NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Yang Salah

Isak tangis yang tertahan di balik lipatan tangan Auren perlahan mereda, menyisakan bahu yang sesekali masih berguncang kecil. Di samping mejanya, Evan masih berdiri mematung bak patung bernyawa. Wajah cowok itu pias, kehilangan seluruh keangkuhannya yang beberapa menit lalu sempat meledak di koridor.

"Auren, tolong... seenggaknya lihat aku sebentar. Aku benar-benar minta maaf," bisik Evan lagi untuk yang kesekian kalinya. Suaranya serak, sarat akan keputusasaan.

Namun, Auren tetap bergeming. Baginya, gema bentakan Evan tadi masih terngiang jelas, merobek rasa aman yang selama ini selalu ia rasakan setiap kali berada di dekat cowok itu. Auren memilih menutup mata dan telinganya rapat-rapat, menganggap kehadiran Evan di sisinya tidak lebih dari embusan angin lalu.

Melihat keras kepalanya Auren, rasa frustrasi kembali merayap di dada Evan. Tepat saat ia hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh pundak Auren sekali lagi, sebuah bayangan tinggi mendadak memotong jarak di antara mereka.

Itu Fathur.

Fathur berdiri tepat di depan meja Auren, memunggungi Evan seolah menganggap keberadaan Evan di sana adalah sebuah gangguan. Di tangannya, Fathur memegang satu kotak susu cokelat dingin dan sebungkus tisu kecil.

"Ren," panggil Fathur dengan suara baritonnya yang tenang, sangat kontras dengan atmosfer tegang di kelas itu. "Ini. Minum dulu. Muka kamu pucat banget."

Mendengar suara yang bukan milik Evan, Auren perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembap dan hidungnya yang memerah langsung terlihat jelas. Tanpa melirik Evan sama sekali, Auren menatap Fathur, lalu menerima kotak susu itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Makasih, Thur," bisik Auren lirih. Suaranya parau, namun terdengar begitu manis di telinga Fathur dan begitu menyakitkan di telinga Evan.

Rahang Evan mengeras seketika. Kedua tangannya yang menggantung di sisi tubuh mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah Fathur, seolah ingin menguliti cowok itu hidup-hidup. Bagaimana bisa ada cowok lain yang mengambil perannya untuk menenangkan Auren? Dan yang lebih menyakitkan, Auren menerima kehadiran cowok itu dengan mudah, sementara dirinya diabaikan habis-habisan.

"Fathur," desis Evan, melangkah satu kali ke depan hingga jaraknya dengan Fathur hanya tersisa beberapa senti. Aura intimidasi langsung menguar dari tubuh Evan. "Gak usah ikut campur. Ini urusan Gue sama Auren."

Fathur tidak mundur setapak pun. Ia berbalik perlahan, menatap Evan dengan pandangan datar tanpa rasa takut sedikit pun. "Gua gak berniat ikut campur urusan kalian," ucap Fathur tenang namun tegas. "Tapi lu gak lihat dia lagi nangis? Dan penyebabnya itu lu. Kalau lu emang peduli, mending lu kasih dia waktu buat tenang, bukan malah terus-terusan disudutkan kayak gini."

"Gua bilang, keluar dari sini!" Nada suara Evan kembali meninggi, memicu perhatian dari beberapa teman sekelas yang masih berada di dalam ruangan. Cemburu yang membakar logikanya membuat Evan tidak tahan melihat interaksi sekecil apa pun antara Auren dan Fathur.

"Evan, cukup!!"

Suara serak Auren tiba-tiba memotong perdebatan ego kedua cowok itu. Auren berdiri dari bangkunya, menatap Evan dengan pandangan yang tidak lagi hanya berisi kesedihan, melainkan kekecewaan yang teramat dalam.

"Kamu bisa pergi gak? Aku mau belajar sama Fathur. Tolong jangan bikin keributan lagi di sini," ujar Auren dengan penekanan di setiap kalimatnya.

Kalimat itu bagaikan hantaman gada tak kasat mata yang tepat mengenai dada Evan. Belajar sama Fathur. Jangan bikin keributan. Kata-kata Auren dengan jelas menunjukkan posisi di mana Evan berada sekarang seorang pengganggu.

"Kamu lebih milih dia daripada aku, Ren?" tanya Evan dengan suara yang mendadak melemah, matanya menatap Auren dengan binar terluka yang amat nyata.

Auren tidak menjawab. Ia kembali duduk dan membuka buku matematikanya, lalu mendongak menatap Fathur. "Thur, bagian rumus yang ini tadi maksudnya gimana ya? Bisa tolong jelasin ulang?"

Fathur mengangguk pelan, lalu menarik kursi di sebelah Auren kursi yang seharusnya tidak boleh diduduki oleh cowok mana pun selain Evan dan duduk di sana. Fathur mulai menjelaskan angka-angka di buku, sementara Auren mendengarkan dengan serius, benar-benar menganggap Evan seolah telah lenyap dari ruangan itu.

Evan berdiri mematung di tempatnya. Menyaksikan pemandangan di depannya, hatinya terasa seperti diremas hingga hancur berkeping-keping. Rasa cemburu yang tadinya berupa amarah kini berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Takut jika posisi yang selama ini ia miliki di hati Auren, perlahan-lahan mulai digantikan oleh orang lain.

Dengan langkah gontai dan dada yang terasa sesak oleh api cemburu yang tak kunjung padam, Evan akhirnya berbalik dan berjalan keluar kelas. Namun dalam hatinya, ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan Fathur mengambil Auren-nya begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!