NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Dingin di Sela Titanium

Pintu lift titanium itu menutup kembali dengan desis halus, memotong siluet ruangan oval lantai lima puluh yang kini tenggelam dalam remang senja. Di dalam kabin vertikal yang bergerak turun, tarikan gravitasi terasa lebih ringan daripada beban tak kasat mata yang menggelayuti pundak Olin. Pantulan dirinya di dinding cermin krom memperlihatkan gurat lelah yang teramat sangat di sudut mata, berkebalikan dengan satin hijau zamrudnya yang masih memancarkan kemewahan yang kaku.

Zayyan berdiri setengah langkah di depan mereka, memunggungi Olin dan Xavi. Bahunya yang tegap tidak sedikit pun mengendur, menjadi tameng kokoh yang mengisolasi hawa dingin dari dinding lift. Keheningan di antara mereka bertiga kali ini terasa berbeda; tidak ada lagi percikan amarah yang meletup seperti di ruang rapat tadi, melainkan sebuah jeda sunyi dari dua pihak yang baru saja menyadari bahwa mereka telah melintasi titik tanpa jalan kembali.

Ting.

Lantai basemen bawah menyambut dengan embusan angin beraroma bensin dan beton basah. Koridor bawah tanah ini remang, hanya diterangi oleh deretan lampu tabung neon putih yang memantulkan bayangan simetris di atas kap mobil-mobil pengawal yang sudah berjejer rapi. Malikh berdiri di samping pintu terbuka SUV hitam paling depan, tangannya yang bersarung kain putih menahan bingkai pintu dengan takzim.

"Semuanya sudah siap di kediaman, Tuan Besar, Nyonya," ucap Malikh, suaranya rendah, diredam oleh deru halus mesin mobil yang sudah menyala sejak sepuluh menit lalu.

Olin menuntun Xavi masuk terlebih dahulu ke dalam kabin baris tengah yang hangat. Begitu tubuhnya tenggelam di atas jok kulit premium, rasa penat di kakinya akibat sepatu hak tinggi beludru itu mendadak menuntut perhatian. Dia melepas tas satinnya, membiarkannya tergeletak di antara dirinya dan Xavi.

Zayyan menyusul, mengambil tempat di kursi depan di samping kemudi Malikh. Pria itu langsung membuka tiga kancing teratas kemeja hitamnya, sebuah gestur langka yang menunjukkan bahwa sang CEO akhirnya menurunkan sedikit zirah formalnya setelah memenangkan pertempuran politik di menara kaca.

"Malikh, ambil rute lingkar luar," perintah Zayyan sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, sepasang mata elangnya menatap lurus ke kaca depan yang mulai dipenuhi bintik-air gerimis baru. "Jalur utama kota pasti padat jam sekian. Aku tidak ingin Arsitek Kecil ini tertidur sebelum menyentuh sup ayamnya."

Xavi, yang sedang sibuk membersihkan lensa kacamata bundarnya dengan ujung jasku, mendongak sekilas. "Metode rotasi rute lingkar luar juga menurunkan risiko pelacakan fisik sebesar empat puluh persen, Tuan CEO. Keputusan taktis yang logis."

Olin hanya bisa mengembuskan napas pendek mendengar penuturan anaknya. Dia menyandarkan pelipisnya pada kaca jendela mobil yang dingin, memperhatikan deretan tiang beton basemen yang perlahan bergerak mundur saat kendaraan mulai melaju halus, merayap keluar menuju jalanan Pekanbaru yang mulai temaram oleh lambaian lampu-lampu jalan.

Gerimis malam ini turun lebih rapat, menciptakan lapisan kabut tipis di atas aspal hitam yang mereka lalui. Di dalam kabin yang kedap, suara sapuan wiper mobil menjadi satu-satunya ritme yang konstan, bersahut-sahutan dengan desis napas Xavi yang perlahan mulai memberat karena kantuk yang tak lagi bisa ditahan oleh tubuh tujuh tahunnya. Kepala kecil berambut hitam pekat itu akhirnya terkulai lambat, mendarat di atas lengan mantel Olin dengan guling robot yang masih didekapnya erat.

Olin mengusap pipi putranya yang lembut, merapikan letak kacamata bundar Xavi agar tidak tertekan. Tatapannya beralih ke arah spion tengah, di mana sepasang mata hitam Zayyan rupanya sedang memperhatikannya sejak tadi. Pertemuan tatap mereka di dalam cermin kecil itu terkunci selama beberapa detik—tanpa kata, tanpa tuntutan kekuasaan, hanya ada sisa-sisa ingatan masa lalu yang mendadak mengapung di antara deru mesin SUV yang melaju menembus kegelapan malam menuju paviliun barat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!