Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Sebuah keberuntungan
Nova berdiri dalam diam di tengah lautan jiwanya yang luas, tetapi kali ini tempat tersebut terasa jauh berbeda dibanding biasanya. Hamparan ruang biru keemasan yang sebelumnya selalu dipenuhi aliran energi murni kini tampak redup, bahkan beberapa bagian langit kesadarannya terlihat bergetar tidak stabil seperti permukaan air yang terusik oleh badai dari kejauhan.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun gerakan sederhana itu terasa begitu berat hingga membuatnya mengernyit. Seluruh tubuh jiwanya seolah kehilangan tenaga, sementara rasa lelah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyebar hingga ke bagian terdalam kesadarannya.
Nova menundukkan kepala dan memperhatikan kedua telapak tangannya yang tampak sedikit transparan, membuat ekspresinya berubah serius karena untuk pertama kalinya sejak memperoleh warisan Batara Agung, ia benar-benar merasakan betapa rapuhnya dirinya setelah menggunakan sebuah teknik yang jauh melampaui batas kultivasinya.
Tidak jauh di hadapannya, Tian Long melayang santai dalam wujud naga emas raksasa. Sisik-sisik emas yang menutupi tubuhnya memantulkan cahaya redup dari lautan jiwa, sementara sepasang mata naganya menatap Nova dengan ekspresi yang jelas-jelas sedang menahan tawa. Namun beberapa saat kemudian, naga kuno itu akhirnya tidak mampu mempertahankan sikap tenangnya dan langsung tertawa keras hingga suaranya mengguncang seluruh ruang kesadaran.
"Hahahaha! Bocah bodoh, kau benar-benar tidak tahu cara menahan diri! Baru pertama kali membangkitkan Teknik Array Sembilan Langit, tetapi kau langsung menggunakannya untuk membentuk Array perlindungan berskala besar, menyerap energi iblis, memurnikannya, lalu mengalihkan seluruh kekuatan Array ke dalam Oceanus Crown Blade untuk membantai musuhmu. Bahkan seorang ahli Array yang telah berlatih selama ratusan tahun akan berpikir dua kali sebelum melakukan kegilaan seperti itu!"
Nova menatap Tian Long dengan wajah datar, meskipun napasnya sendiri terasa berat. "Bukankah kau yang menyuruhku menggunakan Array?"
Tawa Tian Long mendadak berhenti.
Naga emas itu berkedip beberapa kali sebelum mengangkat kepalanya dengan sikap angkuh. "Aku memang menyuruhmu menggunakan Array, tetapi aku tidak pernah menyuruhmu menguras seluruh energi spiritualmu sampai tidak menyisakan setetes pun di dalam dantianmu."
Nova terdiam.
Ia mencoba merasakan kondisi tubuh aslinya melalui hubungan antara jiwa dan raganya. Begitu kesadarannya menyentuh meridian, wajahnya langsung berubah.
Dantian yang biasanya dipenuhi pusaran energi spiritual kini hampir sepenuhnya kosong. Jalur meridiannya terasa panas dan nyeri akibat aliran energi dalam jumlah besar yang sebelumnya dipaksa bergerak dengan kecepatan ekstrem.
Bahkan inti energi yang berada di pusat dantiannya berputar sangat lambat, seperti sebuah bintang yang hampir kehilangan seluruh cahayanya. Jika bukan karena tubuhnya telah beberapa kali diperkuat oleh energi warisan Batara Agung dan darah Tian Long, kemungkinan besar meridiannya sudah mengalami kerusakan serius ketika ia memaksakan Teknik Array Sembilan Langit.
"Separah ini?" gumam Nova.
Tian Long mendengus pelan sebelum perlahan menurunkan tubuh raksasanya.
Kepala naga emas itu berhenti hanya beberapa meter di hadapan Nova, membuat tekanan kuno langsung memenuhi lautan jiwa. "Kau masih terlalu meremehkan teknik yang diwariskan Batara Agung. Teknik Array Sembilan Langit bukan teknik biasa yang dapat digunakan oleh kultivator tingkat rendah sesuka hati. Pada masa lalu, hanya para ahli yang telah memahami sebagian hukum langit dan bumi yang mampu menyentuh dasar teknik tersebut. Bahkan aku pernah melihat seorang ahli Ranah Kaisar menghabiskan puluhan tahun hanya untuk memahami satu susunan rune dari lapisan pertama."
Nova sedikit mengernyit. "Tetapi tadi aku bisa menggunakannya."
"Karena warisan itu berada langsung di dalam jiwamu," jawab Tian Long dengan nada lebih serius. "Kau tidak memahami seluruh teknik tersebut. Tubuh dan jiwamu hanya mengikuti ingatan yang ditinggalkan Batara Agung. Dengan kata lain, kau seperti seorang anak kecil yang diberikan pedang milik seorang dewa. Kau mungkin mampu mengayunkannya sekali karena seseorang telah mengajarkan gerakannya, tetapi bukan berarti tubuhmu mampu menanggung kekuatan pedang tersebut."
Nova kembali menatap kedua tangannya. Perlahan ia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Array itu terbentuk, ia memang tidak pernah memikirkan jumlah energi yang digunakan.
Setiap rune, setiap garis formasi, dan setiap perubahan pada struktur Array terjadi secara naluriah. Ia hanya mengikuti aliran ingatan yang muncul di dalam kepalanya, tanpa menyadari bahwa setiap perubahan kecil menguras energi spiritual dalam jumlah yang sangat besar.
Namun ketika Nova mencoba mengingat kembali susunan rune yang sebelumnya ia gunakan, sesuatu yang aneh terjadi.
Ribuan simbol keemasan tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Simbol-simbol itu bergerak perlahan, membentuk sembilan lingkaran besar yang saling bertumpuk. Setiap lingkaran memiliki jutaan perubahan yang begitu rumit hingga hanya dengan melihatnya beberapa detik, Nova langsung merasakan sakit menusuk di kepalanya.
"Uugh!"
Nova memegang kepalanya dan mundur beberapa langkah.
Tian Long segera menggeram. "Jangan memaksakan kesadaranmu!"
Dengan satu kibasan ekornya, naga emas itu melepaskan gelombang energi yang langsung menyelimuti tubuh jiwa Nova. Seluruh simbol Array di dalam pikirannya seketika menghilang, membuat tekanan yang menghimpit kesadarannya perlahan mereda.
Nova menarik napas panjang. Keringat dingin seolah membasahi tubuh jiwanya.
"Apa itu tadi?"
"Inti sebenarnya dari Teknik Array Sembilan Langit," jawab Tian Long. "Warisan yang baru saja bangkit hanya membuka lapisan pertama. Namun bahkan lapisan pertama memiliki sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan perubahan Array. Dengan tingkat jiwamu sekarang, mencoba memahami semuanya secara bersamaan sama saja dengan menghancurkan lautan kesadaranmu sendiri."
Tatapan Nova berubah serius. Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan perubahan.
Dan itu hanya lapisan pertama.
Untuk pertama kalinya, Nova benar-benar memahami betapa mengerikannya warisan Batara Agung yang berada di dalam dirinya.
Selama ini ia hanya mengetahui bahwa Batara Agung merupakan salah satu keberadaan terkuat dari masa lampau, tetapi semakin banyak warisan yang terbuka, semakin sulit baginya membayangkan tingkatan kekuatan yang pernah dicapai sosok tersebut. Jika satu teknik Array saja memiliki kerumitan seperti ini, lalu seberapa kuat Batara Agung ketika masih berada di puncak kejayaannya?
Tian Long yang melihat perubahan ekspresi Nova perlahan menyipitkan mata.
"Jangan terlalu jauh memikirkan tingkatan Batara Agung. Dengan kultivasimu saat ini, memahami dunia yang pernah ditempati orang tua itu hanya akan mengganggu Dao-mu. Jalan kultivasi tidak dibangun dengan memandang puncak terlalu lama, tetapi dengan memastikan setiap langkahmu tidak runtuh sebelum mencapai puncak tersebut."
Nova menatap naga emas itu beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Kadang-kadang kau bisa mengatakan sesuatu yang cukup bijaksana juga, Kakek Tua."
Mata Tian Long langsung melebar.
"Apa maksudmu dengan kadang-kadang?! Aku adalah Tian Long! Naga Suci Agung yang pernah membuat sembilan langit bergetar hanya dengan satu raungan! Pada zamanku, bahkan para Kaisar Suci harus menundukkan kepala ketika melihat bayanganku!"
Nova hanya menganggukkan kepala sambil menunjukkan ekspresi seolah sedang mendengarkan seorang lelaki tua membanggakan masa mudanya.
Sikap itu membuat kumis panjang Tian Long bergetar karena marah. Namun sebelum naga kuno tersebut kembali berbicara, seluruh lautan jiwa tiba-tiba bergetar pelan.
Wuuung...
Nova langsung menghentikan senyumnya.
Di atas langit kesadarannya, sebuah titik cahaya keemasan perlahan muncul. Titik tersebut awalnya hanya sebesar butiran debu, tetapi dalam beberapa tarikan napas mulai membesar hingga membentuk sebuah rune kuno yang sama persis dengan rune utama dari Array yang sebelumnya ia gunakan.
Rune itu berputar perlahan. Setiap kali berputar, energi yang sangat tipis mengalir dari lautan jiwa menuju tubuh Nova.
Tian Long mendongakkan kepalanya.
Ekspresinya yang sebelumnya penuh kekesalan langsung berubah serius.
Nova menatapnya. "Apa lagi sekarang?"
Tian Long tidak segera menjawab. Mata emasnya terus memperhatikan rune yang melayang di atas mereka, seolah sedang memastikan sesuatu yang bahkan sulit dipercaya oleh dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, sudut mulut naga kuno itu perlahan terangkat.
"Bocah..."
"Sepertinya kau mendapatkan keuntungan dari kegilaanmu tadi."
Nova mengerutkan kening. "Keuntungan?"
"Perhatikan dantianmu."
Nova segera memusatkan kesadarannya pada tubuh aslinya. Dantiannya memang masih hampir kosong, tetapi kini sesuatu telah berubah. Di pusat pusaran energi yang sebelumnya bergerak sangat lambat, sebuah rune emas kecil muncul dan berputar mengikuti inti energinya.
Setiap putaran rune tersebut menarik energi spiritual dari lingkungan.
Sedikit demi sedikit.
Namun kecepatannya terus meningkat.
Dalam waktu singkat, energi spiritual dari lingkungan lembah mulai mengalir menuju tubuh Nova seperti aliran sungai kecil yang menemukan muaranya.
Mata Nova sedikit melebar.
"Ini..."
Tian Long tertawa pelan, kali ini tanpa nada mengejek. "Tubuhmu telah mengingat pola dasar Array Pengumpul Langit."
"Tanpa kau sadari, ketika menggunakan Teknik Array Sembilan Langit tadi, salah satu rune telah tertanam di dalam dantianmu."
Nova terdiam mendengar penjelasan tersebut.
"Artinya?"
"Artinya mulai sekarang, selama rune itu tetap berada di dalam dantianmu, tubuhmu akan menyerap energi spiritual secara otomatis meskipun kau tidak sedang berkultivasi."
Untuk beberapa saat, Nova benar-benar tidak mengatakan apa pun.
Tian Long menatapnya dengan ekspresi puas. "Kecepatan penyerapannya memang masih sangat kecil karena kultivasimu terlalu rendah. Namun semakin tinggi pemahamanmu terhadap Array, rune tersebut akan semakin sempurna. Jika suatu hari kau mampu membentuk Array Pengumpul Sembilan Langit sepenuhnya di dalam dantian..."
Naga emas itu berhenti.
Sorot matanya berubah dalam. "...maka bahkan ketika sedang tidur, kecepatan kultivasimu mungkin akan melampaui para jenius yang bermeditasi selama puluhan tahun."
Jantung Nova berdegup keras.
Namun kegembiraan itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum tubuh jiwanya kembali terasa lemah. Pandangannya sedikit bergetar, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
Tian Long mendengus.
"Sudah cukup."
"Kembalilah ke tubuhmu."
"Jiwamu juga kelelahan."
Nova mencoba berdiri tegak. "Bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka masih hidup," jawab Tian Long. "Gadis-gadis itu hampir menangis melihatmu tak sadarkan diri."
Nova mengangkat alis. "Gadis-gadis?"
Tian Long memperlihatkan senyum lebar.
"Lin Xue memegang tanganmu. Yan Mei berteriak seperti anak kecil kehilangan ayahnya. Sedangkan Yun Xi..."
Naga emas itu sengaja berhenti.
Nova langsung merasakan firasat buruk.
"Kenapa Yun Xi?"
"Hahahaha!"
Tian Long kembali tertawa keras.
"Dia sedang memeriksa tubuhmu!"
Wajah Nova langsung berubah.
"Apa?!"
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Tian Long mengibaskan ekornya dengan santai.
Gelombang energi emas langsung menghantam tubuh jiwa Nova.
"Pergilah dan lihat sendiri!"
"Kakek tua sialan!"
Kesadaran Nova seketika tersedot keluar dari lautan jiwa.
Dalam waktu bersamaan, di dunia luar, tubuh Nova yang sejak tadi terbaring di atas rumput perlahan bergerak. Jari-jarinya berkedut kecil sebelum kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit.
Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa lemah luar biasa di seluruh tubuh.
Hal kedua...
Adalah sebuah tangan lembut yang sedang menempel tepat di atas dadanya.
Nova mengedipkan mata. Yun Xi yang sedang berlutut di sampingnya ikut membeku.
Tatapan keduanya bertemu. Suasana mendadak hening.
Sementara di dalam lautan jiwa, suara tawa Tian Long kembali menggema tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan kegembiraannya.
"Hahahahaha! Bocah! Sepertinya perjalananmu di Planet Galastos akan jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan!"