Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Aula utama Sekte Awan Langit berubah kacau.
Beberapa murid berdiri dengan wajah pucat. Para tetua saling pandang, tidak ada yang langsung bicara. Peta langit di tengah aula terus bergetar, memancarkan cahaya emas gelap dari titik kecil bernama Pontianak.
Di atas titik itu, simbol mahkota retak berdenyut pelan.
Tidak besar.
Tidak meledak.
Namun setiap denyutnya membuat pedang-pedang spiritual yang tergantung di pinggang para murid ikut bergetar, seolah semua senjata itu sedang mendengar suara yang tidak bisa didengar manusia.
Seorang murid penjaga peta jatuh berlutut.
“Leluhur… tanda hidup Kakak Luo Cheng melemah.”
Ucapan itu membuat aula semakin sunyi.
Luo Cheng bukan murid biasa. Ia murid inti Sekte Awan Langit. Bakat pedangnya tinggi, latar belakang keluarganya kuat, dan selama ini ia hampir tidak pernah kalah di antara generasi muda.
Namun baru berapa lama ia turun ke dunia fana?
Tidak sampai setengah malam.
Tanda hidupnya sudah melemah.
Lebih buruk lagi, peta langit tidak menunjukkan tanda bahwa Luo Cheng sedang bertarung sengit. Tidak ada ledakan energi besar. Tidak ada gelombang spiritual panjang. Tidak ada kehancuran ruang.
Seolah ia tidak dikalahkan dalam pertarungan panjang.
Melainkan ditekan begitu saja.
Mei Lan berdiri di sisi aula dengan wajah tegang. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan jubah mengepal pelan.
Ia sudah merasakan ada yang salah sejak awal.
Simbol mahkota itu tidak seperti pusaka.
Tidak seperti makam kuno.
Tidak seperti energi dewa biasa.
Simbol itu terasa seperti sesuatu yang memiliki kehendak.
Dan sekarang, Luo Cheng sudah membayar harga karena terlalu meremehkannya.
Seorang tetua berjanggut putih melangkah maju.
“Leluhur Yun Cang, izinkan kami membuka gerbang penarikan. Luo Cheng harus segera ditarik kembali.”
Tetua perempuan di sisi lain langsung menimpali, “Tidak semudah itu. Jejak gerbang yang dipakai Luo Cheng sudah berubah. Ada tekanan asing menutup jalur baliknya.”
“Tekanan asing?”
“Bukan energi spiritual. Bukan formasi. Lebih seperti… perintah.”
Kata terakhir membuat aula kembali hening.
Perintah.
Bagaimana mungkin sebuah dunia fana memberi perintah kepada jalur ruang milik Sekte Awan Langit?
Leluhur Yun Cang tetap berdiri di depan kursi tertinggi. Wajah tuanya tampak lebih gelap daripada sebelumnya. Matanya menatap simbol mahkota retak yang masih menyala di peta.
Ia mengangkat tangan.
“Jangan membuka gerbang.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Tetua berjanggut putih terkejut. “Leluhur, jika kita terlambat, Luo Cheng bisa mati.”
“Dia belum mati.”
“Tapi tanda hidupnya—”
“Bukan melemah karena tubuhnya sekarat,” potong Yun Cang dengan suara berat. “Tanda hidupnya meredup karena sebagian kekuatannya disegel.”
Aula langsung bergemuruh pelan.
“Disegel?”
“Di dunia fana?”
“Mustahil…”
Mei Lan menatap peta langit dengan napas tertahan.
Luo Cheng disegel.
Bukan dibunuh.
Itu lebih menakutkan.
Jika seseorang bisa membunuh Luo Cheng, itu berarti orang itu kuat. Tetapi jika seseorang bisa menyegel kekuatannya tanpa membunuhnya, itu berarti orang itu memiliki kendali yang jauh lebih tinggi. Ia tidak sekadar mengalahkan. Ia menghukum.
Yun Cang menutup matanya sebentar.
Dalam ingatannya, cerita lama itu kembali muncul.
Pedang Penghakiman.
Takhta Absolut.
Nama yang dihapus dari catatan langit.
Seseorang yang dulu tidak hanya membunuh musuh, tetapi mencabut hak mereka untuk berdiri di bawah langit.
Ia membuka mata.
“Periksa jejak segel di tanda hidup Luo Cheng.”
Murid penjaga peta menunduk cepat. Ia mengangkat kedua tangan, lalu mengalirkan energi spiritual ke dalam peta langit. Cahaya biru-putih menyebar, mencoba membaca keadaan Luo Cheng dari jarak jauh.
Namun begitu cahaya itu menyentuh titik Pontianak, simbol mahkota retak berdenyut.
Bam!
Murid itu terlempar mundur.
Tubuhnya menghantam lantai aula, lalu memuntahkan darah.
“Murid!”
Beberapa orang segera membantunya.
Murid itu gemetar, matanya melebar penuh ketakutan.
“Aku… aku melihat…”
Yun Cang menatapnya tajam.
“Apa yang kau lihat?”
Murid itu memegang dadanya.
“Takhta…”
Aula menjadi sunyi.
Murid itu melanjutkan dengan suara gemetar.
“Ada takhta di belakangnya. Dan… dan sebuah pedang. Aku hanya melihat bayangannya, tapi rasanya seperti jiwaku hampir terbelah.”
Mei Lan merasakan kulit di lengannya meremang.
Beberapa tetua yang tadi masih meragukan bahaya Pontianak kini mulai menunjukkan wajah pucat.
Pedang.
Lagi-lagi pedang.
Yun Cang menarik napas dalam.
“Cukup. Jangan sentuh peta itu lagi.”
Tetua berjanggut putih bertanya pelan, “Leluhur… apakah itu benar-benar pusaka?”
Yun Cang menatapnya.
“Tidak.”
Jawaban itu membuat semua orang terdiam.
Yun Cang memandang titik Pontianak.
“Itu bukan pusaka.”
Suaranya berat.
“Itu penguasa.”
Tidak ada yang berani bicara.
Kata penguasa terdengar terlalu besar di aula itu.
Sekte Awan Langit memang kuat, tetapi mereka bukan puncak Dunia Immortal. Di atas mereka masih ada klan kuno, aliansi langit, istana immortal, bahkan para dewa yang hanya disebut dalam legenda. Jika sesuatu yang muncul di dunia fana disebut penguasa oleh Yun Cang, maka masalah ini tidak sesederhana mencari harta.
Mei Lan maju satu langkah.
“Leluhur, izinkan aku turun.”
Yun Cang menatapnya.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Menjemput Luo Cheng, jika masih bisa. Dan memastikan keadaan sebenarnya di Pontianak.”
Seorang tetua langsung menolak.
“Tidak. Kita baru saja kehilangan kendali atas Luo Cheng. Mengirim murid inti lain terlalu berisiko.”
Mei Lan menatap tetua itu dengan tenang.
“Justru karena Luo Cheng gagal, kita tidak bisa mengirim orang yang lebih sombong. Jika orang berikutnya datang dengan sikap yang sama, hasilnya akan lebih buruk.”
Tetua itu terdiam.
Mei Lan melanjutkan.
“Luo Cheng pergi untuk merebut. Aku akan pergi untuk melihat.”
Yun Cang menatap Mei Lan cukup lama.
Dibanding Luo Cheng, Mei Lan memang jauh lebih tenang. Ia tidak mudah terpancing. Ia punya mata yang tajam dan hati yang lebih hati-hati. Jika ada murid yang mungkin selamat dari kesalahan pertama, Mei Lan lebih pantas dibanding yang lain.
Namun Yun Cang tetap ragu.
Karena kali ini bukan soal bakat.
Ini soal takhta yang mungkin sudah terbangun.
“Jika kau turun,” ucap Yun Cang pelan, “ingat satu hal.”
Mei Lan menunduk.
“Aku mendengar, Leluhur.”
“Jangan menyebut dirimu utusan sekte dengan nada tinggi.”
Mei Lan diam.
“Jangan menuntut.”
“Jangan mengancam.”
“Jangan menyebut dunia itu rendah.”
“Dan jika kau bertemu pemilik simbol itu…”
Yun Cang berhenti sejenak.
Aula terasa semakin berat.
“…jangan memandang matanya terlalu lama.”
Mei Lan mengangkat wajah sedikit.
“Kenapa?”
Yun Cang tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap peta langit dengan mata tua yang tampak menyimpan terlalu banyak ketakutan lama.
“Karena jika benar dia adalah sosok yang kupikirkan, maka yang menatap balik bukan hanya manusia fana.”
Mei Lan menelan napas pelan.
Yun Cang melanjutkan.
“Yang menatap balik adalah sejarah yang gagal dibunuh para dewa.”
Ucapan itu membuat aula utama terasa beku.
Para tetua tidak berani bertanya lebih jauh. Para murid bahkan tidak memahami sepenuhnya, tetapi mereka bisa merasakan ketakutan yang tersembunyi di balik kata-kata leluhur.
Mei Lan memberi hormat dalam-dalam.
“Aku akan berhati-hati.”
Yun Cang mengangguk pelan.
“Kau tidak turun malam ini. Tunggu sampai jalur ruang stabil. Kita tidak akan lagi mengirim orang melalui celah yang sama.”
Mei Lan mengangguk.
“Baik.”
Di sisi lain aula, seorang murid muda berbisik pelan kepada temannya.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Kakak Luo Cheng?”
Bisikan itu terdengar oleh banyak orang.
Namun tidak ada yang menjawab.
Karena untuk saat ini, Luo Cheng berada di tangan sosok yang bahkan membuat Leluhur Yun Cang memilih berhati-hati.
Dan di mata sebagian besar tetua, itu berarti satu hal.
Nasib Luo Cheng bukan lagi ditentukan Sekte Awan Langit.
Melainkan ditentukan oleh penguasa di Pontianak.