NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Belum sempat Daxon dan Azalea melangkah lebih jauh ke tengah pesta, sebuah suara tegas dan dingin terdengar memotong keramaian.

"Daxon! Berhenti di situ!"

Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri Luciana, ibu kandung Daxon, dengan wajah memerah menahan amarah yang meledak seketika. Matanya melotot tajam, pertama menatap putranya, lalu beralih ke Azalea yang berdiri di sisinya—terutama melihat perut gadis itu yang mulai membuncit terlihat jelas di balik gaun indahnya.

Rahang Luciana mengeras. Dalam hatinya, ia berteriak kesal. "Dasar wanita murahan! Kalau dia terus ada di sisi Daxon, rencanaku dan Valeria akan gagal total! Kemarin malam aku sudah menyuruh Valeria menyiapkan segalanya, menyewa kamar di hotel agar dia bisa mendapatkan Daxon, tidur bersamanya, dan membuat Daxon melupakan gadis biasa ini selamanya. Tapi kenapa dia malah dibawa ke sini dengan bangga seperti ini?! " batin Luciana.

Dengan langkah cepat dan penuh amarah, Luciana menghampiri mereka berdua. Tatapannya penuh kebencian tertuju pada Azalea sebelum akhirnya menatap putranya sendiri.

"Apa maksudmu membawa wanita ini ke sini?!" bentak Luciana dengan suara cukup keras sehingga menarik perhatian banyak tamu di sekitar. "Ini acara ulang tahun tuan Ardi, Daxon! Valeria yang berhak menjadi menantuku, bukan wanita murahan ini!"

Azalea menegang, tangannya secara refleks mencengkeram lengan Daxon, merasa tertekan dan tidak nyaman dengan tatapan tajam itu. Namun Daxon justru melingkarkan lengannya lebih erat melindungi tubuh Azalea, tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan tajam, berhadapan langsung dengan ibunya sendiri.

"Dia bukan wanita murahan, Ibu," jawab Daxon dengan nada rendah namun penuh tekanan. "Dia adalah wanita yang aku pilih, dan dia mengandung anakku. Mulai hari ini, tidak ada lagi pembicaraan tentang Valeria atau rencana‑rencana yang Ibu susun."

Mendengar jawaban itu, wajah Luciana makin memucat lalu kembali memerah karena marah. Ia menatap tajam ke arah Azalea seolah ingin menelannya hidup‑hidup.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Daxon! Jika dia tetap ada di sisimu, semuanya akan hancur! Rencana yang sudah aku persiapkan matang‑matang selama ini akan gagal total hanya karena gadis ini!" desis Luciana pelan, hanya bisa didengar oleh Daxon dan Azalea yang berdiri sangat dekat.

Daxon mengerutkan kening, mulai curiga mendengar kata‑kata ibunya. "Rencana apa yang Ibu maksud?" tanyanya dengan nada mengancam.

Luciana terdiam seketika, menyadari hampir tergelincir mengungkapkan semuanya. Ia membuang muka, lalu kembali menatap Azalea dengan pandangan penuh permusuhan, berjanji dalam hati akan mencari cara lain agar gadis itu segera menyingkir dari kehidupan putranya.

Belum sempat Luciana menjawab pertanyaan Daxon, dari arah belakangnya sudah muncul Valeria bersama ayah dan ibunya. Wajah Valeria tampak terlihat sedang menahan emosi.

Ayah Valeria, Tuan Ardi, langsung mengerutkan dahi dan melangkah mendekat dengan wajah serius.

"Ada apa ini? Kenapa keributan terjadi di hari ulang tahunku?" tanyanya.

Matanya melirik ke arah Azalea, lalu ke perut gadis itu yang terlihat jelas membuncit, sebelum akhirnya menatap Daxon dengan pandangan yang penuh pertanyaan.

Ibu Valeria, Nyonya Ratna, langsung menahan pergelangan tangan putrinya yang mulai gemetar. Wajahnya berubah masam, lalu melangkah maju sedikit sambil menatap tajam ke arah Azalea seolah ia adalah pengganggu.

"Ini yang kau bawa, Daxon? Wanita hamil yang bukan siapa‑siapa, ke acara keluarga kami? Padahal selama ini sudah disepakati bahwa putri kami Valeria adalah pasangan yang tepat untukmu!" ucapnya dengan nada tidak puas, berusaha menaikkan gengsi putrinya.

"Kapan aku sepakat akan menikahinya? Bukankah kalian hanya meminta sepakatan dari ibuku? Lebih baik kau cari tahu tentang putrimu saat dia kuliah di luar negeri, apa yang dia lakukan. Aku Daxon, tidak akan menikah dengan dia." ucap Daxon tegas.

Sementara itu Valeria hanya bisa menunduk, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia merasa malu sekaligus marah melihat kenyataan di depan matanya. Rencana yang sudah disusun ibunya Daxon, untuk membawanya masuk ke kamar hotel dan meniduri Daxon malam ini, seolah lenyap begitu saja karena kehadiran Azalea.

Dalam hatinya ia berteriak kesal. "Kenapa dia harus ada di sini?! Kalau dia tidak ada, malam ini pasti aku bisa meniduri Daxon dan membuatnya melupakan gadis itu selamanya! Semua rencana gagal karena dia! " batin Valeria.

Namun ia tidak berani berbicara keras, hanya mendongak sebentar menatap Daxon dengan tatapan memelas, berharap pria itu masih memiliki sedikit perasaan padanya.

"Daxon... aku sungguh-sungguh kuliah, Daxon. Aku tidak pernah berbuat macam-macam di luar negeri, tapi... Saat aku sudah kembali kau sudah menikah." ucap Valeria dengan suara bergetar, berusaha terlihat lemah dan menyedihkan.

Ayahnya Tuan Ardi menghela napas panjang, lalu menatap Daxon dengan pandangan yang lebih tegas.

"Daxon, tolong jelaskan. Jika ini memang pilihanmu, setidaknya katakan dengan jujur agar tidak ada salah paham yang berlarut‑larut. Namun ingat, perjanjian antara keluarga kita sudah berjalan lama." ucapnya.

Daxon menatap satu per satu orang di hadapannya dengan tatapan sedingin es, tanpa sedikit pun tergoyahkan. Lengannya makin erat melingkar di pinggang Azalea, seolah ingin menegaskan posisinya di hadapan semua orang.

Dengan suara yang berat, jelas, dan terdengar ke seluruh ruangan.

"Tidak ada perjanjian apa pun yang mengikatku untuk menikahi Valeria. Itu hanya keinginan Ibuku dan keluarga kalian saja, tanpa pernah meminta persetujuanku. Azalea adalah wanita yang aku pilih, dia mengandung anakku, dan dia adalah satu‑satunya wanita yang akan berdiri di sisiku mulai sekarang dan selamanya." Jawab Daxon tegas.

Ia melirik sekilas ke arah ibunya, lalu kembali menatap ayah Valeria dengan tegas.

"Mulai hari ini, anggap saja semua pembicaraan tentang persekutuan melalui pernikahan sudah dibatalkan. Aku tidak akan mengubah keputusanku, apa pun alasannya." ucap Daxon tegas.

Mendengar kata‑kata itu, suasana menjadi hening seketika. Namun bagi Azalea, meski merasa terlindungi, suasana yang penuh ketegangan, tatapan tajam, dan bisikan halus dari para tamu membuat dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti sedang menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan, dan rasa tidak nyaman itu makin terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Perutnya pun terasa sedikit kram karena tegang. Ia menundukkan wajah, tangannya mencengkeram lengan Daxon dengan agak kuat, suaranya terdengar pelan dan bergetar hanya untuk didengar oleh Daxon.

"Daxon... aku tidak enak di sini... rasanya sesak..." ucap Azalea pelan.

Daxon langsung merasakan perubahan pada tubuh Azalea. Wajahnya seketika berubah menjadi khawatir, ketegasannya tadi seketika beralih menjadi perhatian penuh. Ia segera membungkuk sedikit, bertanya dengan nada lembut yang hanya bisa didengar keduanya.

"Kau baik‑baik saja? Apakah terasa sakit?" tanya Daxon penuh kekhawatiran.

Ia tidak menunggu jawaban lebih lama. Tanpa memedulikan lagi orang‑orang yang masih menatap mereka, Daxon langsung memapah tubuh Azalea dengan hati‑hati.

"Kita pergi dari sini sekarang," ucapnya singkat, lalu melangkah membawa Azalea keluar dari keramaian itu.

Belum sempat Daxon melangkah jauh membawa Azalea, tiba‑tiba Valeria yang sudah terbakar rasa cemburu dan marah tanpa berpikir panjang. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Azalea dari belakang.

Bruk!​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!