Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'm Not Okay
Day 11
"Eumhhh..."
Ara terbangun lebih dulu keesokan paginya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menoleh ke sekeliling kamar.
Teman-temannya dan Biru masih tertidur di lantai, berjejer dengan posisi yang berantakan seperti ikan yang sedang dipajang di pasar.
Ara hampir terkekeh melihat pemandangan tersebut. Namun, ketika ia menoleh ke arah Bara, senyum di wajahnya seketika menghilang. Tubuhnya langsung menegang.
"Bara!"
Ara bangkit dari tidurnya dengan panik. Ada noda darah yang sudah mengering di sekitar hidung Bara. Bahkan seprai dan sebagian bantalnya juga terkena darah.
"Bara! Bangun, sayang!"
Ara mengguncang pelan bahu Bara. Namun, Bara tidak memberikan respons apa pun.
"Bara!"
Panik, Ara langsung menekan tombol bel di samping ranjang untuk memanggil dokter.
"Dokter! Tolong!"
Teriakan Ara sontak membangunkan semua orang.
"Ada apa, Ra?"
Biru langsung bangkit.
"Bang, Bara..."
Ara menunjuk ke arah ranjang dengan tangan gemetar.
"Bara nggak bangun."
Tak lama kemudian, dokter datang tergesa-gesa bersama dua orang suster.
"Semua keluar dulu. Tolong beri kami ruang untuk menangani pasien."
Mereka semua segera keluar dari kamar. Dokter dan kedua suster langsung bergerak cepat. Selang oksigen dipasang, sementara dokter memeriksa denyut jantung Bara yang terdengar lemah.
Ara hanya bisa berdiri di luar dengan tubuh gemetar.
"Kenapa gue sampai nggak tahu kalau dia mimisan kayak gitu?"
Ara menatap tangannya sendiri.
"Bodoh! Dasar bodoh!"
"Dek, tenang."
Biru segera menghampiri Ara.
"Ini semua bukan salah kamu. Jangan nyalahin diri sendiri."
"Tapi kalau Bara sampai nggak bangun lagi gimana, Bang?"
"Hush! Jangan ngomong kayak gitu!"
Biru langsung mengusap kepala Ara.
"Mending sekarang abang anter kamu pulang buat ganti baju. Lihat tuh, baju kamu kena darah semua."
Ara menunduk dan memeriksa bagian depan bajunya. Benar, ada banyak noda darah Bara yang mengotori pakaiannya.
Seketika pertahanan Ara runtuh. Air matanya kembali mengalir deras.
"Bara..."
Ara menutup mulutnya sambil menangis. Teman-temannya segera menghampiri dan berusaha menenangkannya.
"Bara pasti baik-baik aja, Ra."
"Dokternya lagi menangani dia."
"Lo jangan mikir yang aneh-aneh dulu."
Namun, semua kalimat itu terasa seperti suara yang samar bagi Ara. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Keselamatan Bara.
"Udah, lebih baik kamu pulang dulu."
Biru mengusap pundak adiknya.
"Abang nggak terima penolakan. Biar Yuvin, Yohan, atau Sora yang jaga Bara di sini."
Ara masih menggeleng.
"Nggak."
"Pulang! Nggak ada debat."
Biru langsung mengangkat tubuh Ara dan menggendongnya dengan gaya bridal.
"Abang!"
Ara meronta kecil.
"Turunin! Bang Biru!"
"Diam! Adek abang satu ini keras kepala banget."
Teman-teman mereka hanya bisa menghela napas melihat tingkah keduanya. Akhirnya, Ara terpaksa dibawa pulang.
...---...
"Loh... loh! Kenapa bajumu berdarah semua, sayang?"
Begitu sampai di rumah, Mamanya langsung menghampiri Ara yang masih sesenggukan. Ara hanya diam. Ia membungkam mulutnya karena sama sekali tidak ingin berbicara.
"Habis apa lagi kamu?"
Papanya ikut menghampiri.
"Kalian berdua juga semalam nggak pulang. Beneran kalian nemenin Bara di rumah sakit?"
Tatapan Papanya kemudian jatuh pada pakaian Ara.
"Ara, itu darah dari mana? Apa yang diperbuat Bara sampai bajumu penuh darah begitu?"
"Papa, cukup!"
Ara akhirnya bersuara.
"Aku lagi nggak mau berdebat sama Papa sekarang."
Air matanya kembali jatuh. Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Ara langsung berlari menuju kamarnya dan membanting pintu. Mamanya menatap pintu kamar Ara dengan cemas.
"Biru, tolong jujur sama Mama. Itu darah karena apa? Banyak sekali."
Biru terdiam.
"Kalau kamu berbohong atau nggak mau jawab, Papa nggak akan kasih kamu uang jajan lagi."
Biru langsung menelan ludah.
Mati gue. Maaf ya, Dek. Abang harus jujur kali ini.
"Itu darah Bara, Mah, Pah."
Mamanya langsung terkejut.
"Kenapa bisa ada di baju Ara? Darah karena apa? Semalam dia berkelahi?"
"Nggak, Mah."
Biru menggeleng.
"Bara sebenarnya bukan sakit tifus. Bara menderita leukemia."
Biru menarik napas panjang.
"Dan kondisinya sudah stadium akhir."
Mamanya langsung terperanjat. Kedua tangannya menutup mulut, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Papanya hanya terdiam. Entah karena terkejut, iba, atau masih berusaha mencerna semuanya.
"Bara tadi pagi sampai nggak sadarkan diri."
Biru menunduk.
"Ara berusaha untuk selalu ada di sisi Bara, meskipun kemungkinan umurnya juga sudah nggak lama lagi."
Ia menatap kedua orang tuanya.
"Jadi, untuk saat ini, tolong Papa sama Mama mengerti perasaan Ara."
Biru mengepalkan tangannya.
"Dia sudah jadi wanita dewasa sekarang. Dia bahkan bisa mengurus Bara dengan baik. Jadi, Biru mohon... tolong pahami perasaan Ara saat ini."
Mamanya menghela napas panjang.
"Pah, lebih baik masalah perjodohan itu diundur dulu. Mama nggak mau anak perempuan Mama satu-satunya malah semakin tertekan karena masalah ini."
Papanya hanya menghela napas kasar. Ia memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.
"Oke. Tapi hari ini Papa sudah terlanjur menyuruh Vano untuk mengantar Ara ke kampus. Orangnya juga sedang menuju ke sini."
Biru mengerutkan kening. Sebelum ia sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Ara sudah selesai mandi. Ia muncul dengan pakaian yang berbeda dan sebuah tas yang diselempangkan di bahunya.
"Aku berangkat ke kampus hari ini sama dia."
Ara menghampiri mereka.
"Tapi lain kali, aku nggak sudi dijodohkan sama psikopat gila seperti dia."
Papanya mengerutkan kening.
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Dia bahkan berharap Bara segera meninggal supaya dia bisa bersamaku."
Ara mendengus.
"Dasar psikopat!"
Sebenarnya, tas yang dibawa Ara bukan hanya berisi perlengkapan kuliah. Ia sengaja membawa beberapa pakaian ganti agar tidak perlu bolak-balik ke rumah jika nantinya harus kembali ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang lelaki turun dari mobil dan berdiri di depan pintu sambil tersenyum ramah kepada orang tua Ara.
Vano.
Ara hanya mencibir melihatnya. Tanpa banyak basa-basi, Ara berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Aku berangkat dulu."
Ia kemudian menatap Vano.
"Antar gue ke kampus."
Namun, setelah itu, Ara sudah berencana memesan ojek online untuk pergi ke rumah sakit.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. Efek terlalu banyak nonton drama dan film berbagai genre memang kadang-kadang bikin otak jadi pintar.
Ara perlahan mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi perekam suara, lalu menekan tombol rekam. Setelah memastikan rekaman berjalan, Ara memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia harus mendapatkan bukti tentang siapa sebenarnya Vano.
...---...
"Keadaan cowok lo gimana?"
Vano memecah keheningan di dalam mobil.
"Udah makin parah, belum?"
Ara menatap lurus ke depan.
"Gue harap dia cepat mati."
Gila. Psikopat gila!
Ara mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Perkataan lelaki di sampingnya membuat darahnya mendidih. Namun, ia berusaha sekuat tenaga menahan emosi dan memasang wajah datar.
"Tujuan lo sebenarnya mau ke rumah sakit, kan?"
Vano meliriknya.
"Bukan ke kampus?"
"Ke kampus, lah."
Ara menjawab santai.
"Gue ada ujian dadakan."
"Udahlah."
Vano terkekeh.
"Ngapain juga lo berharap sama orang yang umurnya tinggal sebentar lagi kayak dia?"
Ia kembali tersenyum.
"Mending sama gue. Masa depan lo pasti cerah."
Ara langsung menoleh.
"Cerah, your bald head!"
Vano tertawa.
"Sorry, hati gue udah tertutup rapat buat cowok gila kayak lo."
Ara menatapnya jijik.
"Psikopat, ya, lo? Senyum lo aneh banget."
Vano tiba-tiba tertawa lebih keras. Suara tawanya membuat Ara merinding. Bukan karena lucu. Melainkan karena tawa itu terdengar begitu asing dan mengerikan.
"Baguslah."
Vano menghentikan tawanya.
"Jadi gue nggak usah sok bermuka dua di depan lo, sayang."
Astaga. Gue pengin lompat keluar dari mobil sekarang juga rasanya.
Ara meremas tali tasnya. Namun, Vano belum selesai.
"Tapi tenang aja."
Ia kembali tersenyum.
"Gue nggak akan macam-macam sama lo sekarang."
Vano menatap jalanan di depannya.
"Gue tunggu cowok lo itu mati dulu. Baru nanti gue bakal bikin lo jadi milik gue seutuhnya."
Ara membeku.
"Untung aja cowok lo sakit parah."
Vano terkekeh.
"Jadi gue nggak perlu susah payah buat nyingkirin dia dari lo."
Ia menoleh sekilas.
"Gue juga nggak perlu repot-repot ngotorin tangan gue."
Sialan! Nggak usah ngimpi, lo! Beberapa hari lagi gue bakal balik ke masa depan. Jadi lo nggak akan punya kesempatan apa-apa lagi!
Ara akhirnya sampai di kampus dengan selamat. Begitu turun dari mobil, ia langsung menjauh dari Vano.
Setelah mobil itu pergi, Ara mengembuskan napas lega. Rasanya seperti baru keluar dari kandang binatang buas. Tangannya bahkan masih gemetar.
Namun, setidaknya ada satu kabar baik. Rekaman pembicaraan Vano sudah tersimpan dengan aman di ponselnya.
Ara berniat mengirimkannya kepada Papanya pada waktu yang tepat. Ia tidak akan membiarkan lelaki gila itu mendekatinya lagi.
Tanpa membuang waktu, Ara langsung memesan ojek online menuju rumah sakit.
...---...
"Guys..."
Ara membuka pintu kamar Bara perlahan.
"Keadaan Bara gimana?"
Langkahnya langsung terhenti ketika melihat Bara masih terbaring di atas ranjang dengan selang oksigen terpasang di wajahnya. Ia belum sadarkan diri.
Yuvin menatap Ara dengan wajah serius.
"Keadaannya tadi sempat drop banget, Ra."
Ara mendekati ranjang.
"Untung dokter langsung bertindak."
Yuvin menghela napas.
"Kankernya udah menyebar ke organ lain."
Ara langsung menatapnya.
"Dan dokter juga bilang..."
Yuvin berhenti sejenak.
"Kita cuma bisa tinggal menunggu waktu."
"Maksud lo?"
Suara Ara bergetar.
"Maksud lo apa, Vin?"
Yuvin menatap Ara dengan iba.
"Lo pasti lebih tahu maksud ucapan gue, Ra."
Ia mendekati Ara.
"Gue harap lo bisa kuat."
Yuvin menepuk pundaknya.
"Sebisa mungkin bahagiain dia di saat-saat terakhirnya."
Ara menunduk.
"Jangan tunjukin kesedihan lo di depan dia."
Ara tidak menjawab. Ia hanya berjalan perlahan menuju ranjang Bara. Tangannya meraih tangan Bara yang terasa dingin. Ia menggenggamnya erat.
Bibirnya bergetar. Air mata mulai menggenang di kedua matanya. Namun, Ara buru-buru mengusapnya.
Ia sudah berjanji. Ia tidak boleh menyerah. Bukan sekarang. Bukan ketika waktu mereka tinggal sedikit lagi.
Hatiku rasanya sakit banget, Bara. Rasanya sakit banget waktu melihat kamu kesakitan dan menderita seperti ini.
Ara mengusap punggung tangan Bara dengan ibu jarinya.
Tunggu beberapa hari lagi, ya, sayang? Aku bakal nunggu kamu di masa depan. Dan kamu harus tetap hidup. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap hidup, Bara.
Ara kemudian mencium punggung tangan Bara dengan lembut. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia benar-benar merasa takut. Takut kalau keajaiban yang ia percaya ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan orang yang paling ia cintai.
Namun, selama masih ada waktu Ara tidak akan menyerah. Karena ia sudah pernah kehilangan Bara sekali. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Bara untuk kedua kalinya.