Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Melancarkan Serangan
"Apa kamu mau menjadi perawat pribadi untuk anak kami?" tanya Nyonya Mirna sembari menatap Aira dengan dalam.
Aira melongo dengan kening bertaut erat. Otaknya yang sudah kekurangan tidur sejak semalam mendadak loading lambat.
"Maksud Ibu? Jadi perawat pribadi bagaimana?"
"Iya, merawat anak kami. Kamu lihat sendiri kan, Teddy sedang membutuhkan perhatian. Sementara kami ini sudah tua. Jangankan merawat anak kami, merawat diri sendiri saja kami sudah tidak kuat lagi."
Lalu, Nyonya Mirna menatap suaminya. "Benar kan, Suamiku?" Ia memberikan kode kedipan cepat pada sang suami. Sontak, pria tua itu langsung memegangi dadanya seakan sedang sesak napas dan mengangguk dengan cepat.
Lamunan Aira langsung buyar ketika ia menyadari tangan Nyonya Mirna masih menggenggam jemarinya dengan begitu erat, seolah-olah Aira adalah sebongkah emas batangan yang baru ditemukan di ladang sawit. Di sudut lain, Om Jovan tampak sangat bersemangat menyetujui keinginan orang tua dari atasannya ini.
"Aira, kalau kamu keberatan menjadi perawat bagi Pak Teddy, ya sudah... sekalian dijadiin suami saja! Biar tidak canggung kalau merawatnya sepenuh waktu," tambah Om Jovan, mencoba mencari muka di depan kedua orang tua konglomerat itu.
Jiwa asli Aira seketika meronta-ronta ingin keluar. Ia tidak bisa terus-menerus berakting menjadi perawat anggun nan lembut di depan nyonya besar ini.
Aira berdehem pelan, lalu menarik tangannya secara perlahan dari genggaman hangat Nyonya Mirna.
"Mohon maaf sekali, Bapak... Ibu..." ucap Aira dengan gaya bicara yang kini kembali ke setelan pabriknya yang cempreng.
"Bukannya saya menolak atau sok jual mahal, ya. Tapi... apa Nyonya tidak salah pilih? Saya ini kalau merawat pasien, biasanya pasiennya malah makin sakit kalau saya yang pegang. Dulu saja, saya hampir tidak lulus praktik karena teledor. Apa Ibu dan Bapak yakin ingin menjadikan saya sebagai perawat pribadi bagi pasien bernama Pak Teddy ini?"
Nyonya Mirna sempat tertegun selama tiga detik. Sepanjang hidupnya di dalam dunia sosialita, belum pernah ada perempuan yang dengan sukarela membeberkan aibnya sendiri di depan dirinya. Biasanya, mereka selalu pamer menjadi yang terbaik dan terhebat agar mendapat pujian.
Namun, alih-alih ilfil, Nyonya Mirna justru terpingkal pelan. Bagi sang nyonya besar, kejujuran ekstrem Aira ini justru menjadi bukti sahih bahwa gadis ini seratus persen tulus dan apa adanya. Ini sangat jauh dari kecurigaannya selama ini tentang lingkar pergaulan Teddy yang penuh kepalsuan.
"Oh, Sayang, wajar kok sekali-kali kita ini melakukan kesalahan. Toh, tidak ada yang namanya kesempurnaan di dunia ini. Kita ini hanya manusia biasa, yang penting harus bisa belajar dari kesalahan yang ada," sahut Nyonya Mirna santai, mengibaskan tangannya yang dipenuhi cincin berlian.
"Dan kalau kamu bersedia dengan apa yang dikatakan Pak Jovan barusan, saya sebagai orang tua Teddy juga akan sangat bersedia menerimamu sebagai menantu keluarga kami. Yang penting, anak kami terbukti masih menyukai perempuan!"
Aira menepuk jidatnya sendiri dalam hati. ‘Kenapa malah setuju dengan Om Jovan?’ Ia melirik Om-nya itu dengan sedikit mendengkus jengkel. Baru kemarin ia diomeli habis-habisan oleh orang yang sama, sekarang pria itu malah berputar arah mendukungnya sedemikian rupa.
‘Ternyata manusia memang secepat itu berubahnya,’ batinnya lagi.
Tak mau menyerah begitu saja, Aira melirik Om Jovan yang masih berdiri tegang. Otak cerdiknya langsung berputar mencari taktik baru untuk kabur dari jebakan ini.
"Tapi Bu, Om Jovan sendiri yang menjadi saksi," kilah Aira lagi, matanya mengerjap-erjap polos nan jenaka. "Hubungan kami setahun lalu itu... hmmm... macam mana ya."
Om Jovan langsung tersenyum penuh semangat, memotong kalimat keponakannya. "Mereka sangat mesra kok, Bu! Hanya saja saya heran, kenapa hubungan mereka bisa kandas tiba-tiba. Apa mungkin karena Pak Teddy terlalu memanjakan Aira kali ya? Jadi, keponakan saya ini merasa kebingungan dan tidak terbiasa. Maklum, Bu... keluarga Aira hanyalah keluarga sederhana yang berasal dari kampung kecil di sekitar sini. Mungkin Aira sadar diri dan memilih menjauh karena merasa tidak pantas bersanding dengan Pak Teddy."
Mendengar alasan yang dikarang bebas oleh Om Jovan, Aira langsung menggeleng dengan cepat. Itu semua salah besar! Kedua tangan Aira menyilang di depan dadanya sebagai tanda menolak keras semua pernyataan adik kandung ibunya itu.
Melihat interaksi antara Aira dan Jovan, Nyonya Mirna justru semakin gemas. Ia mencubit pipi Aira dengan tawa kecil. Aira begitu ekspresif, jujur, dan ceplas-ceplos. Jika disandingkan di samping Teddy, gadis ini pasti akan menjadi penyeimbang yang sempurna.
"Sepertinya, Teddy memang membutuhkan gadis seperti kamu ya! Biasanya, dia itu terlalu serius dan kaku. Jika dia memiliki istri yang... sedikit 'unik' seperti kamu, sepertinya rumah kalian nanti tidak akan terasa sunyi seperti kuburan."
Aira mati kutu seketika. Segala jurus yang ia keluarkan justru berganti makna positif di hadapan keteguhan hati seorang ibu yang sudah telanjur girang mendapati putranya ternyata pernah memiliki hubungan asmara.
Tepat saat Aira sedang memikirkan alasan gila berikutnya untuk mengelak, dari arah ranjang terdengar lenguhan panjang yang serak. Alat pemantau detak jantung mendadak berbunyi sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Teddy perlahan membuka matanya kembali. Kali ini, kesadarannya terkumpul jauh lebih utuh daripada beberapa jam yang lalu. Manik mata elangnya bergerak lambat, menatap langit-langit ruang ICU, sebelum akhirnya beralih ke samping ranjang.
Hal pertama yang ditangkap oleh matanya adalah sang ibu yang sedang tersenyum lebar, Om Jovan yang memasang senyum selebar sepuluh sentimeter, dan... Aira yang berdiri cemberut sembari memeluk map dokumen di dadanya.
"M-Mamah...?" bisik Teddy serak, tenggorokannya terasa begitu kering bagai padang pasir.
Nyonya Mirna langsung mendekat, wajahnya dipenuhi binar kebahagiaan. "Alhamdulillah... Teddy! Kamu sudah sadar, Nak? Tenang ya, jangan banyak bergerak dulu. Mama sudah ada di sini..." Nyonya Mirna sengaja menjeda kalimatnya, lalu menarik bahu Aira agar berdiri tepat di samping ranjang putranya.
"...dan lihat, gadis ini sudah setia menemanimu sepanjang semalam."
Teddy yang baru saja lolos dari maut mendadak merasa rohnya hampir terbang kembali mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Matanya menatap Aira dengan sorot mata penuh harap dan rasa bersalah yang mendalam.
Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini raut wajah Aira tiba-tiba berubah total menjadi sangat datar dan dingin.
*Bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣