NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Sidak ruang R&D

"Ayo kita ke ruang R&D sekarang," ajak Fajar.

"Iya," angguk Kirana.

Mereka berdua mulai menuruni tangga darurat dan menyusuri lorong menuju ruang R&D. Setibanya di depan pintu, Fajar mendorongnya terbuka. Ruangan itu tampak begitu rapi, lantai dan beberapa peralatannya mengkilap seperti baru saja disikat habis-habisan oleh petugas kebersihan.

"Wah, kinclong juga, ya. Ayo duduk dulu, Kirana," ucap Fajar santai.

Mereka berjalan menuju sofa berwarna abu-abu di sudut ruangan. Begitu mendaratkan tubuh di sana, busanya terasa sangat lembut, persis seperti barang yang baru dibeli.

"Jadi, rencananya gimana, Fajar?" tanya Kirana membuka percakapan.

"Aku pun masih bingung... kalau kamu ada ide, ajukan saja. Aku mau pindah duduk ke meja yang ada laptopnya itu sebentar."

"Baik, nanti aku ajukan kalau ada ide."

"Bagus kalau begitu."

Fajar bangkit dan berpindah duduk di hadapan laptop yang menyala. Ia mulai mengetik, mencari informasi dan data-data yang berguna untuk bahan diskusi mereka nanti.

Namun, di tengah konsentrasinya, terdengar suara gedoran kasar dari arah luar.

Tok! Tok! Tok!

Fajar menghela napas kasar. "Huh... ganggu saja. Kirana, tolong bantu aku buka pintunya."

"Baik."

Kirana bangkit dari sofa empuknya dan melangkah ke depan. Saat ia memutar gagang dan membuka pintu, ternyata seorang Kepala Teknisi langsung melangkah maju ke hadapannya dengan wajah arogan.

Kepala Teknisi itu melirik melewati bahu Kirana, menatap lurus ke arah Fajar yang sedang duduk. "Ouh, ouh, ouh... ternyata ini yang namanya Fajar. Tak kukira apaan, anak bawang macam lu mana bisa ngelakuin misi yang diperintahkan Pak Ardi, CEO perusahaan ini!"

Fajar berhenti mengetik. Ia memutar kursinya, menatap pria itu dengan tatapan datar yang mengintimidasi. "Ha... ada cecunguk mampir nih. Memang napa, hah?" balas Fajar tajam.

Kepala Teknisi itu mendengus sinis, tak mau kalah gengsi. "Mau taruhan? Bosan gue ngelihat orang sok pintar! Bikinlah inovasi! Seperti alat kebohongan, atau sekalian... alat kebodohan buat dirimu sendiri, Pak!"

"Haha... bilang saja lu denial! Sudahlah, mending gue panggil bawahan gue. Ayo, kalian semua masuk!" seru Kepala Teknisi pongah.

Para bawahan teknisi melangkah masuk ke dalam ruangan, berbaris dengan rapi layaknya tentara. Setibanya mereka di tengah ruangan, Fajar mendongak santai, sama sekali tak terintimidasi.

"Hmm... bagus, bagus. Gitu dong to the point, gue nggak suka banyak drama," ucap Fajar tenang. "Karena kalian sudah kumpul, aku mau kita langsung mulai diskusi."

Fajar bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dinding. Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di dekat tirai jendela. Sesaat kemudian, sebuah mekanisme berderak halus—membalikkan bagian tengah ruangan dan memunculkan sebuah meja rapat panjang lengkap dengan deretan kursinya.

"Ayo, semuanya duduk."

"Ouh... oke. Nggak kusangka ada tombol rahasia begitu di ruangan ini," gumam Kepala Teknisi dengan wajah sedikit kaget. Namun, arogansinya cepat kembali. "Hmm, jadi kamu sebagai Kepala 'Proyek' mau ngapain nih? Jangan bilang cuma mau jadi beban, ya nggak?"

"Hahaha!" tawa seluruh jajaran teknisi pecah meremehkan.

"Hoho, lucu," balas Fajar sarkas. Wajahnya seketika berubah dingin. "Ayo mulai rapatnya. Jadi, saya Fajar, sebagai Kepala Tim Proyek Khusus yang baru, ingin membahas sebuah blueprint."

Fajar mengambil gulungan blueprint di dekat sofa dan membentangkannya dengan tegas di atas meja rapat.

"NIH, lihat semuanya! Ada kesalahan bodoh di sini. Kenapa area komunal ditutup? Itu kan fasilitas untuk masyarakat!"

"Hahaha, terserah kamilah. Lu siapa mau ngatur-ngatur desain kami?" balas Kepala Teknisi ngeyel.

"Ehh, diomongin malah ngeyel! Area komunal ini kalau ditutup atau dirusak, reputasi perusahaan kita di mata masyarakat bisa anjlok!" tegas Fajar, auranya mulai menekan seisi ruangan.

"Saya..." Kepala Teknisi mulai kehabisan kata-kata.

"Haa... sudahlah. Kesampingkan dulu soal itu. Yang lebih penting ini," Fajar menunjuk bagian lain di cetak biru. "Kenapa di desain ruang rapat ada kursi bulat nyempil di sini? Bukannya dibuang malah ditempel. Logika desain macam apa ini?"

Kepala Teknisi berkeringat dingin. "Emm, bukan saya, Pak Fajar. Pasti bawahan saya yang salah gambar. Ayo, kalian minta maaf ke Pak Fajar!"

"Kami minta maaf..." cicit para bawahan serempak.

Fajar menghela napas panjang. "Haa... karena gue baru di sini, wajar saja kalian mau ngetes. Jadi, kalian harus evaluasi lagi cetak biru ini agar tidak ada kesalahan. Jika ada kesalahan fatal lagi, aku sendiri yang akan minta HRD pecat kalian semua."

"JANGAN PAK!" Kepala Teknisi mendadak panik. Wajah sombongnya pias seketika. "Maaf, Pak, tadi saya lancang. Sebenarnya... sebenarnya saya disuruh orang, Pak, buat ngetes dan melawan Bapak."

Fajar menyipitkan mata. "Hah? Siapa yang nyuruh?"

"Mmm... maaf, Pak. Jika saya menyebutkan namanya, saya nggak bakal bisa selamat. Jadi, saya serta rekan-rekan saya mau pamit undur diri dari rapat ini dulu untuk revisi," kilahnya penuh ketakutan.

"Baik, silakan. Lain kali jangan berani berulah lagi," ancam Fajar dingin.

"Baik, Pak! Tenang saja!"

Begitu gerombolan teknisi itu terbirit-birit keluar dari ruangan, aura bos besar Fajar langsung luntur. Ia merosot di kursinya, terengah-engah kelelahan. Menjadi galak ternyata sangat menguras energi.

Melihat Fajar kelelahan dan kehausan, Kirana berinisiatif mengambilkan air dari dispenser dan membawakannya.

"Ini, Fajar. Minum dulu," ucap Kirana lembut.

Fajar menerima gelas itu sambil tersenyum tipis menatap Kirana. "Makasih... Yang."

Gerakan Kirana seketika membeku. Wajahnya langsung merona merah bak kepiting rebus. "A-apasih... jangan bilang begitu."

"Gasuka, ya?" goda Fajar jahil.

"Bu-bukannya nggak suka... aku cuma nggak terbiasa saja," jawab Kirana salah tingkah, menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan pipi yang memanas.

Fajar tertawa pelan. "Hahaha, lucu ternyata kamu. Aku kira kamu galak si 'Putri Es', tapi saat aku kenal kamu lebih, lebih, dan lebih jauh lagi... ternyata kamu sangat berbeda dengan bayanganku."

Suasana sempat terasa hangat dan mendebarkan, sebelum Fajar mengubah topik menjadi lebih serius.

"Jadi, kamu ada rencana apa untuk mengalahkan ayahmu?" tanya Fajar hati-hati.

Kirana terdiam. Tatapannya mendadak kosong. "Uhmm... aku gatau. Kadang aku merasa... dia bukan ayahku."

Fajar mengerutkan kening. "Loh, kenapa bukan? Meski caranya salah dan licik, bukannya dia tetap ayah kandungmu?"

"Uhmm... aku masih belum kepikiran ke sana..." gumam Kirana pelan, menyimpan sebuah rahasia besar di balik sorot matanya yang sendu.

Melihat raut wajah Kirana yang masih memendam beban, tatapan Fajar langsung melembut. Ia tidak ingin memaksa gadis itu menceritakan semuanya sekarang.

"Ya udah, karena pikiranmu lagi berat banget hari ini, ayo kita jalan-jalan ke taman," ajak Fajar dengan nada menenangkan. "Sesekali kita butuh menumbuhkan rasa bahagia buat diri kita sendiri, meski cuma sebentar."

Kirana menatap mata Fajar yang penuh ketulusan, lalu mengangguk pelan. "Oke."

Fajar bangkit dari kursinya dan kembali menekan tombol di dinding. Dalam sekejap, mekanisme ruangan bergerak, menyembunyikan kembali meja rapat panjang itu hingga ruangan terlihat seperti sedia kala.

Seusai memastikan semuanya aman, Fajar melangkah menuju pintu keluar. Ia menoleh ke belakang, mengulurkan tangannya, dan menggenggam jemari Kirana dengan lembut. Hari ini, biarlah urusan PT Arunika Jaya dan segala misinya tertinggal di ruang bawah tanah. Fajar sudah bersiap penuh untuk menghibur pacar tercintanya dan menikmati udara segar di taman kota!

[Bersambung]

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!