Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sesampainya di kamar kos setelah pertemuan di minimarket itu, Sarah langsung meletakkan kantong belanjaannya begitu saja di atas lantai semen. Ia bahkan tidak berniat untuk merapikan isinya ke dalam lemari kecil. Wanita itu berjalan lunglai menuju kasur, lalu menjatuhkan tubuhnya secara telentang. Matanya menatap lurus ke langit-langit plafon yang mulai temaram karena cahaya senja dari celah jendela.
Seketika itu juga, topeng ketenangan yang ia pakai di depan Ardhana runtuh tanpa sisa. Dada Sarah terasa bergemuruh hebat, dipenuhi pergolakan batin yang sangat melelahkan.
“Kenapa aku harus pura-pura sekaku itu tadi?” bisiknya pada kesunyian kamar.
Tangan kanannya bergerak menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih berpacu tidak beraturan. Sarah tahu ia berbohong besar pada Ardhana, pada Tini, dan yang paling parah, pada dirinya sendiri. Kalimat santai yang terasa tenang yang diucapkan di lorong minyak goreng tadi sebenarnya hanyalah benteng pertahanan terakhir agar harga dirinya tidak kembali hancur. Ia takut jika ia menunjukkan sedikit saja celah kelunakan, Ardhana akan menganggapnya murahan dan mudah didapatkan kembali. Namun di sisi lain, pengakuan jujur Ardhana lewat pesan panjang malam itu terus terngiang-ngiang, menjelaskan bahwa pria itu juga merupakan korban dari rantai hutang budi keluarganya. Ada rasa iba dan pemahaman yang mulai tumbuh di hati Sarah, namun ego dan sisa-sisa trauma masa lalu masih terlalu kokoh untuk diruntuhkan.
Pergolakan batin itu terus membayangi hari-hari Sarah berikutnya. Anehnya, setelah pertemuan di minimarket tersebut, keadaan justru berubah total ke arah yang sama sekali tidak diduga oleh Sarah.
Ardhana benar-benar berhenti mendatanginya.
Biasanya, setiap kali bel pulang sekolah berbunyi nyaring, Sarah akan diliputi rasa waswas sekaligus debaran aneh di dada karena menduga sosok tegap berpakaian kasual atau berseragam polisi akan berdiri di samping motor kopling merahnya di depan pagar sekolah. Namun, hari Senin berlalu dengan sepi. Hari Selasa, gerbang sekolah bersih dari kehadiran pria itu. Hingga hari Jumat tiba, batang hidung Ardhana sama sekali tidak pernah terlihat lagi di area sekolah. Pria itu seolah sengaja menuruti kalimat Sarah di minimarket untuk menganggap masa lalu mereka selesai dan membatasi interaksi sebatas rekan kerja profesional.
Sialnya, ketidakhadiran Ardhana justru memicu bom waktu baru di dalam diri Sarah. Setiap kali ia melajukan motor maticnya melewati gerbang sekolah tanpa ada yang mencegatnya, Sarah justru merasa ada ruang kosong yang mendadak hilang dari rutinitasnya. Ia yang awalnya mengira akan merasa sangat lega karena bebas dari gangguan pria berondong itu, kini malah sering melamun di meja piket guru, dan berulang kali melirik ke arah luar gerbang dengan perasaan kecewa yang samar. Rasa kehilangan itu merayap perlahan, lalu menggerogoti ketenangannya yang palsu.
“Kenapa aku jadi seperti ini sih,” gerutunya.
Puncaknya terjadi pada suatu Sabtu sore yang mendung. Udara yang gerah dan tumpukan beban pikiran yang menggantung membuat Sarah merasa sangat jenuh di dalam kamar kosnya. Ia merasa butuh mengalirkan udara segar ke otaknya yang mulai penat. Tanpa berpikir panjang, Sarah menyambar kunci motor maticnya di atas meja belajar. Karena terburu-buru dan pikirannya yang sedang melayang entah ke mana, ia mengabaikan benda bulat berwarna hitam yang biasanya menggantung di stang motornya.
Sarah tidak akan pernah menyangka, jika benda yang dilupakannya ini akan membawanya ke sebuah drama yang entah harus disyukuri atau mengutuknya.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor