NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat

Hujan deras mengguyur Kota Semarang sejak sore tadi, membasahi aspal jalanan yang mulai lengket, serta mengaburkan cahaya lampu kota yang berkedip-kedip di balik tirai air tebal. Angin malam yang berhembus dari arah pantai membawa aroma tanah basah yang tajam, bercampur dengan bau asap kendaraan yang tertahan di jalanan.

Di sudut ruang arsip kantor hukum tua di kawasan Simpang Lima, Nayara Adiswara masih sibuk merapikan tumpukan berkas yang sepertinya tak ada habisnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya dia dan penjaga gedung yang tersisa di sana.

"Terlalu banyak pekerjaan, Ra?" tanya Pak Joko saat lewat di depan pintu, sambil membetulkan posisi sarungnya.

"Harus selesai malam ini, Pak. Besarannya harus diserahkan besok pagi," jawab Nayara sambil tersenyum tipis, meski matanya terasa berat. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu baru lulus dan bekerja sebagai staf administrasi. Ia tak ingin mengecewakan atasannya, meski berarti harus pulang saat malam semakin larut.

Setelah menutup laci terakhir, Nayara meraih tas kerjanya, mematikan lampu, dan melangkah keluar. Hujan belum juga reda. Ia berdiri di bawah atap kanopi sejenak, menunggu mereda sedikit. Namun sepertinya hujan justru makin ganas. Dengan berat hati, ia melangkahkan kaki menerobos rintik air, berharap bisa segera mendapatkan taksi atau ojek daring.

Jalanan sepi. Biasanya masih ramai, tapi hujan malam ini seolah menyuruh semua orang tetap di dalam rumah. Nayara berjalan menyusuri trotoar yang licin, merapatkan jaket ke tubuhnya yang kurus. Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah gang kecil yang biasanya ia lewati untuk mempersingkat jalan pulang. Biasanya ia tak berani lewat sana malam-malam begini, tapi cuaca yang buruk membuatnya nekat.

"Paling cepat lima menit sudah sampai," gumamnya pelan, meyakinkan diri sendiri.

Gang itu remang-remang, hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip. Di ujung sana, terdapat sebuah bangunan tua yang sudah lama kosong. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Suara langkah kaki berat terdengar, diikuti suara bentakan rendah yang penuh ancaman.

Nayara mematung. Ia bersembunyi di balik tiang beton tua, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan mendorongnya mengintip sedikit.

Di sana, di bawah sorot lampu yang redup, berdiri sekelompok pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam. Di tengah mereka, seorang pria dengan jas hitam yang pas di badan berdiri tegak. Posturnya menjulang, memancarkan aura yang begitu mendominasi, dingin, dan menakutkan. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi Nayara bisa melihat rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam seperti elang yang mengincar mangsa.

Itu adalah Arya Satria. Nama yang sering ia dengar berbisik-bisik di telinga orang-orang Semarang. Pemimpin organisasi bayangan yang konon memegang kendali atas sebagian besar bisnis gelap kota ini. Sosok yang tak pernah tersentuh hukum, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri.

"Kau pikir kau bisa lari begitu saja dari kami?" suara Arya terdengar rendah namun bergetar, penuh amarah yang tertahan. Ia menatap pria yang sudah terjatuh di hadapannya, wajah pria itu penuh darah dan ketakutan.

"Saya... saya minta maaf, Tuan Satria... saya hanya..." pria itu tergagap, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Kau melanggar aturan. Kau mencuri dari kami. Dan kau tahu apa akibatnya?" Arya mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya begitu tenang, namun justru itulah yang membuatnya semakin mengerikan. Tanpa teriakan, tanpa amukan, ia melambaikan tangan singkat.

Salah satu anak buahnya maju dan—

Duar!

Suara letusan peluru tertahan terdengar memecah keheningan malam. Darah memercik ke tanah yang basah.

Nayara menutup mulutnya dengan kedua tangan sekuat tenaga agar tak mengeluarkan suara. Matanya membelalak lebar, air mata seketika menggenang. Kakinya lemas seketika. Ia baru saja menyaksikan sebuah pembunuhan secara langsung.

Nafasnya tercekat. Ia mencoba mundur perlahan, berniat lari secepat mungkin dari tempat terkutuk itu. Namun, tumit sepatunya tersandung batu kecil.

Krak!

Suara itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam.

Segera saja, semua kepala menoleh ke arahnya. Sepasang mata tajam milik Arya Satria terkunci tepat pada manik mata Nayara. Waktu seolah berhenti berputar. Hujan semakin deras, membasahi tubuh mereka, namun tak ada yang bergerak sedetik pun.

Arya menatapnya lekat, dari ujung kaki hingga wajah pucat gadis itu. Ada kebingungan sesaat, lalu digantikan oleh amarah yang membara namun dingin. Seorang gadis asing telah melihat apa yang seharusnya tak pernah dilihat oleh siapa pun.

"Tangkap dia," perintah Arya singkat, datar, namun mematikan.

Dua orang pria berbadan besar segera berlari mendekat. Nayara sadar ia tak punya kesempatan untuk melawan. Ia berbalik hendak lari, tapi kakinya yang gemetar tak mampu mengimbangi kecepatan mereka. Dalam hitungan detik, tangannya sudah dicengkeram erat. Perlawanannya sia-sia. Ia diseret mendekat ke arah pria yang kini menjadi mimpi buruknya.

Arya melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Nayara. Tingginya menjulang, membuat gadis itu harus mendongak menatapnya. Bau parfum mahal bercampur bau tembakau dan besi berkarat tercium dari dirinya.

"Siapa kau?" tanyanya, suaranya rendah dan menekan.

"Saya... saya hanya lewat..." suara Nayara bergetar hebat, air mata akhirnya menetes membasahi pipi yang basah karena hujan. "Saya tidak melihat apa-apa... saya janji..."

Arya menunduk sedikit, menatap lekat ke dalam mata cokelat Nayara yang bening namun penuh ketakutan. Ia melihat ketulusan di sana, kepolosan yang begitu kontras dengan dunia kelam yang ia tinggali. Namun, tak ada pengecualian bagi siapa pun yang tahu rahasianya.

"Kau sudah melihat cukup banyak," ucap Arya dingin. Ia mengangkat tangan, menyentuh rahang Nayara dengan jari yang kasar namun sentuhannya entah bagaimana terasa sangat lembut, membuat gadis itu bergidik bukan karena takut semata. "Sekarang kau tidak boleh pergi ke mana-mana."

"Tolong... lepaskan saya..." Nayara meronta pelan, namun tatapan Arya seolah mematikan seluruh tenaganya.

"Namaku Arya Satria. Dan mulai detik ini, kau milikku. Sampai aku yakin kau tidak akan membocorkan apa yang kau lihat malam ini," ucapnya tegas. Ia memberi isyarat, dan anak buahnya segera membawa Nayara masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

Nayara dipaksa masuk ke kursi belakang, tepat di sebelah Arya. Pintu tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar. Suara hujan kini terdengar samar. Mobil melaju membelah jalanan kota Semarang yang sepi, menuju ke arah perbukitan tempat kediaman pribadi Arya.

Di dalam mobil yang sunyi itu, Nayara menekuk lututnya, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Di sampingnya duduk pria yang menakutkan, pria yang bisa mengakhiri hidupnya kapan saja. Namun entah mengapa, di tengah ketakutan yang melumpuhkan akal sehatnya, ada rasa aneh yang terselip—sebuah perasaan yang belum ia pahami, bahwa takdirnya kini telah terikat rapat dengan pria bernama Arya Satria.

Dan di balik wajah dingin Arya yang tak menunjukkan emosi apa pun, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Sesuatu yang sudah lama mati, kini kembali berdenyut pelan saat melihat air mata yang jatuh dari mata gadis itu

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!