NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Penjaga yang Tak Tergoyahkan

Suasana di Gedung Surya Pratama terasa sangat tenang seperti biasa pada siang hari itu. Angin berhembus lembut, dan kegiatan kantor berjalan lancar tanpa gangguan apa pun. Tidak ada yang menyangka bahwa ketenangan itu akan segera terpecah oleh kedatangan orang-orang yang membawa niat buruk.

Sekitar pukul satu siang, saat jam istirahat baru saja berakhir dan karyawan mulai kembali ke meja kerja masing-masing, tiba-tiba terdengar suara deru kendaraan yang kencang dan kasar mendekati gerbang. Tidak hanya satu atau dua, tapi ada lima buah mobil dan sepeda motor yang berhenti mendadak di depan halaman, menimbulkan debu yang beterbangan.

Pintu-pintu kendaraan terbuka lebar, dan turunlah belasan orang dengan penampilan garang — mengenakan baju santai yang robek di beberapa bagian, memakai kalung rantai tebal, dan wajah mereka dipenuhi tatapan sombong serta mengancam. Di antara mereka ada tiga orang yang terlihat berbeda: pakaiannya lebih rapi namun memiliki aura dingin dan menekan, matanya menyala seolah menyimpan energi yang tidak biasa. Mereka adalah ahli kultivator yang disewa untuk menjalankan rencana jahat.

Aku segera berdiri tegak di pos jaga, menatap mereka dengan pandangan tenang namun waspada. Detak jantungku tetap teratur, tapi indraku sudah terasah sejak lama menangkap niat buruk yang melayang di udara.

Salah satu pria berbadan besar dan bertato di sekujur lengannya melangkah paling depan, berteriak dengan suara keras hingga menggema ke seluruh halaman:

“Buka gerbangnya! Kami mau masuk! Jangan coba-coba menghalangi kalau tidak mau celaka!”

Aku melangkah maju, berdiri tepat di depan gerbang, menghalangi jalan mereka. Suaraku tenang namun tegas, tidak ada rasa takut sedikit pun:

“Ini adalah kawasan perusahaan yang sah. Tanpa izin dan alasan yang jelas, kalian tidak boleh masuk. Silakan pergi dengan baik sebelum situasi menjadi buruk.”

Mendengar jawabanku, mereka semua tertawa keras seolah mendengar lelucon yang lucu. Pria bertato itu mendekat, menunjuk dadaku dengan jari kasar.

“Kamu cuma satpam rendahan! Berani-beraninya menghalangi kami? Kami datang atas perintah bos kami, dan tujuan kami adalah bertemu dengan pemilik perusahaan ini — Anindya Harjo! Dia harus ikut kami untuk menghadap bos besar, dan gedung ini akan kami hancurkan sebagai pelajaran!”

Salah satu dari tiga ahli kultivator itu melangkah maju, matanya menyipit menatapku dengan pandangan meremehkan. Dia mengangkat telapak tangannya, dan seketika muncul energi berwarna abu-abu yang berputar di telapak tangannya, menimbulkan getaran kecil di tanah.

“Jangan buang waktu, Joko. Singkirkan saja orang ini, lalu masuk dan bawa gadis itu. Bos sudah menunggu, dia ingin mempermainkan dan melecehkan gadis sombong itu agar tahu siapa yang berkuasa di daerah ini,” ucapnya dengan suara dingin dan penuh niat buruk.

Mendengar kata-kata itu, darah di dalam tubuhku terasa berdenyut lebih cepat — bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai menyala perlahan. Mereka tidak hanya ingin merusak tempat ini, tapi juga berniat menyakiti dan mempermalukan Anindya, orang yang paling aku cintai dan janjikan untuk aku jaga seumur hidup.

Aku tetap berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun. Suaraku menjadi lebih berat dan penuh wibawa, seolah ada tekanan yang keluar dari tubuhku tanpa aku sadari:

“Dengar baik-baik. Selama aku masih berdiri di sini, tidak ada satu orang pun yang bisa melangkah masuk ke dalam gedung ini, apalagi menyentuh sehelai rambut pun dari Anindya. Kalau kalian mengira datang ke sini hanya untuk membuat keributan, silakan coba. Tapi ingat — kalian datang dengan membawa niat buruk, maka akibatnya juga akan kalian terima dengan setimpal.”

Pria bernama Joko itu menggeram kesal, lalu melambaikan tangannya ke belakang. “Serang dia! Jangan biarkan dia menghalangi jalan!”

Segera empat orang preman berbadan kekar melompat mendekat, mengayunkan pentungan dan pisau pendek ke arahku dengan gerakan kasar dan cepat. Namun bagiku, gerakan mereka terasa sangat lambat, seperti berjalan di dalam air.

Aku hanya menggerakkan tangan dengan tenang, tanpa menggunakan kekuatan penuh. Satu ayunan ringan, dan energi halus yang keluar dari telapak tanganku mendorong mereka mundur hingga terjatuh ke tanah, menjerit kesakitan karena rasanya seperti tertabrak benda berat. Mereka tidak terluka parah, tapi cukup untuk membuat mereka sadar bahwa mereka tidak sekuat yang dibayangkan.

Melihat anak buahnya jatuh begitu saja hanya dengan satu gerakan, ketiga ahli kultivator itu akhirnya serius. Mereka melangkah maju bersama-sama, mengeluarkan energi yang lebih besar, membuat daun-daun pohon di sekitar halaman berputar kencang.

“Ternyata kamu juga memiliki kekuatan! Tapi jangan sombong, kekuatanmu tidak akan sebanding dengan kami yang sudah berlatih puluhan tahun!” teriak salah satu dari mereka sambil melepaskan serangan energi berwarna abu-abu yang melesat cepat ke arahku.

Aku hanya mengangkat satu tangan, dan dengan tenang menangkap serangan itu di udara. Energi itu terasa dingin dan beracun, tapi bagi tubuhku yang sudah dilatih selama ribuan tahun, rasanya seperti memegang air biasa. Aku meremasnya perlahan hingga menghilang tanpa bekas.

“Kalian menyebut ini kekuatan? Ini hanya sedikit energi yang disalahgunakan untuk menakut-nakuti orang lemah. Kalau kalian mengira bisa menggunakannya untuk menyakiti orang yang tidak bersalah, maka kalian sudah memilih jalan yang salah,” kataku dengan nada dingin.

Saat pertarungan berlangsung di depan gerbang, di dalam gedung, Anindya sudah diberitahu oleh Budi dan Pak Suryo. Dia melihat dari jendela lantai atas, melihat orang-orang itu datang dengan niat buruk, dan melihat aku berdiri sendirian menghadapi mereka semua. Jantungnya berdebar kencang, tapi dia percaya padaku — dia tahu aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya atau pada orang-orang di sini.

“Anin, kamu harus pergi ke tempat aman dulu! Jangan sampai mereka melihatmu,” kata Pak Suryo dengan cemas.

Anindya menggeleng, matanya tetap tertuju padaku. “Tidak. Kalau aku pergi, mereka akan semakin berani menghancurkan gedung ini dan menyakiti orang lain. Aku percaya pada Kaito. Dia akan melindungi kita semua.”

Kembali ke depan gerbang, ketiga ahli kultivator itu menyerang secara bersamaan, mengeluarkan seluruh energi yang mereka miliki, membuat tanah di sekitarnya retak dan debu beterbangan. Namun setiap serangan mereka, aku bisa menangkisnya dengan mudah, hanya menggunakan sedikit kekuatan dari tubuhku. Aku tidak ingin menghancurkan mereka seketika, tapi ingin memberi mereka kesempatan untuk sadar.

Namun niat mereka sudah terlalu gelap. Salah satu dari mereka berteriak marah: “Kita tidak bisa mengalahkannya! Lebih baik kita hancurkan saja gedung ini, lihat saja dia masih bisa melindunginya atau tidak!”

Dia mengangkat tangannya tinggi, bersiap melepaskan energi besar yang cukup untuk merusak struktur bangunan. Saat itulah aku tidak bisa lagi menahan diri sepenuhnya. Mataku sedikit berubah, memancarkan cahaya keemasan samar, dan energi yang selama ini aku simpan rapat perlahan keluar, menyelimuti seluruh tubuhku.

“Kalian memaksaku untuk tidak bersikap lembut lagi,” ucapku dengan suara yang kini terdengar bergema, seolah datang dari seluruh penjuru ruangan.

Aku melangkah maju satu langkah saja, dan seketika gelombang energi yang lembut namun sangat kuat meluap keluar. Semua orang yang ada di sana — para preman dan ketiga ahli kultivator itu — terasa tertekan seolah ada gunung yang menindih tubuh mereka. Mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa mengangkat tangan, hanya bisa berdiri kaku sambil menahan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh.

“Kekuatan… kekuatan apa ini? Dia bukan manusia biasa!” teriak salah satu dari mereka dengan wajah pucat ketakutan.

Aku berjalan mendekat ke arah mereka, tatapanku tajam namun tenang.

“Dengarkan baik-baik pesanku ini. Sampaikan kepada bos kalian bahwa Gedung Surya Pratama dan keluarganya ada di bawah perlindunganku. Kalau dia berani mengirim orang lagi untuk merusak, mengancam, atau menyakiti siapa pun di sini, maka dia tidak akan mendapatkan kesempatan kedua. Aku tidak akan memaafkan niat buruk yang ingin melecehkan dan merendahkan orang lain.”

Aku mengangkat tangan, dan dengan gerakan ringan mendorong mereka mundur hingga terjatuh ke dalam kendaraan mereka, namun tanpa melukai nyawa mereka.

“Pergi sekarang! Dan jangan pernah kembali lagi dengan niat yang sama!”

Mereka semua segera bangun dengan tergesa-gesa, wajah mereka pucat pasi karena ketakutan. Tanpa berani melawan lagi, mereka segera menyalakan kendaraan dan melaju pergi secepat mungkin, meninggalkan debu dan ketakutan yang terasa di udara.

Begitu mereka menghilang dari pandangan, energi yang menyelimuti tubuhku perlahan surut kembali, dan aku menjadi diriku yang biasa lagi. Aku menarik napas panjang, menenangkan kembali amarah yang sempat membara.

Tidak lama kemudian, pintu gedung terbuka dan Anindya segera berlari mendekat, diikuti oleh Budi, Pak Suryo, dan beberapa karyawan lain yang masih terlihat ketakutan namun lega.

Dia langsung memegang kedua lenganku, matanya memandang wajahku dengan pandangan campuran cemas dan kagum.

“Mas… apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu terluka?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Aku tersenyum lembut, lalu memegang tangannya dengan erat untuk menenangkannya.

“Aku baik-baik saja, Nin. Tidak ada apa-apa. Mereka hanya orang-orang yang disalahgunakan, dan aku sudah mengusir mereka dengan aman. Tidak ada yang terluka, dan gedung ini tetap utuh.”

Budi mengusap keringat di dahinya, wajahnya masih terlihat terkejut. “Wah, Kaito… tadi itu sungguh luar biasa! Kamu menghadapi mereka semua sendirian dan membuat mereka lari ketakutan. Kami sangat berterima kasih padamu, kalau tidak, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada kita semua.”

Pak Suryo mengangguk setuju, matanya penuh rasa hormat. “Benar sekali. Kamu benar-benar menjaga tugasmu sebagai penjaga, bahkan lebih dari yang kami bayangkan. Terima kasih, Nak Kaito.”

Anindya menatapku dalam-dalam, matanya berkaca-kaca karena rasa syukur dan sayang. “Mereka berniat buruk sekali, ingin membawaku pergi untuk dipermainkan dan dilecehkan… tapi aku tahu, selama ada kamu, aku tidak perlu takut apa pun. Kamu benar-benar menjadi perisai yang tidak bisa ditembus.”

Aku menariknya perlahan mendekat, lalu menepuk punggungnya dengan lembut.

“Aku sudah berjanji, kan? Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan kekuatanku. Tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menyentuhmu atau menyakiti hatimu selama aku masih hidup. Mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi saat berniat menyakiti orang yang paling aku cintai.”

Sore itu, suasana perlahan kembali tenang. Semua orang merasa aman lagi, dan kabar tentang kejadian itu menyebar dengan cepat — bahwa Gedung Surya Pratama sekarang memiliki penjaga yang tidak bisa diremehkan.

Namun di dalam hatiku, aku tahu ini baru permulaan. Bos yang mengirim mereka pasti tidak akan menyerah begitu saja. Tapi tidak masalah — selama aku berdiri di sini, selama Anindya dan keluargaku aman, aku siap menghadapi apa pun yang akan datang selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!