Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Rengekan Manja Singa Kecil
Malam itu, seisi apartemen Aruna diselimuti keheningan yang menenangkan. Hari ini adalah tepat satu minggu setelah mereka menikah. Aruna sudah aktif bekerja kembali, Gavin juga sudah memulai aktifitasnya kembali dengan segala drama perjuangan. Ia harus menggunakan masker kemana mana karena merasa seluruh dunia bau dan membuat mual. Hanya istrinya yang wangi. Alhasil parfum aruna akan di bawa oleh gavin sebagi penghilang bau bau yang mengganggunya.
Dominic sendiri yang melihat kelakuan adiknya, sampai menggelengkan kepalanya. Bahkan Gavin sempat tidak ingin melihat max, orang kepercayaan kakanya itu, karena jelek. Alasan tidak logis.
Kini, pria tegap itu sedang berbaring miring di atas ranjang kamar utama. Kepala rahang tegasnya bertumpu pada lengan kanannya, sementara sepasang mata elangnya bergerak lambat, mengunci pergerakan Aruna yang baru saja melangkah masuk setelah membersihkan diri di kamar mandi.
Aruna yang mengenakan piyama satin abu-abu longgar naik ke atas kasur. Ia menarik selimut tebal, bersiap untuk memejamkan mata karena kelelahan seharian menghadapi drama suaminya.
Namun, baru saja punggung Aruna menyentuh bantal, sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar posesif di pinggangnya. Gavin menggeser tubuh atletisnya mendekat, menempelkan dada bidangnya pada punggung Aruna, lalu menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher sang istri. Aruna terkekeh pelan, membiarkan posisi manja suaminya.
"Kenapa lagi, Gavin? Mualnya kambuh lagi? Mau di ambilkan minyak aromaterapi?"
Gavin terdiam sesaat. Ia tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Aruna.
"Nggak mual, Kak. Kepala gue juga udah nggak muter."
"Terus kenapa belum tidur? Ini sudah jam sebelas lewat."
Aruna memutar tubuhnya perlahan agar bisa berhadapan langsung dengan Gavin. Jarak mereka mengikis, membuat Aruna bisa menatap langsung mata elang suaminya yang malam ini tampak sedikit redup, seolah ada sesuatu yang sedang mengusik pikirannya.
Gavin menatap manik mata Aruna lekat-lekat, lalu bibirnya mengerucut tipis, sebuah ekspresi cemberut yang sangat langka dan tidak akan pernah dipercaya oleh anak buah Dominic.
"Kak..." panggil Gavin, suaranya bariton rendah namun terdengar sangat lambat.
"Iya, Gavin. Ada apa?"
"Gue mau minta sesuatu. Tapi Kakak harus janji nggak boleh nolak atau ngetawain gue," rengek Gavin dengan nada manja berondongnya yang mulai keluar.
Aruna menaikkan sebelah alisnya, insting langsung aktif mendeteksi adanya intrik terselubung.
"Minta apa dulu? Jangan bilang kamu mau minta helikopter Kak Dom buat nyari mangga muda ke luar pulau ya?"
"Bukan soal makanan, Kak!" potong Gavin jengkel, wajah pucatnya mendadak merona merah karena menahan gengsi yang amat sangat besar.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum melanjutkan kalimatnya dengan suara yang sengaja dikecilkan.
"Gue... gue mau Kakak berhenti panggil gue pake sebutan 'Gavin' atau 'Dek'."Aruna mengerjap bingung.
"Lho? Terus saya harus panggil kamu apa? Alex? "
Gavin meremas ujung bantal dengan tangan kanannya, menyembunyikan wajahnya yang kian merah padam di bawah dagu Aruna.
"Panggil... panggil " ucanya terbata, aruna menatap mata gavin dengan intens
" 'Sayang', Kak. Atau 'Mas'. Atau apa aja lah yang biasa diucapin sama istri normal ke suaminya!"
Mendengar permintaan tak terduga itu, Aruna seketika membeku selama dua detik, sebelum akhirnya senyum geli yang luar biasa manis terukir di bibirnya. Ia harus mati-matian menahan tawa agar harga diri suaminya tidak pecah berkeping-keping di atas kasur.
"Gavin... kamu ini ada-ada saja," goda Aruna manis, jemarinya bergerak lembut mengusap rambut Gavin yang berantakan.
"Sejak kapan seorang pimpinan logistik bawah tanah yang ditakuti musuh, bisa ngehajar puluhan orang, dan gampang banget buat ilangin nyawa orang peduli sama panggilan dari istrinya?"
"Gue peduli, Kak!" Gavin mendongak cepat, menatap Aruna dengan kilat mata yang serius dan menuntut hak paten terselubung.
" Nareswari panggil Ethan pake sebutan 'Sayang' di depan Bianca padahal mereka belum nikah. Terus kemarin pas di rumah, Mamah juga panggil Papah pake sebutan 'Papa' atau 'Mas'. Daddy sama mommy juga sebutannya itu. Lah gue? Dari semenjak kita one night stand, pas nikah, sampai gue hamil simpatik begini, Kak Aruna masih setia manggil gue 'Gavin', 'Dek', atau paling parah 'Bocah'!"
Gavin merengut, mempererat pelukannya seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan mainannya.
"Gue ini suami resmi Kakak, calon bapak dari anak di dalem perut Kakak. Masa panggilan gue kalah formal sama anak magang di kantor Kakak?"
Lumpuh sudah seluruh ketegasan Aruna melihat aksi merajuk suaminya yang sangat menggemaskan ini. Dinding pertahanan egonya seputar perbedaan usia mereka yang terpaut enam tahun menguap tanpa sisa. Aruna menangkup kedua pipi tegas Gavin dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa mata elang pria itu menatapnya langsung.
" Iyah iyah maafkan saya ya," bisik Aruna sangat lembut, matanya memancarkan binar kasih sayang yang begitu tulus.
" Gak mau kaku kaku juga!" tambah Gavin
"Saya nggak bermaksud kaku. Saya cuma belum terbiasa karena transisi hubungan kita yang terlalu cepat."
Aruna mencondongkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan manis yang cukup lama di bibir Gavin, lalu beralih menatap suaminya dengan senyuman paling cantik.
"Sudah jangan cemberut lagi ya, Sayang-nya Kak Aruna. Sekarang, Mas Gavin yang ksatria ini harus tidur karena besok pagi harus nemenin saya periksa kandungan lagi."
Mendengar kata maut 'Sayang' dan 'Mas' keluar langsung dari bibir tipis Aruna, tubuh tegap Gavin seketika menegang sesaat. Rasa puas dan bahagia yang luar biasa membuncah di dadanya, mengalahkan segala kemenangan bisnis atau pertempuran yang pernah ia pimpin.
Senyum miring andalannya yang super tampan kembali terukir dengan sempurna di bibirnya. Gavin langsung menarik Aruna ke dalam dekapannya yang sangat posesif, mengunci tubuh istrinya di bawah selimut tebal mereka.
"Nah, gitu dong. Kan mual gue langsung hilang total kalau didengerin kata itu," gumam Gavin manja dengan kekehan rendah yang bergetar di dada bidangnya.
"Selamat tidur juga, Istriku Sayang. Makasih ya buat hak paten katanya malam ini."
Aruna tertidur dengan senyuman geli di dalam dekapan hangat suaminya, menyadari bahwa meskipun di luar sana Gavin adalah bagian dari dinasti mafia yang disegani, di dalam kamar ini, berondongnya akan selalu menjadi pria manja yang tahu persis bagaimana cara melunakkan hatinya seumur hidup mereka.
Setelah perdebatan manis tentang hak paten kata 'Sayang' selesai, Gavin terbangun setelah tertidur dua jam. Gavin berusaha untuk tidur kembali, tapi tidak bisa, fikirannya masih belum mau memejamkan matanya. Ia tidur menyamping, menatap Aruna yang sudah memejamkan mata dengan napas yang teratur. Tangan kanan Gavin yang bebas bergerak lambat, memainkan ujung rambut istrinya, sebelum beralih mengusap pelan perut rata Aruna di balik piyama satinnya.
Namun, kerutan di dahi tegap Gavin kembali muncul. Otak berondongnya yang sedang sensitif akibat lonjakan hormon ngidam simpatik mendadak memproses satu memori dari acara makan siang kemarin di salah satu restauran privat di ibu kota
Memori saat Bianca dengan sangat memohon kepada Dom ingin menikahi Narendra. Gavin mendadak mendengus ketus di tengah kegelapan kamar. Ia menggeser tubuh atletisnya lebih dekat, sengaja menempelkan hidung mancungnya ke pipi Aruna hingga wanita itu kembali mengerjap terbangun karena terganggu
" sayang...." Aruna mendesah pelan, suaranya parau menahan kantuk yang teramat sangat
"Kenapa lagi? Mualnya naik lagi ke tenggorokan? Mau ke kamar mandi?"
"Nggak mual, sayang," gumam Gavin lirih, suaranya terdengar sangat merajuk dan manja, jauh dari kesan pimpinan logistik bawah tanah
"Gue cuma... aku cuma lagi mikir."Aruna membuka matanya sepenuhnya, menatap wajah tampan suaminya itu dengan pandangan geli.
"Mikirin apa jam dua malam begini, Sayang?"Mendengar kata 'Sayang', Gavin sempat tersenyum miring sesaat, namun sedetik kemudian wajahnya kembali ditekuk cemberut.
"Kamu jujur sama gue. Waktu Kak Dom nolak perjodohan keluarga kita... Kakak sebenernya ngerasa kecewa banget nggak?" Jantung Aruna sempat berdesir heran mendengar pertanyaan sensitif masa lalu itu.
"Kenapa tiba-tiba nanya soal Kak Dom?"Gavin meremas ujung selimut dengan gemas, menyembunyikan wajahnya di dada Aruna seperti bocah yang sedang iri
" Kamu pas di lobi restoran kemarin, waktu Kak Dom turun dari limosin pake jas formalnya, Kamu sempet melongo kaku liat dia. Terus kemarin pas restoran, Kak Dom juga naruh sertifikat saham sama ngobrolin soal barikade baja yang bikin semua orang segan, kamu fokus merhatiin ka Dom"
Gavin mendongak, menatap Aruna dengan mata elangnya yang kini tampak sangat sayu, cemburu, sekaligus menggemaskan
" Sayang... sebenernya pengennya sama Kak Dom ya? Pria matang, bos mafia yang disegani semua orang, bukan sama berondong kayak gue?"
Bwahaha!
Aruna hampir saja menyemburkan tawa gelinya di depan wajah Gavin, namun ia buru-buru membekap mulutnya sendiri agar tidak memicu mual suaminya lagi. Astaga, Boss Kecil keluarga Sterling malam ini ternyata sedang merajuk hebat karena cemburu pada kakak kandungnya sendiri.
" Sayang, dengerin saya," ucap Aruna lembut, menangkup kedua pipi tegas Gavin dan memaksa mata elang pria itu menatapnya langsung.
"Tuan Dom memang penguasa bawah tanah yang luar biasa berwibawa. Tapi di mata saya, dia itu terlalu dingin, kaku, dan menyeramkan. Saya melongo di lobby karena saya kaget melihat pengawalan berlapis bajunya, bukan karena terpesona."
Aruna mengulas senyuman paling cantik, mengecup hidung mancung Gavin dengan penuh kasih sayang
"Saya ini wanita karier yang perfeksionis, Gavin. Saya tidak butuh pria kaku yang hobinya memerintah seperti Kak Dom. Saya cuma butuh kamu. Berondong ksatria yang rela mencari saya, padahal terluka karena tertembak. Pria yang jahitannya lepas di basement demi memastikan saya tetap bernapas aman di lantai dua puluh empat. Pria yang seminggu ini rela mual muntah demi menanggung beban kehamilan saya"
Aruna memeluk leher Gavin erat-erat.
"Jadi berhenti membandingkan diri kamu sama kakak kamu. Bagi saya dan anak di dalam sini, kamu adalah pria paling hebat dan paling berkuasa seumur hidup kami."
Mendengar pembelaan dari bibir istrinya, seluruh rasa minder dan cemburu di dalam dada Gavin seketika menguap tanpa sisa. Rasa puas yang luar biasa membuncah di dadanya, mengalahkan segala kemenangan bisnis bawah tanah yang pernah ia pimpin.
Senyum miring andalannya yang super tampan kembali terukir dengan sangat sempurna di bibirnya. Gavin langsung menarik Aruna ke dalam dekapannya yang sangat posesif, mengunci tubuh istrinya di bawah selimut tebal mereka.
"Nah, gitu dong. Kan harga diri gue sebagai suami langsung naik lagi ke atas langit," gumam Gavin manja dengan kekehan rendah yang bergetar di dada bidangnya.
"Makasih ya, Istriku Sayang. Awas aja kalau besok pas ketemu Kak Dom Kamu melongo lagi, langsung gue cium di depan semua!"
" Dasar Posesif! Ayu Tidur" Aruna tertidur kembali dengan senyuman geli di dalam dekapan hangat suaminya.
***
gw gak nyangka nares secantik itu 😍
Btw, Diandra siapa yah kira kira 🤭
Semngat thor, menarik banget alurnya😍