NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Level Hazard: S, Harga Kepala Arjuna

Debu belum sepenuhnya mengendap ketika Dyah Ayu melangkah maju dengan mata yang sudah tidak basah lagi.

Penggantinya adalah sesuatu yang jauh lebih tajam dari air mata.

"Kenapa bukan kau yang menyuruhku pergi?!"

Suaranya membelah keheningan perbatasan yang hancur. Arjuna berpaling ke arahnya tanpa ekspresi yang berubah, tetapi Dyah Ayu tidak memberinya kesempatan untuk menjawab.

"Kau menyuruh Jendral Harjasa yang memberitahuku! Seolah aku tidak cukup penting untuk kau beritahu sendiri! Seolah aku hanya beban yang perlu disingkirkan!"

Harjasa membuka mulutnya, tetapi Arjuna mengangkat satu tangan ke arahnya.

Yaitu sebuah isyarat untuk diam.

"Kau benar," balas Arjuna dengan nada datar.

Dyah Ayu terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Arjuna akan mengakuinya semudah itu.

"Aku tidak memberitahumu secara langsung karena aku tidak punya waktu. Tujuh Calamity Tribulation Catastrophe tidak memberi ruang untuk percakapan panjang."

"Itu bukan alasan!"

"Itu satu-satunya alasan yang ada." Arjuna menatap matanya tanpa berkedip, "Kalau aku menghabiskan satu detik untuk menjelaskan kepadamu, maka satu detik itu cukup untuk ketujuhnya menghancurkan seluruh area ini sebelum kau sempat berlari."

Dyah Ayu mengepalkan tangannya. "Kau hampir mati dan kau bahkan tidak terlihat takut! Apakah nyawamu tidak berharga bagimu?!"

Kali ini Arjuna tidak menjawab seketika.

Harjasa melirik ke arah Arjuna dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Aku tidak hampir mati," balas Arjuna akhirnya dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya, "Aku sudah menghitung semuanya sebelum melangkah."

Dyah Ayu menatapnya lama. Rahangnya mengeras, tetapi api dalam matanya perlahan melunak menjadi sesuatu yang lebih melelahkan dari kemarahan.

Ia membuang nafas panjang, dan berpaling, “Menyebalkan.”

Panel hologram sistem melayang di hadapan Arjuna.

[Evolusi Ras Selesai: Ancient Human]

[Peningkatan Pasif Dragon's Hunger: 70x menjadi 100x]

[Catatan: Penyerapan jantung ras hibrida tidak lagi tersedia]

[Kultivasi selanjutnya: Pil, meditasi, atau penyerapan energi Ether sekitar pun diperluas jangkauannya radius 500 meter]

[Devil Phantom Raijin Domain: 50 Meter menjadi 100 Meter]

[Vital Strike: 3x per hari menjadi 4x per hari]

[Ultra Phantom Slash: 1x per hari menjadi 2x per hari]

Arjuna menutup panel itu tanpa ekspresi yang berubah.

Akan tetapi sesuatu bergejolak dari dalam dantiannya.

Bukan rasa sakit. Bukan tekanan. Melainkan tujuh sesuatu yang hidup sekaligus, bergerak dan berdenyut di dalam inti tubuhnya seperti tujuh jantung tambahan yang baru saja terbangun dari tidur panjang yang sangat lama.

“Apa yang terjadi?!” batin Arjuna merasakan sebuah tekanan di dalam wadah induk atau dantian-nya.

Tujuh cahaya memancar dari tubuh Arjuna serentak. Biru, hijau, merah, kuning, cokelat, hitam, dan putih. Ketujuh cahaya itu mengeras, dan membentuk tujuh siluet manusia yang berdiri mengelilingi Arjuna dalam lingkaran sempurna.

Tujuh siluet yang semuanya berwajah sama.

Wajah Arjuna.

"A-apa ini?!" Harjasa melangkah mundur satu langkah dengan tangan yang bergerak ke gagang senjata secara refleks.

Dyah Ayu berbalik dengan mata yang melebar. Tujuh siluet itu menatap ke satu arah yang sama, yaitu ke arah dirinya, dan dengan sorot yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

Panel sistem melayang kembali.

[Misi Baru: Evolusikan Manusia Murni]

[Target: Tidak Diketahui]

[Metode: Dragon Soul Vein Earth]

[Batas Waktu: 10 Menit]

[Hukuman Gagal: Tubuh Pengguna Meledak]

[Hadiah: Teknik Penempaan Senjata Arc Of Embodiment]

Arjuna membaca baris hukuman itu satu kali. “Tubuh meledak?!”

Kemudian ia menutup panel sistem dan berpaling ke arah Dyah Ayu dengan langkah yang tidak tergesa. "Dyah Ayu!”

"Jangan dekati aku dulu!" Dyah Ayu selangkah mundur, matanya masih menatap tujuh siluet di belakang Arjuna dengan waspada, "Jelaskan apa yang terjadi!”

"Aku ingin memberikanmu sesuatu."

"Aku tidak meminta apapun darimu."

Arjuna berhenti dua langkah di hadapannya. Matanya merah membara membaca ekspresi Dyah Ayu dengan teliti, setiap ketegangan di rahangnya, setiap getar di ujung jarinya, dan setiap bayangan ketakutan yang ia sembunyikan di balik kemarahan yang belum sepenuhnya padam.

"Kekuatan," ucap Arjuna dengan suara yang lebih lembut, "Kekuatan yang tidak akan pernah bisa kau dapatkan dari siapapun selain dariku."

Dyah Ayu mendengus.

"Kau baru saja hampir mati dan sekarang menawarkan kekuatan? Untuk apa?"

"Supaya kau tidak perlu lagi disingkirkan ketika bahaya datang."

Kata-kata itu mendarat dengan tepat.

Dyah Ayu membeku sejenak. Namun kemudian rahangnya mengeras kembali.

"Aku tidak percaya pada tawaran yang datang terlalu tiba-tiba. Terlebih dari seseorang yang bahkan tidak repot memberitahuku secara langsung tadi."

Harjasa yang berdiri di sisi menyipitkan mata. Sesuatu dalam cara Arjuna berbicara membuat naluri tempurnya bergerak tanpa alasan yang jelas.

Arjuna tidak bergeming. Matanya tidak berpaling dari Dyah Ayu, dan sudut bibirnya bergerak sangat tipis ke arah yang tidak bisa disebut senyuman. Namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.

"Kau benar untuk tidak percaya," ucapnya dengan nada yang sama sekali tidak berubah, "Tapi izinkan aku bertanya satu hal."

Kemudian Arjuna melanjutkan dengan maju setengah langkah ke arah Dyah Ayu, "Sampai kapan kau akan terus berlari ketika bahaya datang?" 

***

Delapan menit berlalu.

Dyah Ayu masih belum menjawab. Matanya menatap Arjuna dengan campuran kemarahan, dan kebimbangan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.

Panel sistem berkedip di sudut pandang Arjuna.

[Peringatan: Sisa Waktu 2 Menit]

Arjuna menutup panel itu. Kemudian tangannya bergerak.

"Ar-Arjuna, kau melakukan apa?!"

Dyah Ayu melangkah mundur namun tidak cukup cepat. Tangan Arjuna sudah menyentuh dadanya tepat di titik inti dantian dengan tekanan yang sangat presisi. 

Siluet cokelat Dragon Soul Vein Earth terlepas dari lingkaran tujuh siluet, dan melesap masuk ke dalam tubuh Dyah Ayu dalam satu gerakan yang tidak bisa dihindari.

“Transfer!” serunya kencang.

Dyah Ayu membeku.

Cahaya cokelat keemasan meledak dari seluruh tubuhnya. Tanah di bawah kakinya retak membentuk pola akar yang menjalar ke segala arah. Matanya yang semula coklat hangat berpendar dengan cahaya yang sama.

Kemudian lututnya melemas.

Arjuna menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah.

"Kau tidak punya pilihan," ucap Arjuna dengan nada datar tepat di telinganya, "Maafkan aku untuk yang satu ini."

Panel sistem melayang seketika.

[Misi Selesai]

[Dyah Ayu: Evolusi Ras Human ke High Human]

[Hadiah: Teknik Penempaan Senjata Arc Of Embodiment telah ditransfer ke inventaris sistem]

“Aaargh! Dantian milikku bergejolak!” pekik Dyah Ayu merasakan ledakan teredam yang semakin lama semakin kencang selama enam kali berturut-turut.

Harjasa tidak bergerak dari tempatnya. Matanya emas murni memandang Arjuna yang masih menopang tubuh Dyah Ayu dengan ekspresi yang tidak bisa ia tentukan. 

“Ba-bagaimana manusia murni bisa naik ke ranah Mortal Frame Realm hanya dalam satu detik, dan itu lapisan Celestial Star?!” gumamnya dengan mata membola.

Kemudian tepukan tangan yang sangat pelan terdengar dari arah kegelapan di balik pepohonan yang tersisa.

Satu kali. Kemudian dua kali. Setelah itu tiga kali.

"Luar biasa." Suara itu keluar dari kegelapan dengan nada yang mengandung kekaguman yang tidak tulus, "Level Hazard S dengan hadiah satu juta koin emas. Aku sudah menunggu lama untuk melihat wajahmu secara langsung, Arjuna Sasrabahu."

Sosok berjubah hitam tanpa wajah yang terlihat melangkah keluar dari bayangan dengan langkah yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

Di dadanya, lambang Phantom menyala dengan cahaya merah yang dingin. "Kontrak Prefektur Ethereal belum selesai sampai kepalamu bisa aku bawa ke depan Kaisar Indrawarman, hahahaha ….”

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!