Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet Lunch
Satu minggu berlalu begitu saja, semua kembali kepada kegiatan masing-masing. Haura kini sedang menyimak materi kuliah yang disampaikan oleh dosen siang ini. Fikiran Haura masih terbang jauh mengingat penjelasan Aldi kepadanya. Haura penasaran siapa sebenarnya Anita, dan bagaimana wajahnya, namun keberanian Haura tak sebesar rasa penasarannya. Hingga seseorang menepuk pundaknya, menyadarkan Haura dari lamunan.
"Sudah waktunya istirahat, apa kau sedang tidak enak badan?" tanya salah satu teman sekelasnya, Ayu Mirasih. Teman sekelas Haura yang kebetulan tadi duduk berdampingan dengan Haura.
"Hm, terima kasih sudah mengingatkan ku." balas Haura dengan senyuman.
"Oia kita belum kenalan, aku Ayu Mirasih. Kau bisa memanggil ku Ayu, Mira atau Asih, asal jangan Miras." ujar Ayu yang berhasil membuat Haura tertawa.
"Aku Haura Pembayun, teman-teman biasa memanggil ku Rara." ujar Haura sambil mengulurkan tangan ke Ayu.
"Nama yang manis. Bagaimana kalau kita makan di mall dekat kampus? Aku lihat banyak mahasiswa yang membicarakan restoran disana yang cukup ramah di kantong mahasiswa. Kau mau?" tawar Ayu ke Haura, karena si kembar masih ada kelas akhirnya Haura memutuskan untuk ikut makan siang bersama Ayu, teman barunya.
Mall yang tak jauh dari area kampus ini membuat Haura dan Ayu memilih untuk berjalan kaki sambil berbincang bersama dan saling mendekatkan diri mereka.
"Kenapa kau selalu diam di kelas? Sejujurnya aku sudah lama ingin menyapa mu tapi kau terlihat seperti sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Aku akan dengan senang hati menemani mu makan siang jika kau butuh teman." ucap Ayu. Haura pun hanya menoleh dan mengangguk.
Haura memang terbilang sedikit teman karena sikap Haura yang sedikit bicara dan termasuk anak yang introvet, walaupun kedua saudara kembarnya itu termasuk pribadi yang extrovet, dan mudah bergaul.
"Oh ya, saat itu aku melihat mu dijemput oleh Kak Ari yang hits itu, apa dia saudara mu? Kalian sedikit mirip walau hanya sekilas." ujar Ayu. Lagi-lagi Haura kembali mengingat bahwa dirinya memang lah mirip dengan mendiang adik Ari.
"Benarkah? Tapi sayangnya aku tidak ada hubungan darah dengan Kak Ari. Kebetulan dia adalah orang yang menolong ku saat aku menjadi korban kesurupan massal. Entah lah jika dia tidak menghampiri ku mungkin aku sudah tidak bisa berdiri disini bersama mu. Saat itu aku sudah berada di titik penghabisan kekuatan ku, dan Kak Ari datang diwaktu yang tepat. Begitulah awal. mulanya, hanya itu saja tidak lebih." ujar Haura. Wajahnya menatap sendu langkah kakinya.
"Oh gitu, tapi kenapa kesan nya dia yang deketin kamu ya Ra, harusnya kalau berdasarkan versi cerita, justru kamu yang akan mendekati Kak Ari untuk berterima kasih, bukankah begitu? Tapi ya sudah lah. yang penting kamu sekarang baik-baik saja." ucap Ayu sambil merangkul pundak Haura dan tersenyum.
"Kau benar. Seharusnya aku menyadari ini lebih awal, andai Aldi tidak menceritakannya padaku, entah akan sedalam apa kesalah pahaman ku dengan sikap kak Ari kedepannya." ucap Haura dalam hati.
Kini mereka sudah sampai di salah satu restoran populer di kalangan mahasiswa. Aldi yang kini juga sedang duduk di retoran tersebut bersama beberapa temannya, kebetulan mahasiswa satu kampus dengan Haura juga, tidak sengaja melihat sosok Haura yang sedang berdiri memesan menu makan siang. Aldi tersenyum sekilas melihat sosok wanita yang selalu membuatnya tersenyum itu.
"Woy, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya salah satu kawan Aldi yang juga ikut melihat ke arah tatapan Aldi.
"Hm. Tidak apa, hanya kebetulan saja." ucap Aldi yang kini sedang mengaduk ice coffee miliknya dengan senyuman yang tak juga sirna.
Haura dan Ayu yang kini sedang menyantap makanan pun mencoba kembali mengobrol satu sama lain. Hingga suara seorang pria menghentikan acara makan mereka.
"Hai Ra." sapa Aldi ke Haura, Haura yang sedang minum pun sedikit kaget dan tersedak. Haura tidak menyangka pria yang dari tadi terlintas di kepalanya kini sudah berdiri dihadapannya.
"Pelan-pelan Ra, ini tissue, bersihkan minuman itu di mulut mu!" ucap Ayu berbisik. Haura pun meraih tissue yang Ayu berikan dan mengelap mulutnya. Haura menengok kesana dan kemari mencoba melihat dengan siapa Aldi kesini.
"Ish kau ini! Biarkan dia duduk terlebih dahulu." ujar Ayu kembali berbisik pelan ke Haura. Haura yang menyadari pun langsung mempersilahkan Aldi untuk duduk disampingnya.
"Tunggu! Kenapa aku menyuruhnya duduk disamping ku? Ah Haura kau memalukan sekali." rutuk Haura dalam hati.
Aldi dengan penuh senyuman mengiyakan tawaran Haura untuk duduk disampingnya. Haura yang malu pun mengalihkan tatapannya ke arah lain dan menangkup wajahnya. Ayu merasa canggung duduk dihadapan sepasang insan yang saling menahan malu tersebut.
"Ekhem, Haura dia kekasih mu?" tanya Ayu sambil menyantap makanannya. Haura yang sedang makan pun menoleh ke Ayu, dan menjawab pertanyaan itu secara bersamaan dengan Aldi.
"Tidak!" jawab Haura
"Iya!" jawab Aldi
Mereka berdua yang menjawab tak senada pun saling menatap satu sama lain. Ayu yang merasa canggung melihat tontonan bak drama korea itu pun memilih untuk mengetuk meja makan agar kedua insan ini sadar ada dirinya disana, tak lama Haura dan Aldi pun sadar lalu membuang tatapan masing-masing, hingga suara telepon masuk dari ponsel Ayu memecah kesunyian diantara mereka.
"Ra, aku angkat telepon sebentar ya." ujar Ayu yang berdiri pamit untuk pergi ke tempat yang lebih tenang.
Saat Ayu pergi, Haura dan Aldi sama-sama terdiam dan hanyut dengan fikiran masing-masing.
"Makan lah nanti dingin." kata Aldi ke Haura. Aldi mendorong sedikit tempat makan itu agar lebih dekat dengan Haura. Haura akhirnya menoleh dan menatap Aldi dengan tatapan kesal.
"Kenapa kau jawab iya? Kita kan tidak pacaran." ucap Haura sambil memberengutkan bibirnya.
"Bukan tidak, tapi akan." jawab Aldi dengan senyum meledek. Tak lama Ayu pun datang dan meminta izin pamit lebih dulu ke Haura.
"Ra, aku minta maaf banget, aku harus pergi sekarang, adik ku ribut dengan temannya di sekolah. Aku pamit duluan ya Ra." ucap Ayu dengan muka panik dan sedih.
"Tapi Yu, habis ini kan ada kelas." ujar Haura mengingatkan, namun Ayu tidak bisa mengabaikan panggilan dari pihak sekolah sang adik.
"Tolong bantu izin ya Ra, bilang aku sakit atau apa terserah kamu, please...." pinta Ayu, Haura pun mengangguk mengerti.
"Thank you Ra, love you!" teriak Ayu sambil berlari dan melambaikan tangannya ke Haura.
"Dasar ...." ujar Haura pelan dengan senyum merekah di wajahnya melihat tingkah teman baru nya itu, lalu melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.
"Kenapa kau jarang tersenyum? Padahal kau sangat cantik jika tersenyum." ujar Aldi yang sedari tadi menatap Haura tanpa Haura sadari.
"Modus!" timpal Haura sambil menolehkan mukanya menghadap Aldi, senyum itu pun menghilang seketika, berganti dengan ekspresi datar muka Haura. Aldi pun gemas melihat muka Haura yang berubah dalam hitungan detik saja.
"Kau harus tersenyum seperti ini ...." ujar Aldi sambil tangannya mencubit pipi Haura agar terlihat seperti orang yang sedang tersenyum.
"Argh! Lepasin Di, sakit tahu!" ucap Haura sambil memukul lengan Aldi agar terlepas dari pipinya. Aldi pun menyerah dan menyudahi tingkahnya, namun tidak dengan senyuman itu, senyuman indah yang terukir di wajah Aldi sambil menatap Haura.
"Ish kau ini. Jangan kau ulangi lagi atau aku akan ...." ucapan Haura terhenti karena Aldi memotongnya.
"Akan apa? Memukul ku balik? Nih, kau bisa memukulnya sesuka mu. Aku ikhlas." ledek Aldi sambil menyodorkan pipi kanan Aldi ke Haura. Bukannya membalas justru Haura diam tak berkutik.
"Ayo, katanya mau membalas?" tanya Aldi lagi dengan posisi yang masih bertahan seperti itu.
"Hah, sudah lah. Aku mau kembali ke kampus, nanti aku telat!" ucap Haura ketus.
"Bukankah itu teman mu yang tadi? Wah Kak ada yang jadi Hero dadakan ternyata." ucap Aldi sambil menunjuk ke arah luar area mall kala itu. Banyak suara klakson kendaraan terdengar dari arah yang Aldi tunjukkan. Haura pun penasaran dan ikut menoleh.
Saat Haura sibuk melihat ke arah luar area mall, tatapan Aldi terpaku melihat Haura dari jarak dekat, menatap gadis yang ia rindukan selama ini.
"Cantik ...." ucap Aldi dalam hati.
Bersambung....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...