NovelToon NovelToon
AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Transmigrasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...

Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.

"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Yang baru nyonya, Anda bisa cek setelah sampai di rumah nanti." Ucap pria itu.

Grace pun mengangguk paham, wanita itu kemudian membuka ponselnya. Tak berselang lama, suara notifikasi muncul dari ponsel milik pria itu.

TING!

Mendengar suara notifikasi itu, dengan cepat tangan pria itu langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja. Pria itu kemudian menoleh pada Grace, dan wanita itu langsung mengangguk. Mengisyaratkan sesuatu.

Pria itu langsung mengecek rekeningnya, dan benar saja. Transferan sudah masuk, tak sedikit uang yang Grace keluarkan untuknya.

"Kau menambahkan uangnya?" Tanya pria itu sambil tersenyum senang.

"Aku sengaja memberimu sebanyak itu, karena tugasmu belum selesai."

Pria itu merasa bingung, ia berpikir bahwa apa yang di perintahkan oleh Grace telah berakhir detik ini juga. Namun pria itu kini senang. Ladang cuannya tumbuh lagi.

"Seharusnya lebih banyak bukan? Kau taulah maksudku."

Grace menatapnya datar, perasaannya sedang kalut saat ini. "Lakukan saja perintahku dengan baik Teo, maka bayaranmu akan ku beri 3 kali lipat dari itu."

Spontan pria itu langsung menaruh ponselnya, ia sangat tidak sabar dengan tugas selanjutnya.

"Baiklah, apa yang berikutnya? Kau mau aku membuntuti mereka lagi? Atau lebih dari itu, membuat berita ini menjadi viral misalnya." Ucapnya, namun Grace hanya menggelengkan kepala.

"Tidak, jangan viralkan, jika kau melakukannya. Bukan mereka yang hancur, melainkan putriku. Mereka orang biasa, namun putriku, dia yang akan terkena dampaknya nanti."

Pria itu sekarang merasa heran, tugas apa yang di perintahkan oleh Grace setelah ini.

"Lalu? Kau mau aku melakukan apa lagi nyonya Darren?"

Grace menunjukkan sebuah foto motel yang sekarang sudah di garis kuning oleh polisi.

"Aku mau kau pergi ke sana, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku! Kau bisa kan Teo?" Tanya Grace sungguh-sungguh.

Teo yang melihat itu, kini mendorong ponsel Grace menjauh darinya. Pria itu lalu memalingkan padangannya.

"Tidak-tidak, ini berurusan dengan polisi, aku tidak mau mengambil resiko." Teo terang-terangan menolak tugas itu.

"Aku bisa menambah uangnya 4 kali lipat."

Teo menyilangkan tangannya, "Nyonya, jangan nekad, sudah ada garis polisi. Maka biarkan mereka yang bekerja. Ok!"

BRAAAAKKKK!

Grace bangun dari duduknya, wanita itu menggebrakkan meja. "Aku sudah memberikanmu nominal tak sedikit, namun kau bahkan tak mau membantuku? Kau hanya kesana Teo, kau hanya selidiki tempat itu. Apa susahnya."

Mau tak mau, Teo dengan terpaksa harus menerima tawaran itu. "Baiklah, namun tambah uangnya jadi 7 kali lipat."

Grace yang mendengar nominal itu seketika langsung syok. "Kau mau memerasku? Hai, kau hanya pergi ke sana. Dan kau minta 7 kali lipat."

Grace yang sedari tadi terus melontarkan kata-kata seolah menganggap pria itu remeh, semakin membuat pria itu merasa tidak nyaman.

"Kau bilang ada garis polisi, aku ke sana itu artinya bukan hal yang biasa. Bagaimana jika saat aku kembali hanya tinggal nama." Grace seketika terdiam.

Wanita itu kini menunduk, lalu kembali duduk. "Maaf, aku tak bermaksud. Aku hanya mencemaskan suamiku. Para polisi bilang, para pelaku menembakan itu telah kabur. Aku hanya mencemaskan keluarga ku. Aku sudah meminta para polisi mencari keberadaan mereka. Namun tak ada satu pun petunjuk. Aku hanya takut mereka mengincar keluargaku."

Pria itu menatap Grace datar, dalam hatinya. Ia pasti merasa sangat kesal dengan Grace lantaran ia terus menjual cerita kesedihan padanya.

"Baiklah, namun jika saat aku sampai di sana. Tak menemukan apapun, jangan salahkan aku dan akan aku kembalikan setengah uangmu." Ucap Pria itu, dan Grace malah menggelengkan kepalanya.

"Aku mohon, setidaknya temukan lah jejak atau semacamnya."

Mau tak mau, pria itu hanya bisa mengangguk setuju dengan ide gila Grace.

***

Di rumah sakit, tepatnya di ruang vip tempat di mana Tuan Federic tengah dirawat.

Pria tua itu telah melewati masa Kritisnya kemarin malam, bahkan saat pagi. Ia sudah terbangun, tubuhnya masih lemas. Ia masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Dengan Jonas yang masih berada di atas kursi roda. Menemaninya.

"Tuan, Anda sudah bangun?" Tanya Jonas.

Suara Federic masih terbata, masih terasa sakit untuknya berucap banyak hal.

"Jonas, apa itu kau?" Tanya Federic dengan lirih.

"Ya Tuan saya di sini, Anda baru siuman. Jangan banyak berbicara dulu, pulihkan diri Anda terlebih dahulu. Baru kita bicara."

Jonas paham akan bosnya, ia pasti mengkhawatirkan kejadian kemarin.

"Anda tenang saja Tuan, kemarin saya langsung menyuruh polisi untuk datang ke lokasi. Namun Anda bisa tenang sekarang karena semua anak buah kita sudah berhasil di selamatkan oleh polisi." Mendengar perkataan Jonas, membuat Federic akhirnya bisa bernapas dengan lega.

"Syukurlah" Ucapnya.

Jonas kini menunduk, ia melihat kepalan tangannya yang kemudian membuka. Menunjukkan sebuah pin papan nama milik salah seorang bodyguard.

2 jam yang lalu...

Jonas masuk ke dalam sebuah ruang pasien, di sana kondisi pasien itu lumayan mengenaskan. Pria itu masuk, dengan seorang perawat yang mendorong kursi rodanya.

"Tuan Jonas..." Ucap pasien itu lemah.

"Bagaimana kondisimu Armor?" Tanya Jonas dan pria itu pun tersenyum.

"Aku tidak apa-apa. Gaji yang besar, juga pasti resiko yang besar juga." Ucapnya lirih.

"Senang melihatmu lagi Armor."

Setelah beberapa saat, Jonas keluar dari ruangan itu. Ia kemudian pergi ke ruangan lain.

Jonas menatap pasien itu, pria muda yang baru saja ia rekrut menjadi bodyguard baru di rumah Darren. Jonas benar-benar sangat menyesal melihatnya. Di antara semua, ialah yang paling banyak mendapatkan tembakan.

Bahkan ia harus di pasangkan selang untuk bernapas.

Perawat kini datang, untuk mengecek keadaan pasien.

"Bagaimana kondisinya sus?" Tanya Jonas dan perawat itu pun tersenyum.

"Jauh lebih stabil dari kemarin. Namun untuk respons masih belum ada tanda-tanda." Mendengar hal itu, membuat Jonas langsung menunduk.

Perawat itu kemudian memberikan sebuah pin tanda pengenal pada Jonas. "Maaf Tuan, tadi pasien sempat menggenggam pin ini. Ia terus menggenggamnya bahkan saat sedang operasi."

Jonas mengambil pin itu, "Bahkan saat ia tak sadarkan diri?" Perawat itu pun mengangguk, menjawab ucapan Jonas.

"Ini adalah pin pengenal ayahnya, jika aku ingat. Pak Galih memang tidak ada sejak mereka sampai di rumah sakit. Namun di mana dia." Batin Jonas.

***

Aurora berada di pelataran rumah, ia melambaikan tangannya. Melambai pada sebuah mobil yang pergi menjauh.

Mobil itu, adalah mobil yang di tumpangi oleh Kris dan Anne.

"Lega sekali hati ini, akhirnya orang itu pergi juga." Batin Aurora.

DRT DRT DRT

Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk di ponsel milik Aurora. Saat melihat nama penelepon itu, seketika wajahnya langsung sumringah.

"Astaga, ini pasti takdir." Aurora kini membenarkan rambutnya, ia bertingkah seperti orang yang sedang kasmaran.

Tingkahnya sangat konyol dan membuat adiknya kebingungan.

"Kakak ini kenapa ya?" Tanya Luna heran sambil menggaruk kepala.

Aurora menghembuskan napasnya panjang, mengambil aba-aba lalu menjawab panggilan telepon itu.

"Tenang Aurora, jangan panik di depan calon menantu papa... Ekhem, bertingkahlah biasa, ok." Batinnya.

"Hai... Jordan..." Ucap Aurora dengan nada sedikit melengking.

Jordan kini masih berada di mobil, pria itu kini tertawa kecil mendengar ucapan Aurora yang terdengar antusias meneleponnya.

"Hai juga Aurora..."

Keduanya berbincang melalui telepon, sedangkan di samping Aurora, Luna merasa sangat terabaikan. Anak kecil itu bahkan kini sudah bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Aurora.

Sedangkan di belakang Jordan, Rumero yang sudah duduk di kursi pengemudi. Juga di buat kesal oleh keduanya karena merasa menjadi obat nyamuk. Wajah Rumero tak bisa berbohong, pria itu terus menatap datar ke arah Jordan seolah berkata.

"Sial, andai pluto dekat, aku ingin pindah ke sana dan menjauh dari mereka." Batin Rumero.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!