NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: JEBAKAN BERDARAH DI DASAR NGARAI

​Angin dingin yang menyusup di antara celah pohon berdaun hitam perlahan menyapu sisa uap racun yang ditinggalkan oleh Han Xiu.

​Di atas tanah basah yang dipenuhi retakan, hening mendadak menguasai rimba.

​Lu Feng menghela napas panjang. Gejolak di dalam dadanya baru perlahan mereda setelah bayangan Han Xiu benar-benar menghilang di balik kegelapan hutan.

​Ia menatap Xuan Chen yang berdiri tegak tidak jauh darinya, lalu menundukkan kepala sedikit dengan raut wajah yang amat serius.

​"Junior... aku berhutang nyawa kepadamu," ucap Lu Feng dengan nada tulus.

​Xuan Chen yang sedang menyetabilkan staminanya perlahan membuka mata. Pendaran hangat di pelipisnya telah surut, meski stamina fisiknya masih terasa agak terkuras akibat tekanan mematikan dari Mata Misterius tadi.

​Xuan Chen berdiri, merapikan jubah hitam polos murid luarnya yang sedikit kotor.

​"Jangan dipikirkan. Kita masih terikat aliansi sampai waktunya," sahut Xuan Chen datar, suaranya tenang tanpa ada riak emosi berlebihan.

​Lu Feng mengangguk pelan. Di dalam benaknya, ia menyadari dengan sangat jelas bahwa Xuan Chen menolongnya bukan karena belas kasihan atau rasa iba murni. Pemuda jubah hitam di depannya ini bertindak semata-mata karena aliansi mereka masih berjalan.

​Jika aliansi ini telah usai atau tidak lagi memberi keuntungan, Xuan Chen tentu tidak akan ragu untuk memalingkan wajah—bahkan mengayunkan serangan jika situasi menuntutnya.

​Namun bagi Lu Feng, itulah hakikat sejati dari jalan demonic. Tidak ada kepura-puraan moral, tidak ada janji manis tanpa guna. Selama kerja sama itu saling menguntungkan, mereka adalah kawan bertarung yang paling bisa diandalkan.

​"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan, Junior Xuan," ucap Lu Feng seraya merogoh bagian dalam jubahnya.

​Ia menarik keluar sebuah botol porselen kecil, menuangkan satu butir pil berwarna cokelat tua ke telapak tangannya, lalu melemparkan botol itu ke arah Xuan Chen.

​"Pil Pemulih Fisik. Ini dapat membantu menyegarkan kembali daya tahan tubuhmu yang terkuras," tambah Lu Feng.

​Xuan Chen menangkap botol porselen itu di udara. Ia tidak langsung menelannya, melainkan mengendusnya sekilas dengan indra penciumannya yang tajam. Setelah memastikan tidak ada racun atau campuran tersembunyi, Xuan Chen menelan satu butir pil tersebut.

​Sensasi hangat perlahan merayap dari ulu hatinya, menyebar ke sepanjang meridian dan serat ototnya yang tegang.

​"Terima kasih," ucap Xuan Chen pendek. "Sepertinya kita sudah tertahan cukup lama di tempat ini."

​Tanpa membuang waktu lebih banyak, keduanya melompat ringan menaiki dahan-dahan pohon raksasa, melaju menembus kabut tebal Hutan Bayangan dengan kecepatan penuh.

​Setelah menempuh perjalanan cukup jauh melintasi area tengah hutan yang semakin pekat, vegetasi pepohonan purba perlahan mulai menipis. Medan tanah yang tadinya datar berubah menjadi hamparan tebing batu terjal yang mendadak terbelah tajam ke bawah.

​Xuan Chen dan Lu Feng menghentikan langkah mereka di balik celah bebatuan raksasa yang tertutup semak belukar.

​Di hadapan mereka terhampar sebuah ngarai luas berkedalaman puluhan meter. Tebing-tebing batu hitam di sekeliling ngarai memantulkan gema suara dentangan keras yang memecah keheningan rimba.

​Brak! BOOM!

​Deru pukulan berbobot ribuan kati bercampur dengan suara gemertak tulang beradu memekakkan telinga.

​Dari balik celah batu tempat mereka bersembunyi, Xuan Chen dan Lu Feng melihat pertarungan sengit yang sedang berlangsung di dasar ngarai.

​Dua kelompok murid luar—berjumlah tak kurang dari belasan orang berpakaian jubah hitam polos—sedang terlibat dalam pembantaian berdarah.

​Tanah ngarai telah diwarnai merah oleh genangan darah. Beberapa mayat murid luar yang lehernya patah atau dadanya hancur tergeletak tak bernyawa di antara bongkahan batu.

​Di pusat benturan tersebut, berdiri dua figur dominan yang memimpin masing-masing kelompok.

​Setiap gerak-gerik kedua pemimpin itu memancarkan daya hancur fisik yang sangat masif. Hantaman tinju mereka sanggup meretakkan dinding ngarai dan menerbangkan bongkahan batu besar ke udara.

​Aura tekanan fisik yang menguar dari tubuh kedua orang itu jauh melampaui Zhao Huo maupun Han Xiu.

​Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak!

​"Mereka bertarung memperebutkan token," bisik Xuan Chen pelan, pandangannya terkunci pada sebuah ukiran batu di tengah ngarai yang memancarkan pendaran cahaya merah samar.

​Lu Feng menyipitkan matanya, mengamati sosok pria bertubuh tinggi besar dengan otot-otot dada bertato tengkorak yang sedang memukul mundur musuh-musuhnya dengan tangan kosong.

​"Apa kau mengenalnya?" tanya Xuan Chen tanpa menoleh.

​Lu Feng menarik napas dalam-dalam, raut wajahnya berubah sangat cemas.

​"Pria bertubuh kekar itu bernama Xiong Wei," pimpin Lu Feng berbisik. "Dia adalah salah satu murid senior tertua di zona luar yang memiliki fisik paling tebal. Dia sengaja menahan pemicuan Dantiannya selama bertahun-tahun di Lapisan Lima Puncak hanya demi kesempatan memasuki Alam Rahasia ini. Dia tinggal selangkah lagi memakai jubah bersulam garis merah milik murid dalam."

​Lu Feng melirik ke arah lawan Xiong Wei—seorang pria kurus bermata satu dengan bekas luka bakar di wajahnya yang memegang sepasang belati hitam beracun.

​"Lawan bertarungnya adalah Yan Ge, praktisi Lapisan Lima Puncak dari kelompok utara. Keduanya adalah pembantai yang sangat ditakuti di lembah luar," lanjut Lu Feng dengan nada penuh keprihatinan.

​Lu Feng menggelengkan kepalanya perlahan, memundurkan tubuhnya setengah tapak dari tepi tebing batu.

​"Kita tidak bisa berurusan dengan mereka untuk saat ini, Junior Xuan," tegas Lu Feng. "Perbedaan ranah antara Lapisan Tiga atau Empat dengan Lapisan Lima Puncak terlalu jauh. Bahkan jika kita berdua menggabungkan kekuatan, berada di jangkauan pukulan mereka sama saja dengan menyerahkan leher."

​Namun, Xuan Chen tetap berdiri bergeming di tempatnya.

​Ketenangannya bagaikan air di telaga es. Matanya yang dingin menyapu pemandangan pembantaian di dasar ngarai tanpa sedikit pun keraguan.

​"Memang konyol jika kita menerjang masuk ke tengah pertarungan mereka secara langsung," ucap Xuan Chen pelan.

​"Lalu apa rencanamu?" tanya Lu Feng heran.

​Xuan Chen tidak menjawab dengan kata-kata.

​Di dalam dadanya, ia menghitung dengan cermat stamina fisiknya yang baru saja pulih sebagian berkat pil pemulih. Ia tahu bahwa ia tidak boleh mengaktifkan Mata Misterius dalam durasi lama seperti saat melawan Han Xiu tadi.

​Namun, untuk sekadar memindai lokasi dan mencari celah... satu kejapan sudah lebih dari cukup.

​Xuan Chen memejamkan matanya rapat-rapat selama satu tarikan napas.

​Saat matanya kembali terbuka—

​Sret!

​Untuk durasi mikro detik yang sangat singkat, pupil matanya berkedip memancarkan kilatan bening keabu-abuan!

​Pandangan Xuan Chen seketika menembus ilusi pendaran cahaya merah yang berserakan di dasar ngarai. Warna-warna alam di mata Xuan Chen meredup, menyisakan untaian benang-benang energi di sekeliling tempat itu.

​Dalam intipan singkat tersebut, Xuan Chen tidak melihat Token Darah di atas ukiran batu di tengah medan perang!

​Benda memikat yang sedang diperebutkan belasan murid hingga berdarah-darah itu hanyalah sepotong batu biasa yang diolesi oleh pendaran racun menyala untuk memancing perhatian lawan!

​Mata Misterius Xuan Chen menelusuri alur getaran energi sejati, menembus tumpukan bongkahan batu rubuh di sudut ngarai yang tertutup oleh bayangan tebing terjal.

​Di sana—tersembunyi rapat di bawah sisa pecahan batu raksasa—sebuah benda kecil bercorak tengkorak memancarkan pendaran esensi darah yang sangat murni dan padat.

​Token Darah yang asli... berada di sana!

​Penglihatan misterius itu langsung dimatikan oleh Xuan Chen sebelum menguras staminanya lebih jauh. Matanya kembali normal seketika.

​Xuan Chen membuang napas pelan melalui hidungnya. Sebuah seringai dingin yang sulit ditangkap terukir sangat tipis di sudut bibirnya.

​"Apa yang kau lihat, Junior?" bisik Lu Feng yang menyadari perubahan singkat pada tubuh Xuan Chen.

​Xuan Chen memiringkan kepalanya sedikit, menatap pertarungan brutal Xiong Wei dan Yan Ge yang semakin memanas di dasar ngarai.

​"Mereka bertarung hingga mati demi sebuah umpan kosong," jawab Xuan Chen datar.

​Lu Feng membelalakkan matanya terperanjat. "Umpan kosong?!"

​"Token yang sebenarnya tidak ada di tengah lapangan itu," bisik Xuan Chen seraya menunjuk ke arah celah batu di sudut bawah ngarai dengan sudut matanya.

​"Token itu berada di sudut terlindung di bawah runtuhan batu. Kedua kelompok itu saling membantai tanpa menyadari bahwa barang berharga yang mereka cari berada tepat di samping mereka."

​Lu Feng menatap arah yang ditunjuk Xuan Chen, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Xuan Chen dengan rasa takjub yang campur aduk. Bagaimana bisa pemuda di sebelahnya mengetahui keberadaan token asli yang tersembunyi rapat hanya dengan sekali pandang dari jarak seratus tapak?

​Namun, Lu Feng menahan rasa penasarannya. Di dunia kultivasi demonic, mempertanyakan rahasia kartu truf kawan aliansi adalah tindakan bodoh yang memicu permusuhan.

​"Jadi... apa langkah kita sekarang?" tanya Lu Feng, matanya mulai berkilat oleh keserakahan yang tertahan.

​Xuan Chen menarik tubuhnya kembali ke balik kegelapan celah bebatuan, memasang kuda-kuda rendah dengan napas yang amat teratur.

​"Kita tunggu sampai kedua serigala itu saling merobek leher satu sama lain," ucap Xuan Chen dingin.

​"Begitu stamina mereka habis dan kekacauan mencapai puncaknya... kita masuk dan mengambil token itu."

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!