Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari baru saja mengintip malu‑malu dari balik bukit, menyebarkan cahaya keemasan lembut di atas atap‑atap rumah dan dedaunan yang masih berembun, ketika di depan gerbang rumah keluarga Wijaya sudah terparkir sebuah kendaraan yang sangat dikenal Alena. Bahkan sebelum jam biasa orang‑orang mulai bergerak untuk bersiap berangkat, Elio sudah ada di sana—berdiri tegak namun santai, mengenakan seragam yang rapi dan bersih, wajahnya segar kembali sepenuhnya dari sakit kemarin, dan senyum khasnya yang tak pernah absen.
Ia datang lebih awal dari biasanya—bahkan jauh lebih awal—hanya karena ingin memastikan hari pertama ujian kenaikan kelas berjalan tenang bagi gadisnya.
Tak lama kemudian, pintu pagar terbuka perlahan. Alena melangkah keluar sambil masih memeluk buku catatan tebal di dada, matanya menatap lurus ke halaman demi halaman yang dilipat‑lipat sudutnya—tanda bahwa halaman‑halaman itu sudah sering dibuka dan dibaca berulang kali. Wajahnya serius, bibirnya bergerak pelan tanpa suara seolah masih mengulang kalimat‑kalimat rumus dan penjelasan penting yang harus diingat.
“Selamat pagi, calon tunanganku yang rajin sekali,” sapa Elio dengan suara rendah namun ceria, tepat saat Alena hampir menabrak bahunya karena terlalu fokus pada buku.
Alena tersentak sedikit, lalu mengangkat wajah dengan pandangan yang masih setengah terpusat. “Eh… selamat pagi, Elio. Kamu sudah datang sejak kapan? Masih sangat pagi lho…”
“Sejak beberapa menit yang lalu saja. Lebih baik menunggu di sini daripada membiarkanmu berjalan sendirian sambil hampir menabrak tiang jalan,” jawab Elio sambil tersenyum nakal, lalu perlahan mengulurkan tangan untuk mengambil tas dan buku yang agak berat itu. “Mari naik, di dalam lebih nyaman untuk membaca sedikit lagi.”
Perjalanan dimulai dengan suasana yang agak tenang—karena memang hari ini berbeda: hari pertama ujian kenaikan kelas dimulai. Seluruh perhatian Alena seolah terserap habis ke dalam halaman‑halaman catatan yang ada di pangkuannya. Hampir tidak ada percakapan panjang darinya; ia lebih banyak diam, sesekali mengerutkan dahi, mengangguk pelan, atau mengulang istilah‑istilah pelajaran dengan suara sangat rendah.
Namun… bagi Elio, keheningan yang terlalu lama dan wajah yang terlalu serius adalah godaan yang tak tertahankan.
Baru beberapa menit berjalan, jari‑jemari Elio yang tidak memegang kemudi mulai bergerak halus—menyentuh pelan ujung lengan baju Alena, lalu menggeser sedikit ke arah pergelangan tangan, hingga akhirnya berhenti dan menggenggam lembut.
“Jangan bergerak… aku sedang menghafal,” tegur Alena tanpa mengangkat wajah, meski bibirnya sudah mulai berkedut tanda mulai kesal.
“Siapa yang bergerak? Aku hanya memastikan tanganmu tidak kaku karena terlalu lama menekan buku,” jawab Elio santai, lalu tak lama kemudian menggeser ujung jari lagi untuk menggelitik sedikit di pinggir pinggang yang peka.
“Elio!” seru Alena berbisik tegas, namun tetap tak mau melepaskan pandangan dari buku. “Aku serius… kalau aku gagal ujian, kamu yang bertanggung jawab.”
“Baiklah, baiklah… aku diam,” ujarnya sambil tersenyum puas—namun janji itu hanya bertahan tiga menit saja.
Kali ini cara menggoda berubah: ia mulai berbicara pelan namun tepat di dekat telinga Alena, seolah ingin berbisik hal penting namun isinya sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran.
“Tahukah kamu, kalau kamu terlalu lama mengerutkan kening, nanti timbul kerut halus di sana… nanti tidak cantik lagi saat ujian selesai,” bisiknya lembut sambil menunjuk sedikit ke dahi gadis itu dengan ujung jari yang sangat hati‑hati.
Alena menghela napas panjang namun tetap berusaha fokus. “Jangan mengganggu…”
“Dan… kalau kamu terus membaca tanpa berkedip cukup lama, matamu akan menjadi merah dan lelah… lalu nanti saat ujian berlangsung, huruf‑huruf itu akan terlihat seperti berjalan‑jalan sendiri,” tambahnya lagi dengan nada seolah memberi nasihat penting.
Kali ini Alena akhirnya menutup buku perlahan, menoleh dan menatap tajam—namun matanya yang berbinar cerah membuat tatapan tajam itu justru terlihat lucu dan tidak menakutkan sama sekali.
“Kamu ini… benar‑benar tidak bisa diam saja, ya? Baru sembuh sedikit dari sakit, sudah kembali menjadi pengganggu ulung,” ujarnya dengan nada kesal namun bibirnya tak bisa menahan senyum kecil yang mulai muncul.
Elio tertawa renyah, suara yang selalu membuat suasana jadi lebih ringan. “Tujuanku baik kok—supaya otakmu tidak terlalu penuh dan kaku. Sedikit istirahat pikiran dan tertawa kecil justru membantu menghafal lebih baik.”
“Alasan saja kamu…” gumam Alena sambil kembali membuka buku namun kali ini dengan senyum yang tak bisa disembunyikan—tanda bahwa gangguan kecil itu memang membuat ketegangannya sedikit berkurang.
Dan begitulah sepanjang jalan: Elio terus menemukan cara‑cara kecil namun lucu untuk menjahili—menggeser sedikit jari, mengulurkan sapaan manis, atau berkomentar tentang hal‑hal sederhana—sampai akhirnya Alena harus mengancam dengan hal yang paling ampuh: tidak akan mengajak berbicara seharian jika terus dilanjutkan. Baru kemudian Elio benar‑benar menahan diri, meski senyum menggoda tak pernah hilang dari wajahnya.
Sesampainya di halaman sekolah yang sudah mulai ramai, Elio menghentikan kendaraan di tempat yang paling nyaman. Sebelum Alena sempat membuka gagang pintu sendiri—seperti biasa—ia sudah bergerak lebih dulu. Dengan gerakan halus dan sopan, Elio turun lebih awal, berjalan mengelilingi bodi kendaraan, lalu membukakan pintu dengan sangat lembut dan perlahan seolah sedang membuka jalan bagi seseorang yang paling istimewa.
Ia bahkan sedikit menundukkan badan dan mengulurkan tangan kanannya dengan senyum hangat dan penuh perhatian.
“Silakan, Nyonya Masa Depan… jalannya sudah siap,” ujarnya rendah namun cukup terdengar oleh beberapa siswa yang lewat di dekatnya.
Alena tersipu namun menerima uluran tangan itu, melangkah turun perlahan sambil merasakan tatapan‑tatapan yang beralih ke arah mereka dari segala penjuru. Elio tak melepaskan genggaman itu, melainkan menuntunnya berjalan perlahan menuju lorong masuk, menjaga jarak dari keramaian dan memastikan bahunya berada sedikit di sisi luar—seolah menjadi perisai halus yang tak terlihat namun sangat nyata.
Perlakuan yang begitu lembut, sopan, dan penuh perhatian itu langsung menjadi perbincangan cepat di antara teman‑teman sekelas maupun siswa dari kelas lain yang berpapasan. Di sudut‑sudut pandang, banyak yang memandang dengan rasa kagum sekaligus rasa iri yang jelas—terutama satu sosok yang berdiri agak jauh di dekat tiang koridor sambil memeluk buku erat‑erat di dada.
Itu adalah Jena.
Matanya menatap tajam namun tak berdaya melihat bagaimana Elio memperlakukan Alena persis seperti seorang ratu yang dihormati dan dicintai sepenuhnya—tanpa celah sedikit pun untuk orang lain. Bahkan saat berpapasan sekilas, Elio hanya mengangguk sopan namun tanpa berhenti atau memperpanjang percakapan, tetap fokus pada langkah kecil di sebelahnya yang berjalan tenang dan aman.
“Lihat saja… seolah‑olah dunia ini hanya milik mereka berdua,” gumam Jena pelan dan pahit pada dirinya sendiri, namun tak ada yang mendengar—dan tak ada yang peduli juga.
Di sisi lain, Dinda yang berdiri agak jauh di belakangnya hanya menggeleng pelan sambil berpaling—semakin sadar bahwa segala rencana dan gangguan yang mereka buat selama ini justru semakin membuat hubungan itu tampak semakin kuat, semakin terang, dan semakin tak tergoyahkan.
Saat masuk ke dalam kelas, Elio tetap tidak berhenti hanya pada penjemputan. Ia membantu menaruh buku‑buku di meja Alena dengan rapi, mengatur posisi duduk agar nyaman, dan bahkan menyelipkan selembar kertas kecil berisi tulisan tangan yang rapi dan manis—hanya satu kalimat pendek namun cukup untuk membuat Alena tersenyum sepanjang pagi:
“Tenanglah, kamu sudah hafal semuanya. Percayalah pada dirimu seperti aku percaya padamu.”
Alena melipat kertas itu kecil‑kecil dan menyimpannya dengan hati‑hati di dalam saku seragam—sebagai semangat tambahan yang paling berharga selain isi buku catatan tebalnya.
Ketika bel masuk berbunyi dan guru mulai membagikan lembar soal ujian, Alena menarik napas panjang, mengingat semua yang telah dipelajari… namun juga mengingat senyum dan gangguan‑gangguan kecil Elio pagi ini yang ternyata justru membuat pikirannya lebih jernih dan tenang.
Di sampingnya, Elio duduk tenang, sesekali melirik sekilas hanya untuk memastikan gadisnya baik‑baik saja—dan setiap kali mata mereka berpapasan sekilas, senyum kecil saling terkirim, penuh pesan yang sama: semangat, kita akan melewati hari ini bersama‑sama.
Hari pertama ujian pun berjalan tenang dan teratur. Di luar mungkin masih ada yang menatap dengan rasa iri atau kecewa, namun di dalam hati Alena dan Elio hanya ada satu hal yang jelas: kebersamaan yang hangat, perlakuan yang penuh kasih sayang, dan sedikit candaan lucu yang membuat hari‑hari sulit sekalipun terasa lebih ringan dan indah.