Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Panggilan parau itu bergetar di udara dingin paviliun barat, merayap menembus kesunyian sore dan menghantam dada Andira hingga wanita itu lupa cara bernapas.
"An... di... ra..."
Jemari kering Ibu Rosa yang kaku kini mencengkeram kain baju Andira dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari kegelapan panjang. Matanya yang sayu bergetar perlahan, meraba cahaya neon redup sebelum akhirnya terkunci sepenuhnya pada wajah Andira yang berada tepat di atasnya.
"Ibu..." Andira jatuh berlutut di samping ranjang. Kedua tangannya menggenggam jemari keriput yang gemetar itu, menempelkannya pada pipinya yang basah oleh air mata yang merebak cepat. "Ibu, ini Andira... Andira ada di sini, Bu."
Alvan mematung di sisi ranjang. Dadanya bergemuruh luar biasa saat menyaksikan keajaiban medis yang baru saja terjadi. Kini, kelopak mata itu terbuka lebar, memancarkan kesadaran murni yang jernih.
"Ibu," panggil Alvan dengan suara yang retak oleh keharuan, melangkah maju dan memegang jemari ibunya yang lain. "Ibu bisa mendengar suara Alvan?"
Ibu Rosa memalingkan pandangannya perlahan ke arah Alvan. Titik-titik air mata merembes keluar dari sudut matanya yang berkerut, mengalir menyusuri pelipisnya menuju bantal putih. Suara napasnya masih dibantu oleh kateter oksigen tipis di hidungnya, namun tatapannya tak lagi kabur.
"Alvan..." bisik Ibu Rosa, suaranya parau dan terputus-putus. "...maafkan Ibu..."
"Tidak, Bu. Ibu tidak salah apa-apa," potong Alvan cepat, menahan tangisnya yang membuncah di tenggorokan. "Ibu jangan memaksakan diri dulu. Alvan panggilkan dokter..."
"Jangan..." jemari Ibu Rosa mengetat pada kain baju Andira, menahan pergerakan anak sulungnya. "Ibu harus... bicara sekarang... Sebelum... sebelum ingatan ini hilang..."
Andira menggeleng pelan dengan senyum penuh kelembutan. "Ibu, istirahatlah dulu. Kami ada di sini, kami tidak akan ke mana-mana."
"Tidak, Andira..." Ibu Rosa menelan ludah yang terasa pahit, menyapu nafasnya yang tersendat. "Malam itu... malam 14 November... Ibu ada di sana..."
DEGGGG!
Alvan dan Andira saling bertukar tatap. Udara di ruangan paviliun mendadak menyusut drastis, berganti menjadi ketegangan yang amat pekat.
"Malam itu..." suara Ibu Rosa bergema pelan namun memukul dinding-dinding paviliun bagaikan dentang lonceng gereja di tengah malam. "Ibu menyusul Roy ke mansion peristirahatan karena Roy mengabarkan... ada dokumen keuangan rahasia perusahaan yang bocor..."
Ibu Rosa memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan memori mengerikan sembilan bulan lalu yang sempat terkunci racun dan trauma kini terurai kembali dengan sangat jelas.
"Saat Ibu sampai di luar pintu ruang kerja sayap timur..." lanjut Ibu Rosa, napasnya memburu halus, "Ibu mendengar suara bentakan keras. Pintu ruangan itu sedikit terbuka... Ibu melihat Roy sedang bertengkar hebat dengan Elena... bukan dengan Andira."
Alvan mengepalkan tangannya di tepi ranjang. "Elena, Bu?"
"Ya..." air mata Ibu Rosa mengalir makin deras. "Elena menuntut Roy menyerahkan surat kuasa atas aset penampungan Samudra Group. Dia memeras Roy... mengancam akan menghancurkan nama baik keluarga kita jika Roy tidak menurut. Tapi Roy menolak keras. Roy bilang... dia sudah mengumpulkan bukti transaksi palsu Elena dan akan menyerahkannya padamu, Alvan..."
Andira menahan napasnya, meresapi setiap kepingan kebenaran yang kini menyatu sempurna dengan isi buku harian Roy dan kesaksian Tatang sang satpam.
"Roy meraih ponselnya untuk meneleponmu..." bisik Ibu Rosa dengan dada yang naik turun hebat. "Tapi Elena... wanita iblis itu panik. Dia mendorong Roy dengan sangat keras ke arah sudut meja kerja yang tajam. Kepala Roy terbentur keras dan bahkan Elena memukul kepala Roy dari belakang menggunakan patung hingga jatuh pingsan bersimbah darah! Ibu yang melihat itu langsung menjerit dan mencoba masuk... tapi Elena berbalik, mendorong Ibu hingga kepala Ibu menghantam dinding koridor..."
Ibu Rosa terisak parah, tubuh ringkihnya terguncang oleh rasa trauma yang dahsyat. "Sebelum pandangan Ibu gelap dan kehilangan kesadaran... Ibu melihat Elena mengambil tas dokumennya, lalu melarikan diri lewat pintu belakang... Tepat saat itu... Ibu mendengar langkah kaki Andira yang baru saja tiba..."
Segalanya kini gamblang tanpa cela. Elena mendorong Roy hingga terluka parah, memukulnya, mencederai Ibu Rosa yang menyaksikan kejahatannya, lalu melarikan diri dan membiarkan Andira yang baru datang masuk ke dalam jebakan mematikan tersebut!
Ibu Rosa perlahan memiringkan tubuhnya dengan sisa tenaganya, menatap Andira yang berlutut di sampingnya. Tangisan sang ibu mertua pecah sepenuhnya, bukan lagi tangisan trauma, melainkan tangisan penyesalan yang teramat dalam dan menghancurkan martabat keangkuhannya di masa lalu.
"Andira... menantuku..." teriak Ibu Rosa lirih, suaranya pecah di tengah isak tangis yang memilukan. "Ampuni Ibu... Ampuni ibu yang jahat ini! Selama sembilan bulan Ibu membencimu... Ibu membiarkan Alvan mengurungmu... membiarkan publik mencaci-makimu sebagai pembunuh... padahal kamu tidak bersalah! Kamu wanita suci yang dikorbankan oleh kami!"
Tangan keriput Ibu Rosa meraih wajah Andira, mengusap pipi Andira dengan jemarinya yang gemetar hebat.
"Ibu yang berdosa, Andira... Ibu yang buta karena duka hingga membiarkan iblis berwajah manis itu menguasai rumah ini... Itu semua karena Elena mengancam Ibu untuk merahasiakan semuanya, jika tidak... Dia juga akan membunuh Ibu malam itu juga. Maafkan Ibu... Tolong maafkan Ibu..."
Kebekuan hati sang ibu mertua, tembok batu keangkuhan dinasti Samudra yang selama sembilan bulan menghimpit hidup Andira dalam penderitaan tak bertepi, kini luluh sepenuhnya, mencair menjadi genangan air mata penyesalan murni.
Andira tidak menahan tangisnya lagi. Ia menyandarkan dahinya di atas telapak tangan Ibu Rosa yang memegang pipinya, meresapi rasa hangat pengampunan yang membasuh seluruh bekas luka di jiwanya.
"Andira sudah memaafkan Ibu..." bisik Andira tulus, suaranya bergetar di balik isakannya. "Andira tidak pernah membenci Ibu... Andira hanya ingin kebenaran ini terungkap."
Alvan menundukkan kepalanya dalam-dalam di sisi ranjang. Kedua bahu pria tegap itu berguncang keras. Air mata penyesalan seorang suami dan seorang anak menetes membasahi sprei. Pria yang dulu dijuluki sang algojo dingin tanpa belas kasihan itu kini luluh dalam keagungan pengampunan wanita yang telah disiksanya.
~
Sementara kehangatan dan keadilan mulai bersemi di paviliun rahasia, di tempat lain, bayangan kejahatan justru sedang merajut serangan balasan yang licik.
Gedung Samudra Tower, pusat kekuasaan finansial terbesar di ibu kota.
Di dalam ruang rapat utama di lantai paling atas, sembilan anggota Dewan Komisaris Samudra Group, pria-pria tua berjas mahal dengan kekuasaan melimpah, duduk memutar di meja oval berlapis kayu mahoni. Udara di ruangan itu terasa tegang dan sarat akan intrik politik.
Di ujung meja, berdiri Elena.
Wanita itu tidak lagi mengenakan gaun malam. Ia tampil sangat anggun dan dominan dalam balutan kemeja sutra putih dan setelan blazer hitam tajam.
Meskipun gagal dalam aksi sabotase infusnya di ICU dan telah dilarang mendekati rumah sakit oleh Alvan, Elena memanfaatkan sisa-sisa koneksi dan otoritasnya sebagai calon tunangan resmi Alvan untuk melancarkan kudeta kekuasaan.
"Bapak-bapak Dewan Komisaris yang saya hormati," suara Elena mengalun tegas, memancarkan wibawa palsu yang memukau.
Di layar proyektor besar di belakangnya, terpampang grafik penurunan saham sementara dan beberapa artikel berita manipulatif.
"Kita semua tahu bahwasanya dalam tiga hari terakhir, kinerja Alvan Samudra sebagai CEO telah merosot drastis," lanjut Elena seraya melangkah anggun mengelilingi meja. "Dia tidak menghadiri dua rapat akuisisi penting, membatalkan kontrak investasi asing, dan yang paling parah... dia membawa kembali Andira, wanita tersangka utama pembunuhan almarhum Roy, ke dalam mansion utama!"
Gumam kekagetannya dan bisik-bisik ketidaksetujuan langsung merayapi para anggota komisaris.
"Alvan telah kehilangan akal sehatnya!" tegur Pak Gunawan, komisaris senior berkumis tebal. "Bagaimana mungkin seorang CEO Samudra Group memelihara pembunuh adiknya sendiri di rumahnya?!"
Elena tersenyum miring di balik wajah cantiknya yang berhias keprihatinan palsu. "Tepat sekali, Pak Gunawan. Alvan terlalu lemah secara emosional. Dia telah dimanipulasi secara psikologis oleh Andira. Jika posisi Alvan sebagai CEO tidak dibekukan hari ini juga melalui Vote of No Confidence (Pemungutan Suara Ketidakpercayaan), maka citra dan harga saham Samudra Group akan hancur lebur di mata pasar global."
Elena membentangkan berkas petisi pembekuan jabatan di meja.
"Saya, sebagai calon menantu resmi keluarga Samudra dan pemegang lima belas persen saham hibah almarhum Roy, mengusulkan agar posisi CEO Alvan dibekukan sementara mulai siang ini, dan kepemimpinan transisi dialihkan kepada dewan manajerial independen yang saya tunjuk," tegas Elena dengan mata berkilat penuh nafsu kekuasaan.
Ia tahu bahwa begitu posisi Alvan dibekukan dan hak akses finansialnya dikunci, Alvan tidak akan memiliki kekuatan hukum atau dana untuk melanjutkan penyelidikan independen Detektif Hendra. Ini adalah satu-satunya jalan bagi Elena untuk menyelamatkan diri dan merebut seluruh kekayaan dinasti Samudra!
Pak Gunawan mengangkat penanya. "Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan Alvan menghancurkan perusahaan ini hanya karena terpesona oleh wanita penjahat itu. Mari kita lakukan pemungutan suara!"
Satu per satu anggota komisaris mulai meraihan pena mereka, bersiap menandatangani lembar persetujuan kudeta tersebut.
Elena menahan napasnya, dadanya bergolak oleh kepuasan kemenangan yang sudah di depan mata. 'Kamu kalah, Alvan. Kamu dan Andira akan membusuk di jalanan !'
"Siapa yang mengizinkan pemungutan suara ini dilakukan tanpa kehadiran pemegang saham mayoritas?"
BRAAAAKKK!
Pintu ganda berlapis kayu jati berukir ruang rapat utama terdorong terbuka lebar dengan dentuman keras yang memekakkan telinga.
Seluruh dewan komisaris tersentak kaget. Pena di tangan Pak Gunawan terlepas dan jatuh ke meja.
Elena membelalakkan matanya, langkah kakinya membeku di lantai.
Di ambang pintu, berdiri Alvan Samudra.
Pria itu tampil luar biasa mengintimidasi dalam balutan setelan jas tiga lapis berwarna hitam pekat. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan matanya memancarkan aura dingin yang begitu mematikan hingga membuat seluruh ruangan terasa seperti lemari pembeku.
Tidak ada lagi raut duka atau ketidakpastian, yang berdiri di sana adalah sang penguasa tunggal dinasti Samudra yang telah bangkit sepenuhnya.
Namun Alvan tidak datang sendirian.
Di samping kirinya, melangkah masuk Detektif Hendra dengan mantel kulit cokelatnya, membawa sebuah koper besi berisikan dokumen-dokumen tebal.
Di samping kanannya, Bima berdiri bersama dua orang perwakilan dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi yang mengenakan seragam resmi, disusul oleh empat orang polisi bersenjata lengkap!
"Al-Alvan...?" bisik Elena, suaranya mendadak mencicit. Warna merah di bibirnya tak mampu menutupi wajahnya yang seketika berubah pucat pasih bagaikan mayat.
Alvan melangkah masuk dengan santai namun pasti. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai kayu terdengar bagaikan hitung mundur menuju eksekusi mati bagi Elena.
"Melanjutkan rapat tanpa saya, Elena?" tanya Alvan dengan suara rendah yang menggelegar tenang di seluruh penjuru ruang rapat.
"Alvan! Apa-apaan ini?!" bentak Pak Gunawan berdiri kaget. "Kenapa kamu membawa kepolisian dan jaksa ke ruang rapat komisaris resmi?!"
Alvan tidak menjawab Pak Gunawan. Matanya terkunci rapat pada wajah Elena yang mulai gemetar hebat.
Alvan memberi isyarat pelan dengan jemari tangannya. Detektif Hendra melangkah maju, meletakkan koper besinya di atas meja oval tepat di hadapan Elena, lalu membukanya lebar-lebar.
"Atas perintah Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Tinggi," Detektif Hendra bersuara lantang, menggema di hadapan seluruh dewan komisaris, "seluruh rekening bank perbankan, aset properti, dan saham milik Nona Elena secara resmi DISEGEL DAN DISITA OLEH NEGARA mulai detik ini!"
BOMMM!
Pernyataan itu menghantam ruang rapat bagaikan ledakan bom. Para komisaris saling berpandangan dalam kepanikan luar biasa.
"Apa?! Penyegelan aset?!" jerit Elena histeris, melangkah mundur hingga menabrak proyektor. "Atas dasar apa kalian menyita asetku?! Alvan, kamu sudah gila?! Ini pencemaran nama baik!"
Alvan mengambil satu lembar kertas berstempel basah kejaksaan dari koper tersebut, lalu melemparkannya tepat ke dada Elena.
"Atas dasar tuduhan pencucian uang perusahaan cangkang, pemalsuan dokumen transaksi atas nama Andira, upaya pembunuhan berencana pada Ibu Rosa di ICU..." Alvan memajukan wajahnya ke arah Elena, membisikkan kata-kata terakhirnya yang membuat seluruh dunia Elena runtuh seketika. "...dan pembunuhan tingkat pertama atas adikku, Roy Samudra."
Elena lemas seketika. Lututnya gemetar hebat hingga ia terhempas jatuh terduduk di lantai ruang rapat yang dingin, sementara petugas kepolisian mulai melangkah maju mendekatinya dengan borgol baja yang berkilat di bawah lampu kristal!
...----------------...
To Be Continue ....