NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:59k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Dia Mulai Mengusik

Sejak rapat kerja sama dengan MS Fashion pagi itu, nama Michelle Ayu Suroso mulai sering terdengar di kantor Ardhana Group.

Awalnya hanya sebatas urusan pekerjaan. Jena masih menganggap semuanya normal.

MS Fashion memang perusahaan besar. Wajar jika proyek kerja sama mereka melibatkan banyak komunikasi dan pertemuan lanjutan.

Namun entah kenapa, nama Michelle mulai muncul terlalu sering di sekitar Jovian.

"Pak Jovian, proposal revisi dari MS Fashion sudah masuk."

"Pak Jovian, Bu Michelle meminta perubahan timeline produksi."

"Pak Jovian, Bu Michelle ingin menjadwalkan meeting tambahan."

Dan setiap kali nama itu disebut, Jena mulai merasa ada sesuatu yang perlahan mengusik ketenangan hidupnya. Namun ia selalu berusaha berpikir positif.

***

Suasana kantor pagi itu cukup lengang karena sebagian staf menghadiri kunjungan ke pabrik cabang.

Jena sedang menyusun dokumen di meja sekretaris ketika suara pintu lift privat terbuka. Ia mendongak spontan. Jovian keluar sambil melepas jas hitamnya. Tatapan lelaki itu langsung mencari satu orang. Dan seperti biasa, berhenti pada Jena. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian menghampiri meja sekretaris lalu menyandarkan pinggul di sana. "Kamu udah sarapan?"

"Udah."

"Bohong."

Jena terkekeh. "Beneran."

"Kopi doang bukan sarapan," tebak Jovian tepat sasaran.

Jena menghela napas pasrah. "Mas ini kenapa sih suka banget ngawasin aku?"

"Karena aku sayang kamu." Jawabannya terlalu cepat. Terlalu natural. Dan selalu berhasil membuat pipi Jena menghangat. Jovian lalu menyerahkan paper bag kecil. "Ini buat kamu."

"Apa ini, Mas?"

"Buka aja."

Jena membuka paper bag itu perlahan. Matanya langsung berbinar saat melihat kotak kecil berisi strawberry cheesecake favoritnya. "Mas ..."

"Kemarin kamu lihat postingan itu terus dan kamu bilang ke aku kalau kamu pengen makan itu."

"Kamu inget?" Mata Jena berbinar.

Jovian mengangkat alis. "Aku lupa kapan terakhir kali nggak inget soal kamu."

Dada Jena kembali dipenuhi rasa hangat. Ia memeluk Jovian, sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.

Sembilan tahun bersama, dan lelaki itu masih memperhatikan hal kecil tentang dirinya. Bagaimana mungkin Jena tidak mencintai Jovian sedalam ini? Bahkan ia bisa dibilang tergila-gila pada makhluk tampan berwibawa bernama Jovian Ardhana.

"Mas udah sarapan belum?" tanya Jena sambil melepas pelukan.

"Udah tadi di rumah. Hari ini ada meeting pagi 'kan?"

Jena mengangguk. "Ada. Jam sepuluh."

"Kalau gitu aku masih punya waktu buat nemenin kamu sarapan."

Pipi Jena merona. "Mas apaan sih? Nanti diomelin lho."

"Nggak akan ada yang berani ngomel. Aku 'kan CEO di sini."

"Iya juga ya." Jena terkikik.

Jovian ikut terkekeh pelan lalu menarik kursi dan duduk di dekat meja sekretaris itu seperti sudah biasa. Padahal jika dilihat orang lain, pemandangan itu sangat tidak masuk akal.

Seorang CEO besar duduk menemani sekretarisnya makan cheesecake sambil sesekali menyuapinya. Namun bagi Jovian ... Jena selalu menjadi tempat paling nyaman. "Aaa ... buka mulutnya, Sayang."

"Mas!"

"Cepet."

Jena malu-malu membuka mulut kecilnya sementara Jovian tersenyum puas.

Beberapa staf yang lewat hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Pak Jovian makin hari makin bucin." Salah satu staf berbisik ke rekannya.

"Iya. Kalau aku jadi Mbak Jena, udah nggak mau cari laki-laki lain."

Dan memang benar. Bagi Jena, Jovian adalah rumah.

Lelaki yang menemaninya tumbuh sejak remaja.

Lelaki yang dulu rela kehujanan demi menjemputnya les.

Lelaki yang mengajarinya menyetir.

Lelaki yang selalu bilang:

"Nanti kalau aku sukses, kamu harus tetap di samping aku."

Dan Jena percaya ia akan tetap berada di sana. Di sisi Jovian, selamanya.

***

Menjelang siang, suasana kantor kembali sibuk. Jena sedang mencetak beberapa dokumen ketika suara langkah heels terdengar mendekat. Ia mendongak.

Michelle berdiri di depan meja sekretaris dengan senyum elegan. "Hai, Jena. Selamat siang."

Jena langsung berdiri sopan. "Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

Jena sedikit terdiam mendengar perempuan itu memanggil nama CEO-nya begitu saja.

Bukan "Pak Jovian", tapi langsung Jovian.

Namun Jena buru-buru menepis pikirannya sendiri. "Mungkin memang gaya bicara Bu Michelle seperti itu," batinnya. Ia segera menjawab. "Ada, Bu. Tapi Pak Jovian sedang meeting online," jawab Jena.

Michelle mengangguk kecil. "Kalau begitu aku tunggu aja."

"Silakan duduk."

Michelle duduk di sofa ruang tunggu depan ruang CEO sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Jovian keluar sambil masih fokus membaca dokumen di tablet. Namun langkahnya berhenti saat melihat Michelle. "Oh, kamu sudah datang."

Michelle berdiri sambil tersenyum manis. "Maaf aku datang mendadak."

"Nggak apa-apa."

"Aku cuma mau memastikan soal revisi kontrak kemarin."

Jena kembali sedikit terusik. Lagi-lagi perempuan itu memanggil Jovian dengan cara yang terlalu akrab. Namun yang lebih membuatnya diam, Jovian tidak terlihat keberatan sama sekali.

"Mari masuk," ujar Jovian.

Michelle mengangguk. Sebelum masuk ke ruang CEO, perempuan itu sempat melirik Jena dan tersenyum tipis.

Entah kenapa, senyum itu membuat Jena tidak nyaman. "Kenapa perasaanku selalu seperti ini ya, setiap melihat Bu Michelle?"

Hampir satu jam Michelle berada di dalam ruangan CEO. Jena sebenarnya berusaha fokus bekerja. Namun samar-samar ia mendengar suara tawa dari dalam ruangan. Tawa Jovian. Dan anehnya, sudah lama sekali ia tidak mendengar sang kekasih tertawa selepas itu saat bekerja.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Michelle keluar sambil tersenyum. "Thanks ya."

Jovian ikut keluar mengantarnya sampai depan pintu. "Sama-sama."

Michelle tertawa kecil. "Kamu ternyata nggak sedingin yang aku bayangkan. Dan nggak sejutek yang orang-orang bilang. Kamu orangnya ... asyik."

Jena yang sedang mengetik spontan berhenti sesaat. Tatapannya perlahan terangkat. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Jovian tersenyum pada perempuan lain dengan cara yang cukup hangat. "Sikap hangatku hanya kutunjukan pada orang-orang tertentu," jawab Jovian santai.

Michelle tersenyum semakin lebar. "Berarti aku spesial dong bisa lihat sisi hangatnya kamu?"

Jovian terkekeh kecil. Lalu ia mengangkat bahu.

Dadanya Jena mendadak terasa aneh.

Bukan karena ucapan itu. Tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Michelle akhirnya pamit pergi. Namun setelah pintu lift tertutup, Jena masih terdiam beberapa detik. Sampai suara Jovian menyadarkannya. "Kenapa bengong?"

"Hah? Enggak." Jena mengelak cepat.

Jovian mendekat ke meja sekretarisnya.

Tatapan lelaki itu langsung menyipit tipis. "Jangan bilang kamu cemburu?"

Jena spontan salah tingkah. "Apa sih?" Ia memalingkan wajah.

"Kelihatan tahu," goda Jovian sambil mengacak puncak kepala Jena.

"Aku nggak cemburu." Jena menahan tangan Jovian yang mengacak rambutnya.

Jovian tersenyum kecil lalu mencondongkan tubuh mendekat. "Jangan mikir yang enggak-enggak. Dia cuma partner kerja." Nada suaranya terdengar santai dan meyakinkan.

"Aku cuma nggak biasa lihat Mas ngobrol selama itu sama perempuan lain," gumam Jena jujur.

Jika tadi Jovian mengacak puncak kepala Jena, kini lelaki itu mengusapnya lembut. "Berarti kamu cemburu."

"Masss!" Bibir Jena manyun.

Jovian mencomot gemas bibir manyun Jena, sebelum berbisik penuh damba. "Di hidup aku cuma ada kamu."

Kalimat itu sukses membuat kecemasan kecil di hati Jena perlahan mereda. Ia mendongak, menatap Jovian yang tengah menatapnya hangat. "Mungkin aku terlalu sensitif dan curiga berlebihan," bisiknya dalam hati. "Lagian Bu Michelle itu cantik, pintar, dan berasal dari keluarga kaya raya. Mana mungkin dia tertarik pada laki-laki yang sudah punya kekasih selama sembilan tahun? Nggak mungkin perempuan terhormat seperti Bu Michelle jadi PHO?" Jena kembali menepis semua kecurigaannya.

"Udah ya, kamu nggak usah cemburu sama Michelle," suara Jovian membuyarkan kecamuk batin Jena.

"Iya, Mas." Jena mengangguk kecil.

"Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi. Aku juga mau kembali ke ruanganku. Nanti sore kita pulang sama-sama ya?"

"Iya, Mas."

***

Waktu kerja pun usai. Jovian keluar dari ruangannya dan segera menghampiri Jena. "Sudah siap untuk pulang?" tanya lelaki itu seraya bersandar di kusen pintu.

Jena tertawa sambil merapikan barang-barangnya. "Siap Pak CEO."

"Kalau begitu ... let's go!"

Jena berlari kecil dan menyambut uluran tangan Jovian. Mereka berdua berjalan menapaki koridor kantor dengan bergandengan tangan.

Sampai di depan mobil, Jovian bertanya pada Jena. "Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"

Jena nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. "Langsung pulang aja. Aku capek banget. Mas juga kelihatan lelah."

"Oke, Sayang." Jovian membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, cintaku."

Tawa Jena menguar geli. "Mas ihh! Jangan lebay."

"Aku nggak lebay. Aku cuma berusaha meratukan calon istriku."

Perlahan, mobil sport hitam itu melaju keluar dari parkiran kantor Ardhana Group.

Sekitar tiga puluh menit, mobil Jovian sampai di kawasan apartemen elite. "Mau mampir dulu nggak, Mas?" Jena bertanya sembari melepas sabuk pengamannya. "Mampir lah, masa enggak. Ke apart sendiri kok nggak mampir," cerocos Jena menggoda Jovian, membuat lelaki itu tertawa.

"Oke, oke. Jika ratuku sudah nyerocos ... aku tidak bisa menolak."

Jena terkikik. "Ya sudah, ayo turun."

"Siap."

Mereka kembali berjalan bergandengan tangan mesra. Para petugas apart pun sudah tak aneh lagi. Bahkan ada yang terang-terangan menggoda.

"Aduh-aduh ... kapan nyebar undangan nih?" kata salah satu resepsionis.

"Akhir tahun." Jovian menjawab dengan mantap dan suara yang lantang, membuat Jena yang berjalan di sebelahnya tak bisa menyembunyikan rona di pipi.

"Asyik! Kondangan nih kita!"

"Iya!"

Dua pegawai resepsionis itu tertawa saling bersahutan.

Jena dan Jovian pun ikut tertawa-tawa sambil menunggu lift terbuka. Tak lama, lift di depan mereka terbuka. Lalu keduanya masuk dengan wajah bahagia.

Akhirnya lift berhenti di lantai lima belas di mana unit apartemen Jena berada, lebih tepatnya unit milik Jovian yang ditinggali Jena.

"Mari masuk!" seru Jena sambil membuka pintu. Belum sempat gadis itu membuka heels-nya, tangan Jovian sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga berbenturan dengan tubuh Jovian yang tinggi atletis. "Mas!" Jena memukul pelan dada bidang kekasihnya.

"Aku pengen ini dari tadi." Jovian menyentuh permukaan bibir Jena yang dipoles lipstik warna nude.

Jena mendongak, kedua tangannya langsung melingkari leher kekar sang kekasih. "Boleh," bisiknya.

Jovian tersenyum kecil sebelum merunduk dan meraup bibir Jena.

Sang gadis membalasnya dengan lembut di awal. Tapi lama kelamaan mengikuti ritme hisapan Jovian.

"Jena ..." desah Jovian di sela ciuman mereka. "Aku sayang kamu."

"Aku juga, Mas."

Untuk beberapa menit, suasana di ruang tamu apartemen itu hanya dipenuhi suara cecapan bibir dan lidah yang saling beradu. Diiringi napas berat yang bertabrakan. Hingga akhirnya ponsel di saku jas Jovian berdering. Ciuman itu pun terlepas. Keduanya lalu tertawa geli.

"Ada yang nelepon, Mas."

"Iya, ganggu aja." Jovian merogoh saku jasnya setelah mengusap permukaan bibir Jena menggunakan ibu jarinya. "Papa." Suaranya memelan.

"Buruan angkat! Nanti beliau marah," kekeh Jena yang kini gantian mengusap permukaan bibir Jovian yang basah oleh saliva.

"Iya, Sayang." Jovian pun mengangkat panggilan dari ayahnya itu. "Halo, Pa?"

Suara ayahnya terdengar di seberang. "Kamu masih di kantor?"

"Nggak, aku lagi di apart Jena, kenapa?"

"Pulang sekarang. Ada yang ingin Papa bicarakan."

Sebelum menjawab, Jovian melirik Jena. Ia menjauhkan ponselnya sejenak. "Papa nyuruh aku pulang sekarang," beritahunya.

"Nggak papa, pulang aja." Jena membalas dengan suara kecil.

Jovian kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Oke, Pa. Aku pulang sekarang." Panggilan pun berakhir. Jovian memasukan ponselnya ke saku jas, "Aku pulang dulu ya?"

"Iya, Mas. Hati-hati."

"Nanti malam kita vc."

"Iya."

Sebelum pergi, Jovian menyempatkan diri memeluk dan mengecup lagi bibir Jena. "Bye, Princess."

"Bye, Mas." Jena mengantar Jovian sampai ambang pintu. Ia dengan setia memandangi tubuh sang pacar sampai menghilang di balik lift. "Huh!" Jena menutup pintu lalu berjalan ke kamarnya. "Aku ingin segera menjadi istrimu, Mas."

***

Jena duduk di balkon apartemennya sambil melakukan video call dengan Jovian.

Lelaki itu masih berada di ruang kerjanya di rumah. "Kamu belum tidur?" tanya Jovian.

"Nungguin Mas. Kan tadi sore ngajak video call."

"Eh, iya." Jovian mengedip polos.

Jena tersenyum kecil. "Aku kangen."

Tatapan Jovian langsung melembut. "Kan tadi sore udah aku kasih amunisi."

"Mau lagi. Tadi kurang lama," kekeh Jena.

"Dasar." Jovian tertawa kecil. "Apa aku harus ke sana sekarang?"

"Emang Mas mau?" Jena malah balik bertanya.

"Kalau kamu bilang iya, aku berangkat sekarang."

Jena langsung tersipu. "Mas jangan bikin aku salting."

"Memang sengaja."

Mereka berbincang cukup lama. Tentang pekerjaan, tentang rencana liburan, tentang makanan dan tentang hal-hal sederhana yang sudah menjadi bagian dari hubungan mereka selama bertahun-tahun. Sampai tiba-tiba ponsel Jovian yang lain berbunyi.

Tatapan lelaki itu langsung beralih ke layar lain. "Sebentar ya."

"Siapa?"

"Michelle."

Jantung Jena langsung terasa sedikit turun. Jovian membaca pesan itu singkat lalu kembali menatap layar. "Dia kirim revisi desain."

"Oh." Jena berusaha tersenyum biasa.

Namun sedetik kemudian ponsel Jovian kembali berbunyi. Dan lagi. Lalu lagi.

Jovian terkekeh kecil. "Dia cerewet juga ternyata."

Jena ikut tersenyum tipis. "Mas jadi ke sini, tidak?"

Jovian memalingkan wajahnya dari ponsel satunya lagi. "Maaf ya, Sayang. Besok saja, ya. Aku harus memeriksa revisian yang dikirimkan Michelle."

"Hah?" Jena mematung. Ini pertama kalinya Jovian mengedepankan pekerjaan ketimbang dirinya.

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!