NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Ki Sura tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan menuju desa tanpa menoleh lagi. Langkahnya tenang, tetapi setiap gerakan menunjukkan kebiasaan seseorang yang sudah lama hidup di ambang bahaya.

Jayengrana menatap punggung lelaki tua itu sejenak, lalu melirik ke Pengemis Tua.

“Apa yang dia ketahui tentang kita?”

Pengemis Tua hanya mengangkat bahu. “Cukup untuk tidak mengusir kita segera. Itu sudah lebih baik daripada yang kuharapkan.”

Mereka mengikuti. Desa Watu Ireng tampak sederhana: rumah-rumah kayu dengan atap ilalang, jalan setapak berbatu, dan beberapa penduduk yang sedang bekerja di kebun. Namun ketika rombongan mereka melewati gerbang kayu sederhana, beberapa pasang mata menatap dengan kewaspadaan yang tidak biasa. Bukan rasa takut, melainkan pengenalan.

Seolah desa ini sudah terbiasa menerima orang-orang yang membawa jejak gelap.

Ki Sura membawa mereka ke sebuah rumah di tepi lereng. Bangunannya lebih tua dari rumah-rumah lain. Dindingnya terbuat dari kayu gelap yang sudah menghitam oleh waktu. Di depan pintu berdiri dua orang pemuda bersenjata tombak pendek. Mereka menunduk hormat saat Ki Sura lewat, tetapi mata mereka tetap mengawasi Jayengrana.

Di dalam rumah, udara terasa lebih dingin. Bau dupa samar bercampur dengan aroma kayu basah. Ki Sura duduk di tikar tua di tengah ruangan. Ia menunjuk ke arah seberang.

“Duduk.”

Jayengrana menunggu istrinya dan Jaka duduk terlebih dahulu, baru kemudian ia ikut. Tombaknya diletakkan di samping, masih dalam jangkauan tangan. Pengemis Tua memilih duduk sedikit terpisah, seolah ingin menjaga jarak.

Ki Sura menatap Jayengrana lama. Matanya tidak berkedip.

“Kau membawa bau api legam. Dan sesuatu yang lebih tua.” Ia menoleh ke arah dada Jayengrana, seolah bisa melihat tanda perjanjian di balik kain. “Aku sudah mendengar bisik-bisik tentang seseorang yang kembali dari Hutan Kematian. Aku tidak menyangka dia akan datang ke desaku dengan istri dan anak yang bukan darahnya.”

Jaka menunduk. Istri Jayengrana mengeratkan genggaman pada tangan anak itu.

Jayengrana menjawab dengan suara datar. “Aku tidak datang untuk menyusahkan.”

“Semua orang yang datang ke sini bilang begitu,” sahut Ki Sura. “Kemudian mereka meminta perlindungan. Kemudian mereka membawa musuh. Kemudian desa ini yang harus menanggung akibatnya.”

Ia mengambil sebatang kayu kecil dari samping, memutarnya di antara jari. “Pria bertopeng kayu sudah menandai kalian. Aku merasakan jejaknya sejak semalam. Dia tidak mengejar karena dia tahu kalian akan datang ke sini.”

Pengemis Tua akhirnya berbicara. “Itulah mengapa kami datang kepadamu, Ki. Bukan kepada orang lain.”

Ki Sura menatap Pengemis Tua dengan pandangan yang lebih tajam. “Kau masih hidup juga. Aneh.”

Pengemis Tua hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.

Keheningan menggantung. Di luar, suara lonceng kayu berdentang pelan, terbawa angin.

Ki Sura meletakkan kayu itu. “Aku bisa menyembunyikan kalian. Untuk sementara. Tapi ada harga.”

Jayengrana menatapnya lurus. “Sebutkan.”

“Bukan emas. Bukan senjata.” Ki Sura mencondongkan tubuh sedikit. “Aku ingin tahu apa yang bersemayam di dalam dirimu. Bukan cerita. Bukan janji. Aku ingin melihatnya.”

Istri Jayengrana menoleh cepat. “Apa maksudnya?”

Ki Sura tidak mengalihkan pandangan dari Jayengrana. “Ada cara. Sederhana. Tidak menyakitkan… jika kau benar-benar mengendalikan apa yang ada di dalam tubuhmu. Jika tidak, desa ini akan tahu apa yang sebenarnya kau bawa.”

Jayengrana merasakan tanda perjanjian di dadanya berdenyut sekali, pelan. Suara Penunggang muncul, hampir seperti bisikan angin.

*“Dia menguji. Bukan hanya kau… tetapi juga aku.”*

Jayengrana menarik napas dalam. Ia menoleh ke istrinya. Di mata perempuan itu ada kekhawatiran, tetapi juga kepercayaan yang sama seperti semalam ketika ia mengatakan “Ini aku.”

Ia kembali menatap Ki Sura.

“Lakukan.”

Ki Sura mengangguk pelan. Ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, dan mengambil sebuah mangkuk kayu kecil berisi air jernih. Ia meletakkannya di antara mereka.

“Celupkan tanganmu. Biarkan air itu membaca.”

Jayengrana mengulurkan tangan kanan. Jari-jarinya menyentuh permukaan air.

Pada detik itu, air di dalam mangkuk berubah. Bukan menjadi merah atau hitam, melainkan membentuk riak yang sangat halus, membentuk lingkaran kecil dengan tiga garis melengkung di dalamnya. Lambang yang sama.

Ki Sura menatap air itu lama. Wajahnya tidak berubah, tetapi jari-jarinya yang memegang tepi mangkuk mengerat.

“Jadi benar,” gumamnya pelan. “Perjanjian itu masih hidup.”

Ia mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mirip kekhawatiran di matanya.

“Kalian boleh tinggal. Tiga hari. Tidak lebih. Setelah itu, kalian harus pergi sebelum jejak yang kalian bawa menarik sesuatu yang lebih besar ke desa ini.”

Jayengrana menarik tangannya. Air di mangkuk kembali jernih seolah tidak pernah berubah.

“Dan jika dalam tiga hari itu mereka datang?” tanya Jayengrana.

Ki Sura berdiri. “Maka desa ini akan memilih. Melindungi kalian… atau menyerahkan kalian.”

Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Siapkan diri. Malam ini aku ingin berbicara lebih lanjut denganmu. Hanya kau. Bukan yang lain.”

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Jaka menatap mangkuk air yang masih berada di tengah.

“Lambang itu…” bisiknya. “Aku pernah melihatnya. Di dinding bawah tanah. Di Gedung Utara.”

Jayengrana menatap anak itu. “Di mana tepatnya?”

Jaka menggeleng. “Aku tidak ingat. Tapi… ada banyak.”

Istri Jayengrana meraih tangan suaminya. Genggamannya hangat, tetapi gemetar samar.

“Tiga hari,” katanya pelan. “Apakah cukup?”

Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup Ki Sura, kemudian ke jendela kecil yang menghadap ke hutan di belakang desa.

Di kejauhan, di antara pepohonan yang bergoyang, ada sesuatu yang bergerak. Bukan angin. Bukan binatang.

Sesuatu yang menunggu.

Jayengrana mengeratkan genggaman pada tombaknya.

“Kita manfaatkan setiap jam,” jawabnya akhirnya. “Karena aku rasa… tiga hari itu terlalu lama bagi mereka.”

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!