Maaf... El," gumam Julian canggung, menatap lurus ke depan sambil memegang kemudi.

Elena menggeleng pelan, membetulkan duduknya kembali ke posisi awal.

"Nggak apa-apa, Jules."

Julian menghela napas panjang, merapikan kemejanya, lalu menyalakan mesin Lexus putih itu. Lampu utama mobil menyala terang, membelah kegelapan malam.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi namun dengan ikatan batin yang mendadak berubah drastis, Julian menginjak pedal gas, melajukan mobilnya memecah riuhnya keramaian malam Kota Medan.

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!