Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Blunder Yang direncanakan
Tepat ketika lagu mencapai puncaknya dan Zahra hendak meledakkan bagian chorus, suara mikrofon di genggamannya tiba-tiba mati total. Hening sekejap menggantung di udara, membuat para penonton di lapangan saling pandang dengan raut bingung.
Zahra menurunkan mikrofonnya sedikit, panik. "Loh... kok mati sih?" bisiknya cemas ke arah Kak Rizki.
"Hmm... lanjut nyanyi aja," sahut Kak Rizki tenang dari balik gitarnya, jemarinya terus memetik senar tanpa ragu.
"Tapi... Kak Rizki—"
"Nyanyi saja. Percaya sama Kakak, ya?" bujuk Kak Rizki mantap, melempar senyum penuh keyakinan.
Zahra menarik napas dalam-dalam. "Baik, Kak!"
Tanpa bantuan mikrofon dan pengeras suara, Zahra membusungkan dada lalu melepas vokal aslinya. Suaranya yang melengking jernih dan bertenaga menembus riuhnya panggung. Ajaibnya, gema suaranya justru terasa makin intim dan jujur. Beberapa murid yang tadi sempat berbalik hendak pergi ke stan jajanan, mendadak berhenti dan kembali memutar badan, terpesona oleh perjuangan sang vokalis.
Di sudut selasar, Reno—yang diam-diam memegang kabel sakelar utama—memukul tembok dengan kesal. Rencana sabotase kecilnya gagal total karena anak-anak Ekstra Musik sama sekali tidak patah semangat. Melihat betapa kerennya penampilan mereka, nyali Reno malah ciut. Dia sadar betul, sejauh apa pun dia mencoba mengacaukan, level musiknya tidak akan pernah bisa melampaui mereka. Reno pun memilih mundur dan batal tampil.
Pertunjukan itu terus bergulir hingga lima menit penuh—durasi yang cukup panjang dan megah untuk ukuran panggung festival pagi.
Begitu dentuman drum terakhir dari Danu berhenti, gemuruh sorak-sorai penonton langsung meledak memadati lapangan. Tepuk tangan riuh itu sukses membuat anak-anak Trio Plenger merasa bangga sekaligus canggung mendapatkan perhatian sebesar itu.
MC sekolah langsung berlari naik ke panggung mengambil alih suasana.
"Wah, wah! Para penonton sekalian!" seru MC dengan nada heboh. "Kalian lihat tadi?! Itu tadi penampilan yang benar-benar luar biasa!"
MC menunjuk satu per satu anggota di panggung. "Permainan piano dari Rio sukses mengubah suasana hati kita semua! Gebukan drum dari Danu sukses membakar semangat! Kak Rizki sukses bikin kita takjub lewat petikan gitarnya! Dan yang paling menonjol dari semuanya... Zahra, sang vokalis! Meski mikrofonnya mendadak mati, dia tetap bernyanyi! Dia terus berjuang demi timnya agar pertunjukan ini berakhir sempurna!"
MC mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. "Dengan ini, penampilan terbaik konser pagi ini resmi dimenangkan oleh Ekstra Musik!"
"WOOOOUHHHH!!" gemuruh teriakan penonton memecah angkasa.
"EKSTRA MUSIK! EKSTRA MUSIK! EKSTRA MUSIK!" sorak mereka kompak bersahut-sahutan.
Kak Rizki berjalan mendekati mikrofon utama di tengah panggung untuk memberikan kata penutup.
"Terima kasih untuk para murid, Bapak-Ibu Guru, dan staf Tata Usaha yang sudah menonton kami. Mohon maaf apabila ada kesalahan teknis tadi, dan terima kasih sekali lagi sudah menyaksikan pertunjukan kami!" ucap Kak Rizki menyunggingkan senyum ramahnya.
"WOUUUHHH!!"
"KAK RIZKI, KAPAN PERTUNJUKAN LAGI?!" teriak salah satu penonton dari tengah kerumunan lapangan.
"Minggu depan, atau kalau ada waktu senggang lagi ya!" jawab Kak Rizki santai.
"YEEEEESSS!!"
Rio yang berdiri di samping instrumennya melirik riuhnya penonton dengan senyum kecut. "Heboh banget, ya?"
"Iya..." balas Danu pelan, mengusap keringat di pelipisnya.
Mereka berlima pun turun dari panggung, melangkah menuju kantin untuk membasahi tenggorokan yang haus usai tampil habis-habisan. Begitu mendapat tempat duduk, Kak Rizki membagikan botol-botol minuman dingin ke meja.
"Nih," sodor Kak Rizki.
"Terima kasih, Kak," balas Zahra sigap meminumnya.
GLUG... GLUG... GLUG...
"Haaah... gila, suara gue rasanya mau habis," keluh Zahra sambil mengelus lehernya.
"Uhh... tangan gue pegel banget," ringis Rio memutar pergelangan tangannya.
"Gue juga pegel, Yo," sahut Danu mengibaskan jemarinya yang linu akibat terlalu bersemangat menabuh drum.
"Kakak juga pegel nih," tambah Kak Rizki sambil menyandarkan punggung ke kursi. Ia lalu teringat sesuatu. "Oh iya, mau nyamperin Reno sekarang?"
"Nanti saja... istirahat dulu, Kak," usul Zahra yang disetujui anggota lain.
Mereka pun mulai menyantap makanan pesanan dengan lahap. Di sela-sela makan, masing-masing sibuk memijat bagian tubuh yang pegal—ada yang memijat tangan, pundak, hingga lutut dan kaki.
Seusai mengisi energi di kantin, mereka beranjak kembali ke ruang Ekstra Musik. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat seseorang sudah berdiri diam menunggunya di depan pintu.
Itu Reno.
"Hei, hei... gue nggak salah ruangan ekstra, kan?" gumam Rio bingung menatap sosok yang berdiri kaku itu.
"Nggak kok," jawab Danu meyakinkan.
"Kita masuk saja dulu," ajak Kak Rizki menenangkan suasana.
Mereka melangkah masuk ke dalam ruang musik yang tenang dan duduk bersimpuh melingkar di lantai, disusul oleh Reno.
Kak Rizki membuka percakapan lebih dulu. "Hmm... jadi, Reno, kamu mau menepati janji kekalahanmu?"
Reno menunduk sedikit, meremas jemarinya. "Ehhmm... iya. Sesuai kesepakatan, kalian boleh mengajukan keinginan apa pun ke gue."
Mata Rio seketika berbinar nakal. "Hmm... apa pun, kan? Kalau gitu, lu beliin gue Bitcoin!"
"Apalah lu, Rio! Ngarang aja!" sela Zahra tajam, menyenggol lengan Rio. "Maksud dia, kita mengajukan satu keinginan untuk satu tim, bukan buat pribadi!"
"Ouhh..." gumam Rio cengengesan.
"Jadi... mau minta apa?" tanya Danu menatap anggota lainnya.
Zahra menatap Reno tenang. "Hmm... karena cuma boleh satu permintaan untuk satu tim... permintaan kita simpel. Kita jadi teman saja."
"Teman?" Reno mendongak kaget.
"Iya, aku setuju! Kita harus jadi teman saja, nggak boleh bertengkar lagi," ujar Putri, sang anggota baru, ikut menyunggingkan senyum tulus.
Reno tertegun, pandangannya meredup canggung. "O-ouhh... oke. Tapi... gue sebenarnya nggak pandai musik. Memangnya boleh?"
"Ya nggak apa-apa, kan bisa belajar bareng di sini?" seru Kak Rizki hangat.
"Hmm... oke..." gumam Reno pelan, ada rasa lega yang terpancar dari wajahnya.
Rio menyandarkan siku ke lututnya, menatap Reno penasaran. "Lu tuh kenapa sih sebenarnya? Bukannya lu anak kesayangan ayah lu?"
"Hmm... nggak sih. Gue cuma... cari perhatian aja. Dan sekarang gue udah muak," aku Reno jujur, helaan napasnya terasa berat.
"Ouhh... kalau boleh tahu, lu mulai caper begitu dari kapan?" tanya Zahra menatapnya prihatin.
"Uhmm... kalau nggak salah sejak SMP."
"Kenapa harus caper? Bukannya keluarga lu kaya raya?" cecar Rio heran.
Reno menunduk menatap lantai kayu. "Karena dulu... keluarga kami miskin. Tapi begitu mendadak kaya, Ayah gue... cuma peduli sama prestasi, performa, dan nilai. Keluarga sendiri jadi agak dilupakan..."
Rio manggut-manggut paham, rasa kesalnya pada Reno mendadak menguap. "Ouhh... gitu ya cerita aslinya. Pantesan aja lu kelakuannya kayak gini selama ini."
Dengan berhentinya percekcokan "kecil" yang sempat mewarnai hari-hari mereka, suasana di ruang ekstra musik seketika berubah mencair. Ketegangan yang tadinya menyelimuti Reno perlahan luluh saat anak-anak Trio Plenger—ditambah Kak Rizki dan Putri—mulai merangkulnya masuk ke dalam lingkaran mereka dengan cara unik masing-masing.
Rio, seperti biasa, langsung bertindak sebagai ice breaker utama dengan tingkah konyol dan guyonan absurdnya yang tak kenal tempat. Zahra mengimbanginya lewat analisis-analisis sok pintarnya yang tajam namun selalu sukses menyelamatkan percakapan dari kecanggungan. Kak Rizki hadir dengan aura mentor yang hangat, meski sesekali tingkah cerobohnya saat menaruh alat musik bikin anak-anak lain mengelus dada. Sementara itu, Danu menyambut Reno lewat kepolosannya yang tulus tanpa prasangka, dipadukan dengan kelembutan tutur kata Putri yang membuat siapa pun di ruangan itu merasa diterima.
Reno, yang selama ini selalu merasa terasing di tengah ambisi keluarganya, akhirnya bisa tertawa lepas tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Untuk pertama kalinya, ruang ekstra musik itu bukan lagi sekadar tempat latihan lagu, melainkan tempat pulang yang hangat bagi mereka semua.
[Bersambung]