NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Suzanne berjalan dengan langkah cepat dan tergesa-gesa menyusuri koridor marmer, menundukkan kepalanya dalam-dalam di balik tudung hoodie hitam besar milik Aiden.

Jantungnya berdegup kencang seperti detak jarum jam yang berkejaran dengan waktu.

Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, tidak hanya karena rasa nyeri fisik yang tersisa di bagian bawah tubuhnya, melainkan karena perang batin yang berkecamuk hebat di dalam kepalanya.

Dia telah melakukan Affair. Dia, seorang Suzanne Klatten yang selalu menjaga kehormatan dan martabatnya bahkan di titik terendah kebangkrutan keluarganya, kini telah menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya kepada seorang remaja pria yang usianya jauh di bawahnya.

Namun, anehnya, di sela rasa bersalah yang menghantuinya, ada setitik rasa kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Penolakan Willem semalam telah merobek harga dirinya sebagai seorang istri, namun dekapan hangat dan pemujaan intens Aiden di atas ranjang seolah menjahit kembali robekan itu, memberikan validasi bahwa dia adalah seorang wanita yang diinginkan, seorang wanita yang berharga di mata seseorang.

Begitu sampai di depan pintu penthouse miliknya dan Willem yang berada di lantai yang sama namun di sayap koridor yang berbeda, Suzanne menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya.

Bunyi klik digital yang halus terdengar, diikuti oleh pintu besi berlapis kayu ek yang terbuka perlahan.

Suzanne melangkah masuk ke dalam dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara langkah kaki yang bisa memicu perhatian pelayan atau penghuni rumah lainnya.

Suasana di dalam penthouse tampak sepi, hanya terdengar suara gemercik air dari pancuran kolam hias di area ruang tamu utama.

Namun, kedamaian semu itu hancur berantakan begitu Suzanne melangkah melewati batas ruang tengah.

Di sana, di atas sofa kulit hitam yang mewah, Willem Daendels sudah duduk bersandar dengan pakaian yang sama seperti kemarin malam.

Penampilannya tampak sedikit kusut, dengan segelas wiski di tangan kanannya yang sudah kosong setengahnya.

Matanya yang merah dan menyiratkan amarah murni langsung mengunci pada sosok Suzanne yang baru saja masuk.

Willem meletakkan gelas wiskinya di atas meja kaca dengan benturan yang cukup keras, menciptakan dentingan tajam yang memecah keheningan pagi.

Pria itu berdiri dari sofa, melangkah lebar mendekati Suzanne dengan aura intimidasi yang sangat pekat.

"Dari mana saja kau semalam, Suzanne?" tanya Willem, suaranya terdengar dingin, rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Kau tidak ada di kamarmu sepanjang malam. Dan pakaian apa yang sedang kau kenakan sekarang?"

Mata tajam Willem menyapu pakaian yang melekat di tubuh istrinya.

Sebagai seorang pria borjuis yang terbiasa dengan mode kelas atas, dia tahu persis bahwa hoodie hitam kebesaran dan celana training longgar yang dipakai Suzanne bukanlah gaya pakaian wanita itu, melainkan pakaian milik seorang pria dengan ukuran tubuh yang jauh lebih besar dan jangkung.

Suzanne berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang, menyembunyikan getaran ketakutan di balik wajahnya yang sedingin es.

Dia mendongakkan kepalanya, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya tanpa ada niat untuk mundur.

"Bukan urusanmu, Willem," jawab Suzanne datar, suaranya terdengar sangat tenang namun tegas.

"Bukankah kau sendiri yang bilang semalam bahwa aku tidak punya hak atas dirimu dan kau tidak peduli apa yang kulakukan? Jadi, ke mana aku pergi, bukan lagi menjadi urusanmu."

Mendengar jawaban yang begitu berani dari mulut istri sahnya, rahang Willem mengeras seketika.

Amarahnya yang sempat meredup setelah menghabiskan malam bersama Lydia kini kembali tersulut ke titik tertinggi.

Dia merasa egonya sebagai seorang kepala rumah tangga sekaligus pria Daendels telah diinjak-injak dengan cara yang paling hina.

Willem maju satu langkah lagi, mencengkeram kuat lengan Suzanne yang terbalut kain hoodie tebal, memaksa wanita itu untuk meringis kecil karena rasa sakit pada cengkeramannya.

"Kau adalah istriku, Suzanne! Secara hukum, kau masih menyandang nama Daendels di belakang namamu!" bentak Willem di depan wajah Suzanne, napasnya yang beraroma alkohol menerpa wajah istrinya.

"Kau tidak berhak keluyuran sepanjang malam dan kembali dengan pakaian pria lain seperti jalang murahan! Katakan padaku, siapa pria sialan yang sudah berani menyentuh milikku?!"

Suzanne melepaskan tawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan dan sarkasme yang mendalam atas kemunafikan pria di hadapannya.

Dia menyentak lengannya dengan sekuat tenaga, berhasil terlepas dari cengkeraman Willem yang sempat melonggar karena terkejut mendengarnya tertawa.

"Milikmu?" tanya Suzanne dengan nada yang merendahkan, menatap Willem dengan tatapan jijik yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Sejak kapan aku menjadi milikmu, Willem? Bukankah sebulan yang lalu kau sendiri yang mendorong tubuhku menjauh dari ranjangmu karena kau merasa jijik padaku? Bukankah kau yang bilang tidak sudi menyentuh wanita dari keluarga bangkrut seperti Klatten?!"

Kata-kata Suzanne laksana tamparan keras yang menghantam wajah Willem.

Pria itu mematung, lidahnya mendadak kelu karena kebenaran dari ucapan istrinya tidak bisa dibantah.

Memori tentang malam penolakannya sebulan lalu kembali berputar di kepalanya.

"Jangan pernah berlagak seperti seorang suami yang tersakiti dan cemburu di depanku, Willem Daendels," lanjut Suzanne, suaranya merendah hingga ke titik terendah namun penuh dengan penekanan yang tajam.

"Kau boleh menghabiskan malammu di ranjang Lydia Gonne sesukamu, dan aku tidak akan pernah peduli lagi. Mulai hari ini, pernikahan kita hanyalah selembar kertas kontrak di atas meja hukum. Jadi, singkirkan tangan kotormu dari tubuhku."

Setelah mengucapkan kalimat pemutus itu, Suzanne berbalik dengan anggun, melangkah lebar meninggalkan Willem yang masih berdiri terpaku di tengah ruangan dengan napas yang memburu dan kepalan tangan yang bergetar menahan amarah sekaligus kebingungan yang teramat sangat atas perubahan drastis sikap istrinya pagi ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Aiden Luther Stone masih berdiri mematung di ambang pintu ganda penthouse-nya yang sunyi.

Tangannya yang besar mengepal kuat pada kusen pintu berlapis kayu mahoni, hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat di lengan bawahnya menegang hebat.

Tatapan matanya yang tajam dan elang masih mengunci pada ujung lorong koridor marmer, tempat di mana bayangan tubuh kecil "Anne" baru saja menghilang di balik tikungan dinding.

Kepergian wanita itu yang begitu tergesa-gesa meninggalkan kekosongan yang mendadak terasa begitu menyesakkan di dalam dada remaja delapan belas tahun tersebut.

Napas Aiden memburu, bukan lagi karena sisa obat laknat semalam, melainkan karena gejolak emosi murni yang kini menguasai seluruh akal sehatnya.

Frustrasi, marah pada ketidakberdayaan dirinya sendiri, dan rasa protektif yang teramat besar bercampur aduk menjadi satu.

"Anne..." bisik Aiden serak, menyebut nama yang baru saja ditinggalkan wanita itu untuknya.

Suaranya bergema samar di koridor apartemennya yang luas, terdengar menyedihkan bahkan bagi telinganya sendiri.

Dia menundukkan kepala, menatap telapak tangannya sendiri yang semalam telah menyentuh setiap jengkal kulit wanita itu.

Sifat keras kepala dan dominan yang mengalir deras dari darah keluarga Stone menolak untuk menerima akhir yang seperti ini.

'Di dalam duniaku, seorang pria tidak akan pernah meninggalkan wanita yang telah ia klaim di atas ranjang.'

Pemikiran itu tertanam kokoh di dalam kepalanya, laksana sebuah hukum mutlak yang tidak boleh diganggu gugat.

Dengan langkah kaki yang berat namun pasti, Aiden berbalik dan menutup pintu apartemennya rapat-rapat, menguncinya dengan sistem digital yang berbunyi klik pendek di keheningan pagi.

Ia berjalan kembali menuju kamar utamanya.

Setiap jengkal ruangan itu kini terasa sangat berbeda.

Suasana maskulin dan minimalis yang biasanya mendominasi kamarnya, kini telah terkontaminasi sepenuhnya oleh kehadiran seorang wanita.

Aiden melangkah mendekati ranjang king size yang masih dalam kondisi kacau berantakan.

Seprai sutra yang kusut berantakan memancarkan aroma yang begitu pekat di udara kamar.

Aiden memejamkan matanya erat-erat saat indra penciumannya menangkap perpaduan aroma yang sangat spesifik: wangi parfum vanilla mahal yang manis bercampur dengan aroma keringat hangat dan jejak keintiman intens yang mereka lakukan semalam.

Wangi itu seolah menyerang sistem sarafnya, membangkitkan kembali rekaman memori semalam dalam detail yang begitu jernih dan menakutkan.

Ia duduk di tepi ranjang, tempat di mana beberapa menit lalu ia membantu Anne memakaikan celana training-nya.

Matanya bergerak jatuh ke lantai marmer di samping tempat tidur.

Di sana, seragam high school miliknya yang kemarin malam ia kenakan tergeletak begitu saja, kontras dengan potongan-potongan gaun sutra milik Anne yang robek di beberapa bagian akibat renggutan kasarnya.

Melihat kain gaun yang hancur itu, rasa bersalah kembali menghantam dada Aiden seperti palu godam.

"Brengsek," umpat Aiden pada dirinya sendiri.

Dia meraih potongan kain gaun tersebut, meremasnya dalam genggaman tangannya yang kuat.

Sentuhan kain yang lembut itu mengingatkannya pada betapa rapuh dan pasrahnya tubuh Anne di bawah kungkungannya semalam setelah lelah meminta tolong.

Namun, di tengah rasa bersalah yang menyiksa itu, ego seorang pria muda di dalam dirinya tidak bisa menyangkal satu fakta: wanita itu adalah miliknya sekarang.

Fakta bahwa seprei putih di ranjang menunjukkan noda pembuktian kesucian semalam adalah segel mutlak yang tidak bisa dihapus oleh alasan apa pun yang diucapkan Anne.

"Dia bilang dia sudah menikah..." gumam Aiden, suaranya dipenuhi oleh nada sarkasme yang getir.

Ia mengingat kembali bagaimana Anne memperlihatkan cincin emas putih di jari manisnya dengan tatapan mata yang begitu dingin dan tegas.

Aiden terkekeh hambar, melempar potongan kain gaun itu kembali ke lantai.

"Alasan gila macam apa itu? Mana ada suami di dunia ini yang membiarkan istrinya berkeliaran dalam kondisi masih suci?," batin Aiden penuh penyangkalan.

Dia benar-benar yakin bahwa Anne hanya mengarang cerita tentang pernikahan itu demi bisa melarikan diri dari tanggung jawab yang ia tawarkan.

Wanita itu pasti merasa takut, bingung, atau mungkin malu karena telah menyerahkan kesuciannya pada orang asing.

Aiden berdiri dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi utama untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat dingin.

Begitu ia berdiri di bawah guyuran air pancuran yang dingin, pikirannya justru semakin liar merancang masa depan.

Air dingin yang membasahi rambut hitamnya dan mengalir di sepanjang otot-otot tubuhnya yang tegap tidak mampu mendinginkan ketetapan hati yang sudah bulat.

"Beberapa bulan lagi," bisik Aiden di sela-sela gemercik air. "Hanya tinggal tiga bulan lagi menuju kelulusan high school."

Dia sudah menghitung semuanya dengan cermat di dalam kepala mudanya yang cerdas.

Begitu hari kelulusan itu tiba, dia akan menggunakan seluruh hak waris dan aset mandiri yang telah dialokasikan oleh sang Daddy, Martin Luther, untuk membangun hidupnya sendiri bersama Anne.

Dia tidak peduli jika kedua orang tuanya akan terkejut setengah mati mendengar anak laki-laki mereka yang tidak pernah mau berpacaran tiba-tiba membawa seorang wanita asing untuk dinikahi.

Aiden tahu, jika dia menjelaskan situasinya secara jujur—bahwa dia telah merenggut hal paling berharga dari wanita itu—sang Mommy, Vexana Valerio, yang selalu menjunjung tinggi kehormatan wanita, pasti akan mendukung keputusannya untuk bertanggung jawab.

Namun, ada satu masalah besar yang kini mengganjal jalannya: dia tidak tahu di mana Anne berada, dan wanita itu menggunakan nama samaran yang jelas-jelas ditujukan untuk menyembunyikan identitas aslinya.

"Anne... nama itu pasti bohong," pikir Aiden saat ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.

Aiden berjalan mendekati meja rias di sudut kamar, mengambil ponsel pintarnya yang sejak semalam tergeletak mati karena kehabisan daya.

Ia menancapkan kabel pengisi daya, menunggu beberapa saat hingga layar ponsel itu menyala.

Begitu ponsel aktif, puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari teman-teman sekolahnya.

Aiden mengabaikan semua pesan dari teman-teman nya.

Matanya bergerak mencari satu nomor kontak yang sangat krusial dalam situasi seperti ini.

Kepercayaannya, seorang kepala tim keamanan privat keluarga Stone yang bernama Marcus.

Ia menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara berat dan formal dari seberang sana menjawab dengan sigap.

"Selamat pagi, Muda Tuan Aiden. Apakah Anda memerlukan sesuatu?" tanya Marcus dari seberang telepon.

"Marcus," panggil Aiden, suaranya terdengar begitu dingin, dalam, dan penuh wibawa, sangat kontras dengan statusnya yang masih seorang pelajar sekolah menengah.

"Aku butuh kau melakukan sesuatu untukku sekarang juga. Dan ini harus dirahasiakan dari Daddy dan Mommy."

Ada jeda sejenak di seberang sana, mengindikasikan rasa terkejut Marcus atas nada bicara majikannya yang tidak biasa pagi ini. "Baik, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?"

"Periksa seluruh rekaman kamera pengawas di koridor lantai privat penthouse-ku dari jam Sebelas malam tadi hingga jam delapan pagi ini," perintah Aiden tegas, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar kamarnya.

"Cari seorang wanita yang keluar dari unit apartemenku sekitar lima belas menit yang lalu. Dia mengenakan hoodie hitam kebesaran dan celana training abu-abu milikku, dengan tudung kepala yang tertutup rapat."

"Wanita, Muda Tuan?" Marcus memastikan, suaranya sedikit bergetar karena terkejut.

Sepanjang menjaga Aiden, remaja ini tidak pernah sekali pun mengizinkan makhluk halus berjenis kelamin wanita mendekati area privatnya, apalagi membiarkannya menginap sepanjang malam.

"Jangan banyak bertanya, Marcus. Lakukan saja," potong Aiden tajam, tidak ingin otoritasnya dipertanyakan.

"Lacak ke mana arah langkah kakinya setelah keluar dari unitku. Cari tahu unit mana yang ia masuki, atau lift mana yang ia gunakan untuk turun. Aku butuh identitas lengkapnya, nama aslinya, dan latar belakang keluarganya sebelum matahari terbenam hari ini. Kau mengerti?"

"Dimengerti, Tuan Muda. Saya akan segera berkoordinasi dengan tim keamanan gedung dan mengirimkan hasilnya langsung ke ponsel privat Anda begitu data terkumpul," jawab Marcus sigap sebelum panggilan itu diputus sepihak oleh Aiden.

Aiden melempar ponselnya ke atas kasur yang berantakan, lalu menghela napas panjang.

Matanya kembali menatap seprei putih yang menyiratkan noda merah semalam.

Senyum tipis yang sarat akan tekad yang berbahaya terukir di wajah tampannya.

"Kau pikir kau bisa lari dariku dengan alasan pernikahan bodoh itu, Anne?" bisik Aiden dengan nada yang begitu posesif dan penuh keyakinan.

"Gedung ini adalah wilayahku. Dan di duniaku, begitu kau masuk ke dalam genggaman seorang Stone, kau tidak akan pernah bisa lepas."

Aiden berjalan menuju lemari pakaian untuk memilih seragam sekolahnya yang baru.

Meskipun pikirannya dipenuhi oleh rencana pernikahan dan tanggung jawab besar, hari ini dia tetap harus pergi ke sekolah yang tinggal menghitung hari.

Kelulusan adalah tiket emasnya untuk menjadi pria mandiri seutuhnya, dan dia tidak akan membiarkan apa pun mengacaukan fokusnya—termasuk misteri tentang wanita bernama Anne yang kini telah resmi menjadi belahan jiwanya di balik selimut malam.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!