NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Bab 19: Benua Para Manusia Binatang, Panggilan Pertolongan, dan Cahaya di Desa Terasing

​Di dalam Dimensi Pengasingan Bintang, keputusan besar telah diambil. Anastasia (Anya), yang kini tengah mengandung buah hati kembar hasil penyatuannya dengan Wiliam, menyadari bahwa pendar energi kehidupan yang memancar dari rahimnya kian hari kian kuat. Jika ia tetap berada di dimensi buatan Alistair atau berkeliaran di benua manusia, riak energi dari benih Demigod-Iblis dan Es Murni Elf tersebut dapat memicu pergerakan faksi tersembunyi maupun pengawasan para Dewa.

​Demi keselamatan bayi kembarnya, Anya memilih untuk mengasingkan diri secara mutlak. Dengan memusatkan seluruh sisa kekuatan sihir tingkat tingginya sebagai salah satu dari Empat Pilar, Anya mengisolasi sebagian ruang dimensi dan memisahkannya menjadi sebuah Domain Suci Tersembunyi yang sepenuhnya melayang di luar jangkauan peta sihir mana pun. Di dalam dimensi mandiri bernuansa padang es dan pepohonan perak yang damai itu, Anya mengusap lembut perutnya yang masih rata, mendoakan keselamatan kekasihnya yang kini berkelana jauh di balik garis samudra.

​Sementara itu, sebulan telah berlalu sejak Wiliam—yang kini sepenuhnya menggunakan nama samaran Ren—melompat menyeberangi Ujung Samudra Purba.

​Setelah menempuh perjalanan laut yang ganas dan melintasi badai spektrum sihir liar, Ren akhirnya memijakkan kakinya di daratan sebuah benua asing. Sejauh mata memandang, tidak ada lanskap kota batu atau benteng megah seperti di benua manusia. Yang membentang di hadapannya hanyalah hamparan Hutan Belantara Purba dengan pepohonan raksasa menjulang tinggi, dibalut oleh hawa mana tanah yang sangat pekat dan liar.

​Ren melangkah menyusuri semak belantik hingga menemukan sebuah celah berhiaskan akar pohon purba di bawah rindangnya pepohonan. Ia mendaratkan tubuh tegapnya di atas rumput basah, menyilangkan kedua kakinya untuk bermeditasi.

​Rambut perak murninya yang kini sebatas pundak berkibar pelan diterpa angin hutan. Ren memejamkan mata kelabu absolutnya, menyelaraskan kembali pusaran Inti Demigod dan Hati Iblis di dalam dadanya agar beradaptasi penuh dengan tekanan mana benua baru ini.

​RUSTLE... RUSTLE...

​Mendadak, pendengaran tajam Ren menangkap gesekan pelan dari balik semak-semak di sebelah kirinya!

​SWOOSH!

​Dalam hitungan milidetik, mata kelabu Ren terbuka kilat. Aura membunuh yang amat dingin meletus tipis dari tubuhnya. Jemari tangannya telah berada di gagang pedang pengembara di pinggangnya, bersiap menebas apa pun yang muncul dari kegelapan semak!

​Namun—

​HOP! HOP!

​Dari balik dedaunan, muncul seekor makhluk kecil berbulu putih bersih dengan dua tanduk kristal kecil di dahinya. Kelinci bertanduk itu hanya mengedipkan matanya polos, lalu kembali mengunyah rumput segar tanpa memedulikan keberadaan Ren.

​Ren menghela napas pelan, meredakan aura tempurnya. Ia menyunggingkan senyuman tipis seraya menggelengkan kepala. "Aku terlalu tegang..." gumamnya pelan seraya melepaskan gagang pedangnya dan kembali duduk rileks.

​Namun, sebelum Ren sempat kembali memejamkan mata—

​"BERHENTI BERGERAK, ORANG ASING!"

​WUSH! WUSH! WUSH!

​Dari lima arah berbeda di atas dahan pohon, lima bayangan melompat turun dan langsung mengepung Ren dalam formasi lingkaran!

​Ren tidak panik. Ia memindai kelima sosok di hadapannya dengan pandangan mata yang tenang. Kelima orang tersebut bertubuh tegap bagaikan manusia dan memiliki paras wajah layaknya manusia biasa, namun mereka memiliki ciri fisik yang sangat mencolok: telinga berbulu runcing di atas kepala dan ekor hewan yang bergerak tegang di belakang pinggang mereka.

​Mereka memegang belati berkarat dan tombak kayu sederhana dengan genggaman jemari yang gemetaran.

​"Serahkan semua makanan dan barang berharga di dalam tasmu jika kau masih sayang pada nyawamu!" teriak sosok pria berkulit sawo matang dengan telinga serigala cokelat yang tampak menjadi pemimpin kelompok tersebut.

​"Serang bersamaan! Jangan beri dia kesempatan menggunakan sihir!" perintah salah satu anggota bersuara serak dengan ekor rubah.

​Kelima perampok itu melesat maju membabi buta, mengarahkan senjata berkarat mereka lurus ke dada dan leher Ren!

​SWOOSH!

​Ren tidak meledakkan energi sihir atau mengeluarkan tebasan pedang. Dengan pergerakan footwork kecepatan kilat yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, wujud Ren mendadak melenyap dari pandangan kelima perampok tersebut!

​"A-Apa?! Ke mana dia pergi?!" jerit si pemimpin bertelinga serigala terkejut.

​TAP.

​Sebelum mereka sempat berbalik, Ren telah muncul tepat di belakang salah satu perampok bertelinga kucing. Tanpa rasa ragu, Ren mengayunkan tepi telapak tangannya, memukul keras bagian tengkuk perampok tersebut!

​THUD!

​Perampok itu langsung pingsan seketika, ambruk ke atas tanah tanpa sempat mengerang.

​"Sialan! Dia sangat cepat! Bunuh dia!"

​Empat perampok sisanya mengamuk, mengayunkan tombak dan belati mereka secara liar dari kiri dan kanan. Namun, bagi Ren yang telah melewati tempaan Petir Petaka Dewa, gerakan mereka terasa sangat lambat bagaikan kura-kura. Ren cukup memiringkan kepalanya sedikit, melangkah setengah inci ke belakang, dan menggeser bahunya untuk menghindari belasan tebasan beruntun tanpa terkena goresan sedikit pun!

​BAM! BAM! BAM!

​Hanya dalam kurun waktu tiga detik, Ren mendaratkan pukulan terukur di titik vital tiga perampok lainnya, membuat mereka terkapar tak berdaya di atas rumput.

​Kini, hanya tersisa sang pemimpin kelompok bertelinga serigala.

​Tombak di tangan pria itu gemetaran hebat. Ia melangkah mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin yang membasahi dahi. Saat mata kelabu Ren yang dingin menatap lurus ke arahnya, pria itu kehilangan seluruh keberaniannya.

​THUD!

​Ia menjatuhkan tombaknya dan langsung berlutut di atas tanah, menempelkan dahinya ke tanah basah!

​"A-Ampun! Ampunkan aku, Tuan Pengembara!" ratap pria itu dengan suara gemetaran. "Jangan bunuh aku! Kami salah! Kami tidak tahu Anda adalah seorang ahli bela diri tingkat tinggi! Tolong kasihanilah kami!"

​Ren melangkah mendekat, berdiri tegap di hadapan pria yang berlutut itu. Suaranya terdengar datar namun sarat akan tekanan intimasi yang berat.

​"Bangun," perintah Ren. "Aku tidak punya niat untuk mencabut nyawa kalian jika kalian menjawab pertanyaanku dengan jujur."

​Pria bertelinga serigala itu pelan-pelan mendongak, menyeka keringat di wajahnya. "A-Apa yang ingin Tuan ketahui? Aku akan menjawab semuanya!"

​"Pertama..." Ren memandangi telinga dan ekor pria itu. "...makhluk apa kalian sebenarnya? Dan benua apa tempatku berdiri sekarang ini?"

​Pria itu terbelalak kaget, menatap Ren dengan raut tidak percaya. "A-Anda tidak tahu? Tuan... kami adalah ras Manusia Binatang (Beastkin). Dan daratan luas tempat Anda berada saat ini adalah Benua Beastia—wilayah yang dihuni oleh puluhan suku ras Beastkin!"

​Pria itu kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Namaku Garo, dari Suku Serigala Kelabu. Empat temanku ini juga berasal dari suku-suku rakyat jelata di daerah perbatasan ini."

​Ren mengangguk-angguk pelan di dalam hati, memproses informasi geografis baru tersebut. "Lalu, pertanyaan keduaku... Jika melihat kemampuan tempur kalian yang sangat payah dan senjata berkarat ini, kalian jelas bukan perampok profesional. Kenapa kalian nekat merampok pengembara di tengah hutan seperti ini?"

​Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Garo mendadak berubah menjadi sangat suram dan pudar. Pria bertelinga serigala itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengepalkan jemarinya di atas tanah.

​"Kami... kami tidak punya pilihan lain, Tuan..." desis Garo dengan nada penyesalan yang mendalam. "Desa kami yang terletak beberapa kilometer dari hutan ini... sedang mengalami musim kelaparan yang sangat hebat. Banyak anak-anak dan orang tua yang mulai sakit-sakitan karena tidak makan berhari-hari."

​"Kenapa bisa sampai kelaparan?" tanyai Ren, mengkerutkan alisnya. "Bukankah hutan belantara ini sangat luas dan kaya akan sumber daya?"

​Garo menghela napas penuh kepahitan. "Hutan ini dipenuhi oleh monster buas yang sulit kami buru dengan senjata seadanya. Namun, penyebab utamanya bukan itu... Hasil panen gandum dan tanaman obat di desa kami selalu dirampas secara paksa oleh Baron Kaelen—seorang bangsawan Beastkin dari Suku Harimau yang menguasai wilayah distrik ini! Dia mematok pajak yang sangat mencekik dan menyita seluruh lumbung makanan kami untuk dijual ke kota besar!"

​Ren mendengarkan penjelasan Garo dengan seksama. Sisi kepahlawanan dan rasa keadilan yang terpatri di dalam jiwanya perlahan tergetar.

​"Bawa aku ke desa kalian," ucap Ren tiba-tiba dengan nada tegas.

​Garo mendongak kaget. "A-Apa? Tuan ingin pergi ke desa kami?"

​"Ya," jawab Ren singkat. "Bangunkan teman-temanmu. Aku ingin melihat langsung keadaan desa kalian."

​Satu jam kemudian, setelah empat perampok lainnya sadar dari pingsannya dan memohon ampun berulang kali kepada Ren, kelompok itu menuntun Ren melangkah keluar dari rindangnya hutan menuju sebuah pemukiman di lembah.

​Sebuah desa kecil berdinding kayu lapuk berdiri di tengah tanah pertanian yang tandus. Saat langkah kaki Ren memasuki gerbang desa, atmosfer keheningan yang mencekam langsung terasa.

​Para penduduk desa—pria, wanita, dan anak-anak bertelinga serta ber-ekor hewan dengan pakaian compang-camping—berhamburan mundur ketakutan. Anak-anak kecil bersembunyi di balik gaun ibu mereka seraya mengintip Ren dengan mata membelalak penuh kecemasan.

​"L-Lihat orang itu..."

"Dia tidak punya telinga hewan atau ekor..."

"Manusia murni?! Mengapa ada Manusia dari benua luar yang datang ke desa terpencil kita?!"

"Apakah dia suruhan dari Baron Kaelen untuk menangkap kita?!"

​Bisik-bisik penuh ketakutan bergema di sepanjang jalan desa. Ren dapat melihat dengan jelas betapa memprihatinkannya kondisi penduduk di sana. Tubuh mereka kurus kering, pipi mereka kempot, dan beberapa balita tampak menangis lemas di pangkuan ibunya.

​"Jangan takut! Dia bukan musuh!" teriak Garo kepada para penduduk desa seraya mengibaskan tangannya. "Tuan ini adalah seorang pengembara yang menyelamatkan kami di hutan!"

​Garo kemudian menuntun Ren menuju sebuah rumah panggung terbesar di pusat desa. Ia menggetuk pintu kayu berukir pelan.

​"Kepala Desa! Ini aku, Garo! Aku membawa seorang tamu pengembara!"

​Pintu kayu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria tua bertelinga beruang dengan rambut dan janggut putih yang tebal. Ia berjalan menggunakan tongkat kayu, memandangi Ren dari atas sampai bawah dengan tatapan mata yang sangat bijaksana namun sarat akan kelelahan hidup.

​"Seorang Manusia murni dengan rambut perak dan mata kelabu..." gumam sang Kepala Desa dengan suara seraknya. "Selamat datang di Desa Oakhaven, Pengembara Muda. Namaku Boran, Kepala Desa di pemukiman miskin ini."

​Ren memberi anggukan hormat yang sopan. "Namaku Ren. Senang bertemu dengan Anda, Kepala Desa Boran."

​Boran menghela napas panjang, merentangkan tangannya mengisyaratkan Ren untuk masuk ke dalam rumah. "Silakan masuk, Tuan Ren. Tempat kami sangat sederhana, namun kami masih memiliki sedikit air bersih untuk disajikan kepada seorang tamu."

​Di dalam rumah panggung kayu yang hangat, Ren duduk bersila di hadapan Boran dan Garo.

​Boran menuangkan air jernih ke dalam cangkir tanah liat, lalu menatap Ren dengan rasa ingin tahu. "Jarang sekali ada Manusia dari benua luar yang sudi menyeberangi Samudra Purba dan menjejakkan kaki di Benua Beastia. Apa yang membawa Tuan Ren sampai ke desa terasing ini?"

​"Aku hanya seorang pengembara yang ingin melihat luasnya dunia," jawab Ren santai. "Di tengah jalan, aku bertemu Garo dan mendengar tentang penderitaan yang dialami oleh desa ini."

​Mendengar hal itu, Boran menundukkan kepalanya, menyunggingkan senyuman pahit. "Ah... Garo pasti menceritakan tentang kelaparan dan kejahatan Baron Kaelen, bukan? Maafkan kelakuan pemuda-pemuda desa kami yang nekat merampok Anda. Mereka hanya terdesak oleh rasa kemanusiaan melihat adik-adik mereka kelaparan."

​Ren menatap mata tua Boran dengan dalam. "Kepala Desa Boran... ceritakan padaku secara detail tentang Baron Kaelen itu. Mengapa para penduduk tidak melawan jika penindasannya sudah melewati batas kemanusiaan?"

​Boran mendesah berat, memegangi tongkat kayunya kencang-kencang. "Bagaimana kami bisa melawan, Tuan Ren? Baron Kaelen adalah seorang praktisi sihir tingkat tinggi dari Suku Harimau. Dia memiliki ratusan prajurit teruji dan didukung oleh faksi bangsawan kota distrik. Dua minggu lalu, saat kami memohon agar pajak makanan dikurangi, para prajuritnya justru membakar lumbung cadangan kami dan mengancam akan meratakan desa ini jika kami tidak menyerahkan sisa panen bulan depan!"

​Boran menatap ke luar jendela, menatap anak-anak Beastkin yang terkulai lemas di jalanan. "Jika situasi ini terus berlanjut... sebelum musim dingin tiba, setengah dari penduduk desa ini akan mati kelaparan."

​Keheningan melingkupi ruang tamu rumah panggung tersebut. Garo menunduk seraya menahan tangisnya, sementara Boran hanya bisa pasrah pada takdir buruk yang menimpa Suku Beastkin kelas bawah.

​Ren terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kayu, lalu perlahan-lahan menyunggingkan senyuman tipis yang memancarkan pendar kepercayaan diri yang luar biasa.

​"Kepala Desa Boran... Garo..." panggil Ren dengan suara yang begitu tenang namun mengintimidasi.

​Kedua Beastkin itu mendongak menatap Ren.

​"Berapa hari lagi prajurit Baron Kaelen akan datang ke desa ini untuk merampas sisa makanan kalian?" tanyai Ren.

​Garo menjawab dengan ragu. "M-Menurut jadwal... mereka akan datang besok pagi, Tuan."

​Ren berdua berdiri dari duduknya, merapikan jubah pengembaranya dan menggenggam gagang pedang di pinggangnya. Mata kelabu absolut milik Ren memancarkan pendar dingin yang sangat menakutkan.

​"Bagus," kata Ren seraya menatap ke arah gerbang desa. "Besok pagi... biarkan aku yang menyambut kedatangan para prajurit Baron Kaelen tersebut."

​Boran membelalakkan matanya terkejut. "T-Tuan Ren! Jangan bertindak gegabah! Mereka adalah prajurit bersenjata lengkap! Anda bisa terbunuh!"

​Ren berbalik, menatap sang Kepala Desa dengan senyuman penuh kehangatan namun sarat akan aura dominasi absolut.

​"Jangan khawatir, Kepala Desa," bisik Ren pelan. "Aku telah berjanji pada diriku sendiri... di mana pun aku melangkah di dunia ini, aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang lemah ditindas oleh mereka yang menyalahgunakan kekuasaan."

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!