NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Ulang Tahun Keira

Keira dibangunkan oleh bau bunga.

Awalnya ia mengira Ningsih mengganti pelembut pakaian dengan sesuatu yang terlalu mahal. Lalu ia membuka mata, duduk di ranjang, dan hampir lupa cara bernapas.

Sayap Giok penuh bunga.

Bukan mawar merah yang dramatis. Bukan anggrek mahal yang biasanya dipakai keluarga konglomerat untuk menunjukkan selera. Di setiap sudut kamar, meja kecil, ambang jendela, bahkan lorong menuju ruang duduk, ada rangkaian daisy putih.

Bunga kecil.

Sederhana.

Terlalu sederhana untuk rumah Hendrawan.

Terlalu tepat untuk Keira.

Ningsih muncul dari balik pintu dengan wajah berseri-seri. "Selamat ulang tahun, Mbak!"

Keira menatap bunga-bunga itu.

"Ini... siapa yang memilih?"

Ningsih tersenyum terlalu lebar. "Pak Darren."

Tentu saja.

Keira turun dari ranjang perlahan. Ujung jarinya menyentuh kelopak putih kecil di vas terdekat. Di Panti Harapan, halaman belakang pernah tumbuh beberapa bunga liar mirip daisy. Bukan bunga yang ditanam untuk dipamerkan. Hanya bunga kecil yang keras kepala, tumbuh di sela tanah retak, cukup putih untuk membuat hari yang kotor terasa sedikit lebih bersih.

Ia pernah memetik satu dan menyimpannya di buku bekas.

Tidak ada yang tahu.

Seharusnya tidak ada yang tahu.

"Norak," kata Keira.

Ningsih langsung panik. "Mbak tidak suka?"

"Terlalu banyak. Seperti pemakaman peri kecil."

Tetapi matanya panas.

Ningsih melihat itu, lalu pura-pura sibuk merapikan selimut.

Setelah sarapan, Rio Kurniawan datang menjemput.

"Pak Darren meminta saya mengantar Nona Keira."

"Ke mana?"

Rio menjawab dengan wajah lurus, "Belanja."

Keira menatapnya. "Pak Darren sakit?"

"Tidak, Nona."

"Kenapa tiba-tiba menyuruhku belanja?"

"Karena hari ini ulang tahun Nona."

Logika itu sederhana dan berbahaya.

Satu jam kemudian, Keira berdiri di tengah Plaza Indonesia yang terlalu sepi.

Tidak ada kerumunan.

Tidak ada antrean.

Tidak ada ibu-ibu sosialita yang berebut tas.

Hanya deretan toko mewah dengan staf yang berdiri rapi, tersenyum seperti telah dilatih untuk tidak tampak terkejut melihat seorang gadis dengan mata membesar seperti baru masuk museum harga.

Ratna berdiri di belakangnya. Ningsih di sisi lain tampak lebih gugup daripada Keira.

"Mbak," bisik Ningsih, "apa mall-nya tutup?"

Rio menjawab, "Dibuka untuk Nona Keira."

Keira menoleh pelan. "Seluruh mall?"

"Area yang diperlukan."

Itu jawaban orang kaya untuk ya.

Sepuluh menit pertama, Keira masih mencoba bersikap anggun.

Lima belas menit kemudian, ia menyerah pada dirinya sendiri.

"Ini berapa?" Ia mengangkat sebuah dress hitam dari rak Chanel.

Staf menjawab dengan lembut.

Keira hampir tersedak. "Dua puluh juta? Cuma dua puluh juta?"

Ningsih memegang lengannya. "Mbak, itu mahal."

"Aku tahu." Mata Keira berbinar. "Tapi kalau dibanding rumah kos kumuh di Surabaya, ini lebih kecil dan lebih mahal. Secara matematika, menarik."

Ratna menutup mulut dengan batuk sangat kecil.

Dari Chanel ke Dior, dari Dior ke Valentino, Keira bergerak seperti orang yang menemukan taman bermain baru dan setiap ayunannya terbuat dari emas. Ia mencoba dress, sepatu, tas, kacamata, bahkan scarf baru yang katanya cocok untuk menutup leher.

Scarf itu langsung ia beli.

Atau lebih tepatnya, Rio memberi kode pada staf untuk mencatatnya.

Keira diam-diam membuka kalkulator di ponsel.

Ia menetapkan batas moral pribadi.

Tidak lebih dari lima ratus juta.

Itu sudah gila. Itu sudah tidak tahu diri. Itu sudah bisa membeli warteg kecil, mungkin dua kalau negosiasi bagus.

Di toko ketiga, angka itu tembus.

Keira menatap layar ponsel.

Lalu menatap tas yang sedang ia pegang.

Lalu menghapus kalkulator.

"Kadang," katanya pada Ningsih dengan wajah serius, "kesehatan mental lebih penting daripada angka."

Ningsih terlihat ingin memanggil Dokter Xiao.

Menjelang sore, Darren datang ke VIP lounge.

Keira sedang duduk di antara tumpukan kotak belanja, memegang segelas teh, dan mencoba terlihat seperti perempuan yang biasa menghabiskan uang lebih banyak daripada APBD kelurahan kecil.

Darren masuk dengan kemeja gelap dan wajah tenang.

Matanya berhenti pada Keira.

Lalu pada kotak-kotak di sekelilingnya.

"Kurang?"

Keira hampir menjatuhkan gelas.

"Pak Darren, itu pertanyaan atau serangan?"

"Pertanyaan."

"Cukup. Sangat cukup. Bahkan mungkin dosa."

"Kalau begitu tambah nanti."

Keira menatapnya seperti menatap pelaku kriminal yang terlalu tampan untuk langsung dilaporkan.

Darren hanya mengulurkan tangan.

"Ikut aku."

Ia membawanya ke Hendrawan Tower.

Bukan ke ruang kerja biasa, melainkan ke private lounge di lantai atas. Di sana sudah menunggu beberapa orang. Vincent Widjaja berdiri paling depan, pria matang dengan tatapan tajam dan senyum tipis yang membuat Keira langsung tahu mengapa orang ini bisa menjadi pengacara yang ditakuti.

Di belakangnya ada tiga eksekutif inti Hendrawan Group. Rio berdiri di dekat pintu. Ratna dan Ningsih tetap di sisi belakang.

Keira tiba-tiba ingin mundur.

Darren menggenggam tangannya.

Ringan.

Tetapi cukup untuk menghentikan seluruh kepanikan kecil yang mulai naik dari perutnya.

"Perkenalkan," kata Darren dengan suara tenang.

Semua orang menatap.

"Ini Keira."

Keira menahan napas.

Darren tidak melepas tangannya.

"Dia orang paling penting dalam hidupku."

Ruang itu hening selama satu detik.

Satu detik yang cukup untuk membuat seluruh hidup Keira terasa berpindah tempat.

Lalu Vincent tersenyum lebih dulu.

"Senang akhirnya bertemu denganmu, Keira."

Para eksekutif lain segera mengikuti, menyampaikan salam dengan hormat yang terlalu rapi untuk disebut spontan tetapi cukup jelas untuk disebut pengakuan.

Keira tidak tahu harus berkata apa.

Orang paling penting.

Bukan tamu.

Bukan perempuan yang sedang disenangi.

Bukan rahasia.

Di depan orang-orang inti yang menggerakkan Hendrawan Group, Darren menempatkannya di tempat yang tidak bisa pura-pura tidak dilihat siapa pun.

Setelah perkenalan selesai, Vincent mendekat sebentar saat Darren berbicara dengan salah satu eksekutif.

"Koh Darren tidak pernah membawa siapa pun ke pertemuan seperti ini," katanya pelan. "Kamu yang pertama."

Keira menatapnya.

Vincent mengangguk sopan, seolah ia baru saja menyampaikan fakta hukum.

Namun fakta itu membuat dada Keira penuh sampai sakit.

Dalam perjalanan pulang, ia bersandar di bahu Darren.

"Capek?" tanya Darren.

"Tidak."

"Lalu kenapa diam?"

Keira menatap jendela mobil. Jakarta lewat dalam garis lampu yang mulai menyala.

"Aku baru sadar," katanya pelan, "ini pertama kalinya ada orang yang ingat ulang tahunku."

Darren tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Keira lebih erat.

Di Sayap Anggrek, Vivienne Jiang membaca berita itu dari layar ponselnya.

CEO Hendrawan dikabarkan menutup sebagian Plaza Indonesia untuk seorang perempuan misterius.

Kolom komentar penuh spekulasi.

Siapa dia?

Pacar baru?

Keluarga jauh?

Calon Nyonya Hendrawan?

Vivienne menatap foto buram yang diambil dari kejauhan. Seorang gadis dengan dress biru muda, berjalan di samping Darren Hendrawan, tangannya berada dalam genggaman pria itu.

Cangkir porselen di tangannya retak.

Lalu pecah.

Teh panas dan darah mengalir di jari Vivienne.

Ia tidak bergerak.

Matanya tetap pada layar.

Senyumnya muncul pelan, terlalu tenang untuk seseorang yang tangannya terluka.

"Jadi begitu," bisiknya.

Di layar, komentar baru muncul.

Wanita misterius CEO Hendrawan.

Vivienne menutup ponselnya.

"Kalau begitu, kita lihat seberapa lama dia bisa tetap misterius."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!