NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lonceng kuno

Kemudian, akhirnya cahaya itu melintasi pantai, melihat ombak yang bergelombang. Pantai itu sepi dan tidak ada yang menyadari cahaya itu melintas.

Terus bergerak di atas lautan. Dengungan besar terdengar beberapa kali di lautan luas. Beberapa burung melesat ke air untuk memangsa. Dan, lumba-lumba menari-nari sembari membawa anaknya.

Setelah satu jam, akhirnya daratan besar terlihat dari kejauhan. Dipenuhi pepohonan dan bangunan. Seorang nelayan yang sedang menarik jaringnya sedikit mendongak ketika melihat cahaya itu melesat. Ia perlu mengerutkan kening karena penglihatannya buruk, namun segera suara nyaring mengganggunya.

“Kakek! Lihat, si kecil ini ternyata masih hidup.”

Menoleh ke belakang, ada seorang gadis yang duduk, tersenyum gembira sembari mengangkat botol kaca yang di dalamnya ada seekor ikan kecil yang berenang.

Saat cahaya itu melintasi pantai, beberapa anak berlarian menerbangkan layang-layang. Beberapa menyadarinya dan memperhatikannya.

“Apa itu cahaya abadi?”

“Seorang dewa?”

“Itu mungkin artefak suci yang sering pendongeng itu katakan.”

Anak-anak pesisir pantai sering mendapatkan cerita indah tentang kehebatan para pengembang dari kakek tua. Dan ketika mereka melihat ini, mereka ingat tentang kemungkinan bahwa itu adalah artefak yang turun dari surga dan mendarat di suatu tempat. Mungkin itu adalah seorang pengembang yang kalah dan berubah menjadi cahaya. Dunia kultivasi memang selalu menarik perhatian mereka, tapi tidak banyak yang mau mengambil risiko untuk mengejarnya, dan mereka hanya tetap duduk di pohon kelapa sembari memegang benang layangan.

Cahaya itu seperti bintang jatuh, melintasi rimbun pohon dan akhirnya melintasi kota besar yang dipenuhi para pedagang yang menjual ikan dan hasil alam. Suara mereka beradu. Lalu, di sebuah kediaman, seorang pria membuka pintu dan sudah ada kereta yang menyambutnya. Beberapa gadis saling berbicara di jalanan. Seorang gadis duduk di bawah pohon besar dan mendongak menatap cahaya itu. Di matanya ada rasa penasaran, tapi rasanya ia enggan berdiri untuk mencari tahunya.

Cahaya itu terus melesat melewati kota itu, menemukan lembah yang dalam, jurang yang curam, dan gunung yang tinggi.

Ada sebuah batu di bawah pohon plum itu, dan seorang wanita duduk di sana sembari memperhatikan tusuk rambut bunga peony merah. Ia mengelus-elus batangnya yang panjang dengan ekspresi wajah yang agak redup dan dipenuhi kenangan, seolah telah banyak waktu berlalu.

Di sekitarnya, rumput alang-alang yang tumbuh tinggi bergoyang-goyang. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat hamparan hutan dan sedikit kota yang tersembunyi di balik perbukitan tinggi.

Memutar rambutnya dan memasukkan tusuk rambut itu, ia akhirnya melihat kota kecil di kejauhan itu. Katanya, ia akan pergi ke sana. Ayah dan ibunya bilang di sana keluarga besarnya tinggal. Menurut mereka, ia sangat cantik dan sudah dewasa, sudah waktunya mencarikan jodoh. Keluarga besar di kota sering mengadakan sayembara, jadi dari sana calon suaminya akan ditentukan.

Ini merupakan cara mereka untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan para pengembang dan keluarga bangsawan.

Gadis itu ingat penderitaan ibunya di desa ini dan bagaimana mereka kesulitan makan. Ketika wabah menyerang, tidak ada yang membantu mereka; semua orang menjadi sangat egois dan kejam.

Ia dulu ingin hidup di desa dengan tenang tanpa gangguan apa pun. Tidak pernah peduli apakah keluarga besar mereka yang ada di kota menjalani hidup dengan baik. Ia hanya tahu semakin sedikit yang diketahuinya, maka semakin banyak kebahagiaan yang akan didapatkannya. Namun, itu segera berubah ketika wabah menyerang. Ia melihat ayah dan ibunya menderita lalu akhirnya meninggal. Sebelum mereka benar-benar pergi, mereka ingin ia menuruti keluarga di kota untuk pergi dan menikah. Sebenarnya, ia tidak suka, tapi tidak punya pilihan lain. Karenanya, demi dua orang penting baginya, ia mau melakukannya.

Cahaya matahari sore berwarna jingga menerpa wajahnya yang tirus dan polos, sementara rumput tinggi alang-alang bergoyang-goyang. Mereka jauh lebih indah karena cahaya matahari sore. Rasanya sedikit lebih dingin.

Lalu, dari jalan di antara bukit, ia melihat kereta kuda yang berjalan menuruni bukit. Memperhatikannya sebentar, itu sepertinya Paman Zhou yang akan membawanya ke kota.

Gadis itu menghela napas. Ia segera berdiri. Pada saat itu, cahaya melintas di langit lalu jatuh di antara rumput alang-alang, melemparkannya dalam kekacauan. Gerakan rumput itu kacau dan tidak indah untuk dilihat. Tapi gadis itu tidak peduli. Ia hanya berpikir harus mengambil barang-barangnya dan berdoa semoga kehidupannya jauh lebih baik ketika tiba di kota.

...----------------...

Xuan Han mencoba beberapa kali untuk membukanya. Ia memukul gerbang itu, meneteskan darah lagi, dan mencari tombol yang bisa ditekan, namun pada akhirnya tidak ada yang terjadi. Relief itu memang sedikit berubah dan agak memancarkan warna kemerahan, tapi selain itu tidak ada yang terjadi. Ia bertanya-tanya apa yang tadi terjadi?

Tangannya jadi terasa perih karena goresan itu. Ini lagi-lagi terasa nyata. Ia berharap setelah keluar dari sini tidak ada luka yang dideritanya.

Sekarang ia duduk di undakan, memandang cahaya bintang-bintang dan halaman pagoda.

“Apa fungsi dari kejadian ini? Mengapa harus seperti ini?”

Ia menghela napas dan mengusap darah yang keluar dari telapak tangannya. Berdiri dan mendekati pintu pagoda. Mendongak memperhatikan relief pohon yang besar itu. Ia meraba-raba sebentar dan melihat dua lengkungan besi yang menjadi gagang pintu. Menariknya. Terasa kuat. Ia berusaha melakukannya lagi dan itu tidak membuahkan hasil. Ia mengerutkan kening dan membenturkan ganggang pada pintu. Suara melengking bergema dan membuat pagoda itu agak bergetar. Xuan Han mendongak dan mundur.

“A-apa yang terjadi?”

Tapi setelah bergetar beberapa saat, tidak ada yang terjadi dan pagoda itu tetap kokoh, sementara pintunya masih tertutup.

Xuan Han mencoba mencari sesuatu di halaman dan berusaha membuka paksa pagoda, tapi pada akhirnya ia menghela napas.

“Sepertinya harus pergi dari sini.”

Xuan Han melangkah keluar. Menekan tanah dan segera melesat ke langit. Dalam beberapa langkah, ia telah menjauh dan atmosfer segera berubah menjadi merah darah.

Ia segera melihat jantung raksasa, pagoda, dan satu lonceng. Melihat ke lonceng, ia sedikit mengerutkan keningnya dan segera melesat.

Sama seperti sebelumnya, lonceng itu besar dan Xuan Han seperti semut di hadapannya. Ketika melayang-layang di depannya, lonceng itu terasa telah melewati ribuan tahun dan berbagai zaman. Aura kuno terpancar darinya.

Dibandingkan dengan pagoda, lonceng ini terasa jauh lebih misterius. Ia bertanya-tanya apakah pagoda dan lonceng ini merupakan kesatuan atau dua benda terpisah yang ditemukan secara bersamaan?

Melihat dua benda ini, ia juga penasaran apakah ini senjata yang dapat digunakan orang-orang seperti Meng Chahua dan yang lainnya?

Jika orang-orang itu tahu dan dua benda ini benar-benar ada dalam tubuhnya, apakah mereka akan membunuhnya?

Memikirkan mereka dan bagaimana tindakannya, itu membuat Xuan Han tersenyum pahit dan berpikir apakah ia benar-benar beruntung atau tidak karena mendapatkan hal semacam ini.

Berusaha mengabaikannya, ia menatap permukaan lonceng dan mendapati sebuah relief pohon beringin besar yang di dahan-dahannya ada berbagai kehidupan; di sana ada gerombolan semut, para burung yang bersarang, manusia yang sedang berjualan, binatang yang memakan daun pohon, naga yang meraung, dan gerombolan banteng yang berjalan.

Itu terlihat indah dan misterius. Xuan Han juga mendengar dengungan dari lonceng itu seolah-olah sedang bernapas. Mengamatinya beberapa saat, ia ingat bagaimana darahnya yang ada di pagoda.

“Apa darahku berguna di sini?”

Xuan Han mengulurkan tangannya yang terluka. Ketika telapak tangannya menyentuh lonceng itu, ia merasa kedinginan dari benda raksasa itu. Selain itu, permukaannya terasa keras dan berat. Karena merasakannya, tanpa sadar ia menutup matanya. Seperti yang diingatnya ketika kecil, Kakak Xuan Yi sering memejamkan mata untuk bermeditasi. Sepertinya itu akan berguna.

Perlahan-lahan ia merasa lonceng itu mulai bergetar. Suara dengungan itu perlahan-lahan mulai membesar. Tidak lama, Xuan Han membuka matanya.

Tiba-tiba lonceng itu berbunyi. Suaranya memekakkan telinga dan pemuda itu tanpa sadar terdorong mundur karenanya. Telinganya terasa sakit dan tanpa sadar ia memuntahkan darah.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!