NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Pembersihan Nama, Badai Integritas, dan Keadilan

Suasana di koridor kantor Dinas UMKM terasa hangat oleh lalu-lalang pegawai yang baru menyelesaikan apel pagi.

Namun, bagi Dimas, ada yang janggal. Beberapa rekan staf yang biasanya menyapa hangat mendadak menghentikan obrolan, melirik sinis, dan berbisik-bisik saat ia berjalan menuju ruang kerjanya.

Belum sempat Dimas menduduki kursi kerjanya, pintu ruangannya diketuk pelan. Kiara melangkah masuk dengan anggun, mengenakan blus formal warna krem dan blazer navynya. Di tangannya, Kiara menggenggam erat tas kerja dan sebuah map tebal.

Dimas mendongak kaget.

"Lho, Ra? Kok kamu pagi-pagi udah di kantor Mas? Ada dokumen dinas pengawasan yang ketinggalan?"

Kiara tidak menjawab dengan kata-kata. Raut wajahnya tampak sangat serius, campuran antara cemas dan ketegasan yang tak tertandingi. Kiara langsung menutup pintu ruangan Dimas rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam.

"Mas... kita ada masalah serius," bisik Kiara pelan namun tegas seraya mendekati meja kerja Dimas.

Kiara mengeluarkan satu draf berkas fotokopi dari tasnya dan meletakkannya tepat di hadapan Dimas.

"Pagi ini, sebelum Kiara ke kantor dinas hukum, Kiara dapet kabar burung dari rekan sejawat pengawas internal. Ada dokumen cairnya dana hibah UMKM sebesar Rp200.000.000,- yang dialihkan ke rekening swasta bermasalah. Dan di lembar pengesahannya... ada stempel resmi serta tanda tangan Mas Dimas!"

Dimas membelalak kaget. Ia memegang berkas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"APA?! Tanda tangan Mas?! Nggak mungkin, Ra! Mas sama sekali nggak pernah memproses atau menyetujui berkas ini! Ini gila!"

"Iya, Kiara tahu persis Mas Dimas nggak akan pernah ngelakuin hal serendah ini," sanggah Kiara hangat, langsung menggenggam jemari Dimas untuk menenangkannya.

"Tapi rumor di luar udah menyebar. Staf admin keuangan—si Rendy—diam-diam udah melaporkan berkas ini ke Inspektorat pagi ini buat menyudutkan Mas."

Dimas mengepalkan tangannya di atas meja, nafasnya memburu karena menahan amarah. "Anak itu... berani-beraninya dia..."

Kiara menatap mata suaminya dengan sorot binar yang tajam dan mantap.

"Mas Dimas tenang. Kiara ke sini pagi-pagi bukan cuma buat bawa berita buruk, tapi buat pasang badan. Mas Dimas fokus, tenang dan ikuti prosedur. Kiara yang bakal turun tangan membongkar siapa dalang sebenarnya di balik pemalsuan ini sebelum sidang Inspektorat dimulai jam sepuluh nanti!"

Dimas menatap istrinya dengan rasa haru yang amat mendalam. Di tengah badai fitnah yang mendadak menyerangnya, hadirnya Kiara yang tanggap di kantornya pagi itu menjadi benteng terkuat yang membuatnya tidak merasa sendirian.

...***...

Udara di dalam ruang sidang berpanel kayu jati itu terasa sangat dingin dan mencekam. Di balik meja panjang berlakit hijau, duduk tiga pejabat senior Inspektorat Kota Sukabumi. Pak Herman—Kepala Tim Pengawas—menatap tajam ke arah Dimas yang duduk di kursi terperiksa.

Di sudut kanan ruangan, Rendy—staf admin keuangan baru—duduk dengan gestur tubuh yang dibuat seolah-olah ketakutan dan tertekan.

"Saudara Dimas," buka Pak Herman dengan suara berat menggelegar.

"Dokumen pencairan dana hibah UMKM senilai dua ratus juta rupiah ini menggunakan stempel dinas dan tanda tangan Anda. Dana tersebut mengalir ke rekening 'CV Sinar Sejahtera', yang ternyata berstatus perusahaan fiktif. Saudara Rendy di sini bersaksi bahwa Anda yang menyerahkan berkas ini secara langsung untuk segera diproses. Apa pembelaan Anda?"

Dimas hendak menarik napas untuk menjawab, namun pintu ruang sidang terbuka dengan tegas.

TAK! TAK! TAK!

Langkah sepatu heels bertempo cepat memecah keheningan. Kiara melangkah masuk dengan anggun, mengenakan blazer hitam terstruktur dan membawa map tebal bernuansa merah tua. Sorot matanya memancarkan ketenangan serta dominasi hukum yang luar biasa.

"Izin interupsi, Tim Pengawas yang terhormat," ujar Kiara penuh wibawa, membungkuk sopan ke arah panelis.

"Saya Kiara, Konsultan Hukum sekaligus pendamping hukum sah dari Saudara Dimas. Sebelum Inspektorat mengambil kesimpulan, saya memohon izin untuk memaparkan rekonstruksi fakta berbasis bukti digital dan forensik dokumen."

Pak Herman mengernyitkan dahi, namun mengangguk. "Silakan, Ibu Kiara. Namun ingat, kami hanya menerima bukti yang sah secara hukum."

Kiara melangkah menuju meja proyektor. Tanpa sedikit pun keraguan, ia menghubungkan laptopnya ke layar besar di dinding depan.

"Pertama," buka Kiara dengan nada dingin dan terstruktur.

"Lembar pengesahan dana hibah bodong ini tertera ditandatangani pada tanggal 12 Agustus pukul 19.30 WIB di ruang kerja Saudara Dimas. Mari kita periksa keberadaan Saudara Dimas pada jam tersebut."

Kiara menekan tombol slide. Layar menampilkan log presensi digital berstempel GPS resmi, tiket kereta api eksekutif, serta rekaman CCTV Stasiun Balapan Solo.

"Pada tanggal 12 Agustus pukul 19.30 WIB, Saudara Dimas berada di Kota Solo untuk mendampingi Kepala Dinas dalam acara Pembukaan Pameran Regional. Bagaimana mungkin seseorang yang berada 100 kilometer jauhnya bisa menorehkan tanda tangan basah di ruang kerjanya di Sukabumi pada menit yang sama?"

Suasana ruang sidang seketika berdengung. Para panelis Inspektorat saling berbisik, meneliti ulang tanggal pada dokumen.

Wajah Rendy di sudut ruangan mulai berubah agak pucat. Ia menggeser duduknya dengan gelisah.

"Kedua," lanjut Kiara, tidak memberikan jeda sedikit pun bagi lawan untuk bernapas. Kiara memutar sebuah berkas video resolusi tinggi di layar.

"Ini adalah rekaman CCTV koridor lantai dua Dinas UMKM pada tanggal 12 Agustus pukul 20.15 WIB—empat puluh lima menit setelah jam kerja usai."

Di dalam video yang diputar, suasana koridor tampak gelap dan sepi. Sebuah bayangan pria berjaket hoodie hitam melangkah mencurigakan, mengeluarkan kunci cadangan dari saku celananya, lalu membobol pintu ruang kerja Dimas.

Kiara memperbesar gambar wajah pria saat ia menurunkan kupluk hoodie-nya di bawah pendar cahaya lampu laci.

"Pria dalam rekaman ini menggunakan kunci cadangan yang dicuri dari laci sarana prasarana, membuka meja kerja Saudara Dimas, mengambil stempel dinas, dan menjiplak tanda tangan Saudara Dimas menggunakan kertas karbon," papar Kiara tajam.

Matanya beralih menatap lurus ke arah Rendy. "Pria dalam rekaman CCTV ini... adalah Saudara Rendy."

"B-BOHONG! Itu bukan saya! Video itu rekayasa!" teriak Rendy mendadak histeris, berdiri dari kursinya dengan napas terengah-engah.

"Rekayasa?" Kiara menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Ia membuka lembar terakhir dari map merahnya dan menyerahkannya langsung ke meja Pak Herman.

"Bukti ketiga dan paling telak," ujar Kiara dengan intonasi yang begitu mantap.

"Hasil audit forensik perbankan yang dibantu oleh Polda Jawa Tengah. Rekening penampung atas nama 'CV Sinar Sejahtera', tersebut ternyata terhubung secara langsung dengan rekening pribadi atas nama Ibu Kandung Saudara Rendy!"

BRAK!

Pak Herman menepuk meja sidang dengan keras, berdiri dari kursinya dengan mata membelalak murka.

"Saudara Rendy! Jelaskan ini semua!"

Kiara menatap Rendy dengan dingin.

"Seluruh riwayat transaksi menunjukkan bahwa dana dua ratus juta rupiah tersebut digunakan untuk melunasi utang judi online dan pinjaman online ilegal Saudara Rendy yang sudah menumpuk selama enam bulan terakhir. Anda sengaja mengorbankan nama baik atasan Anda demi menyelamatkan diri Anda sendiri!"

Rendy mendadak lemas. Lututnya gemetar hebat hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Pria muda itu jatuh berlutut di lantai ruang sidang, menangis histeris dengan wajah tertutup kedua tangannya.

"Ampun, Pak! Ampun, Bu Kiara...!" tangis Rendy pecah, suaranya parau oleh penyesalan dan ketakutan.

"Saya khilaf... saya dikejar-kejar debt collector yang mau merusak rumah orang tua saya... saya yang palsukan tanda tangan Pak Dimas! Pak Dimas tidak tahu apa-apa...!"

Pak Herman memukul palu sidang tiga kali.

 TOK! TOK! TOK!

"Sidang memutuskan: Saudara Dimas dinyatakan BERSIH TOTAL dari seluruh tuduhan dan nama baiknya diwajibkan direhabilitasi secara resmi oleh instansi! Untuk Saudara Rendy, petugas kepolisian sudah menunggu di luar untuk proses hukum pidana!"

Dimas menghela napas panjang, sebuah beban berat seakan terangkat penuh dari dadanya. Ia berdiri, menatap Kiara yang berdiri tegak di samping layar proyektor. Kiara tersenyum hangat, mengangguk pelan. Di dalam ruang sidang yang kaku itu, keadilan dan cinta seorang istri berhasil menumbangkan fitnah dengan sangat elegan.

...***...

Sinar matahari sore yang keemasan menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di pekarangan belakang rumah Dimas. Rasa lega yang luar biasa menyelimuti seluruh sudut rumah.

Sebagai bentuk rasa syukur atas tegaknya kebenaran dan bersihnya nama baik Dimas secara resmi, Dimas dan Kiara menggelar acara syukuran sederhana namun penuh kehangatan.

Dimas mengundang Arga, Menik, seluruh anak-anak band Harmony EO, serta sahabat-sahabat Kiara.

Di teras belakang rumah Dimas yang bersih dan menghadap ke taman kecil, karpet tebal digelar luas. Aroma gurame bakar dan sambal terasi buatan Kiara—dibantu oleh Menik yang datang lebih awal untuk membantu di dapur—membumbung hangat di udara sore.

Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang yang baru saja selesai merapikan alat-alat sound system di studio langsung bergabung. Nabila dan Rayyan asyik berlarian di rumput sambil menembakkan pistol air, sementara bayi Arkan tertidur lelap dalam ayunan kelambu di ruang tengah.

Asap tipis beraroma gurih dari bakaran ikan membumbung tinggi di teras belakang. Di atas panggangan arang, Bagas dan Daffa tampak sibuk mengipas gurame bumbu kecap pedas.

"Awas gosong itu, Gas! Daging gurame itu lembut, kipasnya pakai perasaan, jangan kayak mau ngajak perang!" seru Daffa sambil tertawa, menyenggol lengan Bagas.

"Tenang, Daf! Tangan gue ini bukan cuma jago memetik bass, tapi jago membalikkan keadaan dan membalikkan ikan!" balas Bagas heboh, mengibaskan kipas bambu hingga percikan bara terbang tipis di udara.

Di dalam dapur yang bersih, Kiara dan Menik sibuk menyiapkan wadah saji. Menik dengan telaten mengulek sambal terasi dalam cobek batu besar, sementara Kiara memotong mentimun dan daun kemangi segar sebagai lalapan.

"Mbak Kiara hebat banget tadi pagi," puji Menik tulus, matanya berbinar menatap Kiara.

"Mas Arga cerita ke Menik pas pulang dari studio, katanya cara Mbak Kiara membongkar bukti di depan Inspektorat itu sampai bikin orang-orang bungkam. Menik ikut merinding dengarnya."

Kiara tersenyum lembut, menyapu peluh tipis di pelipisnya.

"Naluri seorang istri aja, Menik. Kiara kenal banget sama Mas Dimas. Dia itu orangnya lurus dan nggak neko-neko. Begitu tahu nama dia dicemarkan, rasa marah Kiara mendadak berubah jadi energi buat nyari bukti sampai tuntas."

"Gusti Allah mboten sare, Mbak," bisik Menik hangat seraya meremas lembut jemari Kiara.

"Kebaikan dan kejujuran pasti selalu dikasih jalan."tambah Menik

Tak berapa lama, doa bersama yang dipimpin oleh ustadz lingkungan setempat selesai dilaksanakan di ruang tengah. Karpet tebal yang digelar di teras belakang kini dipenuhi oleh seluruh anak-anak band Harmony EO—Dave, Galang, Bintang—serta Arga yang baru saja selesai mencuci tangannya di keran taman.

Nabila dan Rayyan asyik duduk bersila di sudut karpet, sibuk berebut es buah segar buatan Kiara, sementara bayi Arkan tampak tertidur pulas di dalam keranjang bayi bernuansa putih di ruang tengah yang sejuk.

Dimas melangkah ke teras membawa dua nampan besar berisi es kelapa muda gula jawa. Wajahnya yang sempat murung selama beberapa hari terakhir kini tampak sangat segar, tenang, dan dipenuhi rasa syukur.

Arga berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Dimas. Pria tegap itu menepuk bahu Dimas dengan sangat mantap, lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.

"Selamat ya, Mas Dimas," ujar Arga dengan suara berat dan tulus.

"Gue tahu persis gimana sakitnya kalau integritas kita dipertanyakan. Tapi kejujuran lu terbukti berdiri paling tegak hari ini. Gue bangga punya sahabat dan mitra kerja kayak lu."

Dimas membalas pelukan Arga, menepuk punggung sahabatnya itu berkali-kali.

"Makasih banyak ya, Ga. Berkat doa dan dukungan penuh dari kalian semua juga. Tanpa dikelilingi orang-orang baik kayak kalian, mungkin gue udah lelah duluan menghadapi fitnah itu."

"Ah, udah-udah! Jangan pada dramatis ah, entar gulai kambingnya keburu dingin!" potong Bagas dari depan panggangan membawa piring besar berisi gurame bakar yang harumnya menggugah selera.

"Yang penting malam ini kita makan kenyang! Selamat buat Mas Dimas, dan angkat piring masing-masing!"

Gelak tawa bahagia seketika membahana memecah keheningan sore di rumah itu. Di bawah naungan langit Kota Sukabumi yang mulai berganti jingga, mereka semua duduk melingkar, menikmati hidangan sederhana dengan hati yang lapang. Badai fitnah telah berlalu, meninggalkan rasa percaya dan tali persahabatan yang makin tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!