NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

panggilan ditengah malam

Viona masih terduduk kaku di lantai balkon kamar lantai dua. Tubuhnya bergetar hebat, dan napasnya terasa sesak karena syok yang teramat sangat setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Bima nekat melompat bebas demi pergi meninggalkannya. Dinginnya angin malam menembus kulit, namun rasa dingin di hatinya jauh lebih mematikan. Otak tsundere-nya macet total, tak mampu memproses keputusan instan suaminya yang memilih kabur membawa tas ransel di tengah malam yang buta ini. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban berputar liar di kepalanya, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada.

Di tengah keheningan villa yang mendadak terasa mencekam, tiba-tiba ponsel pintar di genggaman tangan Viona berdering nyaring. Sentakan suara itu memecah kesunyian dan membuat Viona tersentak kaget. Dengan mata yang masih berkaca-kaca akibat air mata yang membendung, dia melihat layar ponselnya. Nama "Nenek" terpampang sangat jelas di sana, berkedip-kedip seolah membawa firasat buruk yang nyata. Jantung Viona berdegup dua kali lebih cepat, firasatnya mengatakan sesuatu yang besar telah terjadi.

Viona menggeser tombol hijau dengan jemari yang gemetar hebat. Dia berusaha meredam isak tangisnya. "N-Nenek..." cicit Viona parau, baru saja hendak membuka suara untuk mengadu dan tumpah kesedihannya.

Namun, belum sempat Viona menjelaskan apa yang terjadi di villa, dari seberang telepon langsung terdengar suara teriakan membahana dari sang nenek yang dipenuhi kemarahan luar biasa. Suara sepuh yang biasanya lembut dan penuh wibawa itu kini bergetar hebat menahan murka yang tak terbendung.

"Viona! Cepat kamu ke sini sekarang juga!" semprot sang nenek tanpa basa-basi.

Klik....

Panggilan telepon itu langsung diputus secara sepihak oleh Nyonya Besar, menyisakan suara dengung kosong yang memekakkan telinga Viona. Genggaman tangannya pada ponsel perlahan melemas. Nada ketegasan mutlak dari sang nenek seketika membuat kesadaran Viona pulih seratus persen. Efek syoknya mendadak sirna, digantikan oleh kepanikan baru yang lebih menghentak. Dia tersadar bahwa Bima pasti tidak sekadar kabur untuk bersembunyi, melainkan telah mendatangi mansion utama untuk membuat perhitungan langsung dengan keluarganya.

Rasa takut, panik, dan bersalah berbaur menjadi satu di dalam dada Viona, menciptakan gemuruh yang menyiksa. Tanpa mempedulikan penampilannya yang masih acak-acakan dan hanya mengenakan pakaian tidur, dia langsung berlari kencang menuruni anak tangga villa yang sepi. Dia menyambar kunci mobil di atas meja dengan tergesa-gesa, lalu melesat keluar menuju halaman depan.

Viona langsung masuk ke balik kemudi, menghidupkan mesin yang menderu memecah malam, dan tancap gas memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. Kendaraannya membelah kesunyian malam yang pekat menuju ke arah mansion neneknya. Di sepanjang jalan yang temaram, pikirannya berkecamuk hebat demi mencari tahu apa yang sebenarnya telah diperbuat oleh Bima dan kekacauan apa yang sedang menantinya di sana.

Viona memacu mobilnya sekencang mungkin hingga menyentuh batas limit kecepatan tertinggi. Ban mobil berdecit keras membelah jalanan malam yang sunyi, dan tak butuh waktu lama, sedan yang dikemudikannya sudah terparkir sembarangan di halaman luas mansion neneknya. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup kencang, Viona berlari menerobos pintu masuk ruang tamu.

Begitu kakinya melangkah masuk, dia langsung disambut oleh tatapan mata Nyonya Besar yang sangat tajam dan dingin. "Viona! Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?!" semprot sang nenek dengan suara yang menggelegar, membuat nyali Viona ciut seketika. "Kenapa Bima sampai nekat kabur dan pergi meninggalkan rumah tengah malam begini?!"

Disemprot dengan amukan telak seperti itu, pertahanan ego tsundere Viona runtuh sepenuhnya. Air matanya mulai mengalir perlahan membasahi pipi. Dengan suara bergetar menahan tangis, Viona pun akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada satu hal pun yang ditutupi—mulai dari keberhasilan proyek kantor berkat kejeniusan Bima, hingga perjanjian bebas yang mereka sepakati di meja makan setelah Bima selesai membuat sketsa bangunan. Viona juga menceritakan bagaimana dia membatalkan rencana perjalanan mereka karena urusan kantor yang mendadak dari sekretarisnya.

Mendengar seluruh penuturan cucunya, Nyonya Besar menghela napas panjang dengan raut wajah yang dipenuhi kekecewaan mendalam.

"Kamu tahu hari ini hari apa, Viona?!"

tanya sang nenek dengan nada suara yang meninggi, menekan emosinya.

Viona seketika tersentak di tempatnya berdiri. Kepalanya mendadak terasa kosong saat ingatan tentang kalender di ponselnya melintas. Dia baru tersadar dan tersadar sepenuhnya bahwa hari ini adalah hari Minggu—hari yang sudah dijanjikan sejak satu minggu lalu sebagai waktu liburnya untuk menepati kata-kata dan satu permintaan bebas kepada Bima. Tekanan pekerjaan di kantor telah sukses membuat otaknya lupa pada komitmen penting bersama suaminya.

"M-maaf, Nenek... aku lupa," cicit Viona dengan tangis yang semakin pecah, meremas gaun tidurnya dengan rasa penyesalan yang amat mendalam.

"Kamu tahu, Viona..." ujar sang nenek dengan suara yang mendadak melunak penuh kesedihan. Beliau berjalan mendekati meja kaca, lalu mengarahkan telunjuknya menunjuk ke arah barisan benda yang diletakkan di sana. "Bima tadi datang kesini dalam keadaan basah oleh keringat. Dia berlutut dan mengembalikan semua yang pernah aku berikan pada kalian berdua. Sertifikat villa, kunci cadangan mobil, hingga kartu hitam itu, semuanya dia kembalikan tanpa menyentuh uangnya sepeser pun!"

Mata Viona melotot sempurna menatap tumpukan harta yang tergeletak di atas meja. Rasa bersalahnya kini berlipat ganda, viona menyangka bahwa draf kertas yang dia tanda tangani tanpa melihat di balkon tadi ternyata adalah draf pelepasan semua fasilitas dan hak Bima untuk pergi dari sisinya.

Nyonya Besar tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk meratapi kebodohan cucunya. Dengan sigap, beliau menyambar tongkat jalannya dan menatap Viona dengan pandangan mutlak yang tidak menerima bantahan.

Ayo kita ke mobil sekarang! Kita susul Bima sekarang juga!" titah sang nenek tegas, memimpin langkah untuk mengejar menantu mereka yang kini sedang berjalan kaki menyusuri kegelapan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!