Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang Merebak
"Kak Zeffan, aku tadi gak sengaja lewat di depan pintu kamar Kakak. Terus kayak dengar kalau Kak Valerie muntah-muntah. Coba Kakak cek dulu," ucap Syafiya pelan seraya memegangi cangkir teh hangatnya, menatap Zeffan dengan raut cemas.
Sudah dua bulan berlalu sejak badai besar yang menghantam rumah tangga itu. Masa kurungan dan isolasi ketat bagi Valerie akhirnya berakhir. Wanita itu kini memilih pasrah dan menuruti seluruh kemauan Zeffan demi keselamatan perusahaan orang tuanya dan agar tetap bisa berada di dekat Elvano.
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Zeffan, menghentikan gerakan jemarinya di atas laptop dan menatap Syafiya tajam.
"Iya, Kak, aku gak salah dengar," cicit Syafiya menundukkan kepala saat mendengar panggilan lembut namun intim itu. "Aku mau masuk tapi takut Kak Valerie gak mau melihat aku... Aku gak mau bikin suasana panas lagi."
Zeffan terdiam seketika. Sorot matanya yang biasa dingin kini menyiratkan kebingungan dan perhitungan yang amat dalam. Dalam benaknya, sebuah gejolak tak masuk akal mulai berputar. Sejak seluruh permasalahan dan konflik ini datang, ia baru dua kali menyentuh dan berhubungan dengan Valerie dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini.
"Sudah berapa lama dia seperti itu?" tanya Zeffan dengan suara berat yang mendadak menegang.
"Aku kurang tahu, Kak... Tapi beberapa hari ini Kak Valerie memang sering kelihatan lemas dan mual saat makan," sahut Syafiya jujur.
Zeffan memejamkan matanya sejenak, mengepalkan jemarinya di atas meja kerja. Pikiran buruk dan benih kecurigaan yang gelap mendadak merayapi kepalanya.
"Kak Zeffan... Kenapa melamun? Coba tengok Kak Valerie dulu," tegur Syafiya pelan, heran melihat reaksi aneh Zeffan.
"Kamu tetap di sini, Syafiya. Jangan ke mana-mana," pangkas Zeffan dingin, langsung bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah lebar menuju kamar utama di lantai atas.
Klak.
Zeffan mendorong pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit, terdengar suara erangan dan napas terengah-engah dari Valerie yang berdiri mematung di depan wastafel, wajahnya pucat pasi bercucuran keringat dingin.
"Muntah lagi?" tegur Zeffan dari ambang pintu kamar mandi dengan suara teramat dingin.
Valerie tersentak kaget, refleks mematikan kran air dan memegangi perutnya yang terasa mual. "M-Mas Zeffan... Cuma mual biasa, Mas..."
Zeffan melangkah mendekat, matanya menyipit menatap garis wajah istrinya yang pucat dan gemetar. "Mual biasa, atau ada hal lain yang sedang kamu sembunyikan dariku, Valerie?"
"Maksud Mas Zeffan apa?" cicit Valerie dengan napas memburu, menatap suaminya dengan pandangan bingung sekaligus takut.
"Jangan berakting di depanku!" desis Zeffan, mencengkeram pergelangan tangan Valerie dengan kuat. "Kita baru dua kali berhubungan dalam dua tahun ini, Valerie! Dan sekarang kamu mual-mual seperti ini?!"
"Mas, aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan!" jerit Valerie dengan suara bergetar, berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Zeffan yang teramat kuat. "Aku mual cuma karena asam lambungku naik, Mas! Kenapa Mas selalu berpikiran buruk sama aku?!"
"Ambil alat tes kehamilan. Dan lakukan di hadapanku sekarang, Valerie!" pangkas Zeffan dingin tanpa sedikit pun melunakkan cengkeramannya, menatap tajam lurus ke dalam iris mata istrinya.
"Kamu gila, Mas!" histeris Valerie, air mata kebencian dan keharuan mendadak meluncur deras membasahi pipinya. "Kamu menuduh aku hamil anak pria lain?! Begitu maksudmu, Mas Zeffan?!"
"Aku tidak menuduh. Aku cuma minta bukti!" bentak Zeffan dengan suara berat yang menggelegar di dalam kamar mandi. "Kamu pikir aku lupa? Dua bulan lalu pria itu datang ke sini mencari kamu! Dan selama dua tahun ini, aku hampir tidak pernah menyentuhmu! Lalu sekarang kamu mau aku percaya begitu saja kalau kamu mual karena asam lambung?!"
Valerie tertawa sumbang di tengah tangisnya, menatap Zeffan dengan pandangan serendah-rendahnya. "Jadi cuma karena kamu jarang menyentuhku, kamu langsung berpikir kalau anak di dalam kandungan ini—kalau pun aku hamil—bukan anakmu?! Kamu sadar gak apa yang baru saja kamu ucapkan, Mas?!"
"Cukup bicaranya!" pangkas Zeffan, menyambar sebuah kotak test pack yang sudah disiapkannya dari laci meja rias lalu melemparkannya tepat ke dada Valerie. "Lakukan sekarang di depanku. Jangan coba-coba memanipulasi hasilnya, atau kamu tahu betul apa akibatnya."
Valerie memegangi alat tes kehamilan itu dengan jemari gemetar hebat. Dadanya naik turun menahan guncangan emosi yang luar biasa. Rasa hina, marah, dan hancur menyatu menjadi satu ketika menyadari betapa suaminya sendiri sama sekali tidak pernah memercayainya.
"Kenapa, Valerie? Kenapa kamu ragu?" desis Zeffan melangkah mendekat, berbisik tajam di telinga istrinya. "Kamu takut hasilnya garis dua... dan garis dua itu bukan berasal dariku?"
"Aku gak takut, Mas!" teriak Valerie seraya menepis dada Zeffan, menatap pria itu dengan pendar keberanian yang tersisa dari kehancuran harga dirinya. "Aku bakal lakukan sekarang! Tapi ingat kata-kataku, Mas... Kalau sampai hasil tes ini membuktikan aku tidak bersalah, kamu adalah manusia paling jahat yang pernah ada di hidupku!"
"Terserah, Valerie! Tapi jika hasil itu bukan dariku, maka aku menuntut penjelasan!" pangkas Zeffan dingin, mengabaikan teriakan emosional istrinya dengan wajah yang keras bagai batu. "Masuk ke dalam sekarang!"
Valerie mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas bungkus test pack itu hingga remuk di jarinya. Dengan air mata yang terus mengalir deras, ia berbalik dan membanting pintu kamar mandi dari dalam.
Zeffan berdiri mematung di luar. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mendengarkan gemericik air kran dan desah napas panik Valerie dari balik pintu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu membakar benak Zeffan, mengobarkan rasa curiga yang makin pekat.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Valerie melangkah keluar dengan tubuh gemetar hebat. Tangannya terkulai di samping tubuh, menggenggam batang plastik kecil itu dengan erat. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap menatap Zeffan dengan pandangan hancur berkeping-keping.
"Mana?" desis Zeffan, melangkah maju dua tapak dan langsung merebut alat itu dari cengkeraman Valerie tanpa rasa belas kasihan.
Zeffan membalikkan alat tes kehamilan tersebut. Dua garis merah tegas terpampang nyata di layar kecil itu.
Positif.
Suasana kamar seketika menjadi begitu hening dan mencekik. Pandangan Zeffan mengunci dua garis merah itu, lalu perlahan terangkat menatap Valerie dengan kilatan amarah yang luar biasa pekat.
"Dua garis, Valerie," desis Zeffan dengan suara berat yang teramat rendah, memancarkan ancaman yang membekukan darah. "Kamu benar-benar hamil."
"M-Mas... demi Allah, itu anak kamu..." rintih Valerie terbata-bata, menyatukan kedua tangannya di dada seraya menangis histeris. "Dua bulan lalu, sebelum masalah Aris datang... kita pernah berhubungan, Mas! Tolong percaya sama aku!"
"Dua bulan lalu?!" Zeffan tertawa sinis—sebuah tawa gelap tanpa nada humor sedikit pun. Pria itu melangkah maju hingga tubuh tingginya mengurung Valerie yang gemetar. "Hanya dua kali dalam dua tahun, Valerie! Dan sekarang kamu mau aku percaya bahwa satu di antara dua kali itu langsung menjadi anak ini?!"
"Tapi itu kenyataannya, Mas Zeffan!" jerit Valerie meledak-ledak, memegangi perutnya yang masih rata. "Aku tidak pernah disentuh pria lain! Aris cuma teman! Kenapa kamu begitu jahat menuduh darah dagingmu sendiri?!"
"Karena timing-nya sangat sempurna, Valerie!" bentak Zeffan keras, mencengkeram bahu Valerie hingga wanita itu meringis kesakitan. "Tepat setelah pria itu mengacau di rumah ini, kamu mendadak positif hamil! Kamu pikir aku bodoh, hah?!"
"Lepas, Mas! Sakit!" tangis Valerie, berusaha menghempaskan tangan Zeffan. "Kalau kamu memang tidak percaya... lakukan tes DNA setelah anak ini lahir! Buktikan kalau aku tidak seberengsek yang kamu kira!"
"Tes DNA?" Zeffan menyunggingkan senyum kelam, mempererat cengkeramannya sebelum akhirnya menghempaskan bahu Valerie hingga wanita itu mundur beberapa langkah. "Tentu saja. Dan selama sembilan bulan ke depan, jangan pernah bermimpi kamu bisa menghirup udara bebas di luar mansion ini."
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰