Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Diskusi Awal
Ibra mengulurkan tangan, mengambil alih lembar resep serta berkas pendaftaran dari jemari Naya yang kaku, lalu mengurus seluruh pembayarannya di kasir administrasi. Setelah menebus obat serta vitamin di apotek rumah sakit, Ibra membawanya melangkah keluar menuju sebuah kafe kecil di luar area rumah sakit.
Tempatnya lengang dan lumayan santai, menawarkan sedikit jarak dari aroma karbol yang menekan.
Mereka duduk berhadapan di meja paling sudut, jauh dari orang-orang. Naya meletakkan kantong plastik berisi obat di atas meja, menatapnya tanpa minat. Kedua tangannya meremas ujung hoodie di bawah meja, sementara matanya terpaku pada serat kayu permukaan meja dan pikirannya berkelana.
Ibra memperbaiki posisi duduknya. Tak kalah tegang, Ibra meremas jemarinya sendiri yang di atas meja. Pria itu berdehem, mencoba memecah keheningan di antara mereka.
"Jadi--"
"Permisi, Kak."
Ucapannya terputus saat seorang pelayan melangkah mendekat, meletakkan segelas ice chocolate di depan Naya dan americano di depan Ibra. Pelayan itu tersenyum lebar, nampak sedikit lebih banyak memperhatikan wajah Ibra sebelum akhirnya berbalik meninggalkan area meja mereka.
Naya sempat memperhatikan itu. Namun ia tidak terlalu peduli. Ia takut setengah mati sejak Ibra mengatakan untuk membicarakan hal ini secara serius.
Ibra menatap kopi di depannya sebentar, lalu beralih menatap Naya yang sama sekali tidak menyentuh gelasnya. Jemarinya masih sibuk memilin di bawah sana.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, menyapu kebingungan yang masih menggantung di kepalanya. Kembali berdehem, menetralkan suaranya.
"Naya, terlepas dari apapun, kita tidak bisa mengabaikan yang ada sekarang," ujar Ibra, suaranya rendah dan sedikit tertahan. Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkannya pelan. "Kalau... pernikahan, bagaimana menurut kamu?"
Kepala Naya terangkat seketika. "Gak," potong Naya kelewat cepat, suaranya bergetar tipis namun tegas. "Aku enggak mau."
Ibra terdiam sejenak, terkejut oleh penolakan yang begitu kilat. Mata Ibra bergerak mengamati wajah pucat di depannya. "Naya, ini cara paling masuk akal untuk—"
"Masuk akal buat siapa?" potong Naya lagi, kali ini jemarinya meremas kantong plastik obat di atas meja. Air mata yang tertahan sejak tadi perlahan jatuh membasahi pipinya. "Bapak pikir kita bisa menjalani itu? Tanpa ada perasaan apa-apa di antara kita?"
Ibra meneguk ludahnya, benar juga.
"Kamu memikirkan ini juga, kan?" Naya kembali bersuara.
Terkadang Ibra bingung, Naya memanggilnya dengan sebutan kamu, tapi terkadang juga Pak atau Bapak. Tapi itu tidak terlalu penting, Ibra akan memakluminya saja. Panggilan apapun, tidak terlalu berarti sekarang.
"Iya, saya mengerti. Saya hanya mencoba cari jalan keluar," sahut Ibra.
"Tapi itu bukan jalan keluar, Pak!" seru Naya dengan suara serak, mengalihkan pandangannya ke luar jendela kafe, enggan lagi menatap mata pria di hadapannya. "Itu cuma bakal memperburuk semuanya." Kali ini suara Naya lebih kecil, tetapi emosinya justru semakin sulit ditahan.
Ibra diam mendengarkan, matanya menatap pada americanonya yang mengeluarkan embun di sisi gelas.
Namun Naya belum selesai.
"Bapak pikir setelah menikah semuanya bakal beres?" tanyanya, kepalanya menoleh menatap lekat mata Ibra. Sementara air matanya mengalir, tetapi suaranya justru terdengar semakin berani. "Kita... satu kantor. Kita bahkan hampir nggak pernah ngobrol sebelumnya. Terus tiba-tiba harus menikah?" Naya sedikit terkekeh pendek, getir.
"Naya—"
"Kalau orang-orang tahu gimana?" potongnya lagi. "Kalau mereka tahu kenapa kita menikah? Kalau mereka mulai ngomongin saya? Dipikir saya menggoda Bapak? Lalu keluarga kita, pasti akan dibawa-bawa? Bagaimana nama kita nanti?"
"Naya, saya—"
"Saya bahkan nggak tahu Bapak sebenarnya seperti apa."
Ibra mengatupkan rahangnya.
"Kita cuma satu kantor. Saya enggak kenal Bapak, Bapak juga enggak kenal saya. Terus sekarang Bapak bilang pernikahan adalah jalan keluarnya?"
Suara Naya bergetar semakin hebat. Menggeleng tak percaya.
"Kenapa semuanya harus saya yang hadapi?"
"Naya."
"Saya yang harus hamil. Saya yang harus menjelaskan ke orang tua saya. Saya yang harus kembali ke kantor dan berpura-pura enggak terjadi apa-apa. Saya juga yang nanti harus hidup dengan semua omongan orang."
"Naya, cukup."
"Bapak gampang ngomong karena—"
"Saya bilang cukup, Naya!" Suara Ibra tiba-tiba meninggi.
Naya tersentak, mengedipkan matanya berkali-kali. Napasnya tertahan, sementara bahunya jadi menegang. Suara Ibra yang meninggi membuatnya terdiam, seolah-olah setiap kata yang tadi hendak keluar mendadak tersangkut di tenggorokan.
Bahkan beberapa kepala di meja lain sempat menoleh ke arah mereka. Ibra menyadarinya, lalu segera merendahkan suara. Namun dadanya masih naik turun, dan rahangnya terlihat mengeras.
"Jangan seolah-olah cuma kamu yang di rugikan disini. Saya juga." Nada suara Ibra masih terdengar keras, meski ia sudah berusaha menahannya.
Naya membeku.
Ibra menatapnya dengan sorot mata yang tak lagi setenang sebelumnya. "Saya tahu kamu takut. Saya tahu semua ini jauh lebih berat buat kamu. Tapi, apa kamu pikir saya enggak takut, hah?"
Tangan Ibra mengepal di atas meja, Naya melihatnya.
"Saya enggak bilang saya korban di sini, Naya. Tapi jangan anggap saya enggak kehilangan apa-apa juga. Saya tetap mau bertanggung jawab, meskipun keadaan ini juga bukan sesuatu yang saya inginkan."
Ibra berhenti sebentar, napasnya masih berat.
"Kalau laki-laki lain ada di posisi saya, belum tentu mereka mau bertanggung jawab. Bisa saja mereka merasa enggak bersalah, terus pergi begitu aja."
"Saya bukan bilang saya melakukan ini karena kasihan ke kamu," lanjut Ibra. "Saya cuma... saya juga lagi berusaha cari jalan."
Naya menatapnya tanpa suara. Ia semakin ketakutan sekarang.
Ibra menarik napas panjang, berusaha menahan nada suaranya yang sebelumnya keras. "Saya hanya mencoba mencari jalan supaya kita nggak menghadapi semuanya lebih lama."
Keheningan kembali turun.
Baru setelah beberapa detik, Ibra menyadari cara bicaranya tadi. Tatapannya perlahan berubah ketika melihat mata Naya yang kembali berkaca-kaca. Pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Maaf." Suaranya kembali rendah. "Enggak seharusnya saya membentak kamu."
Naya tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, kedua tangannya kembali meremas ujung hoodie di bawah meja.
Untuk beberapa saat, mereka hanya ditemani suara dari percakapan orang yang jauh di sekitar mereka dan bunyi sendok yang beradu dengan cangkir dari meja lain.
Ibra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat dan panas. Memejamkan mata sejenak, Ibra mengusap tengkuknya dengan sebelah tangan.
Ia tahu ia kelepasan. Nada suaranya yang naik satu oktaf tadi jelas-jelas sebuah kesalahan. Reaksi defensif Naya hanya akan makin tebal jika ia menunjukkan dorongan yang terlalu keras.
Jujur Ibra juga kehilangan arah sejak pagi. Semua yang selama ini terasa bisa ia kendalikan mendadak berada di luar jangkauannya.
Dan menghadapi Naya yang terus menolak setiap jalan yang ia tawarkan membuatnya semakin tidak tahu harus berbuat apa.
Menurunkan tangan, kini menatap Naya yang masih membuang muka ke arah luar jendela kafe, tubuhnya nampak merosot di kursi.
"Tapi Naya... tolong pahami posisi saya juga," ucap Ibra pelan, melanjutkan percakapan yang sempat hilang. "Saya juga takut. Saya juga kacau sama seperti kamu."
"Kalau kamu menolak pernikahan, oke..." Ibra menelan ludah, mencoba menata kembali isi kepalanya. "Tapi kita tidak bisa cuma duduk di sini dan pura-pura besok semuanya kembali normal. Atau kamu punya ide lain?"
"A-ak—saya, enggak tahu." Naya akhirnya menjawab.
Ibra termenung. Pandangannya jatuh pada dua gelas minuman yang sejak tadi tak tersentuh.
"Ya," gumamnya pelan. "Saya juga."
Makasih thor lanjut up ya