NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pertandingan ketiga menjadi giliran Su Qingxue.

Dari sisi seberang arena, sosok lawannya melangkah masuk dengan gaya yang sangat percaya diri. Ia mengenakan jubah berwarna putih dengan hiasan berwarna emas, berbeda dari seragam kebesaran Sekte Naga Langit yang biasanya berwarna ungu. Rambut hitamnya terikat rapi, dan wajahnya terlihat sangat sempurna seolah tidak sedang akan bertarung, melainkan sedang menghadiri acara resmi.

Shen Yufeng.

Murid Utama dari Sekte Naga Langit, seorang jenius yang telah mencapai ranah Jiwa Lahir Tingkat 3.

Di samping Lin Chen, Wei Peng secara tidak sadar menarik napas panjang saat melihat sosok itu.

Su Qingxue berdiri tegak di sisi yang berlawanan, menatap lawannya dengan pandangan tenang tanpa ada tanda-tanda keterkejutan. Ia sudah menduga kemungkinan ini akan terjadi, dan ketenangan itu sendiri adalah bentuk persiapan terbaik yang ia miliki di tingkat Inti Emas Tingkat 3.

Shen Yufeng memandangnya dari jarak separuh arena, lalu membungkukkan badannya dengan sopan—bukan sebagai bentuk meremehkan, melainkan sebagai tanda penghormatan yang tulus.

“Kakak Senior Su,” ucapnya dengan suara yang jelas terdengar hingga ke seluruh penjuru arena. “Kemampuan Niat Pedang Sejati Sekte Taixuan yang kau tunjukkan selama beberapa hari ini sungguh luar biasa. Hari ini, aku berharap bisa menyaksikannya kembali sepenuhnya.”

Su Qingxue tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya mengangkat pedang gioknya dari sarungnya.

Shen Yufeng pun tersenyum tipis, lalu mengeluarkan pedang panjangnya sendiri.

 

Pertarungan pun dimulai.

Dan sejak serangan pertama dilancarkan, perbedaan kekuatan sudah terlihat sangat jelas.

Serangan Shen Yufeng melesat bagaikan hembusan angin yang sulit ditangkap mata—bukan hanya cepat secara kasat mata, melainkan memiliki aliran yang halus sehingga tidak terasa ada jeda atau pergerakan. Ia tiba-tiba sudah berada di depan, sudah melancarkan tekanan, dan membuat pertahanan yang dibangun Su Qingxue terasa kurang cukup meskipun sudah dipersiapkan dengan baik.

Su Qingxue terpaksa mundur dua langkah.

Ini adalah kali pertama sepanjang turnamen ini ia harus mundur pada serangan pembuka.

Namun, Shen Yufeng tidak mengejarnya secara membabi buta. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan senyum yang tidak berubah, seolah memiliki waktu yang sangat banyak untuk menunggu.

“Jiwa Lahir Tingkat 3 melawan Inti Emas Tingkat 3,” analisis Lin Chen dalam hati sambil mengamati aliran energi keduanya. “Bukan hanya soal jumlah energi yang dimiliki, tapi juga pemahaman mendalam mengenai hukum alam. Selisihnya bagaikan perbedaan antara langit dan bumi.”

Wei Peng di sampingnya terus mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih, namun tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Meskipun memiliki jarak kekuatan yang cukup jauh, Su Qingxue tidak pernah menunjukkan tanda menyerah sedikit pun.

Ia melancarkan seluruh variasi teknik dan pemahaman terbaik yang dimilikinya. Niat Pedang Sejati miliknya mengalir deras, serangannya padat dan terarah, menggabungkan segala hal yang telah ia pelajari seumur hidup di dalam Sekte Taixuan. Setiap gerakan yang ia keluarkan adalah yang terbaik yang bisa dicapai seseorang di tingkat Inti Emas Tingkat 3.

Namun, Shen Yufeng mampu menghadapi semuanya dengan sangat mudah.

Teknik yang cukup membuat lawan-lawan sebelumnya tertekan hebat, kini hanya dibelokkan dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat sederhana. Bukan karena kekuatan kasar yang lebih besar, melainkan karena pemahaman yang jauh melampaui batas kemampuan yang bisa dikejar hanya dengan bakat dan kerja keras semata.

Pada menit keempat puluh pertarungan, Su Qingxue mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.

Niat Pedang Sejati meledak keluar dari seluruh tubuhnya, bukan lagi hanya sebagai satu serangan tunggal, melainkan gelombang besar yang memancarkan seluruh kemampuan, pemahaman, dan pengalaman yang ia miliki. Udara di sekitar arena bergetar hebat, membuat penonton terdiam terpesona. Bahkan para sesepuh dari sekte lain pun ikut duduk lebih tegak mengamati.

Shen Yufeng menatap gelombang energi itu mendekat, dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya perlahan memudar. Rautnya berubah menjadi perpaduan rasa kagum yang tulus sekaligus rasa simpati.

Ia hanya menggerakkan pedangnya satu kali, sangat sederhana dan bersih.

Seluruh gelombang energi pedang itu terbelah menjadi dua dan terbuang ke sisi kiri dan kanan tubuhnya tanpa menyentuh sehelai kain pun.

Su Qingxue berdiri tegak, namun napasnya mulai memburu. Pedang di tangannya masih terangkat, namun lengannya terlihat sedikit bergetar karena tenaga yang terkuras habis.

Shen Yufeng memasukkan kembali pedangnya ke sarung.

“Niat Pedang Sejati Taixuan... sudah sepuluh ribu tahun tidak ada yang mampu menguasainya secara sempurna,” ucapnya lantang namun lembut. “Dan kau nyaris berhasil melakukannya.”

Nyaris.

Su Qingxue memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang tetap tegar.

“Aku kalah,” ucapnya dengan suara yang mantap dan tidak bergetar.

Shen Yufeng membungkuk lebih dalam sebagai tanda penghormatan terakhir.

Suasana arena kemudian pecah dalam suara tepuk tangan yang meriah dan panjang.

 

Di luar arena, Wei Peng perlahan membuka kepalan tangannya yang sudah terasa kaku, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa berat.

Lin Chen tetap berdiri diam di tempatnya.

“Jiwa Lahir Tingkat 3 melawan Inti Emas Tingkat 3. Perbedaan tingkat itu tidak bisa ditutupi hanya dengan kehebatan teknik semata,” pikirnya. “Namun, Su Qingxue selamat tanpa luka sedikit pun. Jelas terlihat Shen Yufeng sengaja menahan kekuatannya selama pertarungan.”

“Pertanyaannya... mengapa ia melakukan hal itu?”

Pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang jelas saat ini.

Lin Chen pun berbalik arah, berjalan kembali menuju penginapan.

“Perjalanan Sekte Taixuan di turnamen ini sudah berakhir. Besok pagi, kita semua akan kembali pulang ke sekte.”

Langkahnya terhenti sesaat.

“Termasuk aku. Dengan kekuatan baru yang tidak bisa ditunjukkan kepada siapa pun, kunci yang telah membuka rahasia baru, Lin Hao yang mulai mencurigai keberadaanku, serta ruangan misterius di bawah altar yang masih menunggu untuk dibuka...”

Ia melanjutkan langkahnya dengan pandangan yang semakin tegas.

 

Malam terakhir mereka di Kota Jiuyang.

Lin Chen sedang membereskan barang-barang di dapur sekaligus menyiapkan perbekalan untuk perjalanan pulang besok. Tangannya bergerak secara otomatis, sementara pikirannya melayang memikirkan berbagai hal yang baru saja terjadi.

Suara langkah kaki perlahan terdengar menuruni tangga.

Su Qingxue turun sendirian, mengenakan pakaian sehari-hari yang lebih sederhana. Ia duduk di bangku panjang di sudut dapur, tempat yang sama saat ia datang berbicara dua malam sebelumnya.

Lin Chen tetap sibuk membereskan barang tanpa menoleh.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Su Qingxue membuka suara.

“Ia tidak menggunakan kekuatan penuhnya,” ucapnya dengan nada datar, bukan marah atau kecewa, melainkan hanya pernyataan fakta yang sudah ia sadari sepenuhnya. “Shen Yufeng sengaja menahan diri sepanjang pertarungan.”

Lin Chen berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh.

“Kakak Senior bisa merasakannya?”

“Ya,” jawab Su Qingxue sambil mengambil cangkir teh yang sudah disiapkan dan mulai dingin di atas meja—seolah Lin Chen sudah menduga ia akan turun ke bawah. “Pertanyaannya adalah... mengapa ia melakukannya?”

Lin Chen mengikat bungkusan terakhir perbekalan itu.

“Mungkin baginya, kemenangan yang didapat terlalu mudah tidak memberikan kepuasan yang berarti.”

Su Qingxue memutar cangkir teh dingin itu di antara jari-jarinya.

“Atau,” sambungnya perlahan, “ia hanya tidak ingin melukai orang yang tidak perlu dilukai.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Lin Chen mengambil kain lap dan mulai mengelap meja makan.

“Analisis yang lebih mendalam,” batinnya. “Su Qingxue memang tidak pernah hanya melihat permukaan saja.”

“Besok pagi kita akan pulang,” ucap Lin Chen dengan nada biasa. “Sebaiknya Kakak Senior segera beristirahat dan memulihkan kembali tenaga.”

Su Qingxue pun berdiri, meletakkan kembali cangkirnya ke meja. Saat melangkah menuju pintu keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

“Terima kasih atas tehnya, meskipun sudah dingin.”

Setelah mengucapkannya, ia pun kembali naik ke lantai atas.

Lin Chen menatap cangkir kosong itu sejenak.

“Ia memang memperhatikan hal-hal kecil sekalipun.”

Ia segera mengambil cangkir itu dan mencucinya hingga bersih.

 

Di ujung gang sempit, dua blok dari lokasi penginapan, Lin Hao menerima laporan terakhir dari bawahannya.

Seluruh catatan kedatangan dan pendaftaran tamu sudah diperiksa secara teliti. Tidak ditemukan nama bernama Lin Chen. Sosok pelayan yang ikut rombongan Sekte Taixuan hanya tercatat dengan inisial singkat “LC”, tanpa nama lengkap—sesuatu yang sering dilakukan oleh sekte-sekte kecil yang belum memiliki sistem administrasi yang rapi.

Lin Hao melipat lembar laporan itu, lalu menyimpannya kembali.

“Besok mereka semua akan meninggalkan kota ini,” ucapnya pelan.

Pengawalnya berdiri menunggu perintah lanjutan.

“Biarkan saja mereka pergi,” kata Lin Hao akhirnya. “Kita akan bertemu lagi pada waktunya nanti.”

Senyum samarnya tetap terukir di wajahnya, seolah ia sudah mendapatkan petunjuk yang cukup untuk melanjutkan pencariannya di masa mendatang.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!