NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bintang dan Bulan terperangah saat pintu kaca restoran terbuka. Kilatan cahaya flash kamera mendadak menyambar pandangan mereka dari segala arah. Sekelompok wartawan dan pemburu berita yang sudah berkerumun di sudut area foyer langsung bergerak maju, mengurung posisi keduanya dalam kepungan mikrofon dan lensa kamera yang terus menembakkan kilatan cahaya tanpa henti.

​"Pak Bintang, kami minta waktunya sebentar!" Ujar salah satu dari mereka. Seolah tidak memberi celah untuk menghindar.

​"Apakah video yang beredar kemarin siang itu benar?"

Bintang belum sempat menjawab wartawan yang berdiri di sebelah kanannya, sebelah kiri dan depan pun sudah memberi pertanyaan lagi.

​"Bisa dijelaskan apa hubungan kalian sebenarnya di balik rekaman video itu?"

​Rentetan pertanyaan memberondong mereka secara bertubi-tubi, membuat ketenangan pengunjung restoran yang semula sedang asyik mencicipi hidangan, kini menatap ke arah mereka. Bulan merasa tidak nyaman saat menjadi tontonan seperti film layar tancap yang sering diputar di pedesaan.

"Oh ini Bintang yang sedang ramai dibicarakan," bisik pengunjung restoran tapi masih terdengar oleh Bulan.

"Benar, berarti wanita di sebelahnya itu pelakor nya?"

Suasana semakin tidak nyaman, Bulan rasanya ingin menyembunyikan wajahnya tapi sudah terlanjur terekpos.

 Bintang secara naluriah menggeser tubuhnya lebih maju, menjadikan bahunya sebagai tameng untuk menutupi Bulan dari sorotan kamera yang terlalu dekat. Tangannya bergerak cepat mencengkeram lembut jemari Bulan, merasakan dingin yang menjalar dari kulit gadis itu akibat rasa terkejut yang mendadak.

"Kalian seharusnya sudah menyaksikan klasifikasi di konferensi pers yang saya gelar pagi tadi, tapi kenapa justru menyerang seperti ini?" Tegas Bintang, mencoba menjelaskan dan menatap ke arah kerumunan pers dengan rahang menegak, sementara Bulan menggenggam balik jemari Bintang siaga menghadapi badai cecar yang tidak lagi bisa mereka hindari

"Kami ingin keterangan langsung dari Pak Bintang dan Dokter Rembulan," jawab wartawan yang tidak mau kehilangan kesempatan.

Bintang menghela napas panjang, merangkul bahu Rembulan dengan lembut, seolah memberikan perlindungan mutlak bagi wanita di sampingnya yang ingin segera menghindar.

​Bintang maju mendekati pengeras suara. Dengungan riuh perlahan mereda ketika wajahnya terlihat tenang tapi serius.

​"Segala rumor liar yang beredar belakangan ini harus dihentikan hari ini," suara Bintang bergema, menatap mereka tanpa takut.

 "Rembulan bukan seorang pengganggu, bukan pula perempuan simpanan. Dia adalah istri sah saya. Kami telah menikah walaupun baru secara agama tapi dalam waktu dekat akan saya resmikan secara hukum," tegas Bintang dengan tatapan serius.

​Bisik-bisik kaget langsung menjalar di antara kerumunan pers. Mikrofon kembali disodorkan lebih dekat, menuntut kejelasan atas sosok Mentari, istri pertama Bintang yang dikenal publik sebagai pasangan sempurna sang pengusaha.

​Bintang tidak menghindar. Matanya menatap lurus ke arah kamera-kamera yang menyala.

​"Pernikahan ini tidak terjadi secara sembunyi-sembunyi di belakang Mentari," lanjut Bintang dengan nada melunak. "Justru Mentari sendiri yang meminta dan menjodohkan kami."

​Wartawan dan pengunjung restoran makin riuh, terkejut dengan pengakuan yang tidak terduga tersebut.

"Apa karena istri Pak Bintang sakit lalu Mbak Mentari..."

​"Iya," potong Bintang seolah sudah tahu pertanyaan apa yang akan wartawan ajukan.

'Istri pertama saya memang sedang berjuang melawan kanker stadium akhir," Bintang melanjutkan, kali ini suaranya sedikit melemah, bayangan Mentari yang hingga kini masih tidak berdaya di tempat tidur, membuat dadanya sesak hingga menampakkan kesedihan yang mendalam.

"Yang kami tahu, tidak ada istri yang rela suaminya menikah lagi, Pak Bintang," bantah wartawan wanita seolah tidak terima.

 "Nyatanya ada, istri saya contohnya," Bintang menegaskan dan menjelaskan secara gamblang tidak ada yang ia tutupi. Dari Mentari yang memohon kepada Rembulan agar mau mendampingi dirinya dan sudah disepakati keluarga besar.

"Tapi saya mendengar Kakak Dokter Rembulan tidak menyetujui hingga memukuli wajah Anda Pak Bintang."

Deg.

Bintang terkejut lalu ​menoleh ke arah Rembulan yang juga menatapnya tidak kalah kaget. Bintang yakin ada orang yang sengaja mengawasinya hingga dua kejadian hari ini diketahui oleh wartawan.

"Masalah luka di pipi ini, saya tidak akan memberi tahu siapapun, mohon untuk dimengerti. Saya juga tegaskan sekali lagi. Rembulan hadir di hidup saya atas restu, ketulusan, dan permintaan langsung dari istri pertama saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun mencemarkan nama baik kedua istri saya."

​Pengakuan blak-blakan Bintang seketika membungkam para wartawan lalu meninggalkan tempat itu. Rembulan sedikit lega, entah berita ini akan benar-benar berakhir atau justru lebih dahsyat lagi ia sudah pasrah. Menyerahkan semuanya kepada sang kuasa.

Hingga mereka lupa bahwa saat ini sedang memesan makanan dan sudah tersedia di atas meja.

"Ayo makan dulu," ucap Bintang, menoleh Bulan yang hanya diam, tapi pandangannya tertuju ke arah pengunjung restoran yang masih berbisik-bisik ke arah mereka. Bulan hanya menggeleng, mana mungkin ia selera makan dalam keadaan kacau seperti sekarang.

"Atau makanan ini kita bungkus saja?" Bintang tahu apa yang Bulan pikirkan, tentu saja tidak mau memaksa.

"Bagaimana Pak Bintang saja, saya cuma mau pulang dan istirahat," pungkas Bulan.

Bintang pun memanggil pelayan minta semua makanan agar dibungkus, setelah selesai kemudian pulang.

Suasana di dalam mobil hening. Bulan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, mengamati deretan bangunan yang perlahan mengabur oleh rasa lelah jiwa raga yang menumpuk. Rasa lapar yang tadi sempat singgah kini menguap sepenuhnya, berganti rasa hampa yang enggan disapa.

​Sementara Bintang yang menyetir pun tidak ada keberanian lagi untuk bicara, walau semua kata sudah dia kemas rapi. Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat, sesekali melirik wajah Bulan yang menyembunyikan suaranya di balik wajahnya yang sendu. Bintang paham betul, dalam kondisi seperti ini, bujukan apa pun tidak akan mudah meluruhkan hati Bulan, justru menjadi kebisingan yang mengganggunya.

​Mobil terus melaju menembus arus lalu lintas sore yang hampir gelap, karena waktu Maghrib akan segera tiba. Bulan memejamkan mata, membiarkan deru mesin dan dinginnya AC mengayunya dalam kantuk yang samar. Namun, bayangan pipi lebam Bintang melintas, kemudian menoleh.

"Sebenarnya kenapa wajah Pak Bintang?" Bulan pada akhirnya bertanya untuk menghilangkan penasaran.

Bintang menoleh cepat, antara senang karena Bulan akhirnya mau berbicara kepadanya, tapi bingung untuk menjawab.

"Kenapa? Ditanya kok malah diam!" ketus Bulan.

"Tadi pagi, sebelum aku klasifikasi tentang video itu, datang ke rumah Mami."

"Terus? Tidak mungkin kan Mami memukul Pak Bintang," Bulan memotong.

"Emmm... Mas Langit," Bintang akhirnya menceritakan yang ia alami pagi tadi.

Bulan tidak menjawab, Mas Langit sebenarnya orang baik, tapi sejak Bulan kecil masih ingat benar, Langit sangat emosional jika ada orang yang mengganggunya.

Di dalam mobil kembali sepi hingga beberapa detik kemudian, Bulan sadar dari lamunan saat Bintang bukan mengarahkannya laju kendaraan ke rumah mami, ​tapi di persimpangan utama, lampu sein mobil berkedip ke arah kiri menuju rumah Bintang.

​"Kok ke rumah kamu sih?" Bulan takut ibu Mega membenci dirinya seperti orang-orang di luar sana.

"Tenang Bulan, jika kamu khawatir akan Mama Ratih dan Sherly, mereka sudah pergi kok," jawab Bintang mengira dua orang wanita itu yang membuatnya risau. Padahal Bulan sudah tahu jika mereka saat ini berada di hotel

"Tahu, ah!" dengus ​Bulan benar-benar panik akan bertemu ibu Mega, sikap baik sebelumnya akan berubah setelah tahu siapa dirinya. Kendaraan pun akhirnya tiba di halaman rumah. Dada Bulan berpacu dengan cepat saat terpaku memandangi rumah besar itu.

...~Bersambung~...

1
Teh Yen
aduh kenapa tuh rmhnya bintang ?
Teh Yen
langit ketemu siapa tuh ?
Eka ELissa
di rampok atau kebakaran....Biii...
aduhhh entahlah hy emak yg tau
Eka ELissa
waduhh siapa tuh
tiara
siapa tuh yang datang,jadi penasaran nih
Teh Yen
siapa yah yg tega bikin papa mentari ky gt apakah Bu Ratih ? terlalu kl.bener mereka yg lakuin yah ..... kok aku Jadi takut yah mentari kenapa kenapa itu beneran d bawa mau d obatin atau ada niat lain yah ibu Ratih sama mentari
Eka ELissa
waduh...knpa tu papa nya mentari truss 🌞🌞🌞🌞 kmana wah dsr ni ya duo keong racun kmna tu orang 😡😡😡😡atau jgn 2🌞🌞🌞mntari bukan ank bp yng kmu tolong....bin 🌟🌟🌟 entahlah hy emak yg tau
Teh Yen
nah loh alamatnya palsu atau mereka sudah pindah rumah yah ,, aku engg ngerti deh sama jalan pikiran nya mentari itu huuuh
Perempuan
kamu itu pembawa sial utk org yg kamu anggap sahabat. jangan krn sakit seenaknya saja memaksakan kehendak
falea sezi
🤣🤣 bulan bodoh minta cerai ngapain berbagi batangan satu doank iihh
Rohmi Yatun: naahh betul ituuu.. gak punya harga diri aja.. selamanya bakal menyandang pelakor.. jdi bikin emosi tu si Bulan👎
total 2 replies
Eka ELissa
nah loh..... kmana tu mertua gila mu bawa mentari 🌞🌞🌞🌞🤦🤦🤦gaje bgt kn Mreka
Eka ELissa
aneh bgt cih kmu...🌞🌞🌞kmu yg minta bulan 🌙🌙🌙 Msuk kini stelah bulan.... cobain brtahn...kmu mlhn mundur....knpa kmu GK metong sklian cih.....klau cumn buat bulan istri pengganti mu buat 🌟🌟🌟 bintang 😡😡😡😡🤦 ikutan emosi aku.....
Buna Seta: yang nulis juga emosi 🤣
total 1 replies
Eka ELissa
hey.... mertua GK tau diri justru ank mu yg bikin bulan masuk ke kluarga mu yg penuh drama mu itu...🌞🌞🌞yg paksa bulan ada di antara dia dan bintang 🌟🌟🌟 knpa bulan 🌙🌙🌙 di sphin....aneh bgt 😡🤦
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
ngk pernah espek sma siapapun yg jdi orng ketiga walupun bkn maunya (terpaksa),atau apapun yg dilakukan dlm keadaan sadar ttp aja pelakor, mau itu di suruh, terpaksa keadaan,atau alasan si pasanganx cuek, sibuk atau apapun itu trus dgn dalih memberi perhatian lo mau jdi madu fiks GOBLOK,harga diri diatas segalanya, hidup itu pilihan Tuhan ngasih kita cobaan itu ada pilihannya bkn asal iya aja
Eka ELissa
aduh brasa ikutan lari 2 kjer duo keong racun itu....kira 2 ke kejar GK ya... entahlah hy emak yg tau...
Buna Seta: Kejarrr daku kau kutangkap 🤣
total 1 replies
Rohmi Yatun
Bulan.. rasain sendiri akibat kebodohan kamu sendiri.. kamu itu hanya dijadikan alat.. iihh sebel banget bodoh kok dipelihara... malah sekarang mulai jatuh cinta ma Bintang.. hadeehhhh👎👎
Rohmi Yatun: iyaaa.. banget🤣
total 4 replies
sri susanti
pasti kalau mentari sudah sembuh,, di suruh nikah sama org lain oleh ibunya
falea sezi
males deh nanti mentari jd jahat biasa uda. sakit aja gk tau diri maksa bulan nikah ma bintang apalagi nanti sembuhh makin menjadi
Perempuan: iya betul. Sakit aja egoisnya selangit apalagi dah sehat /Panic//Panic/
total 1 replies
Agunk Setyawan
malas juga lama" skip dulu
Valen Angelina
pasti nnti si mentari ud sembuh.. pulang bikin rusuh ketika bintang dan bulan uda bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!