NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Pratama

Rumah megah Pratama terlihat sedikit hangat. Tidak seharmonis seperti di sampul majalah. Tapi tidak sedingin keluarga Handaru.

Pernikahan Darma dan Widia bukan atas dasar cinta. Mereka korban dari ego orang tua yang sama-sama keras kepala. Akan tetapi, mereka hidup saling melengkapi. Meski tanpa cinta yang menyala-nyala.

"Sepertinya tuan muda Handaru tidak tertarik padaku, Pi." Feli cemberut. Jari-jarinya mainin ujung renda gaun. Bayangan sikap dingin Devan saat pertemuan pertama masih jelas di kepalanya.

"Itu tidak masalah sayang." Suara Widia datar. Tapi tegas. Mereka kini berada di ruang keluarga. Minus sang putra sulung yang masih di Boston. Menyelesaikan Fellowship Surgical Oncology Thoraks di Massachusetts General Hospital.

Widia meletakkan cangkir tehnya. Pelan. Bunyinya nyaris tak terdengar di atas meja marmer. Tatapannya mengunci Feli. "Setelah kamu jadi nyonya muda Handaru...yang menentukan tertarik tidaknya bukan Devan. Tapi kamu." Ia melirik suaminya. Karena itu juga yang Widia lakukan.

Darma menarik napas pelan. Tangannya memeluk bahu sang putri, sambil mengecup sayang keningnya. Darma mungkin tidak mencintai Widia, tapi ia sosok ayah yang sempurna untuk Arlo dan Feli.

Feli menunduk. Bibirnya semakin mengerucut. Kata-kata Widia terlalu besar untuk dicerna saat itu juga. Tertarik atau tidak, bukan Devan. Tapi kamu.

"Tapi Devan...bahkan dia tidak menatapku saat makan siang kemarin, Mi." cicitnya kesal. Feli gadis yang biasanya menjadi pusat perhatian, bertemu dengan Devan yang bahkan tidak melihatnya. Itu sangat melukai harga dirinya.

Widia tersenyum tipis. Tidak hangat. Ia paham perasaan putrinya. Darma terlalu memanjakan nya. Berbeda dengan Arlo yang cuek dan dingin.

"Bagus." Suara Widia membuat Feli menoleh nya. "Itu artinya Devan tidak akan melirik wanita lain. Jika putri mami yang cantik ini tidak bisa mengalihkan perhatian nya." Lanjut Widia tenang.

Feli terdiam. Mendongakkan kepalanya. Pelan. "Menurut papi gimana?"

Darma tersenyum sebelum menjawab. "Devan itu bukan pria biasa, sayang. Dia menyandang nama besar Handaru. Hidupnya penuh tekanan. Apalagi dia anak tunggal." Darma menghela napas.

Kemudian, ia kembali bicara. "Kamu lihat kakakmu, kan? Arlo. Bagaimana sikapnya sekarang. Dingin, bahkan kita sebagai keluarganya saja jarang melihatnya tertawa." Sikap putranya memang sebelas dua belas dengan sikap Devan.

Darma menyesal, karena dulu terlalu sibuk dengan kariernya. Membiarkan Arlo hidup dibawah asuhan orang tua Widia. Membuat Arlo tumbuh dengan doktrin dan obsesi yang gila.

Sempurna adalah standar hidupnya. Darma kehilangan banyak momen tentang tumbuh kembang Arlo. Dan kini menjadi jarak yang sulit di jangkau.

Darma menghela napas berat. Kesalahan itu tidak ia ulang pada sang putri. Ya, dia memang terlalu memanjakan Feli. Bahkan ia orang pertama yang mendukung Feli, ketika gadis itu memilih menjadi dokter kecantikan.

Meski dalam hatinya tidak puas. Tapi Darma tidak ingin menciptakan Arlo versi anak perempuannya.

Feli meremas tangannya. Pikirannya mulai membanding-bandingkan sikap dingin Devan dan Frans yang ugal-ugalan menunjukkan rasa sukanya.

Frans pria yang pintar dan tampan. Sayangnya, pria itu tidak punya nama keluarga. Frans juga anak yang baik, dia selalu menjaga dan memastikan ibunya yang janda hidup dengan baik.

Jika saja Frans punya nama keluarga seperti Devan. Mungkin Feli tidak harus menjalani hubungan dengan pria asing.

Ya. Bagi Feli, Devan masih orang asing. Yang membuat Devan tidak asing adalah nama Handaru. Sebuah nama yang bahkan bisa membuat orang tuanya setuju tanpa banyak bicara.

"Hai, apa yang kamu pikirkan?" Darma melambaikan tangannya di depan wajah Feli. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

Feli tersenyum kaku. "Gak ada, Pi." jawabnya. Kambali memeluk Darma. "Kapan kak Arlo pulang? Seharusnya dia sudah selesai, kan?" Katanya mengalihkan pembicaraan.

Darma melirik istrinya. Bukan lirikan cinta, tapi sebuah kode. Widia yang sudah paham langsung membuka suara.

"Arlo sudah datang kemarin malam. Dia di apartemennya." Itu suara Widia.

Feli langsung menegakkan tubuhnya. Kaget. "Kok Feli gak tahu?!" Pekiknya protes. Ia mengambil ponselnya, memeriksa pesan yang ia kirim ke kakaknya tempo hari.

"Ceklis dua, tapi gak di bales!" geramnya. Padahal dia kirim pesan tiga hari yang lalu.

Darma membuang napas kasar. Jangankan Feli. Ia yang ayahnya saja tidak pernah berbalas pesan dengan sang putra. Darma pernah mengirimi pesan panjang, tapi jawaban Arlo hanya 'ya, oke, tidak' selalu begitu. Polanya sama. Bertahun-tahun.

"Kakak keterlaluan!" gumam Feli menggenggam kuat ponselnya. "Aku mau kesana!" Cetusnya.

"No sayang." cegah Widia. "Jangan ganggu kakakmu dengan hal yang tidak penting. Biarkan dia istirahat. Besok dia akan memulai rotasi di Medika Care Hospital." kata Widia yang paling tahu kegiatan sang putra.

"Mi." rengeknya. "Aku ini adiknya. Menurut mami aku tidak penting?" Matanya mulai berkaca-kaca.

Widia tidak bergeming. "Kamu bisa menemuinya besok saat jam makan siang." Tegasnya. Final.

Feli menoleh kearah Darma. Berharap dapat pembelaan. Darma menangkap tatapan itu. Ia menghela napas. "Ini sudah malam sayang. Masih banyak waktu untuk bertemu dengannya. Papi juga belum bertemu dengan Arlo." kata Darma sebelum Feli membuka suaranya.

Feli mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Kecewa sudah pasti. Dan ada rasa marah pada kakaknya. Menurut Feli, Arlo terlalu dingin dengan keluarganya sendiri.

.....

Jam 01:20 dini hari, di saat hampir seluruh penghuni bumi menutup matanya. Seorang pria jangkung masih terjaga. Matanya menatap nanar gambar profil cantik di sebuah aplikasi pesan hijau. Ada rasa rindu yang tertahan. Ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya.

Arlo Seth Pratama. Sejak kecil ia dididik keras oleh kakeknya. Surya Aditama. Yang tak lain ayah Widia.

Pernikahan tanpa cinta yang dijalani Widia terasa hambar. Apalagi awal-awal pernikahan. Darma terlalu sibuk mengejar karier, melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah.

Hal itu membuat Widia menanamkan keyakinan pada Arlo. Jika ayahnya hanya peduli dengan pencapaian. Ayahnya tidak akan melihatnya tanpa: gelar, pencapaian, sertifikat, piala, dan berbagai penghargaan dari dunia medis.

Keyakinan itu yang membuat Arlo menjaga jarak dari Darma. Apalagi saat Widia mengatakan jika Arlo penerus nama Pratama.

Arlo memejamkan matanya. Di tengah kesunyian malam. Kepalanya berisik. Suara teriakan Feli menggema di telinganya. Wajah ceria itu menari-nari di pelupuk matanya, seolah memanggilnya pulang ke rumah.

"Maaf," desah Arlo pelan. Menahan sikap dengan satu-satunya saudara. Itu tidak mudah. Arlo tersiksa.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Sebab, saat ia lepas kendali. Semua yang di bangunnya akan hancur. Sia-sia kerja kerasnya selama ini. Dan sang ayah...tidak akan pernah melihatnya. Tidak akan pernah menganggapnya ada.

*

*

*

*

*

To be continued

Dear readers.....saran author, kalian bacanya pelan-pelan yaaaa..biar paham alurnya gimana.... feel-nya juga berasa🙈

Dan yaaaa, kritik dan saran terbuka lebar yaaaaaa.....

Terimakasih sudah mampir ke karya gabut author 🥹 Jujur, ini novel spontanitas author aja... tiba-tiba pingin bikin novel ala-ala medis🤦🏻‍♀️ padahal background non medissss... Author mesti belajar jauh lebih kerassss, berat uyyy jadi mahasiswa kesehatan 🫠 wajar kalau berobat itu mahal.....

Author yang numpang belajar, belajarnya sekali jalan aja capek, apalagi yang benar-benar masuk FK🫂🫂Selain biayanya besar, mental harus double DECH pokoknyaaa

So, untuk para readers...sebelumnya terimakasih sudah mampir...kalau kalian ada waktu luang, tolong Like, komen, subscribe, vote, dannnn.... sekuntum mawar merah juga bolehhh🤣🤣🤣boleh banget malahan🙈🙈🙈

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!