Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
Haruskah Nadine menuruti permintaan Adinata. Tapi dengan Nadine menurutinya, tanda tangan dari Adinata akan berada di kertas yang sudah ia perjuangkan di pengadilan.
Apa yang harus Nadine pilih. Perasaan atau logikanya.
Adinata tertawa kecil. “Pikirkan baik-baik, Nadine. Aku tidak memaksamu. Jika mau, datanglah kesini. Aku tidak akan kemana-mana, hanya untukmu.”
Sebenarnya jika Nadine menolak, Adinata akan dengan mudah memaksa Nadine, tapi biarlah. Ia ingin melihat Nadine memilih. Kepalanya pusing dan sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk memberi balasan kemarahan Nadine.
Nadine mengepalkan kedua tangannya. “Licik sekali.”
“Aku hanya mengikuti permainanmu.”
Nadine memegang rahang Adinata dan bibirnya menyambar bibir Adinata dengan cepat. Bunyi kecupan dari bibir Adinata dan bibir Nadine memantul dengan keras di kamar ini. Mungkin saja, jika ada seseorang di luar kamar juga ikut mendengarnya.
Nadine mendesah ketika ciuman Adinata turun ke lehernya dan berganti ke pundaknya dengan ritme pelan.
Tidak cepat, tapi pasti untuk melumpuhkan titik rangsangan sang lawan. Itu prinsip Adinata untuk sang istri. Ia mengeluarkan senyuman miring ketika melihat kedua mata Nadine yang sudah menerima rangsangannya. Sengaja ia buat kissmark di leher sang istri sebelum mereka resmi berpisah.
“Jangan.” Nadine melenguh. “Jangan membuat kissmark di leherku.”
Adinata tertawa kecil di telinga kanan Nadine. “Itu salah satu yang membuatku puas, sayang.” Ia memberi gigitan kecil di telinga Nadine yang disambut dengan desahan dari mulut sang istri. “Aku ingin mencoba banyak gaya di malam ini. Malam terakhir aku bisa menyentuh dirimu sepuasku, Nadine.”
Tanpa Nadine menyadari, dress yang ia pakai sudah berhasil suaminya lepas dengan sempurna. “Kita mulai, sayang.”
Adinata menghirup ceruk leher Nadine, sedangkan Nadine mengeratkan tangannya memeluk sang suami.
Adinata terkekeh. Ia beri gigitan kecil ke telinga Nadine dan menciptakan lenguhan merdu dari bibir Nadine. “Keraskan saja, sayang. Aku senang mendengar suaramu.”
Nadine ingin menyalahkan dirinya sendiri yang ‘gampangan’ hanya karena sentuhan kecil dari Adinata. Tapi memang bagian lain dari dirinya menginginkan hal yang lebih. Atau ini efek dari kehamilannya?
“Pilih tempatnya, sayang. Di sofa, kasur, bathtub atau di balkon sebagai permulaan permainan kita.” Adinata memberi tiupan ke telinga Nadine.
Nadine melepas tangannya dari leher Adinata. “Kamu harus benar-benar memberi tanda tanganmu di surat perceraian kita, Adinata.”
“Jangan membahasnya sekarang, Nadine. Aku tidak ingin mendengarnya.”
“Tujuanku menuruti permintaanmu hanya karena aku ingin mendapatkan tanda tanganmu di surat itu. Kalau kamu tidak mau, untuk apa aku setuju seperti ini.”
“Lama.” Adinata menggendong tubuh Nadine dengan mudah.
Nadine terkejut ketika dirinya di lempar oleh Adinata ke atas kasur. Ia melihat dengan jelas bagaimana Adinata melepas kemeja yang dipakainya dan gesper yang melingkari pinggangnya.
“Aku tidak akan bermain kasar denganmu, Nadine. Aku hanya ingin kamu mengingat semua permainanku di tubuhmu dengan baik.” Adinata melepas celana bahan yang menutupi kaki jenjangnya menyisakan celana dalam yang melindungi miliknya.
Nadine menahan tangan Adinata yang akan melepaskan pakaiannya. “Aku tidak suka bermain dengan cara kasar, Adinata.”
Adinata tertawa. “Aku rasa kamu masih ingin kita berbicara, ya.” Adinata menahan nafsu yang menguasai dirinya untuk menunggu kesiapan sang istri.
Nadine menatap mata sang suami yang berada di atasnya melingkupi tubuhnya. “Aku cuma ingin kamu memberi tanda tangan saja, Adinata. Kenapa kamu seperti ini?”
“Bukan aku yang menginginkan perceraian ini,” jawab Adinata diiringi desahan kasar.
Nadine mencengkram pundak Adinata. “Dengan kita bercerai, kamu juga mendapat keuntungan, Adinata.”
“Tidak juga.” Adinata mengangkat salah satu alisnya dibarengi dengan senyuman miring terukir di bibirnya. Wajahnya yang terlihat seperti seorang antagonis seperti di film terlihat menjadi lebih jahat. “Aku menyuruhmu menunggu, tapi kamu sudah tidak sabar.”
“Mau kamu gimana sih?! Dari dulu yang keluar dari mulut kamu selalu ‘menunggu’, ‘tunggu aku’, kapan akhirnya, Adinata?! Semua perempuan juga akan lelah jika terus menunggu tanpa diberi kepastian! Otak kamu dimana?!”
Adinata mendengus. “Di dalam otakku cuma ada kamu. Aku udah pengen makan kamu, Nadine. Bisa kita mulai sekarang? Aku sudah tidak sabar.”
Nadine menjadi gugup. “Jangan membohongiku! Besok pagi, tanda tanganmu harus sudah ada, Adinata,” ancam Nadine.
Adinata menghembuskan napasnya ke atas. Wajahnya menghadap ke langit-langit kamarnya. Tubuhnya masih berada diposisi yang sama, mengukung tubuh Nadine. “Kamu tidak percaya denganku?”
“Sudah mencoba untuk percaya, tapi ternyata aku ditipu.” Nadine berdecih, ia membuang pandangannya ke samping. “Untuk apa aku memberi kepercayaan.”
“Nadine.” Adinata membawa wajah Nadine menghadap wajahnya. “Jika aku memohon kepadamu untuk tetap bersamaku, kamu mau tidak?”
“Jelas tidak. Jika aku menjawab ‘mau’, aku rasa mentalku akan semakin hancur. Aku tidak ingin mati sebelum menjadi seorang ibu.”
“Selama ini kita baik-baik saja, Nadine.”
Nadine tertawa kecil. “Kita memang baik-baik saja, tapi keluargamu tidak pernah baik-baik saja ketika aku ada, Adinata. Matamu buta, kah? Sampai-sampai kamu tidak bisa melihatnya.”
Adinata berdiri tanpa menjawab. Ia membuka laci dan mengambil kotak kecil di dalamnya. Ia kembali lagi ke posisi sebelumnya.
“Percakapan kita sudah cukup. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Adinata menggigit kemasan yang membungkus alat kontrasepsi sebelum ia pakai. “Aku hanya ingin mendengar suara desahanmu saja. Aku akan menandatanganinya ketika urusan ranjang kita selesai.”