"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Baru saja Arkanza menghidupkan mobilnya. Suara telpon mengalihkan perhatiannya.
"Hmmm."
"Arkanza, tolong jemput Vatha di sekolah. Karena sopir yang biasa antar jemput Vatha ada urusan."
"Apakah tidak bisa gadis itu." Ucap Arkanza seraya menjalankan mobilnya menjauhi perkiraan.
"Dia sedang kembali ke rumahnya untuk mengumpulkan barang-barangnya. Tolong sesekali saja Arkanza, jemput putrimu."
"CK, selalu merepotkan saja." Arkanza mematikan sambungan teleponnya begitu saja tanpa mendengar perkataan ibunya selanjutnya. Arkanza mengemudikan mobilnya kejalan yang mengarah ke sekolah Vatha yang kebetulan tidak jauh dari kantornya berada.
Sesampainya di depan sekolah Vatha, pria itu melangkah turun dari mobil. Kedatangannya langsung disambut oleh guru Vatha dan gadis kecil itu. Jika dilihat hanya ada Vatha sendiri di sana karena anak-anak lainnya mulai tidak ada.
Gadis kecil itu menunduk saat melihat siapa yang menjemputnya. Wajah ketakutan Vatha tidak bisa di sembunyikan walaupun gadis itu mencoba untuk tersenyum. Arkanza sendiri seperti biasa, tidak peduli dengan apa yang dia lihat di depannya.
"Tuan Arkanza selamat siang." Sapa guru itu ramah sambil tersenyum malu-malu. Tapi ditanggapi datar oleh Arkanza."Hari ini Vatha belajar lebih pintar dari teman-temannya yang lain. Dia berhasil menghafal abcd dan hitung-hitungan." Jelas guru Vatha yang terlihat bersemangat saat menceritakan kegiatan Vatha tapi berbeda dengan Arkanza yang menanggapinya dengan datar tanpa ekspresi tertarik sama sekali."Vatha jug–"
"Saya datang untuk menjemput anakku bukan mendengar celotehan anda." Potong Arkanza dengan mimik wajah tidak suka."anda bisa menceritakan kegiatan murid lain tapi tidak dengan putri saya. Permisi." Lanjut Arkanza dingin berhasil menghilangkan wajah bersemangat wanita muda itu."Vatha!"
"Iya papa." Jawab Vatha bergegas mengikuti langkah papa nya yang sudah duluan melangkah meninggalkannya. Tidak ada genggaman tangan yang lembut seperti kebanyakan orang tua menggenggam tangan anaknya. Arkanza hanya membiarkan gadis berusia lima tahun itu jalan tanpa bimbingan atau pertanyaan yang selalu dinantikan.
'apa papa mau gendong'
Jangankan bertanya berbicara saja Arkanza seperti enggan.
"Papa Vatha mau ke tempat Oma, apa boleh?" Tanya Vatha hati-hati takut membuat papanya marah tapi tidak ada jawaban dari pria itu. Membuat gadis kecil itu kembali diam, wajah menanti tadi perlahan-lahan memudar tergantikan wajah murung yang Arkanza tidak memperdulikannya.
"Kemana dia, seharusnya tugasnya menjemput anak-anak. Dia malah menghilang. Tunggu nanti akan aku kasih pelajaran." Gumam Arkanza mengemudikan mobilnya ke arah kediamannya.
……
Khilva menggeliat kecil dan bangun dari tidurnya, melihat itu Naila dan Ailsie melangkah mendekati gadis kecil itu.
"Kifa sudah bangun?" Tanya Ailsie gemas menatap Khilva.
"Unda na kifa mana?" Tanya Khilva mengucak-ngucak kedua matanya menggunakan tangannya.
"Bundanya kifa lagi di toilet. Tunggu sebentar ya." Gadis kecil itu menatap kedua secara bergantian kemudian menangis.
"Huaaa, kifa mau na unda. Huaaa!"
"Waduh pakai acara nangis ni bocah." Ucap Naila panik, ikut bingung karena tiba-tiba saja Khilva manangis.
"Cup cup anak pintar jangan nangis ya. Bentar lagi bunda nya Kifa datang." Ucap Naila menenangkan membuat Khilva menghentikan tangisannya kemudian menatap keduanya bergantian.
"Hiks....tenapa unda meninadaltan Kifa denan Tante belicik ini!" Oceh nya di sela-sela tangisannya membuat keduanya menganga mendengarnya.
"Hai bocah, kami nggak berisik ya." Ucap Naila tidak terima dengan ocehan Khilva.
"Iya, kaya tau tau aja nih bocah." Lanjut Ailsie sama-sama tidak terima di tuduh berisik.
"Hay bocah, kami nggak berisik ya."
"Wuaaa, unda Kifa di malahi!"
"Hay ada apa ini?! Kifa kenapa sayang?" Tanya Azkia bingung yang sejak tadi mendengar keributan dengan tangisan Khilva.
"Unda na Kifa." Gadis kecil itu berdiri dari duduknya lalu berlari mendekati Azkia dan memeluk kaki Azkia dengan erat."Unda na Kifa janan peldi peldi....huuuhu."
"Bunda nggak pergi koh sayang, bunda ke toilet. Kan disini ada Tante Naila dan Tante Ailsie." Ucap Azkia seraya menggendong tubuh Khilva.
"Kifa nda mau cama Tante itu." Ucap Khilva membuat Azkia menatap kedua sahabatnya tidak mengerti.
"Kami nggak lakukan apa-apa. Yakan Nai."
"Iya, kami malah dituduh berisik sama tuh bocah." Sambung Naila mengiyakan.
"Tapi betul koh, kalian berisik tuh sampai bangun anakku,"
"Mentang-mentang ada anaknya sekarang." Celetuk keduanya memutar mata mereka malas. Azkia sendiri hanya terkekeh melihat tingkah kesal kedua sahabatnya itu.
"Iya ya, sombong sekarang dia tuh."
"Haem betul."
"Sudah-sudah kalian malah mirip kayak Kifa kalau ngambek kayak gitu." Ucap Azkia menyudahi drama yang kedua sahabatnya buat.
"Karena Khilva sudah bangun, mending kita pulang sekarang."
"Nggak terasa ya, padahal kami masih mau lama-lama disini." Ucap Naila agak kecewa sedikit karena waktu yang mereka habiskan kali ini tidak terlalu lama seperti biasanya jika mereka berada di kampus.
"Nanti kalau kalian ada waktu mainlah ke rumah ku."
"Tentu kami akan bantu obrak-abrik tuh kediaman." Sambung Ailsie mendapatkan kekehan dari Azkia.
"Tentu, Thanks sudah mau jadi sahabat ku yang mau menemani ku."
"Sahabat!"
"Sahabat!" Ketiganya ingin saling berpelukan untuk melepaskan waktu pertemuan mereka kali ini.
"Jangan pulut pelut unda na Kifa." Cegah Khilva dengan posesif, Membuat Ailsie cemberut dibuatnya.
"Dasar gadis menyebalkan."
"Tuh unda, Tante nya nomon cebalanan."
"Sudah-sudah mending kita pulang sekarang!”
💧💧💧
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.
Salam manis dari author😉